
Kini semua orang disana tampak terharu dan meneteskan air mata, apa lagi mereka tau jika bunda nya belum juga datang. Tak ada yang hadir mendampingi, hingga membuat anak kembar dengan suara imut itu pun berwajah sendu dengan kedua pasang mata yang berkaca-kaca.
Dimas yang sejak tadi memperhatikan merasakan hatinya berdenyut, sampai kedua sudut mata itu basah. Dia tak habis pikir dengan kedua orangtuanya yang harusnya hadir justru malah membiarkan kedua putri kecilnya bersedih.
Bunda
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayaku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Tak kan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu kan selalu ada di dalam hatiku
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayaku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu kan selalu ada di dalam hatiku
Sella berlari setelah memarkirkan motornya, dari luar sudah terdengar suara kedua anaknya yang sedang bernyanyi. Ntah sudah berapa lama atau baru mulai, yang dia inginkan sekarang segera mendekat dan melihat kedua anaknya untuk memberi semangat.
Dengan segala drama di sekolah yang mengharuskan dia menyelesaikan mengajar di kelas XI dan terpaksa meminta tolong pada Pak Indra untuk menggantikan mengajar di kelas berikutnya.
__ADS_1
"Bu Sella baru datang?" tanya salah satu wali murid yang melihat Sella berlari mendekat.
"Iya Bu, telat karena harus mengajar dulu."
"Cepat maju aja Bu, kasian si kembar sudah sedih karena bundanya belum hadir, lagu nya pun sudah hampir selesai."
"Iya Bu makasih."
Sella segera berjalan maju dengan tergesa beruntung masih ada kursi kosong di depan yang tidak terisi.
"Permisi ya Bu, maaf lewat sedikit."
"Oh iya Bu silahkan."
Belum sempat untuk duduk, Sella mendengar kedua anaknya menyerukan namanya.
"Bunda......" seru Naira dan Kaira membuat semua orang yang ada di sana langsung menjadikan Sella sebagai pusat perhatian.
Sella tersenyum melihat kedua putrinya, keduanya berlari dan memeluk Sella dengan tangis yang pecah. Kedua anak kembar itu mampu menyelesaikan lagu dengan menahan tangis tapi ketika melihat sang bunda, keduanya tak mampu lagi membendung air mata.
"Maafin bunda, bunda telat ya sayang. Tapi bunda bangga dengan kalian, anak-anak bunda hebat, bunda tadi sempat mendengar suara kalian berdua. Suara anak bunda bagus ya...."
"Iya bunda, makasih sudah datang." Naira kembali memeluk Sella yang kini sudah berjongkok di depan kedua anaknya.
"Sella.."
Deg
Hati Sella seperti tersambar petir saat mendengar suara yang sudah sejak lama tidak ia dengar. Sella melepas pelukan kedua putrinya dan berdiri memastikan.
Jantung Sella berdebar, kakinya seketika melemah dengan air mata yang sudah runtuh. Dia tak menyangka akan kembali bertemu, Sella diam memaku. Kali ini dia tak dapat menghindar, ada dua malaikat yang terus menginginkan bertemu sang ayah. Walaupun Sella telah menguatkan hati jika Dimas nantinya sudah berkeluarga.
"Mereka anakmu?"
"Iya kak," lirih Sella.
"Apa kah mereka...."
Mendengar itu membuat seluruh badan Dimas melemas, dia berlutut tepat di depan kedua gadis kecil yang kini tengah menatapnya heran.
"Naira, Kaira, ini ayah nak...."
"Ayah?" ucap Kaira dan Naira kemudian menatap Sella yang sudah menahan Isak tangis. Dia hanya bisa menganggukkan kepala saat kedua anaknya mencari jawaban.
"Ayah...." seru keduanya kemudian memeluk Dimas yang menangis tersedu.
"Akhirnya ayah pulang, kami merindukan ayah....."
"Teman-teman! aku punya ayah kan, ini ayah aku..." seru Kaira.
Semua orang yang melihatpun ikut terharu, mereka tak menyangka jika Naira dan Kaira adalah anak dari pemilik sekolah.
Setelah acara selesai kini Dimas mengajak Sella dan kedua putrinya singgah di pusat kota dan mampir ke cafe yang menjual beranekaragam es krim. Awalnya Sella menolak agar tetap bisa menjaga jarak, tetapi kedua putri mereka yang sangat merindukan ayahnya tak ingin pulang begitu saja.
"Sini ayah lap dulu sayang pake tisu bibirnya, itu es krimnya belepotan nak."
"Iya ayah.." ucap Kaira yang duduk di seberang meja samping sang bunda.
Sedangkan Naira sejak tadi menempel tak ingin terpisah jarak sedikitpun dengan ayahnya.
"Kakak gantian aku yang di sana dekat ayah," rengek Kaira.
"Nggak mau, nanti kalo rinduku sudah sembuh baru gantian!"
"Ikh kan bisa geser kak! Bunda kakak pelit sekali."
Dimas tersenyum gemas melihat kedua putrinya yang sangat merindukan dirinya, tak menyangka jika selama ini dirinya telah menjadi ayah. Dimas melirik singkat Sella yang sejak tadi menjaga pandangan. Dimas bangga akan perubahan Sella dan ada rasa bersalah karena selama ini tak bersamai mereka.
"Sini Kaira duduk samping ayah nak," Dimas bergeser ke tengah dan memberi tempat duduk untuk Kaira agar tak kembali merajuk.
__ADS_1
"Kenapa nggak memberi kabar?"
"Maaf jika aku sedikit egois, tapi aku hanya pasrah dengan takdir."
"Mereka sangat merindukanku, pasti sulit bagimu untuk melalui waktu yang tak sebentar. Maaf kan aku andai aku tau, pasti kita sudah bersama. Dan mereka tak akan bersedih mencari sosok ayah."
"Terima kasih sudah merawat buah hatiku dan aku kagum padamu, kamu menjadi perempuan yang mandiri dan kuat, apa lagi dengan penampilan yang sekarang. Maaf, kamu terlihat lebih cantik."
"Sudah kewajiban ku sebagai ibu dan mereka harta yang paling berharga untukku. Dan terima kasih sudah memuji, semua hanya titipan kak."
Dimas tersenyum, walaupun tak bisa beradu pandang, dia cukup bahagia bisa kembali bertemu. Kedua mata mereka terpancar kerinduan yang mendalam tetapi tak bisa asal memeluk seperti dulu. Sella justru lebih ke arah malu dan terus menjaga agar tak terlena.
"Ayah ikut pulang bersama kita kan?"
"Mmmmm untuk saat ini belum bisa nak, tapi ayah janji akan kembali datang mengunjungi kalian. Jangan bersedih ya, ayah nggak akan lama dan pasti kembali untuk bisa bermain dengan kalian."
"Ayah janji?" tanya Naira dan Kaira.
"Janji." Dimas dan kedua putrinya mengaitkan jari kelingking mereka.
Sella tak tau harus bagaimana, dia tak ingin salah langkah. Apa lagi sudah lama tak bersua, sudah tentu status pun sudah berubah.
Setelah mengantarkan mereka pulang ke rumah, Dimas pamit kepada kedua putrinya dengan segala bujuk rayu dan drama perpisahan.
"Ayah jangan lama ya, nanti kita pasti sangat merindukan ayah."
"Iya ayah, jangan lupa Vidio call kita ya," sahut Kaira.
"Iya nanti sesampainya ayah di tempat tujuan, ayah akan telpon kalian. Bilang sama bunda jangan lupa mengangkat telpon ayah ya dan ajak bunda juga kalo ayah telpon, biar bundanya nggak ikut merindu."
Sella membuang muka menahan senyum, wajahnya sudah memerah setelah mendengar ucapan Dimas tadi. Dimas sempat melirik dan mengulum senyum, sudah lama tak melihat wajah malu Sella. Dia bahkan seakan lupa akan batasan itu, berulangkali beristighfar karena tak bisa menahan pandangan.
"Aku pamit ya, jaga baik-baik anak-anak kita, jika rindu jangan di tahan, aku siap kapan saja mengangkat telponmu."
"Iya kak," lirih Sella, membuat Dimas ingin tertawa.
Dering ponsel membuat keduanya fokus pada ponsel Dimas yang tergeletak di meja, Sella sempat melirik siapa nama si penelepon. Kemudian kembali membuang muka menahan sesak. Ucapan sudah mengikhlaskan tapi nyatanya hati terasa sesak.
"Assalamualaikum..."
"......."
"Oh iya, sore ini aku kembali."
"......"
"Iya, mas nggak akan lupa dengan pesananmu Zahra."
"......."
"Tenang saja, pasti akan aku bawakan. Aku juga nggak akan membiarkan bayi itu nanti akan ngeces karena ingin gudeg Jogja tapi nggak kesampaian."
"......"
"Iya sudah, wa'allaikumsalam."
Dimas segera memasukkan ponselnya, kemudian melirik kearah kamar si kembar yang sudah terlelap bersama bibi.
"Bi, saya pamit. Titip anak-anak dan bundanya." Dimas melihat kedua putrinya yang terlelap membuat senyumnya mengembang.
"Iya den."
"Makasih ya Bi." Dimas kemudian mendekati Sella lagi yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Aku pulang dulu, nanti aku kesini lagi. Jaga dirimu baik-baik dan jaga anak kita. Setelah urusanku selesai, secepatnya aku kembali."
Sella hanya diam menundukkan kepalanya, kemudian Dimas segera melangkah keluar rumah.
"Siapa Zahra kak?" lirih Sella yang masih mampu di dengar oleh Dimas. Pria itu menoleh dan melihat Sella sekilas.
__ADS_1
"Nanti kamu tau siapa dia..."