
Sella berdiri hingga sejajar menghadap dua orang yang ada di depannya. Kemudian dengan langkah pasti Sella memeluknya dengan erat hingga terasa menyesakkan. Keduanya menangis, rindu jelas ada apa lagi selama ini kasih sayang itu begitu nyata.
"Kenapa harus pergi?"
"Maafkan aku," jawab Sella di tengah-tengah Isak tangisnya.
"Apa sudah tak ingin pulang dan kembali lagi bersama?" tanyanya dengan lembut seraya mengusap air mata Sella yang membuat pipi chubby nya basah.
"Aku tak sekuat itu, aku pikir ini jalan terbaik dan aku pasrahkan semuanya, jika jodoh ia pasti akan menemui kemana arahnya akan pulang."
"Aku juga belum cukup dewasa untuk menghadapi ini semua, aku minta maaf jika keputusanku ini menambah luka, tapi ijinkan aku pamit hingga takdir mempertemukan."
Sella meraih tangan yang tadi sempat singgah di pipi, lalu mengecupnya. Kemudian beralih ke orang yang berada di belakangnya, ia pun melakukan hal yang sama.
"Maafin aku dan terima kasih telah bersedia mengambilkan hasil kelulusanku..." Sella menundukkan sedikit tubuhnya kemudian menatap Tio dan di angguki olehnya.
"Maaf Om Tante jika aku merepotkan, tapi saat ini aku sangat membutuhkan Tio."
"Iya kami mengerti, pergilah nak!" Orang tua Tio sedikitnya tau tentang Sella, mereka merasa iba apa lagi setelah Tio menceritakan jati diri Sella.
Sella menarik tangan Tio dan pergi dari sana dengan Isak tangis penuh luka. Tak menyangka akan bertemu, bahkan dengan senang hati membantu Sella mengambil hasil kelulusan.
Tio menarik tubuh Sella ketika keduanya sampai di parkiran, hatinya sakit melihat Sella menangis hingga terisak sedih begini.
Tangis Sella semakin pecah saat berada di pelukan Tio. Tangan Tio mengusap lembut punggung Sella yang bergetar, Tio paham hancurnya hati Sella. Tapi tak mampu melakukan apapun, ini keputusan Sella, walaupun dia tak suka hubungan Sella dengan Dimas, tapi jika melihat Sella yang masih sangat mencintai Dimas, Tio pun tak tega.
Apa lagi dia sedikit curiga dengan perubahan bentuk tubuh Sella. Hampir satu bulan Sella tinggal di apartemennya, dia paham kegiatan Sella selama ini, sering melamun, menangis, makan pun jarang, tetapi bukan terlihat semakin kurus justru semakin berisi.
"Mau balik?" tanya Tio yang masih mendekap tubuh Sella.
"Iya,"
"Tapi acaranya belum selesai, nggak pengen ikut gabung lagi?"
"Nggak Tio, loe kalo mau ngikutin sampe selesai nggak apa-apa, gue bisa pulang sendiri. Gue mau istirahat, kepala gue pusing Tio."
"Ya udah kalo gitu, gue anter loe balik ke apartemen. Gue nggak bisa tenang kalo loe balik sendiri. Udah jangan nangis lagi, sayang-sayang gue bayar salon mahal cuma mau di lunturin pake air mata loe!"
__ADS_1
Sella memukul dada Tio, ntah saat ini hanya Tio yang mengerti dirinya. Dia tak menginginkan lebih dengan semua yang telah terjadi, dia hanya ingin sejenak menepi hingga hatinya mampu kembali.
"Sakit ikh, meluk-meluk aja jangan mukul juga. Loe gue kasih denda kalo kayak gini ceritanya!" Tio menangkap tangan Sella yang saat ini berada di dadanya.
"Abis loe ngeselin! perhitungan banget loe sama gue, begitu mau nikahin gue yang ada nanti beli cabe aja gue suruh itungin tuh satu biji berapa duit!"
"Bahkan kalo loe makan nasi pun, gue suruh hitung berapa butir tuh yang masuk kedalam mulut loe!"
"Tega loe sama gue!"
Tio mampu membuat hati Sella yang sedih menjadi kesal dan berujung tertawa, dia memang pandai mengubah hati Sella. Tapi tak pandai mengambil hati wanita itu.
"Lepas ikh, gerah gue!"
Dengan mencebikkan bibirnya Sella melepas pelukan Tio, "pelit banget loe!"
Melihat Sella yang tampak kesal membuat Tio semakin gemas, tangannya mengusap lembut pucuk kepala Sella.
"Sella...."
Tubuh Sella kaku saat mendengar kembali suara seseorang yang sangat ia kenali, begitupun dengan Tio, dia sudah memprediksi ini akan terjadi.
Tanpa menoleh ke arah asal suara Sella segera menarik kembali tangan Tio dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Tio membukakan mobil untuk Sella dan berlari menuju kursi kemudi.
"Ayo Tio!"
Tak ingin kehilangan Sella lagi membuat orang itu segera berlari mengejar dan mengetuk kaca jendela mobil Tio.
"Sella tunggu, buka dulu pintunya! kita nggak bisa begini Sella, kita harus bicara!"
Sella sudah kembali menangis di dalam mobil, ntah dia harus bagaimana, wajah orang yang sangat ia rindukan begitu jelas di mata. Bahkan kini sangat dekat dengannya. Sella terus meminta Tio untuk segera menjalankan mobilnya.
"Ayo Tio cepat pergi dari sini!"
"Yakin Sell?"
__ADS_1
"Tio cepet gue...auwh!" Sella meringis merasakan perutnya yang sakit. Keringat dingin mulai keluar dan membuat Tio semakin panik. Ketukan jendela dari luar pun semakin kencang terdengar.
"Sella loe kenapa?" Tio mengusap peluh yang keluar di kening Sella. Kemudian melihat tangan Sella yang berada di perutnya.
"Perut loe kenapa Sell?"
" Cepat pergi dari sini Tio! gue belum bisa ketemu sama kak Dimas, ayo Tio please..." lirih Sella yang membuat Tio semakin tak tega.
Tio membunyikan klakson mobilnya kemudian segera menginjak gas dan pergi dari sana meninggalkan Dimas yang terus mengejar keduanya hingga tubuhnya ambruk di atas aspal.
"Tega kamu sayang...." Air matanya kembali menetes. Dimas lemah tentang Sella, dia lemah semua yang menyangkut tentang Sella. Dia begitu mencinta hingga tak sanggup menatap ke depan tanpa Sella.
"Nak biarkan Sella pergi, dia masih butuh waktu untuk menerima semuanya. Dia bilang jika memang kalian berjodoh pasti akan menemukan jalannya untuk pulang. Dia hanya butuh waktu nak..."
Papah membantu Dimas untuk berdiri, memang dimas yang meminta ke dua orang tuanya untuk datang sebagai wali murid Sella. Karena dia tak tega jika di hari yang paling bersejarah bagi Sella tak ada wali yang mendampingi sedangkan dia menyelesaikan sebentar pekerjaannya di kantor.
Sella yang begitu cantik harus ia lepaskan kembali, bahkan hatinya sempat sakit melihat Sella di pelukan Tio. Dia sudah membayangkan jika hari ini mereka akan bertemu dan pulang bersama. Memperbaiki semua yang salah dan berusaha kembali menjalin kisah berdua. Sayangnya semua tak berjalan sebagai mana mestinya, hati Sella masih belum bisa menerima keadaan. Dia masih kuat mempertahankan keputusannya untuk menjauh dari Dimas.
"Sabar nak, semua butuh waktu dan kamu harus kuat menghadapi semua ini. Yang terpenting sekarang dia baik-baik saja, temannya terlihat begitu menyayanginya." Papah menepuk pundak Dimas memberi kekuatan kepada anaknya.
"Sekarang kita pulang ya, kamu juga pulang dan istirahat di rumah. Pasrahkan semua pada yang maha pencipta, mungkin ini teguran karena kita menjauh padaNya. Ikhlaskan semua yang terjadi nak...."
Kemudian semua masuk ke dalam mobil dengan Dimas yang membawa mobilnya sendiri. Dia sadar telah menjauh dari penciptanya. Bahkan apa yang ia lakukan saat ini salah dan dia membenarkan apa yang di katakan oleh mamahnya, jika ini teguran untuknya.
Dimas menepikan mobilnya di suatu masjid besar yang tak jauh dari sekolah Sella. Ia turun bertepatan dengan adzan Zuhur berkumandang. Dimas melangkah menuju tempat wudhu dan berwudhu di sana kemudian masuk ke dalam masjid tersebut.
Tenang, itu yang dia rasakan saat ini setelah menjalankan ibadah sholat Zuhur berjamaah. Mata nya kembali basah saat serangkaian doa dan kata ampun yang ia ucapkan.
Hingga ada seseorang yang menghampiri setelah melihat kesungguhan hati Dimas dalam memanjat doa dengan Isak tangis kepedihan.
"Assalamualaikum..."
"Wa'allaikumsalam maaf pak ustadz jika saya mengganggu."
"Tidak apa nak, saya sangat terharu dengan kesungguhan kamu, semua orang pasti ada masalah dan tak ada orang yang terlepas dari ujian. Berserah adalah keputusan terbaik, dengan kita berserah kepadaNya, akan menciptakan keikhlasan di hati yang membuat kita lebih mudah menghadapi semuanya."
"Saya selama ini telah menjauh pak ustadz, bahkan saya cetek ilmu, saya hanya pendosa yang datang dengan segala penyesalan."
__ADS_1
"Kamu bisa datang ke pondok jika ingin memperdalam ilmu agama, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Datanglah jika kamu ada waktu...."