
Sepanjang perjalanan menuju restoran, Sella hanya diam tak membuka suara. Sesekali Dimas melirik Sella dengan senyum tipis, padahal di dalam hati terasa menggelitik. Gimana tidak, beberapa menit lalu begitu gencarnya Sella memberi pertanyaan bagai istri yang sedang protes dengan penampilan suaminya yang kelewat tampan.
Jujur Dimas sangat senang, di sini sangat terasa rasa cemburunya Sella yang begitu membuatnya hilang kendali. Tangan Dimas terulur menggenggam jari Sella yang berada di atas pahanya. Tetapi saat ia ingin menciumnya, dengan cepat Sella menarik tangannya.
"Udah donk ngambeknya...."
"Siapa yang ngambek, lagian aku mau pulang kak bukan mau makan di luar begini."
"Nggak ngambek terus apa? katanya belum kasih jawaban buat aku, kenapa udah marah-marah pas lihat aku di kerumunin para siswi?"
"Siapa juga yang marah, sok atuh kalo mau mah, aku nggak ngelarang kak Dimas tinggal pilih mau yang mana," sahut Sella.
"Bener ya!"
"Hmmm....."
"Ya udah kita putar balik kalo gitu!" Dimas ingin segera memutar balikan mobilnya tetapi segera di cegah oleh Sella.
"Eh...kakak nich mau kemana? nggak usah macem-macem ya, kalo mau gitu tuh turunin dulu aku atau nggak pulangkan dulu aku kerumah orang tuaku, harus banget apa cari cewek di depan aku?"
Dimas menaikkan sebelah alisnya saat mendengar ucapan Sella, kemudian dia membuang muka menahan tawa yang sudah ingin meledak.
"Kenapa?" tanya Sella yang merasa aneh melihat ekspresi Dimas.
"Nggak apa-apa, cuma keingetan itu kemarin aku lihat kucingnya si Doni, yang betina cemburu saat si jantan nyari betina lagi buat di kawinin, besok nya langsung mati loh Sell!"
"Apa maksud kakak? kakak nyumpahin aku mati? iya?"
"Berarti benar donk kamu cemburu?"
Muka Sella seketika padam saat Dimas dengan lihainya memutar pertanyaan, hingga Sella tak mampu lagi berkelit. Dengan cepat Sella mengubah posisinya dengan membalikkan tubuhnya menatap jalanan. Rasanya saat ini dia ingin kabur dan menghindar.
Sesampainya di restoran Dimas menggandeng tangan Sella menuju ruang VIP yang telah Dimas pesan, dia tau sangat beresiko jika ada yang melihat kebersamaan keduanya, sementara status mereka yang masih di pertanyakan
"Duduk dek," ucap Dimas menggeser kursi untuk mempersilakan Sella duduk.
Setelah memesan bebeapa makanan kini keduanya makan dengan lahap, tanpa ada rasa canggung mereka menghabiskan semua makanan yang tersedia.
__ADS_1
Sella menyandarkan tubuhnya setelah makan, Dimas yang melihat itu tertawa gemas.
"Kenapa, kenyang banget?"
"Iya, kakak pesannya banyak banget!"
"Ya kalo udah kenyang nggak usah di lanjutkan juga dek, ini kamu habiskan semuanya." Dimas melihat piring kosong yang berada di atas meja dengan senyum geli.
"Abis sayang aja kak, ada makanan banyak banget di anggurin kan nggak boleh buang makanan!"
Dimas tersenyum mendengar ucapan Sella, dia suka dengan sikap Sella yang tidak seperti wanita lain yang akan menjaga imagenya padahal perut belum kenyang.
"Sell..." seketika suasana menjadi tegang saat Dimas memanggilnya dengan tatapan serius.
"Kakak ajak kamu kesini karena kakak butuh support kamu, besok sidang pertama perceraian aku dan Rika, dalam perpisahan pasti ada luka yang mendalam dan aku sadar betul akan itu, aku nggak munafik jika masih sangat sakit saat teringat penghianatan Rika." Dimas mendekati Sella dan menggenggam tangannya agar Sella berdiri.
"Aku butuh kekuatan dari kamu dan doa untuk kelancaran semuanya," Dimas memeluk Sella dengan erat, menjatuhkan wajahnya di ceruk leher jenjang wanita yang ia cintai.
"Aku mohon, apapun yang terjadi tetaplah di samping aku, aku butuh kamu sayang, aku mencintai kamu..."
"Kak, aku pasti doakan yang terbaik untuk kalian, tapi jangan begini kak, aku nggak mau terlalu banyak kontak fisik sama kakak, sebisa mungkin menjaga karena ini salah kak. Sekalipun kakak sudah berpisah, aku ingin hubungan yang sehat."
Dimas melepas pelukannya, dia terpaku mendengar ucapan Sella walaupun ada rasa bangga di hati, Sella mulai berprinsip dan Dimas akan menghargai itu.
"Maaf buat kamu nggak nyaman! kamu semakin dewasa, apa yang membuat kamu berfikir seperti ini?" Dimas menatap dalam manik mata Sella, tetapi dengan perlahan Sella menundukkan pandangannya.
"Karena yang kita lakukan selama ini salah, sudah terlalu banyak dosa yang kita berdua lakukan kak, maaf bukan aku menggurui tetapi aku sedang mencoba untuk belajar kak."
Dimas tersenyum mendengar ucapan Sella, dia bahkan tak berpikir sampai sana, terlalu terlena dengan dunia hingga tak memikirkan dosa.
"Aku bangga sama kamu, kalo gitu kita sama-sama belajar ya, ingatkan aku jika nafsuku membawa aku lupa akan khilafku," lirih Dimas.
"Saling mengingatkan ya Kak, aku juga belum pintar," jawab Sella dengan senyum di wajahnya.
Senyum Dimas luntur saat dia baru sadar jika di bibir Sella terdapat luka, tangannya terulur ingin menyentuh bibir Sella tetapi seketika ia urungkan.
"Bibir kamu kenapa?"
__ADS_1
"Oh ini...tadi nggak sengaja ke gigit pas makan di kantin, " jawab Sella dengan membuang wajah menghindari tatapan Dimas yang semakin dalam.
"Kamu nggak mau jujur?"
Sella mengangkat kepalanya, dapat di lihat jelas wajah dingin Dimas. Pria itu menahan emosinya, dia bukan lelaki bodoh yang tak tau itu di sebabkan apa tetapi dia tak terima siapa yang berani melukai wanitanya.
"Ini....."
"Siapa?"
"Ini....mmppfff...."
Dimas menyambar bibir Sella, dia tak tahan membayangkan ada yang menyentuh apalagi sampai menyakiti bibir mungil itu. Sella yang mendapat serangan kedua kali dari orang yang berbeda merasa kesal, Sella berusaha menolak tetapi Dimas tak mau melepaskan.
Ciuman Dimas berbeda dengan Reno, dia melakukan itu dengan lembut, mengabsen setiap inci rongga mulut Sella, dengan menyesap kedua bibir hingga tak ada tempat sedikitpun yang tak mendapat sentuhan lembut lidahnya.
Sella tak membalas sedikitpun, tetapi hal itu tak membuat Dimas menghentikan pergerakan lidahnya hingga dirasa cukup Dimas melepas dan menatap dalam manik mata Sella yang sudah mengembun.
"Maaf, tapi aku nggak mau tertinggal sentuhan orang lain disini, bahkan aku akan menghapus rasa menyakitkan yang kamu terima tadi. Maafin aku jika aku lancang, tapi apa rasa yang menyakitkan itu sudah tergantikan?" tanya Dimas dan di jawab dengan satu anggukan dari Sella.
"Apa pemuda brengs3k itu yang melakukannya?"
"Hmm....." Dimas mengepalkan tangannya, dirinya sungguh tidak terima dengan apa yang di lakukan oleh Reno.
"Besok kakak akan temui dia di sekolah dan kakak akan kasih pelajaran untuknya!"
"Jangan kak, dia sudah cukup babak belur hari ini karena di hajar oleh Tio, jadi aku rasa sudah cukup dia mendapatkan balasannya!"
"Tio?" tanya Dimas lagi. Dari awal Dimas sudah mengira jika Tio pun mencintai Sella, tetapi dia tidak ingin mempermasalahkan itu karena dia berpikir selama ini Sella hanya menganggap Tio sebagai sahabat.
"Iya kak, sama halnya dengan kakak sahabat aku pun tak terima," jawab Sella.
"Kamu tau alasannya?"
"Karena kita bersahabat kak!" jelas Sella.
"Karena dia mencintai kamu!"
__ADS_1