
Jantung Sifa berdebar kencang di balik pintu kamarnya, nafasnya tersengal setelah berlari cepat masuk ke dalam kamar saat melihat mamahnya Dimas yang hendak menaiki tangga.
"Hampir saja......"
Sella melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, pakaian lusuh yang ia kenakan sejak kemarin ia tanggalkan hingga polos kembali. Sella menyalakan shower untuk membasahi seluruh tubuhnya, mata sendu itu menangkap pantulan tubuhnya yang di penuhi banyak tanda merah ulah Dimas hingga ke pangkal paha.
Air matanya kembali mengalir saat merasakan betapa perihnya bagian inti Sella yang terguyur air membuat dirinya kembali mengingat ke brutalan Dimas saat mengambil kesuciannya beberapa jam tadi.
"Bagaimana gue harus bersikap sama kak Dimas setelah ini?"
Setelah mandi dan berganti pakaian rumahan Sella memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang seakan remuk redam, di tambah lagi dia yang tak tidur semalaman. Beruntung setelah acara ujian nasional yang di gelar pihak sekolah, murid-murid kelas tiga di perbolehkan untuk libur dan beristirahat di rumah.
"Eugh......" Dimas menggeliat saat sinar matahari sudah menembus celah korden yang menyilaukan.
Matanya menyipit saat sinar itu mengenai mata, Dimas bangun dan duduk menyandar headboard.
"Sssttt sakit banget pala gue!" tangannya memijat kepalanya yang masih terasa pusing akibat minuman semalam.
Matanya melebar saat pandangannya tertuju pada baju yang berserakan di lantai, kemudian dengan cepat Dimas menyibak selimutnya. Betapa terkejutnya dia melihat tubuhnya saat ini, Dimas berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. Lagi-lagi matanya kembali melebar saat menangkap noda merah yang sudah mulai mengering dan berganti warna di atas spreinya.
deg
Tubuhnya kaku dengan jantung yang berpacu, Dimas menjambak rambut dan mengusap kasar wajahnya.
"Sella!"
"Ini nggak mungkin!" Dimas menggelengkan kepalanya setelah sebagian ingatannya mulai kembali, dia mengingat jelas jika semalam membawa Sella ke club' malam. Dan dengan jelas dia mengingat dirinya yang meninggalkan Sella di dalam mobil hanya untuk minum agar bisa melupakan masalahnya bersama Rika.
"Bodoh bodoh bodoh.....bodoh loe Dimas, kenapa loe justru ngorbanin Sella!"
Dimas segera turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, dia harus segera menemui Sella. Dia tak menyangka akan berujung seperti ini, sudah di pastikan Sella saat ini pasti sedang sedih.
Setelah rapi dengan pakaian rumahannya Dimas segera mengganti sprei dan membereskan kerusuhan yang terjadi.
Berulang kali mulutnya mengumpat dan merutuki kebodohannya hingga menyebabkan Sella yang harus menanggung semuanya.
Hari ini Dimas memutuskan untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi, setelah bertemu dengan Sella dan membicarakan masalah semalam Dimas berniat untuk keluar dari rumah dan mengurus surat perpisahannya dengan Rika.
Dimas keluar dari kamar tepat saat sang mamah berniat membangunkannya.
__ADS_1
"Kamu udah bangun? pulang jam berapa semalam nak? Sella juga pulang nggak ya semalam?" pertanyaan mamah membuat mulut Dimas bungkam.
"Biar Dimas lihat di kamarnya mah!"
"Ya sudah kalo gitu, mamah dan papah tunggu kalian di bawah ya...kita makan bersama!" ucap sang mamah kemudian segera melangkah kembali menuju dapur.
Melihat sang mamah sudah semakin menjauh Dimas segera berjalan menuju kamar Sella, dia membuka pintu kamar Sella yang kebetulan tidak terkunci. Ini pertama kali dia kembali memasuki kamar Sella setelah hampir dua bulan hubungan mereka merenggang.
Langkahnya gamang mendekati Sella yang telah terlelap dengan tubuh yang di balut selimut. Tangannya terulur menyibak rambut yang menutupi wajah perempuan yang masih sangat ia cintai.
Hati Dimas seakan tersentil saat melihat ekor mata Sella yang masih menyisakan air mata. Apa lagi saat tangan Dimas menyibak lebih dalam rambut Sella yang menampakkan banyak tanda merah di leher jenjang gadis itu.
"Ini pasti sangat menyakitkan untukmu dek."
Mata Dimas mengembun melihat wajah polos gadis yang ia telah renggut kesuciannya. Dimas mencium dalam kening Sella dengan mata terpejam hingga air matanya menetes membasahi mata Sella yang mulai terbuka.
"Kak Dimas," lirih Sella membuat Dimas kembali membuka mata dan menatap wajah sendu Sella.
"Mau apa kakak disini?"
"Maafin aku dek! maaf jika aku terlalu jahat, maaf jika semalam aku berbuat kasar dan maaf jika aku telah merenggut milikmu yang selama ini kamu jaga," lirih Dimas membuat Sella membuang muka dengan air mata yang kembali mengalir tanpa pamrih.
Sella hanya diam tanpa ingin menjawab, dia hanya mampu mendengar tanpa sanggup berucap. Hatinya pun masih sakit jika mengingat kejadian semalam.
"Aku akan menikahi kamu setelah perceraianku dengan Rika selesai," ucap Dimas lagi.
Dimas tau betapa hancurnya hati Sella, dia menerima bagaimanapun sikap Sella padanya, tetapi setelah ini dia bertekad tidak akan melepaskan Sella.
"Sekarang kamu makan ya, mamah sama papah udah nunggu di bawah!"
"Kakak aja aku mau istirahat!" ucap Sella dengan tatapan datar.
"Selesai makan kamu istirahat lagi, dari kemarin perut kamu belum terisi kan! ayo Sell jangan buat mamah dan papah menunggu!" bujuk Dimas.
Akhirnya Sella mengalah demi orang tua Dimas, dia tidak ingin membuat orang tua Dimas curiga apa lagi sampai melihat Dimas yang begitu dekat dengannya saat ini.
Sella beranjak dari tidurnya, rintihan yang keluar dari bibirnya membuat Dimas semakin tak tega, dengan sigap Dimas segera membantunya untuk bangun.
"Apa Kakak bersikap kasar padamu?" tanya Dimas dengan menatap lekat wajah Sella.
__ADS_1
"Bahkan tulangku serasa remuk saat ini!" lirih Sella.
"Maafin kakak, maaf......." Dimas meraih tangan Sella dan menciumnya berkali-kali bahkan rasa bersalahnya sudah sangat menyakiti hatinya sendiri.
"Kamu nggak usah ke bawah biar kakak yang bawakan makanan untuk kamu!"
"Nggak usah, aku bisa sendiri!" Sella segera turun dari ranjang, matanya sempat terpejam saat merasakan intinya yang kembali terasa perih.
Langkahnya tertatih, rasanya sungguh menyakitkan, jika dia boleh memilih kenapa tak sekalian saja Dimas membuatnya sampai tak sadarkan diri hingga tubuhnya benar-benar pulih.
"Kakak bantu Sell..." ucap Dimas saat melihat Sella yang begitu kepayahan dalam membawa dirinya.
"Nggak perlu kak," tolak Sella.
"Tapi buat berjalan saja kamu kesakitan, mana aku tega membiarkannya, sekarang mending kamu tidur lagi, aku yang akan membawa makanan kamu kesini!" tegas Dimas, dengan sekali hentakan tubuh Sella melayang dan kembali di rebahkan di peraduan.
" Tunggu di sini dan sebentar lagi aku akan kembali!"
Tanpa menunggu jawaban dari Sella, Dimas segera keluar dari kamar, dia berlari kecil menuruni anak tangga. Dan mendekati kedua orangtuanya yang sedang menikmati makan.
"Loh, Sella mana Dimas? kok nggak ikut makan?" tanya mamah yang heran karena Dimas yang datang seorang diri.
"Sella lagi sakit mah, jadi aku antarkan saja makanannya ke kamar."
"Apa? Sella sakit Dim? Sella sakit apa? bahkan mamah nggak liat dia pulangnya kapan kemarin,"
"Mungkin kecapekan mah, dia kan baru selesai ujian kemarin," jawab Dimas ngasal, karena dia tidak mungkin berkata jujur pada kedua orang tuanya.
"Kecapekan karena kamu?"
deg
Dimas segera menolehkan kepalanya pada sang papah dan di sambut tatapan tajam dari beliau.
"Ya sudah sekarang kamu makan, biar mamah saja yang mengantarkan makanan untuk Sella!" ucap mamah setelah selesai menyiapkan makanan yang akan di bawa ke kamar Sella. Kemudian mamah pergi meninggalkan anak dan bapak yang masih saling bertatapan.
"Kamu bisa membohongi mamah kamu, tapi tidak dengan papah! cepat selesaikan masalah kamu dan jangan coba-coba lari dari tanggungjawab!"
...****************...
__ADS_1
Nah kan Dimas, mumet toh.....haduh😱😱😱