Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Muak!


__ADS_3

"Lepas kak!"


"Pakai cincinnya!"


"Kaka membuatku muak! sana kembali ke ranjang panasmu! kita akhiri semua ini!" tegas Sella dengan air mata yang sudah tak dapat di bendung lagi.


"Jadi gara-gara itu? kamu nggak tau apa-apa Sella jadi jangan salah paham!"


"Apa aku bodoh? dengan jelas kupingku mendengar ******* kalian! hentikan semua ini kak, aku nggak mau terus berada diantara kalian!"


"Aku hampir gila menahan semua ini, bahkan kepalaku rasanya mau pecah Sella, dan kamu bilang mau mengakhiri? sayang jangan keterlaluan!"


"Kakak yang keterlaluan! lepasin aku kalo nggak aku teriak!" ancam Sella.


"Teriak sekencangnya karena Rika nggak akan bangun, dia cukup lelah dan nggak mungkin mendengar teriakan kamu dek!"


Sella yang mendengar ucapan Dimas semakin di buat kesal, permainan macam apa sampai Rika seperti orang pingsan.


"Aku nggak peduli kak, bahkan aku nggak mau kakak sentuh aku lagi! sekarang menyingkir aku benci sama kamu!"


"Semarah itu kamu sayang, hey.....kamu termakan cemburu, bahkan aku menahan semuanya demi kamu!"


Dimas meraih tubuh Sella tetapi dengan kekuatannya dia mencoba untuk menghempaskan tangan Dimas.


"Sayang dengerin aku, cara kamu kayak gini buat aku bertindak nekat, aku nggak ngelakuin itu sama Rika, ngerti!"


"Bohong kamu kak!"


"Ok kalo kamu nggak percaya, akan aku lampiaskan semuanya sama kamu, biar kamu tau bagaimana sakitnya aku menahannya!"


Dengan sekali hentakan Dimas mampu mengangkat Sella dan membawanya masuk ke kamar.


"Jangan gila kak!"


"Kamu yang buat aku gila Sella, aku akan buktikan betapa aku mencintaimu!"


Dimas merebahkan tubuh Sella di ranjang, wajah Sella pias, dia takut Dimas benar-benar akan berbuat nekat. Sella berusaha memberontak tetapi kekuatan Dimas lebih besar darinya, Dimas mendekap Sella dan mencumbunya secara brutal.


"Lepas kak!"

__ADS_1


"Aku nggak akan lepasin kamu!"


Dimas membekap bibir Sella dengan bibirnya hingga membuat gadis itu kewalahan dengan sikap brutal kakaknya yang jauh dari kata lembut, Dimas begitu marah saat Sella dengan mudah meminta mengakhiri.


Tangan Dimas sudah bergerilya melepas apa yang Sella pakai hingga polos tanpa sehelai kain yang tersisa. Sella terisak, dia tidak membayangkan jika malam ini adalah malam terakhir dia menjadi seorang gadis, Dimas menjelajah menikmati setiap keindahan yang terpampang nyata, hingga rintihan dan lengu.han yang keluar dari bibir Sella terdengar jelas di telinganya.


"Kak aku mohon hentikan!"


"Kamu membuat aku gila sayang," ucap Dimas dengan suara berat menahan hasrat.


Dimas meninggalkan banyak jejak di tubuh Sella, hingga gadis itu bergejolak dan merasakan tubuhnya yang bergetar hebat ketika Dimas mampu melumpuhkan inti dari tubuhnya yang ia sapu selincah mungkin dengan lidahnya dan kini mengeluarkan banyak cairan di mulut Dimas.


Dimas memperhatikan wajah cantik Sella, dia beranjak dari tubuh kecil itu dan menarik selimut untuk menutupinya. Nafas Sella ngos-ngosan dengan dada naik turun tak beraturan. Pengalaman pertama baginya merasakan tubuhnya serasa melayang ke udara.


Dimas meninggalkan Sella dan masuk ke kamar mandi untuk menyelesaikan sesuatu yang membuat kepalanya mau pecah ditambah lagi bayangan tubuh Sella membuatnya tak mampu lagi menahan.


"Aku pikir ini akan menjadi malam terakhirku sebagai seorang gadis, aku akan sangat membencimu jika itu terjadi kak!" Sella melirik pintu kamar mandi yang sudah tertutup. Tangannya menghapus kasar air mata yang masih saja menetes tanpa permisi.


Sella beranjak mengambil baju yang berserakan di lantai ulah Dimas tadi dan memakainya lalu kembali lagi ke atas ranjang.


Tubuhnya serasa lemas seperti ada yang terlepas bebas dari dalam dirinya. Sella masih tidak mengerti apa maksud dari Dimas tadi, tetapi sungguh Sella di buat malu setengah mati.


Sella yang lemas akhirnya terpejam, hingga pergerakan di tubuhnya membuat matanya kembali terjaga. Dimas yang baru selesai dengan kegiatannya menyusul Sella masuk ke dalam selimut dan melingkarkan tangannya di pinggang Sella.


Sella menyingkirkan tangan Dimas rasanya dia kesal sekali dengan pria itu, tetapi sikapnya tak menyurutkan Dimas dengan sekali tarikan Sella sudah masuk kedalam dekapannya.


Tangan Dimas terulur mengusap punggung Sella agar lebih tenang, kini waktunya menjelaskan.


"Gimana tadi rasanya,hhmm?" Dimas mengangkat dagu Sella agar bisa menatapnya.


"Kamu suka kan, wajah kamu nggak bisa bohong sayang, bibir kamu berucap minta lepas tetapi tubuh kamu menginginkan," Sella kembali menundukkan kepalanya rasanya sungguh malu mendengar ucapan Dimas.


"Rasanya Pengan gue tendang nich orang!" batin Sella.


"Kamu mende**h menikmat*, tanpa kakak berbuat lebih dan itu juga yang kakak lakukan pada Rika, kakak nggak melakukan seperti apa yang kamu pikirkan!"


Dimas kembali mengangkat dagu Sella dan mengecup singkat bibir mungilnya.


"Kakak inget kamu dek, bahkan kakak menahan sampai sakit rasanya." Ucapan Dimas membuat hati Sella sedikit melunak tetapi dia tidak ingin Dimas merasa di atas awan setelah melakukan semua itu tadi.

__ADS_1


"Kakak terpaksa melakukan itu sama kamu agar kamu paham, karena dengan ucapan aja kamu nggak akan percaya sama kakak!"


"Kakak sedih saat kamu bilang muak sama kakak, apa lagi kamu bilang ingin mengakhiri hubungan kita, kakak nggak mau sayang, kakak benar-benar mencintai kamu! kakak sudah mulai berusaha walaupun masih tak dapat terlihat oleh kamu!" Dimas mengecup kening Sella dengan air mata yang menetes, dapat Sella rasakan ketulusan itu hingga membuat air mata Sella pun tak mampu lagi dia tahan. Keduanya larut dalam Isak tangis masing-masing, Dimas semakin mengeratkan pelukannya.


"Kakak pakaikan lagi ya cincinnya," ucap Dimas dan dianggukki oleh Sella.


Dimas memakaikan kembali cincin berlian pemberiannya tadi di jemari Sella, kemudian mengecup kedua tangan Sella. Senyum hangat terbit menghiasi wajahnya dan mengunci mata Sella hingga kecupan-kecupan dari Dimas mampu membuat bibir Sella tersenyum.


"Sayang!"


"Hmmmm...."


"Kakak boleh tanya?"


"Apa? jangan susah-susah pertanyaannya, Sella ngantuk kak!" ucap Sella dengan mata terpejam.


"Puas nggak?" tanya Dimas membuat Sella membuka mata dan langsung menoleh kearah Dimas.


"Pertanyaan macam apa ini"


"Nggak ada pertanyaan lain kak?" tanya Sella dengan pipi yang sudah memerah menahan malu karena bayangan Dimas saat mencumbunya tadi seketika terlintas di pikirannya.


"Nggak ada, Kakak penasaran dek!"


"Tau akh!" Sella segera memunggungi Dimas.


Dimas memeluknya lagi dan menelusupkan kepalanya disela-sela leher Sella.


"Tadi kamu **** sayang, bikin kakak tambah pusing!"


"Kakak bisa diem nggak! lagian balik sana Kak kekamar kakak, nanti kalo Kak Rika nyariin gimana coba?" kesal Sella yang sejak tadi menahan malu.


"Nggak mau, kakak mau tidur sama kamu sayang!" rengek Dimas.


"Ya udah kalo gitu diem! aku besok sekolah loh kak, jadi jangan ganggu aku!" celetuk Sella menahan malunya.


"Maafin tindakan kakak tadi ya, kakak udah nggak tau caranya buat jelasin ke kamu! Kakak juga udah berusaha untuk tidak memakai Rika, jadi please.... pelan-pelan ya syank! kamu sabar....."


Aku nggak tau harus ngomong gimana lagi sama kakak, menghindarpun nggak bisa...aku pasrah Ya Tuhan walaupun aku tau jalanku salah, aku cuma bisa berharap yang terbaik buat semuanya....

__ADS_1


Sella tak ada niat menjawab ucapan Dimas, dirinya seakan sudah terbelenggu oleh cinta kakak iparnya sendiri, yang sekarang dia bisa lakukan hanya mengikuti kemana arah dia harus melangkah.


__ADS_2