Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Naira dan Kaira


__ADS_3

Brangkar rumah sakit melaju cepat masuk ke dalam ruang UGD. Sella di periksa dan sudah siap mendapatkan tindakan. Dokter meminta bibi untuk masuk menemani, karena Sella tak sanggup sendiri.


Sudah satu jam menunggu hingga kedua orang yang kini duduk di kursi tunggu tampak panik. Keduanya bermuka tegang dengan pikiran masing-masing. Hingga suara kehidupan membuat keduanya bernafas lega.


Bibi keluar dengan nafas tak kalah lega dan senyum mengembang. Pengorbanan Sella selama ini menghasilkan sesuatu yang sungguh luar biasa.


Kehidupannya tak lagi sendiri, semangatnya jelas bangkit dan kesehariannya mungkin akan lebih berwarna lagi.


"Bagaimana Bi?" tanya seseorang yang sudah tak sabar.


"Alhamdulillah lancar, jika berkenan bisa tolong mengadzani?"


"Baik Bi.."


Air mata Sella menetes saat seseorang yang telah lama tak ada kabar masuk ke ruangannya dengan senyum mengembang. Apa lagi saat meminta ijin untuk mengadzani kedua malaikat kecil yang begitu cantik.


Haru hingga Isak tangis terdengar di telinga yang menyesakkan dada. Tak di sangka bahkan ada dua generasi penerus yang tak berayah. Sella pun tak menyangka jika kedua putrinya akan di adzani oleh orang yang sama sekali tak ada hubungan darah.


"Makasih..." ucap Sella setelah kedua putrinya di masukkan kembali ke dalam boks bayi.


"Maaf..."


"Untuk apa?"


"Karena nggak ngasih kabar, sampai nggak tau kalo ponakan gue udah lahir ke dunia. Pasti sulit banget ya melalui semuanya?" ucap Tio dengan rasa bersalah.


Sella tersenyum, Tio masih seperti dulu dan tak berubah. Seperhatian dulu dan pengertian.


"Loe lupa kalo gue wanita kuat?"


Tio ingin memeluk Sella tetapi di tahan oleh wanita itu, Sella mengangkat kedua tangannya agar Tio tetap menjaga batasan. Hal itu membuat Tio mengkerutkan dahinya dengan perasaan heran. Tetapi seketika dia sadar jika Sella sudah berubah.


"Sorry, pantes tadi gue sempet nggak percaya kalo itu loe, beda makin cantik! apa lagi sekarang keibuannya lebih terlihat."


"Kapan sampai?"


"Tadi pas loe kesakitan, bahkan gue yang bawa loe ke rumah sakit." Tio duduk di samping ranjang Sella dengan berjarak.


"Gue nggak engeh kalo itu loe, mungkin karena saking sakitnya, tapi loe beda, makin tampan, udah punya cewek berapa?"


"Pertanyaan loe nggak ada yang lain? kebiasaan ngerusak suasana, lagian loe pikir gue playboy?"

__ADS_1


"Heheheh...." Sella tertawa Tio tetap sama, tak ada yang berubah walaupun sudah sembilan bulan lebih tak bersua.


"Apa dia nggak tau?" tanya Tio dengan wajah yang serius kemudian menatap kedua bayi yang begitu cantik, dengan wajah tak menyimpang dari sang ayah. Hanya bagian bibir keduanya yang seperti ibunya.


"Belum..."


"Nggak ada niat buat mengabari?"


"Mungkin sudah bahagia dengan yang lain, gue udah cukup karena adanya mereka, nggak ingin serakah dan lebih pasrah. Semua akan indah dan mereka keindahan yang nyata."


Tio menarik nafas dalam, bagaimana mungkin Sella bisa melalui ini sendiri. Walaupun ada bibi, tapi tetap saja dia single mother. Nggak mudah mengurus dua anak, di tambah lagi harus bekerja dan kuliah.


"Gue nggak akan ingkar janji, gue bakal dateng buat njenguk kalian minimal satu tahun sekali. Gue sibuk banget kemarin, makanya nggak bisa pulang. Tapi mungkin akan beda kalo gue tau loe hamil." Tio menyesal tak mengabari karena memang kegiatannya begitu padat hingga dia pun hanya ada waktu untuk istirahat.


"Gue cukup ngerti Tio sama kesibukan loe di sana, lagian yang penting kita semua sehat. Kalo waktunya tiba juga loe kan bakal balik juga ke sini."


Tio menggendong salah satu dari bayi yang nampak gelisah, kemudian mengayunkan pelan hingga kembali terlelap.


"Bibi sama ayu mana?"


"Mereka pamit pulang dulu mau nguburin Ari-ari si kembar, gue seminggu di sini nanti bisa bantu jagain loe sampe pulang dari rumah sakit. Lanjut balik ke Jakarta."


"Makasih ya, loe emang sahabat terbaik." Sella tersenyum melihat Tio kemudian mengalihkan pandangannya ke arah kedua bayi yang kini menjadi sumber kekuatan.


"Belum kepikiran, mau fokus sama semua urusan dulu. Mungkin nanti kalo udah waktunya tiba."


Tio mengerti maksud Sella walaupun dirinya bersedia jika memang Sella mau untuk menikah dengannya.


"Loe mau ngasih nama mereka siapa?"


"Naira dan Kaira...gimana?" Sella tersenyum merekah, setelah melalui sekian purnama baru kali ini Sella sebahagia ini. Walaupun di hati ada rasa khawatir.


Tio memenuhi janjinya selama seminggu dia menemani Sella, saat masih di rumah sakit sampai pulang kerumah bibi.


Bahkan Tio menyuruh orang untuk membuatkan kamar khusus untuk si kembar. Tio memberikan wallpaper pink serta karpet senada dan banyak boneka.


"Sementara boks bayi dulu ya Sell, nanti kalo gue balik lagi gue beliin ranjang yang empuk buat mereka. Ya...pas sama umur mereka yang sudah agak besar."


"Nggak pa-pa Tio, ini udah cukup lagian kan masih bayi, takut jatuh juga. Makasih banyak ya, harusnya nggak usah gini juga. Gue udah banyak ngerepotin loe Tio." Sella berdiri di depan Tio yang sedang mengatur posisi serta perabot si kembar, dengan menjaga jarak.


"Nggak usah kebanyakan bilang makasih, gue seneng ngelakuinnya, mereka udah gue anggap sebagai anak-anak gue sendiri. Apa lagi kalo bundanya mau gue nikahin, pasti gue bahagia banget!"

__ADS_1


Sella tersenyum menanggapi ucapan Tio, "Gue harap loe dapetin yang lebih dari gue Tio, loe orang baik. Nggak pantes gue sama loe apa lagi dengan kondisi gue yang saat ini."


"Gue nggak pernah mandang kayak gitu Sell, dan loe tau kalo gue tulus sama loe. Tapi gue juga nggak akan maksa loe dalam hal itu."


"Cuma sekarang beda ya, gue udah nggak bisa meluk dan nyium loe lagi. Tapi gue salut sama loe, mudah-mudahan Istiqomah ya." Tio tersenyum memandang Sella sejenak kemudian kembali melihat si kembar yang tengah tertidur lelap.


Keesokkan harinya Tio pamit untuk segera kembali ke Jakarta karena lusa dia harus segera kembali ke negeri orang.


"Bi, titip Sella sama kembar ya kalo butuh apa-apa telpon Tio aja, nomornya udah di save sama Ayu. Yu, Kak Tio titip Sella sama anak-anak ya, sekalian bantuin kalo mereka butuh sesuatu."


"Siap kak! kakak tenang aja," sahut Ayu dengan senyum manisnya.


" Sell, gue balik ya. Loe hati-hati dan jangan lupa jaga kesehatan. Mau titip salam nggak?" ledek Tio.


"Apaan sich Tio!"


"Ya kali aja mau titip salam, mumpung gue ke Jakarta. Jagain anak-anak kita ya Bun...."


Sella memutarkan kedua bola matanya, lagi-lagi Tio meledeknya.


Sesampainya Tio di Jakarta sang papah memintanya langsung datang ke kantor, dalam perjalanan Tio terus saja kepikiran dengan Sella dan si kembar yang saat ini sangat membutuhkan perhatian.


Menginjakkan kakinya kembali di kantor sang papah yang sudah lama sekali tidak ia singgahi cukup membuatnya kagum, banyak yang berubah dan tentunya semakin besar perkembangannya.Dan kelak dia yang akan menempati posisi tertinggi menggantikan sang papah.


Tio masuk kedalam ruangan sang papah dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia tercengang melihat siapa yang tengah duduk di depan sang papah, entah ada kepentingan pekerjaan atau yang lain.


"Tio anak papah, akhirnya kamu pulang nak." Mereka saling berpelukan melepas rindu yang tertahan.


"Ayo duduk nak, papah meminta kamu kesini karena mamah nggak ada di rumah, ada urusan dengan teman-temannya. Tapi setelah itu mamah kesini dan kita pulang bersama."


"Oh iya kenalkan dulu partner bisnis papah, beliau yang akan membantu memasarkan produk kita. Pak Dimas kenalkan ini putra tunggal saya Tio."


Tio mengulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh Dimas. "Apa kabar kak?"


"Alhamdulillah baik...."


"Kalian sudah saling kenal?"


"Dia mantan kakak iparnya Sella Pah!"


Sang papah mengangguk paham dan Dimas menundukkan kepala saat nama Sella jelas terdengar.

__ADS_1


"Lalu bagaimana kabarnya nak?"


"Sangat bahagia Pah."


__ADS_2