
Setelah membersihkan diri Dimas segera memasuki kamar Sella lalu menguncinya. Pria itu membawa langkahnya masuk ke dalam selimut dan memeluk gadis cantik yang telah lelap tertidur dengan sisa air mata yang masih jelas terlihat.
Menelusupkan wajahnya di sela leher jenjang dengan aroma khas yang membuat dirinya lebih tenang.
"Maaf!"
Gadis itu tak bergeming bahkan hanyut kedalam mimpi dengan dekapan hangat yang membuatnya semakin nyaman.
Mencium aroma tubuh Sella mampu menurunkan segala emosi dan kecemburuan di hati hingga Dimas terlelap dalam sunyi.
Sella yang merasa semakin nyaman mulai berbalik dan masuk kedalam dekapannya, hingga pagi menjelang gadis itu terjaga dengan sedikit menganga mendapati suami dari kakaknya tidur dengan nyaman di ranjang ipar kesayangan.
"Kak bangun!"
"Kak!"
Waktu masih menjelang subuh tapi Sella takut jika Rika sadar dan melihat suami kesayangannya justru tidur di kamar adiknya.
"Kak!" Dimas tak kunjung terjaga hingga Sella pasrah dan masuk kamar mandi.
Usai membersihkan diri Sella keluar dari kamar mandi dan melirik ranjang yang sudah kosong.. Ada rasa lega di hati, karena memang tak seharusnya dia mengharapkan yang bukan miliknya.
Menyelesaikan semua pekerjaan serta mengisi kembali meja makan dengan berbagai makanan kesukaan kedua kakaknya, Sella segera kembali lagi menuju kamar, dia enggan sarapan bersama. Gadis itu memutuskan untuk diam dikamar dan menanti Reno yang katanya ingin mengajaknya keluar hari ini.
Dimas sarapan berdua dengan Rika, ketidakhadiran Sella membuat Dimas cemas, apa dia masih marah? atau memang tak merasa nyaman jika harus ada Rika?
Banyak pertanyaan di kepala Dimas hingga kegelisahannya mampu tertangkap oleh Rika..
"Kamu kenapa sich mas? nggak enak badan? ini makannya juga nggak di habiskan?"
"Nggak apa kok, cuma lagi nggak nafsu makan aja," Dimas beralasan sesuai hatinya.
Hingga menjelang siang Sella tidak kunjung keluar kamar, bahkan Rika dan Dimas yang sudah kembali ke meja makan untuk makan siang, hal ini membuat Dimas tidak tahan.
"Sella kenapa tidak ikut makan sejak pagi?"
"Biarin saja lah mas, sudah besar kalo laper juga nanti dia turun."
Dimas tidak minat untuk menimpali omongan istrinya yang terkesan cuek dengan adiknya, pria itu melangkah menuju kamar Sella.
tok tok tok
__ADS_1
Ketukan pintu sejak tadi tak kunjung membuat Sella keluar dari kamar, gadis itu terlalu malas untuk menanggapi penghuni rumah lainnya. Hingga Dimas di buat khawatir dengan keadaan gadisnya yang tak kunjung membuka pintu.
"Sell.....!"
"Buka Sell, makan dulu kamu dari pagi belum makan loh!" seru Dimas yang terus berusaha membuat Sella agar mau keluar kamar.
Dimas tak menyerah, pria itu segera merogoh ponselnya dan mencari kontak Sella. Nada dering ponsel gadis itu tertangkap hingga ke telinganya, tetapi tak kunjung di terima.
Sella keluar dari kamar mandi kemudian melirik layar ponsel yang sudah penuh dengan panggilan tidak terjawab dari Dimas dan suara ketukan yang tak kunjung reda. "Biarin aja lah, kalo capek juga berhenti!"
Sella menuju lemari lalu mengambil dress yang ingin ia kenakan untuk pergi bersama dengan Reno, kemudian memoles wajah ayunya yang semakin membuatnya terlihat cantik dan menarik.
Sella bersenandung melupakan ke sakitannya tak peduli Dimas yang sejak tadi masih berada di luar kamar. Dia sudah berencana hari ini akan melepaskan segala kepenatan hidup dan pergi bersenang-senang dengan Reno.
Rika yang sejak tadi mendengar Dimas terus mengetuk pintu kamar adiknya yang tak kunjung terbuka, di buat terganggu dan geram. Wanita itu menghampiri Dimas yang masih betah berdiri di depan pintu kamar Sella.
"Kamu ngapain sich mas? udah biarin aja!"
"Nggak bisa gitu donk, kasian dia belum makan dari pagi loh!" mendengar ucapan suaminya membuat Rika semakin kesal, dia lantas menggedor-gedor kamar Sella dengan kencang.
"Sella buka pintunya! kamu mau mencari perhatian semua orang! iya!" teriak Rika yang membuat Sella bergidik mendengarnya.
Berbeda dengan Rika, dia justru merasa kesal dengan Sella yang mengganggu hari liburnya dengan acara mogok makan.
"Ngapain aja kamu di dalam hah? jangan caper jadi anak! kalo nggak mau makan bilang nggak usah ngurung diri di kamar, mungkin aku cuek tapi kamu liat mas Dimas dari tadi khawatir sama kamu! nggak usah berulah Sella, kamu ganggu waktu libur aku!" bentak Rika yang kemudian masuk kedalam kamar dengan menutup kasar pintunya.
Dimas sejak tadi memperhatikan Sella tanpa mengeluarkan sepatah katapun, hingga Sella jengah kemudian masuk kedalam kamar dan menutup kembali pintu kamarnya, sadar akan itu Dimas langsung menahan dengan satu kaki yang ia biarkan terjepit.
"Buka pintunya!" tegas Dimas dengan sikap dinginnya.
"Mau ngapain sich kak, aku mau bersiap dulu, aku mau pergi! kalo nggak ada yang mau di omongin sama kakak mending kakak pergi dari kamar aku!"
"Kamu kenapa sich! dari pagi nggak keluar kamar dan sekarang malah marah-marah sama aku? jangan kayak gini Sell, kamu buat aku gelisah! sekarang lepas aku mau masuk!"
Sella yang melihat sorot tajam mata Dimas dan sikapnya yang semakin dingin akhirnya menyerah, gadis itu mundur dan membiarkan Dimas untuk masuk.
Dimas yang mendapat celah segera masuk dan menutup pintu kamar Sella. Pria itu mendekati gadisnya dan menatap intens manik mata dengan tatapan sendu tetapi menaruh kemarahan di sana.
"Kamu marah sama aku?"
"Ngapain marah," Sella segera memutus kontak mata dari Dimas dan memilih duduk di pinggir ranjang.
__ADS_1
"Mendingan kakak keluar, aku nggak mau kak Rika semakin marah sama aku!"
Melihat sikap Sella membuat Dimas semakin resah, pria itu mendekati adiknya dan ikut duduk di samping sang adik.
"Maafin aku yang udah buat kamu kecewa, tapi aku juga merasa kesal karena kamu masih berhubungan dengan pacar kamu!"
"Lantas kakak sendiri bagaimana? kakak masih sangat menikmati belaian kak Rika, bahkan kakak nggak sabar hingga menarik kak Rika ke kamar! terus aku gimana? harus kesal seperti kakak padahal hanya melihat aku menerima telpon, apa aku harus teriak pada kakak agar berhenti mendesah hingga membuat telingaku panas? hhmmm?"
"Sell ...."
"Nggak cuma kakak yang punya perasaan! Nggak cuma kakak yang bisa marah! dan nggak cuma kakak yang gelisah! tapi aku sadar posisi aku siapa!"
"Dan karena aku sadar akan posisi aku, sekarang kakak keluar!" ucap Sella dengan nada rendah tapi mampu menembus hati Dimas.
Dimas tidak sadar jika pergulatannya semalam bersama Rika mampu begitu mengganggu Sella bahkan menyakiti hatinya.
"Maaf....."
"Maafin aku sayang," Dimas meraih tangan Sella tetapi gadis itu segera menepisnya.
"Sayang!"
"Stop panggil aku sayang kak! jangan melebihi batasan!"
Mendengar ucapan Sella membuat Dimas frustasi, pria itu mengacak rambutnya dan mengusap kasar wajahnya.
Hingga suara klakson mobil membuat Sella mengintip jendela, terlihat mobil Reno sudah berada di depan pagar. Sella segera meraih tas nya dan segera melangkah keluar kamar tetapi dengan sekali tarikan Dimas mampu membuat tubuh mungil itu masuk kedalam dekapannya.
"Jangan pergi!" bisik Dimas tepat di telinga Sella.
"Lepasin kak!"
"Nggak akan, sebelum kamu janji nggak akan pergi sama dia!"
"Jangan keterlaluan kak! bahkan aku nggak melarang kakak bersama kak Rika, jadi lepasin aku!" bentak Sella.
"Jangan buat aku gila sayang! tetap dirumah jika ingin bertemu dengan dia atau pergi dengan banyak tanda kepemilikan dari ku!" ancam Dimas yang sudah menyusuri leher putih Sella, Dimas sudah mulai memberikan kecupan-kecupan kecil hingga membuat tubuh Sella menegang. Gadis yang sejak tadi memberontak di buat mati gaya saat sapuan lidah Dimas membasahi lehernya dan mulai mengeratkan pelukannya. Sella yang merasakan gelora hasratnya mulai terpancing mencoba mengembalikan akal sehat yang mulai sesat oleh perlakuan Dimas.
Hingga lenguhan keluar dari bibir mungil Sella kala dimas mencoba menyesap kulit putih gadis itu yang sejak tadi membuatnya resah.
"Stop kak! ok aku dirumah!"
__ADS_1