
"Assalamualaikum...."
"Wa'allaikumsalam...."
"Sella....Ya Allah sayang, mamah sangat merindukanmu nak!" ternyata yang datang adalah kedua orang tua Dimas. Sella sangat senang karena dia juga sangat merindukan kedua orang yang dulu sangat mencintainya.
Sella dan mamah Dimas saling berpelukan meluapkan rasa rindu yang selama lima tahun ini mereka tahan.
"MasyaAllah kamu semakin cantik sayang."
"Makasih Tante.." ucap Sella tersipu malu.
"Kok Tante, mamah dong sayang."
"Ah.... iya mah," kemudian Sella melirik papah Dimas yang juga terharu akan pertemuan mereka.
"Pah...."
"Iya nak, kamu sehat?"
"Alhamdulillah sehat Pah, papah dan mamah bagaimana?"
"Alhamdulillah kami sehat nak."
"Alhamdulillah, eh ....Sella hampir lupa, ayo masuk dulu Mah Pah, maaf berantakan..." kemudian Sella mempersilahkan mereka untuk duduk, sementara Sella melangkah ke belakang untuk membuatkan minum.
"Bunda....." seru Naira dan Kaira yang berlari masuk kerumah karena merasa haus.
Kedua orang tua Dimas tersenyum bahagia saat melihat kedua anak kembar yang lucu dengan kerudung di kepalanya.
"Hai sayang....." sapa sang nenek.
Kini keduanya berhenti dan sedikit menunduk saat mereka melihat ada tamu dari bundanya yang sedang memperhatikan dan menyapa mereka.
"Sini nak! jangan takut ini nenek, ibu dari ayah kalian." Mamah Dimas sangat terharu melihat keduanya yang sudah tumbuh besar menjadi anak yang pintar dan sopan.
"Ayah....."
"Iya, ayah kalian. Dan ini kakek." Papah Dimas tersenyum melihat kedua pasang mata polos itu yang sedang memperhatikan dirinya.
Keduanya mendekat kemudian tak lupa mencium tangan nenek dan kakek lalu duduk di samping mereka.
"Namanya siapa?"
"Aku Naira kek."
"Dan aku Kaira..."
"Wah nama yang cantik secantik orangnya, sudah sekolah nak?" tanya papah lagi.
__ADS_1
"Sudah kek, TK kecil kata bunda bulan depan naik TK nol besar," jawab Kaira.
Kedua orang tua itu tampak terharu, mereka tidak menyangka jika sudah memiliki cucu selucu ini. Sangat di sayangkan tak bisa mendampingi saat mereka masih bayi. Tapi bersyukur masih di beri kesempatan untuk bisa bertemu dan bersama lagi.
"Mah, Pah....di minum dulu tehnya!" Sella meletakkan dua cangkir teh di atas meja.
"Makasih sayang, Sell...pasti sulit banget melalui semua ini ya nak? maafkan Dimas ya sayang.." ucap mamah dengan raut wajah sendu.
Sedangkan papah sudah mengajak kedua cucunya untuk bermain di halaman belakang. Memberi waktu untuk istrinya dan Sella berbicara berdua, beliau pun sangat bersemangat ketika kedua cucunya mengajak main bersama.
"Tidak apa mah, memang ini juga sudah menjadi keputusan Sella dulu, jadi sesulit apapun Sella lalui. Bersyukur adanya kehadiran mereka menjadi pelipur lara bagi Sella."
"Mamah bangga sama kamu, kamu ibu yang hebat nak. Kedua cucu mamah menjadi anak-anak yang pintar. Dan tujuan mamah dan papah kesini untuk mengajak kalian ke Jakarta, mamah juga ingin mengkhitbah kamu untuk Dimas. Maukah kamu jadi istri dari putra mamah?"
Sella tercengang mendengar penuturan dari mamah, dia tak menyangka akan tujuan beliau berkunjung. Apa yang harus dia jawab sedangkan di hati masih ada keraguan yang mendalam.
"Maaf mah, apa dalam jangka waktu 5 tahun ini kak Dimas belum memiliki istri? Sella tidak ingin tujuannya dari semua ini karena semata-mata tanggung jawab. Dan akhirnya merusak rumah tangga yang telah terbina. Sella tidak keberatan jika kak Dimas tak menikahi Sella, kak Dimas juga bisa menjenguk kedua anaknya kapanpun dia mau."
Sang mamah tersenyum dan mengusap lembut tangan Sella, "Apa yang kamu khawatirkan nak?"
"Sella tidak ingin di sebut sebagai pelakor mah, Sella lebih baik sendiri dari pada harus kembali merusak seperti dulu." Sella menundukkan kepalanya mengingat kejadian 5 tahun lalu.
"Dimas memang sempat akan menikahi seorang gadis, tetapi di hari pernikahan mereka, Dimas gagal mengucapkan ijab kabul. Hanya ada nama kamu di hatinya, membuat tubuhnya pun menolak membersamai wanita lain nak."
"Apa kah Zahra?" lirih Sella.
"Dari panggilan di ponsel kak Dimas mah, Sella pikir itu istri kak Dimas."
"Jadi itu yang membuatmu ragu?"
deg
Sella menatap seseorang yang ntah sejak kapan berdiri di belakangnya. Jantungnya berdebar setiap mendengar suaranya.
"Dia hanya gadis yang singgah sebentar karena balas budiku pada orang tuanya. Tetapi Allah berkehendak lain, tak ada nama wanita lain yang keluar dari lisanku selain kamu."
Dimas melangkah mendekati sang mamah, mencium kening beliau kemudian menatap sang mamah dengan senyum mengembang.
"Apakah wanita yang aku inginkan sudah menerimanya mah?"
"Masih harus usaha lagi sayang!" jawab mamah dengan senyuman. "Berusahalah lebih gigih lagi, dia wanita baik yang tidak ingin merusak milik orang lain."
"Tetap di belakangku untuk memberi restu dan kekuatan, aku akan berusaha sekali lagi mendapatkannya mah," ucap Dimas kemudian mengecup tangan sang mamah.
"Berusahalah nak...."
Kemudian Dimas kembali berdiri di belakang Sella. Dengan hati yang mantap dia meminta Sella sekali lagi untuk menjadi istrinya.
"Sella Sesillia, ijinkan aku menyempurnakan kembali ibadahku untuk meminangmu dan menjadikanmu istri satu-satunya dalam hidupku di dunia dan akhirat. Menjadikanmu satu-satunya wanita tempatku menumpahkan semua khilaf dan nafsuku. Mengajakmu sama-sama beribadah dan mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah warahmah."
__ADS_1
"Ini bukan semata-mata rasa tanggung jawab, tapi rasa cinta yang masih tersimpan rapat. Dan Allah sangat baik mempertemukan tulang rusukku yang telah lama hilang. Dengan ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sangat aku nantikan. Sella Sesillia, apakah kamu bersedia menerima pinanganku?"
Sejak tadi Sella hanya mampu meneteskan air mata, dia tak menyangka hari ini akan benar-benar nyata. Tubuhnya bergetar saat sang Adam meminta ijin untuk meminangnya.
Sella menoleh ke arah sang mamah yang dengan mantap menganggukkan kepalanya dengan senyum mengembang dan pipi yang sudah basah. Sella menarik nafas dalam dan memejamkan mata sejenak. Dengan bismillah Sella kembali menatap sang mamah dan menggenggam tangan beliau.
"Mah, Sella bersedia menjadi menantu mamah." Sella mencium kedua tangan beliau kemudian mereka saling berpelukan.
Dimas tersenyum dengan berderai air mata, ini awal bukan akhir dari semuanya. Dia berjanji akan membahagiakan bukan untuk memberi luka.
"Alhamdulillah ya Allah..." Rasa lega itu tak dapat ia sembunyikan, ingin rasanya memeluk karena rindu yang sudah menumpuk.
"Mbak Sella selamat ya...." seru ayu yang sejak tadi ternyata menyaksikan semuanya bersama dengan bibi yang sama-sama sudah menangis bahagia.
"Bi..."
"Selamat ya nduk, semoga ini akhir dari kepahitanmu selama ini, bibi cuma bisa mendoakan, di lancarkan semuanya sampai hari H dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah nduk."
"Aamiin...makasih Bi," Sella dan bibi saling berpelukan dengan tangis bahagia. Beliau yang tau betul beratnya perjuangan Sella sampai di titik ini.
"Ayah..." seru Naira dan Kaira yang sudah masuk kerumah bersama kakeknya, kedua anak kecil itu berlari menghampiri sang ayah yang sudah bersimpuh dengan satu lututnya menyambut kedua putri yang ia rindukan.
"Anak ayah, ayah rindu dengan kalian berdua."
"Ayah lama sekali baru datang!" ucap Naira protes.
"Iya ayah, sudah lama nggak main sama ayah, apa ayah akan lama di sini?" sahut Kaira.
"Ayah nggak lama sayang, ayah harus bekerja lagi. Tapi Ayah akan mengajak kalian ke rumah ayah agar kita bisa bertemu setiap hari, kalian mau ikut?"
"Mau ayah..." seru keduanya dengan semangat. Membuat semua yang ada di sana tersenyum.
"Tapi bunda gimana ayah?" tanya Naira dengan wajah yang kembali sendu.
Dimas gemas melihat kedua putrinya, "Coba kalian ajak bunda!"
"Bunda, mau ikut ayah. Ayo ikut bunda, biar bisa bertemu setiap hari." Melihat wajah kedua putrinya yang berharap dan Dimas yang sudah menganggukkan kepalanya. Akhirnya Sella pun mengiyakan.
"Horeeee.....ikut ayah pulang!"
...****************...
Akhirnya....☕
Makasih atas dukungan kalian, jangan lupa like, coment, dan kembang goyangnya...
khusus hari ini 3 bab di bayar lunas!
💃💃
__ADS_1