
Sejak perkara handuk tadi Sella tidak juga keluar dari kamar, dia malu dengan Dimas yang sudah melihat jelas tubuh polosnya.
Rika yang baru saja pulang segera masuk kamar mencari keberadaan suaminya yang ia lihat sedang sibuk di depan laptop hingga tidak menyadari kepulangannya.
"Mas!"
"Eh kamu udah pulang?" tanya Dimas kemudian melirik ke arah jam dinding.
"Iya, kebetulan lagi santai mas, kamu lagi ngapain mas sibuk banget kayaknya," Rika memperhatikan layar laptop kemudian menatap wajah Dimas.
"Seger banget suami aku, abis mandi ya rambutnya masih basah gini!" Rika memperhatikan penampilan suaminya.
"Hmm..."
Rika beralih duduk di pangkuan Dimas yang membuat Dimas melepaskan perhatiannya dari layar laptop. Dimas memperhatikan wajah Rika yang sudah berada di hadapannya, tetapi hidung Dimas menangkap parfum berbeda di baju Rika yang begitu mencolok.
"Kamu pakai parfum siapa?" tanya Dimas penuh selidik.
"Parfum aku dong sayang, emangnya parfum siapa?" tanya Rika balik berusaha untuk tetap tenang, dia yang begitu ceroboh melupakan minyak wanginya yang biasa ia semprotkan setelah bermesraan dengan Roy.
"Ini parfum pria loh!"
"Mana ada sich mas, ini parfum baru aku wanginya enak banget makanya aku beli," kilah Rika dengan tangan yang mulai bergerilya di tubuh Dimas berusaha untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Mana parfumnya, aku mau liat!"
"Aku tinggal di butik tadi mas, botolnya agak besar jadi males aja buat bawa kemana-mana!"
"Akh....tangan kamu." Dimas mengerang saat tangan Rika sudah menelusup masuk kedalam celananya.
Rika tersenyum saat dia mampu mengalihkan perhatian Dimas dan mampu menguasai tubuhnya.
"Kamu mau apa? sana bersih-bersih dulu, aku nggak suka wangi parfum kamu!" Dimas berusaha keras untuk tidak terpancing oleh permainan Rika, walaupun dia akui Rika memang pandai dalam urusan ranjang.
"Aku buka aja baju aku ya biar kamu nggak cium parfum aku lagi!" Rika dengan segera membuka bajunya hingga polos, Dimas yang mencoba melarangnya tetapi kalah cepat dengan gerakan lincah Rika.
"Sana di kamar mandi! kenapa harus buka di sini sich?" tanya Dimas mencoba untuk tidak memperdulikan tubuh polos Rika yang jelas membuat sesuatu itu semakin mengeras.
__ADS_1
"Liat sini donk mas!"
"Aku pulang cepet biar bisa melanjutkan sama kamu loh!"
"Maksudnya?" Dimas merasa ada yang aneh dari ucapan Rika.
"Mmmmmm iya maksudnya mau bermain-main sama kamu mas!" Rika sudah meliuk-liukkan tubuhnya dengan tangan yang terus menyusuri tubuh Dimas berusaha kembali menguasai tubuh Dimas.
Serangan bertubi-tubi terus di dapatkannya membuat gejolak hasratnya semakin memuncak. Semampu Dimas berusaha untuk tidak memakan Rika, melihat istrinya yang sudah tak tahan menginginkan lebih membuat Dimas terus menghindar.
"Ayo mas.....udah berdiri loh tinggal eksekusi aja, aku udah nggak tahan!"
Dimas mengangkat tubuh Rika menuju ranjang dan merebahkan tubuh Rika dengan sedikit kasar. Bajunya yang sudah terbuka dan celana yang sudah terlepas karena ulah Rika membuat Dimas semakin menantang bagi wanita itu.
"Akh....kamu mau main kasar lagi sayang, aku suka!" Dimas mengernyitkan dahinya saat mendengar racauan Rika.
Jemari tangan Rika mulai menariknya hingga membuat tubuhnya menindih tubuh polos Rika, kepala Dimas sudah pening menahan gejolak yang semakin memburu, tetapi bayangan wajah sella yang menangis membuat Dimas tidak tega.
"Gue nggak bisa lebih, tapi h*srat gue udah muncak banget, bisa tambah gila gue kalo harus solo lagi."
Dengan sekali hentakkan Dimas membuat Rika menjerit keni**atan dengan sentuhan tangan Dimas yang membuat Rika semakin menggila.
Dimas mulai mencumb* Rika hingga tubuhnya menggel**t tak bisa diam. Sapuan lidah pria itu menyusuri leher jenjang Rika tanpa meninggalkan jejak, tubuh Rika semakin menggel**t saat semakin dalam hujaman yang di berikan Dimas.
Sella yang sedang belajar tampak tak fokus saat kembali harus mendengar suara yang begitu ia hafal, seonggok daging yang bernama hati kembali terasa perih seperti belum kering lukanya tetapi kembali tersiram oleh garam.
"Cinta .....cinta......cinta kamu cuma semu kak, kamu masih menikmati tanpa memikirkan aku!"
Sella memutuskan untuk turun dan pergi ke taman belakang, dia tidak ingin terus menerus mendengarkan racauan Rika yang terus saja menyebut nama Dimas.
"Nggak punya malu!" sewot Sella saat melewati kamar kakaknya.
"Mas kamu sungguh luar biasa sayang bahkan aku rasanya menginginkan terus!"
"Kenapa kamu sekarang begitu liar Rika dulu aku minta kamu selalu menolak?"
"Akh aku suka permainan kamu yang sekarang mas!" jawab Rika di sela desa***nya.
__ADS_1
Mendengar itu Dimas semakin menggila dan terus membuat Rika semakin tak terkendali, suasana panas ditubuh Dimas membuat bulir keringatnya jatuh keatas tubuh Rika yang jelas membuat semakin se*y.
Dimas terus beraksi hingga membuat tubuh wanita itu bergetar hebat hingga ranjang sudah tak beraturan.
"Lagi mas....."
Dimas dibuat kewalahan menuruti kemauan Rika, berulang kali dibuat bergetar tak juga menyurutkan hasr*tnya, hingga Dimas harus turun bermain di bagian inti Rika yang sudah membengkak hingga tubuh Rika kembali bergetar dan lemas tak berdaya. Melihat itu Dimas segera mengambil baju yang berserakan di lantai dan masuk kedalam kamar mandi.
"Mas!" panggil Rika yang masih lemas di atas ranjang.
Dimas yang masih membersihkan diri di kamar mandi tak menghiraukan panggilan Rika hingga suara itu hilang.
Setelah selesai berganti dengan piyama tidur Dimas berjalan menuju ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Rika yang sudah terlelap.
"Kamu sekarang berubah atau aku yang tidak peka apa mau kamu sebenarnya, makin kesini semakin aku curiga sama kamu!"
Dimas meninggalkan kamar dan melangkah menuju kamar Sella, pintu yang tak terkunci membuat Dimas dengan mudah masuk ke dalam. Tetapi tidak di temukan orang yang ia cari hingga langkahnya turun menuju dapur, ruang tamu dan juga halaman depan.
"Kemana kamu sayang!"
Dimas kembali menuju kamar tetapi ia urungkan saat melihat pintu belakang yang terbuka. Sella yang sedang diam menikmati malam dengan duduk di pinggir kolam renang terkejut dengan kedatangan Dimas yang sudah rapi dan segar dengan setelan piyama.
Sella tidak ada niat ingin menyapa, dia hanya diam tak memperdulikan Dimas yang sejak tadi memanggilnya.
" Sayang!"
Sella melepas cincin dari Dimas dan meletakkan di pinggir kolam lalu pergi begitu saja. Melihat itu Dimas langsung mengambil cincin tersebut dan berlari menyusul Sella.
"Dek!"
"Dek kamu marah sama aku?"
"Dengerin aku dulu dong sayang!"
Dimas menarik tangan Sella dan membawanya menuju sofa ruang tamu, kepalanya yang pening di tambah sikap Sella yang sejak tadi hanya diam membuat kepalanya semakin mau pecah.
Dimas menghempaskan tubuh Sella di sofa dan mengukung tubuh gadis itu.
__ADS_1
"Pakai lagi cincinnya!"