
Pagi ini Sella menyelesaikan sarapannya seorang diri karena sejak tadi kamar sebelah begitu tenang seperti tak berpenghuni. Dimas yang subuh tadi berpindah kamar, meninggalkan begitu banyak jejak di atas dadanya.
"Beruntung nggak sampe leher, nyusahin!"
Sella terlonjak saat mendapat kecupan hangat di pipinya sehingga membuat dia yang ingin beranjak terpaksa harus duduk kembali.
"Kakak! nanti ketauan kak Rika aja," sewot Sella.
"Rika lagi mandi."
"Tumben telat, kak Dimas abis....."
"Hay otak kamu mikir apa? subuh tadi setelah dari kamar kamu aku langsung di buat sibuk oleh Rika yang bolak-balik ke toilet," ucap Dimas dengan menggelengkan kepalanya.
"Kak Rika sakit?"
"Udah baikan!"
"Kenapa nggak di bawa ke dokter?" tanya Sella lagi.
"Dianya nggak mau, lagian juga hari ini tetap semangat kerja, kamu berangkat bareng aku aja!"
"Aku bisa telat kalo bareng kakak, aku berangkat bawa motor aja!"
Sella segera berangkat tanpa memperdulikan panggilan dari Dimas yang membuat pria itu kesal.
"Berulah awas kamu dek!"
Sesampainya di sekolah, Sella di kejutkan dengan banyaknya cibiran dari para murid yang mengatakan dirinya merebut Reno dari Ceri. Bahkan di grup WhatsApp sekolah pun ramai kabar tersebut dengan foto Reno yang terlihat berdua dengan Ceri.
"Masalah apa lagi," gumam Sella yang jengah melihat dan mendengar para pencibir kelas kakap.
"Sella!" panggil Tiwi yang sudah standby di depan kelas menunggu kedatangan Sifa dan tidak ketinggalan Tio dengan gaya cool nya bersandar dinding.
"Loe udah tau kabar hari ini?"
"Gue sempet denger suara-suara sumbang yang buat kuping panas! sebenarnya ada apa?" tanya Sella melirik Tio dan Tiwi bergantian.
"Ada yang bikin berita nggak jelas yang bilang loe udah rebut Reno dari Ceri, di sana juga ada foto-foto Reno berdua dengan Ceri yang keliatan mesra sebagai penguat kabar itu, apa lagi mereka kan tau loe emang udah seminggu ini barengan terus sama Reno," jelas Tiwi.
"Siapa yang buat berita kayak gitu?"
"Gue mana tau Sell, tapi nanti kita cari tau biar kita sambelin sekalian itu mulutnya biar makin panas!" ucap Tiwi yang terlihat bersemangat.
"Loe ngapa diem aja Tio?" Sella menatap Tio yang sejak tadi hanya diam menatapnya dengan bersidekap dada.
"Loe yang kenapa? nggak panas gitu dengar cibiran para netizen?"
"Gue nggak ngerasa ngerebut Reno, jadi buat apa gue emosi denger berita kayak gitu? toh hati gue aman!"
Tio mendekati Sella dengan mata yang fokus pada satu titik yang membuat Sella serasa ingin mencolok mata Tio.
"Loe liatain apa?" sewot Sella.
"Ada yang ninggalin stempel tuh! udah sampe sana hubungan kalian?" tanya Tio dengan menaikan alisnya.
__ADS_1
"Mana?" tanya tiwi yang mulai penasaran.
"Eh kalian apa sich!" Sella mundur selangkah menghindari tatapan liar kedua sahabatnya dan merapatkan kerah seragamnya.
"Sayang!" Reno sudah berdiri di samping Sella dengan senyuman hangat.
"Iya Ren!"
"Maaf soal kemarin ya, kamu dimarahin kakak kamu nggak?"
"Oh nggak kok Ren, aman!" jawab Sella tenang.
"Maaf ya kalo aku nggak tau tempat!"
"Ehemmm," deheman kedua temannya membuat Sella menoleh.
"Hati-hati Sell, jangan jadi korban selanjutnya!" celetuk Tio yang sudah menarik Tiwi untuk meninggalkan Sella dan Reno.
Mendengar ucapan Tio, Sella dapat menangkap jika Tio mengira jejak merah yang hampir membiru ini milik Reno.
"Oh ya Ren, kamu udah tau kabar hari ini?"
"Nggak usah di pikiran ya...." ucap Reno mengelus rambut Sella.
"Aku nggak masalah sich, cuma lihat foto kalian tadi buat aku semakin ingin mundur Ren!"
"Kamu cemburu?" tanya Reno dengan perasaan tidak tenang.
"Bukan itu, tapi aku semakin yakin kalo.....Eheemmm....udah nggak usah di bahas dech nggak enak takut ada yang denger, aku masuk kelas ya!" tanpa menunggu jawaban dari Reno, Sella segera melangkah masuk kelas.
"Eh kalian duluan aja ya, nanti gue nyusul!"
"Loe mau kemana?" Tiwi menghentikan langkah Sella dengan menarik tangannya.
"Gue ke toilet dulu bentar, kebelet nich kalian duluan aja!" jawab Sella segera pergi meninggalkan keduanya.
"Hah....lega!" setelah membuang air kecil Sella segera keluar dari toilet kemudian menuju wastafel untuk mencuci tangan dan sejenak merapikan penampilannya.
"Sell!" panggilan dari cewek yang ia kenal bernama Ceri berdiri tepat di depan pintu toilet.
"Ada apa?" Sella berbalik menatapnya.
"Gue cuma minta loe jauhin Reno Sell!"
"Alasannya?"
"Gue cinta sama Reno, walaupun awalnya hubungan gue karena ketidaksengajaan bertemu saat acara orang tua gue, tapi gue dan Reno akhirnya dekat Sell!"
"Kalo gue nggak mau gimana?" tanya Sella seperti menantang.
"Gue pastiin loe akan ngejauhin dia, karena bukan cuma gue yang butuh dia!"
"Siapa? anak loe?" tanya Sella to the poin.
deg
__ADS_1
Ceri tampak terperangah mendengar pertanyaan Sella. Dia tidak habis pikir jika Sella tau kalo dia hamil.
"Nggak usah kaget! gue tau loe lagi hamil, tapi gue nggak mungkin percaya gitu aja kalo loe nggak kasih bukti ke gue jika anak yang loe kandung adalah anaknya Reno!"
"Dan satu lagi, mengenai kabar yang sedang panasnya saat ini, gue cuma mau loe paham kalo bukan gue yang ngerebut Reno, tapi dia sendiri yang meminta gue jadi pacarnya. Jadi jangan nyebar kabar yang belum loe tau sebenarnya!"
Sella keluar dari toilet dengan meninggalkan Ceri yang sejak tadi terdiam tak percaya jika Sella tau semuanya.
"Akh......!" jerit Ceri kemudian keluar dari toilet.
Sella bergabung bersama dengan Tiwi dan juga Tio yang sedang menikmati makanan masing-masing, gadis itu melirik mie ayam di mejanya dan segelas es jeruk yang menggugah selera.
"Ini punya gue?"
"Iya, tinggal makan aja!" jawab Tio santai.
"Ikh baik banget sich loe!" Sella segera memakannya hingga habis tak tersisa, ternyata setelah menghadapi Ceri dia butuh banyak asupan.
"Lama banget tadi di toilet, ngapain?" tanya Tio yang membuat Sella ketar ketir mencari alasan.
"Buang air lah Tio loe nanyanya kok begitu!" Sella tak berani melihat ke arah Tio, karena sudah dapat di pastikan pria itu mampu menangkap kebohongan di wajahnya.
"Buang air apa ada yang di temui?" tanya Tio yang membuat Sella tersedak.
uhuuuk uhuuuk
"Eh loe makan kagak pelan-pelan ya Sell! ini minum dulu!" Tiwi menyodorkan gelas minum Sella.
"Loe abis ketemu siapa?" tanya Tio lagi yang sudah melihat Sella agak lebih tenang.
"Ceri!" kesal Sella.
"Loe nggak bisa bohong dari gue Sell!"
"Tau akh kesel gue sama loe!" Sella yang sudah menyelesaikan makannya segera beranjak menuju kelas.
Tio menatap nanar Sella, ada sedikit kesal di hatinya tapi jika harus melihat Sella di sakiti dia orang pertama yang melawan.
Hingga jam pulang sekolah Sella masih tetap diam dengan Tio, membuat Tio semakin jengkel dan menyeret Sella menuju mobilnya.
"Kenapa sich Io?"
"Loe yang kenapa? nggak lucu loe diemin gue kayak gini. Gue tau ada yang loe sembunyikan dari gue kan! Mungkin loe bisa bohongi Tiwi tapi nggak sama gue!"
"Gue harus jelasin apa sama loe? tentang Reno loe udah tau, terus Ceri loe juga tau, terus apa lagi?"
"Gue cuma nggak mau loe ada yang nyakitin Sell, kita udah bersahabat lama bahkan sebelum loe kenal sama Tiwi, bahkan almarhum orang tua loe nitipin loe sama gue!"
Mendengar itu membuat hati Sella tersentil dia bahkan melupakan arti Tio di hidupnya, sampai orang tuanya yang sangat mempercayakan Tio untuk menjaganya.
"Sorry Tio, kalo gue buat loe kecewa!" Sella segera memeluk Tio.
"Gue bahkan mengubur rasa gue agar gue tetep bisa liat loe dan jagain loe Sell!" batin Tio kemudian dia membalas pelukan Sella.
"Maafin gue Tio tapi untuk hubungan gue sama kak Dimas, gue belum bisa cerita!"
__ADS_1