
Setelah Dimas masuk ke kamar tamu dengan kesal Rika berlari menuju kamarnya. Rika geram akan penolakan Dimas, tapi dia sangat yakin jika tidak sampai hitungan jam Dimas akan masuk ke dalam kamarnya.
Bayangan akan dirinya yang bermain liar dengan Dimas sudah memenuhi otak, hingga hawa panas di tubuhnya syarat akan hasrat yang meninggi membuatnya sudah mulai berkeringat sendiri.
Rika membuka lemari pakaian, tangannya memilih lingerie yang akan ia kenakan. Ini kesempatan terakhir untuknya dan tak akan ia sia-sia kan. Setelah berdandan cantik dan memakai lingerie yang begitu sexy dengan menonjolkan semua lekuk tubuhnya, kini Rika terduduk di pinggir ranjang tak tenang.
Hati Rika gelisah, hasratnya membuat resah hingga kepalanya terasa ingin pecah. Sejak tadi Rika mengigit bibirnya sendiri menahan gejolak yang membara, berulang kali dia membuka pintu tak kunjung melihat Dimas yang berjalan ke kamarnya.
"Mas, kamu lama sekali sich, masak iya aku harus ke kamar kamu, kan nggak mungkin mas. Aku nggak mau menyodorkan diriku dan menjatuhkan harga diri di depan kamu, aku ingin kamu yang masuk ke kamarku dan merasa membutuhkan aku."
Rika mengambil obat sakit kepala di dalam laci, tubuh yang sudah meminta lebih membuat kepalanya begitu pusing. Setelah meminum obat Rika kembali mondar-mandir di depan pintu.
"Aku udah memberikan dosis yang sangat tinggi, tidak mungkin mas Dimas kuat untuk menghadapinya sendiri."
Rika memijit pelipisnya merasakan kepalanya yang berdenyut, "Nggak mungkin aku pergi ke Roy untuk menuntaskan hasrat, sedangkan aku sangat menunggu belaian nakal mas Dimas."
Rika memutuskan untuk kembali duduk di ranjang dengan menyandarkan kepalanya yang sedikit berat hingga tak terasa ia tertidur saat Dimas berlari keluar dari kamar.
"Eugghh......."
Pagi mulai menyapa Rika menggeliat merasakan tubuhnya yang terasa dingin karena tertidur dengan mengenakan lingerie tanpa selembar selimut yang menghangatkan.
Matanya terbuka melihat cahaya dari luar yang mulai terpancar, Rika kembali menutup matanya untuk menyesuaikan keadaan tetapi sesaat kemudian ia teringat akan Dimas yang semalam tak kunjung datang. Hingga dia melihat dirinya yang masih di balut lingerie dan tanpa ada perubahan berarti di kamarnya.
"Berarti semalam mas Dimas nggak ke kamarku, nggak mungkin dia kuat jika hanya menuntaskannya sendiri, aku harus memastikan!"
Rika turun dari ranjang kemudian masuk kekamar mandi, dia ingin segera bertemu dengan Dimas dan memastikan apa yang terjadi sebenarnya.
Lima belas menit Rika menuntaskan kegiatan bersih-bersihnya, masih dengan handuk yang membungkus rambutnya Rika keluar dari kamar, dia merutuki dirinya sendiri yang justru tertidur hingga pagi.
Rika menuruni tangga menuju kamar tamu yang ada di bawah, di dapur sudah ada mamah mertuanya yang sedang menyiapkan sarapan, tetapi dia sedikit heran karena tak menjumpai Sella di sana.
"Mau kemana Rika?" tanya mamah heran karena melihat Rika yang sangat terburu-buru dan sedikit berlari.
"Mas Dimas udah bangun mah?"
"Belum, sepertinya dia masih tidur, kamu mau ke kamar tamu?"
" Iya mah, aku mau lihat mas Dimas di dalam."
__ADS_1
Mamah berjalan menghalangi Rika, " untuk apa Rika pagi-pagi begini kamu ke mengunjungi Dimas, Dimas sudah menalak kamu dan sudah tidak pantas kamu terlalu dekat dengannya Rika!"
"Mah, aku hanya memastikan mas Dimas ada di dalam, aku nggak akan melakukan apa-apa, apalagi menggoda mas Dimas."
Rika di buat kesal karena mamah mertuanya yang justru menghalangi, apa lagi dia mengingat hari ini adalah sidang pertama untuk mereka, dan sudah tak ada kesempatan bagi Rika untuk bersama dengan Dimas.
Rika terus melangkah ke kamar Dimas, mata Rika berkaca-kaca membayangkan jika dimas melakukan itu dengan yang lain.
"Rika jangan di luar batas nak, kalian sudah tak memiliki hubungan apa-apa lagi," seru mamah.
"Aku hanya memastikan mah!"
Rika membuka pintu kamar Dimas yang tak terkunci, tetapi dia tak menemukan Dimas di ranjangnya, langkahnya tak berhenti sampai di situ, Rika mengecek kamar mandi tetapi tak juga menemukan Dimas, hingga dia kembali lagi keluar kamar.
"Mah mas Dimas nggak ada di kamarnya mah!"
"Nggak ada, lalu Dimas kemana Rika?" tanya mamah yang menjadi khawatir.
"Rika nggak tau mah," Rika berlari menuju garasi mengecek mobil Dimas, dia semakin yakin Dimas semalam melakukannya dengan yang lain.
Jantungnya berdebar membayangkan itu semua. Di tambah lagi kaki Rika melemas saat melihat mobil Dimas yang masih terparkir rapi.
"Ini nggak mungkin!"
"Mas Dimas nggak mungkin melakukan itu!" Rika sempat bersandar di dinding teras, kepalanya seketika kembali berdenyut dengan air mata yang sudah hampir menetes.
Sekuat tenaga Rika menggeret langkahnya untuk kembali masuk ke rumah.
"Mah, Sella mana?"
"Sella...Sella masih di kamarnya, sejak tadi Sella belum bangun. Ada apa dengan Sella? kamu mencari Dimas atau mencari Sella?"
"Mas Dimas mah, mas Dimas......" belum selesai Rika melanjutkan ucapannya papah keluar kamar dan menghampiri keduanya.
"Dimas kenapa? ada apa dengannya?"
Rika menggelengkan kepala, dia tak mungkin bicara jujur jika dia telah memasukkan obat perangsang dengan dosis tinggi ke kopi Dimas semalam.
"Apa yang kamu lakukan dengan Dimas? kenapa wajah kamu panik mencari Dimas?"
__ADS_1
Rika gelagapan mendapatkan pertanyaan dari papah mertuanya, "A..aku nggak melakukan apa-apa Pah!"
"Jika tidak melakukan apa-apa kenapa kamu pagi-pagi Ribut mencari Dimas?"
"Aku....aku....aku hanya memastikan mas Dimas ada di kamar Pah, tapi aku tidak menemukannya."
Papah menarik nafas dalam, matanya tajam memandang Rika yang sudah tak karuan, antara takut, panik, sedih, marah, kecewa, dan penasaran.
"Jika terjadi sesuatu dengan Dimas, itu semua kesalahan ada pada kamu, jangan pernah kamu menyalahkan sesuatu padahal kamu sendiri yang memulainya." Papah mengetahui semuanya, dia tau jika Dimas sedang berada di kamar Sella saat ini.
flashback on
Semalam ketika Dimas keluar kamar, papah kebetulan juga ingin keluar mengambil minum untuk istrinya yang akan meminum vitamin.
Tapi papah di buat heran melihat Dimas gelisah dengan keringat yang bercucuran menahan sesuatu, apa lagi kondisi dia yang hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang dengan sesuatu yang nyata menonjol di balik handuknya.
"Kamu mau kemana Dimas?"
"Pah, Dimas minta maaf, Dimas nggak sanggup menahannya Pah, ini sangat menyiksa."
"Apa maksud kamu?"
"Ada yang memasukkan obat ke minuman Dimas, Dimas nggak tahan Pah, papah silahkan menghukum Dimas setelah ini. Tapi Dimas mohon saat ini ijinkan Dimas menuntaskannya Pah. Dimas bisa gila!"
Tanpa menunggu jawaban dari papah Dimas segera berlari menaiki tangga, bahkan seruan papahnya tak Dimas hiraukan.
Papah menarik nafas dalam, dia tau efek obat itu dan nggak mungkin bisa melarangnya, tapi beliau sangat kecewa kenapa anaknya harus mengalami seperti ini, kaki papah lemas hingga terduduk di undakan tangga.
"Maafkan Dimas nak...." ucap sang Papah saat mendengar suara teriakan dari atas.
flashback off
Rika berlari menaiki tangga, sudah di pastikan jika Dimas ada di dalam kamar Sella.
Tangannya mengetuk pintu kamar Sella dengan hati menggebu, matanya sudah berkabut marah serta kecewa.
"Dimas...."
Mamah menatap tajam sang papah, dia tak mengerti dengan semua ini, hingga air mata papah menetes dengan wajah penuh penyesalan.
__ADS_1
"Maafkan papah yang tak bisa mencegah mah, ini semua demi Dimas, hati papah tak kuat melihat dia menderita semalam."