
Malam harinya Sella sibuk mengemas baju anak-anak dan dia yang ingin di bawa besok. Sementara si kembar sudah tidur dikamar mereka. Sella masih tidak menyangka hari esok akan tiba. Hari dimana dia kembali menginjakkan kakinya lagi di Jakarta.
Sore tadi Dimas pamit untuk menginap di hotel terdekat sedangkan kedua orangtuanya sudah kembali ke Jakarta. Tak banyak yang Sella bawa mengingat mereka akan kembali lagi setelah liburan selesai. Ponsel Sella berdering setelah semua sudah rapi masuk ke dalam koper.
"Ayah kembar...." nama itu muncul di layar ponselnya. Sella menekan tombol hijau untuk menerima. Ada rasa canggung membuat ia enggan menyapa terlebih dahulu.
Sedang orang di seberang sana tersenyum saat dirinya hanya mendengar suara nafas Sella yang tak biasa.
"Assalamualaikum calon istri ..." Dimas memecah keheningan di tengah panggilan telpon yang tak kunjung ada sapaan.
"Wa'allaikumsalam kak..."
"Sedang apa?"
"Habis mengemas beberapa baju yang akan di bawa."
"Nggak usah banyak-banyak, nanti kalo nggak cukup bisa beli di sana."
"Iya kak, hanya beberapa saja. Lagian nantikan juga nggak lama, hanya menghabiskan masa liburan saja. Setelahnya akan kembali lagi."
"Siapa bilang?"
"Aku kak...."
"Kalian akan menetap disini, apa kamu lupa jika kita akan menikah?"
"Oh itu....bukannya masih lama."
"Nggak ada alasan untuk menunggu lama, niat baik harus di segerakan. Bahkan aku sudah ingin memelukmu. Aku merindukanmu Sella... astaghfirullah aku nggak bisa menahannya."
Sella tersenyum mendengar penuturan Dimas, wajahnya sudah memerah, andai saja Dimas tau pasti akan tambah malu.
"Maaf ya, maklum udah 5 tahun lamanya. Dan sudah butuh sandaran, apa lagi sudah menemukan. Rasanya ingin cepat di segerakan."
Sella hanya diam tak menanggapi, dirinya gugup mendengar kembali suara Dimas beserta kata-kata manisnya.
"Sayang, tidur ya. Besok pagi aku jemput kalian."
"Iya kak..."
"Anak-anak sudah tidur?"
"Sudah kak, mereka sangat antusias hingga ingin cepat pagi. Makanya memutuskan untuk cepat tidur.
"Bagus kalo gitu, biar bisa bangun pagi. Ya sudah bundanya juga segera tidur ya... baca doa biar di dalam mimpi kita bersua."
"I..iya kak."
"Astaghfirullah...denger suaranya aja udah bikin berdebar membangkitkan yang sudah lama mati. Sudah dulu ya sayang, takut khilaf."
"Iya kak, assalamualaikum..."
"Wa'allaikumsalam sayang..."
Tut
"Sayang.... Ya Allah kak Dimas sungguh membuat hatiku resah."
"Ciye......yang lagi lope-lopee. Serasa dunia milik berdua. Yang lain cuma nyewa," ledek Ayu yang sudah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Kamu menguping Yu?"
"Nggak juga, cuma kebetulan lewat. Sayang aja kalo nggak di kepoin sekalian!"
"Dasar kamu tuh yu!" Sella melempar bantal yang mengenai wajah ayu.
"Aduh...Mbak Sella penganiayaan nich!" Ayu pun kembali melemparkan bantal tersebut hingga hampir mengenai wajah Sella.
"Dasar! udah bucin ya....." seru Ayu kemudian kabur masuk ke kamarnya.
"Ayu...ayu, pasti aku akan merindukanmu jika sudah di Jakarta nanti," gumam Sella.
Keesokkan paginya mobil Dimas sudah terparkir rapi di halaman, barang-barang Sella juga sudah masuk bagasi. Tinggal orangnya saja yang masih agak repot dengan si kembar yang tiba-tiba rempong meminta telpon Daddy untuk mengabarkan keberangkatan mereka ke Jakarta.
"Daddy nanti main ke rumah ayah ya...." seru Kaira.
"Iya Daddy, pokoknya kita tunggu ya. Jangan lupa bawa eskrim kesukaan kita!" tambah Naira tak kalah heboh.
"Oke sayang, sama siapa kalian ke Jakarta?"
"Sama bunda dan ayah..." jawab Naira dan Kaira.
"Mana bunda?"
"Kenapa Tio?"
"Hati-hati berangkatnya, kalo udah sampai sini kabarin gue!"
"Iya, nanti gue kabarin loe. Gue juga mau ketemu sama Tiwi." Sella melirik kearah pintu, Dimas sudah berdiri memperhatikan dengan kedua tangan yang ia masukan ke dalam kantong celana. Sedangkan kedua anaknya sudaha kabur entah kemana.
"Ya udah nanti kita kumpul di cafe tempat biasa, hati-hati ya bunda...Daddy menunggu dengan sabar. Jangan terlalu lama nanti keburu rindu ini menyiksa." Sella memijat pelipisnya, Tio benar-benar cari masalah, kenapa juga jadi berubah lebay.
"Ehemm, masih lama sayang?" tanya Dimas dengan raut wajah yang sudah berbeda.
"Oh iya, Tio demi apapun loe bikin orang naik darah. Ya udah gue berangkat, assalamualaikum."
"Wa'allaikumsalam cinta..." seru Tio sengaja.
"Ayo kak!" Sella segera beranjak dari duduknya untuk segera keluar kamar.
"Betah banget Vidio call sama Tio, bikin gerah aja liatnya. Kamu benar-benar harus di segerakan. Aku udah nggak tahan ingin menarikmu ke pelukan ku tadi."
Sella menahan senyumnya, Dimas masih sama saat mode cemburu. Galak dan begitu menakutkan. "Sabar kak...."
Sella segera melesat keluar kamar melewati Dimas yang berdiri di ambang pintu kemudian pamit dengan bibi dan Ayu di halaman.
"Sayang, kalian sudah pamit bibi?"
"Sudah bunda...." seru keduanya dan segera naik ke mobil Dimas.
"Bi, aku pamit main ke Jakarta dulu ya," Sella mencium tangan bibi dan memeluknya.
"Hati-hati ya nduk," jawab bibi dengan mata yang berkaca-kaca. Sudah lama bersama membuat berat saat terpisah jarak.
"Ayu, aku ke Jakarta dulu ya, kalo mau liburan kesana, susul aku aja. Nanti aku kirim alamatnya."
"Nanti aku pikir-pikir dulu mbak, si Bayu nggak bisa di tinggal."
"Gitu bilang aku bucin, sendirinya lebih parah!" ledek Sella.
__ADS_1
"Ya udah aku pamit, assalamualaikum..."
"Wa'allaikumsalam."
"Mari bi," ucap Dimas setelah membukakan pintu untuk Sella.
Dalam perjalanan kedua anak mereka mengoceh tak kenal lelah hingga keduanya terlelap di jok belakang, kini hanya ada Sella dan Dimas yang fokus menatap jalanan.
"Mau cari makan dulu?"
"Aku tadi masak kak, sengaja buat makan di jalan. Kakak laper?"
"Iya, tadi belum sempat sarapan, saking semangatnya langsung datengin kamu, eh malah liat adegan romantis via Vidio call."
"Cuma teman kak, lagian tadi si kembar yang minta telpon daddynya." Sella membukakan tempat makan untuk Dimas.
"Ini di makan kak," ucap Sella menyodorkan makanannya.
"Suapin dong sayang, aku kan lagi nyetir."
Sella menundukkan kepala sebentar kemudian berusaha mengendalikan hatinya yang tak menentu.
"Ini kak..." Sella perlahan menyuapi Dimas.
"Enak, udah lama nggak makan masakan kamu, masakan paling enak yang pernah aku makan."
"Jangan terus meledek kak, nanti aku nggak mau menyuapi lagi!"
Dimas tertawa mendengar ucapan Sella, "Iya sayang."
Malam hari mereka sudah sampai di Jakarta, tepatnya di kediaman Dimas, setelah mobil terparkir dengan rapi Dimas keluar dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Sella. Dan menggendong kedua anaknya yang tertidur pulas.
"Biar aku bawa masuk Naira dulu, nanti baru Kaira."
"Biar aku aja yang membawa Kaira kak."
"Jangan, kamu capek seharian nemenin aku di jalan. Biar aku aja oke..."
Akhirnya Sella menunggu Kaira yang masih tertidur di dalam mobil hingga Dimas kembali.
"Ayo masuk, karena sudah hampir pagi mamah dan papah sudah tidur. Kamu langsung aja ya masuk ke kamar. Nanti kalo udah pagi baru menyapa."
"Iya kak."
"Ini kamar anak-anak, kamu tidur di kamar aku aja." cegah Dimas saat Sella sudah ingin meletakkan tasnya.
"Tapi kan...."
"Kamu mikir apa, hmm? aku akan tidur di kamar tamu. Tapi lusa kita akan tidur bersama." Wajah Sella sudah memerah, mikir apa dia tadi, hingga membuat malu sendiri.
"Aku aja yang tidur di kamar tamu kak, kakak yang tidur di kamar kakak sendiri."
"Kamu akan menjadi ratuku, jadi jangan menolak pemberianku, kamar tamu tak senyaman kamarku."
"Ya udah kak, dimana kamar kakak?" tanya Sella, dia tak ingin berdebat karena tubuhnya sudah sangat lelah.
"Ada di sebelah, sabar ya...nanti kalo tiba saatnya kita akan bersama di sana."
"Apa sich kak, kalo gitu aku istirahat dulu kak." Sella segera melangkah menuju kamar Dimas, nggak aman jika terus bersinggungan.
__ADS_1
"Ya Allah....godaanmu sungguh besar, andai tak ingat dosa mungkin nggak akan aku lepas. Astaghfirullah...mikir apa sich!"