Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Rasa Yang Sama


__ADS_3

Setelah dari pengadilan Dimas memesan taksi menuju bengkel tempat dimana mobilnya di perbaiki, ada rasa kesal tapi setiap mengingat wajah Sella justru dia ingin tertawa. Dia tak habis pikir bagaimana cara Sella mengendarai mobil hingga membuat mobilnya harus mendapat perawatan khusus.


Tetapi Dimas cukup bersyukur karena mereka bisa selamat walaupun harus mengeluarkan uang banyak. Andai Sella tak ada disana ntah bagaimana nasibnya saat ini.


Sesampainya di bengkel sudah ada Doni yang menunggu, tadi sebelum Dimas meninggalkan mobilnya di bengkel dia sempat menghubungi Doni untuk segera datang mengurus mobilnya karena dia yang harus segera datang ke pengadilan untuk mengurus surat cerai.


"Gimana?"


"Gila sich, ini mobil kenapa bisa sampe hancur begini bro? parah loe..."


Saat ini Dimas sudah duduk di kursi tunggu bersama dengan Doni yang sejak tadi berdiskusi dengan pemilik bengkel dan mentotal berapa banyak biaya yang harus di keluarkan.


"Hampir 200, parah sich menurut gue, loe kan tau ini mobil mahal banget udah pasti perawatannya juga mahal."


"Udah biarin bayar aja, mau gimana lagi nggak mungkin gue biarin juga, loe kan tau itu mobil kesayangan gue," ucap Dimas dengan menyerahkan kartu ATM pada Doni.


"Ceritain sama gue, loe apain tuh mobil sampe babak belur?"


"Bukan gue tapi Sella."


"Haaahhh Sella?"


"Iya, itu ulah Sella...." jawab Dimas dengan senyum mengembang.


"Pantes loe nyantai, tapi kok bisa tuh anak yang bikin mobil loe babak belur? abis perang loe sama dia sampe mobil loe yang jadi korbannya?"


"Iya abis perang gue, sampe kalah dan dia sakit sekarang," jawab Dimas ngasal.


"Gila loe, loe apain anak orang? loe dendam sama dia gara-gara dia ngancurin mobil loe? kasian juga lah Dim kalo sampe bikin dia sakit."


"Sella sakit karena habis gue serang semalam, gue...."


"Gue laporin polisi loe kalo sampe anak orang kenapa-napa!" belum sempat Dimas menyelesaikan ucapannya Doni sudah keburu memotongnya.


"Ck, dengerin dulu kalo orang ngomong! Gue nyerang fisik dia, gue udah ambil keperawanan dia Don."

__ADS_1


"Yang bener loe? tapi bukannya di kantor waktu itu emang loe udah main ya?"


"Itu belum sampe masuk, gue masih waras buat ngambil itu semua, tapi semalam emang gue lagi nggak waras, gue mergokin si Rika sama pacarnya Sella di hotel, habis dari sana gue malah bawa Sella ke club malam. Ya udah mungkin gue mabuk berat sampe buat gue nggak sadar dan di situ juga mungkin Sella berusaha bawa gue balik, makanya mobil gue hancur begitu."


"Dan loe ambil kesucian dia setelah itu?"


"Iya, gue bangun udah polos, kasur berantakan tambah lagi ada bekas darah di sprei gue."


"Bagaimana kalo sampe Sella hamil? kenapa loe nggak pake pengaman sich?"


"Gimana gue mau pake pengaman? ya kali Sella yang pakein, ngaco dah loe!"


"Terus kalo sampe Sella hamil gimana Dim?"


deg


"Hamil......" lirih Dimas.


"Iya, gimana coba? gue yakin nggak cukup sekali loe naburin tuh benih di rahimnya."


"Sebelum nunggu hamil gue bakal nikahin dia, gue udah urus surat perceraian gue ke pengadilan tinggal tanda tangan Rika aja terus sidang, mudah-mudahan semua bisa berjalan lancar."


"Terus sekarang loe tinggal dimana? Tante sama om?"


"Gue masih di rumah mereka, Rika minta gue buat nutupin masalah ini sama kedua orangtua gue sampai urusan kita benar-benar selesai. Lagian gue pikir itu ada untungnya juga buat gue, gue masih ada kesempatan buat bujuk Sella dan gue nggak akan tenang ngebiarin Sella hidup berdua sama Rika," jawab Dimas dengan menunjukkan wajah kekhawatiran.


"Gue harap itu juga bukan akal-akalan dari Rika aja, loe mesti hati-hati bro bisa aja ini ajang buat Rika lakuin sesuatu ke loe biar loe nggak jadi cerai sama dia."


"Gue bakal jaga diri, gue masih nggak nyangka ternyata kelakuannya begitu di belakang gue!" Dimas memijat pelipisnya.


"Udah lama kali," celetuk Doni yang langsung mendapat tatapan tajam dari Dimas.


"Maksud loe? jangan bilang kalo selama ini loe nutupin ini semua dari gue!"


"Gue nggak tega kalo harus jujur sama loe, bahkan bokap loe aja tau kelakuan Rika selama ini dan juga hubungan loe sama Sella, sorry gue terpaksa bilang sama bokap loe tentang hubungan kalian, tapi kalo masalah Rika, gue nggak tau kalo bakal beliau lebih tau duluan dari pada gue!"

__ADS_1


Dimas tak menyangka ternyata dia yang selama ini terlalu menutup mata dengan perubahan Rika. Hingga akhirnya dia di bodohi oleh istrinya sendiri.


"Pantas aja papah tau-tau datang kesini, ternyata ini alasannya!"


"Orang tua mana yang tega lihat anaknya di bodohi terus sama menantunya? justru gue salut sama bokap loe, saking sayangnya dia walaupun loe jauh tapi mereka masih mantau kehidupan loe!"


Dimas menyugar rambutnya, tekadnya semakin kuat untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan Rika.


Sesampainya di rumah Dimas langsung di sambut oleh sang mamah yang sejak tadi sibuk menghidangkan makan malam sendiri tanpa ada yang membantunya. Padahal jelas ada Rika di rumah, tapi untuk sekedar berbasa-basi saja terasa berat sekali ia lakukan.


Dimas melirik gadis cantik yang sejak tadi hanya diam mengamati sang mamah, rupanya dia tidak boleh membantu dan hanya di minta untuk menemani mamah memasak.


"Masih sakit dek?" tanya Dimas yang sudah duduk di meja makan mendekati Sella.


"Udah lebih baik," jawab Sella tanpa menoleh ke arah Dimas.


"Mau kakak carikan obat?" tanya Dimas dan hanya di jawab gelengan kepala oleh Sella.


Dimas dapat melihat jelas sorot mata kekecewaan dari Sella, hingga enggan menatap apa lagi dengan jelas dia menolak saat Dimas ingin menyentuh jemarinya.


"Maafin kakak ya dek, kakak udah urus surat cerai ke pengadilan, doain semua berjalan lancar agar kakak bisa secepatnya bertanggung jawab dan menikahi kamu," lirih Dimas dengan sesekali matanya melirik sang mamah yang sedang menyiapkan sayur di dapur.


"Rasa kakak masih sama, kakak mohon berikan kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya!"


"Mas!"


Dimas segera menoleh saat Rika memanggilnya tepat di ujung tangga, kemudian berjalan mendekati dan berusaha untuk mencium pipi Dimas namun sebisa mungkin Dimas menghindar.


"Kenapa sich mas?" kesal Rika kemudian ikut duduk di sebelah Dimas.


"Jaga batasan Rika, saat ini kamu bukan istriku lagi!" lirih Dimas yang masih mampu di dengar oleh Rika dan Sella.


"Tapi selama belum ada keputusan dari pengadilan aku masih sah istri kamu mas!"


"Itu secara hukum, tetapi secara agama dengan tegas aku sudah menalak kamu, jadi aku minta tolong jaga batasan karena aku bukan suamimu lagi begitupun sebaliknya!" tegas Dimas.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu langsung dari mulut Dimas membuat Rika sangat kesal dan kemudian mengarahkan pandangannya pada Sella dengan tatapan tajam.


"Semua ini gara-gara kamu!"


__ADS_2