
Sella terjaga dari tidurnya, dada bidang yang kini ada di depan mata nya menjadi pemandangan pertama yang membuat jantungnya kembali berdegup kencang.
Matanya terpejam kembali saat ingatan semalam mulai kembali mengusik, sedangkan ketukan pintu dari luar seakan ingin mendobrak dan membuat degub jantungnya semakin berisik.
Sella melihat tangan Dimas yang melingkar memeluknya dengan posesif, tangannya terangkat untuk memindahkan tangan tersebut. Dia harus segera memakai bajunya sebelum orang di luar semakin murka, Sella sudah pasrah, mungkin ini jalan hidup yang harus ia terima dengan lapang.
"Mau kemana sayang?" tanya Dimas saat tangannya mulai berpindah tempat.
Sella tidak membuka suara, dadanya masih sesak membayangkan kejadian semalam.
"Sayang...." Dimas meraih tubuh Sella hingga kembali jatuh di pelukannya.
"Apa segitu hinanya aku, hingga aku menjadi pelampiasan nafsumu kak?" tanya Sella dengan suara yang rendah tetapi begitu dalam maknanya, hatinya sakit jika mengingat dua kali Dimas melakukannya tanpa kendali.
"Hey sayang, kenapa bicara begitu, mungkin yang pertama memang aku salah, karena itu posisi aku mabuk. Tapi yang semalam aku sadar jika itu kamu. Jangan pernah kamu bilang jika dirimu wanita hina, karena kamu tak seperti yang kamu ucapkan!" Dimas menarik nafas dalam hatinya sesak saat mendengar ucapan Sella tadi.
"Maafin aku, ada yang menaruh obat di minuman atau makananku."
Sella mengingat jika Rika yang kemarin menyiapkan makan untuk Dimas. Sella menatap Dimas dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Apa mungkin kak Rika yang melakukannya?" lirih Sella.
"Aku pikir iya, maafkan aku, aku mendatangimu sesuai hati dan langkah kakiku bukan hanya semata-mata karena nafsuku."
Gedoran pintu di luar tak kunjung berhenti, membuat Sella begitu panik. Dimas mengusap kasar wajahnya saat mendengar suara Rika dari luar. Pria itu melihat Sella yang kesulitan untuk berjalan segera mengangkat tubuhnya ala bridal style kemudian melangkah menuju kamar mandi.
"Kak!"
"Tetap diam, biarkan aku bertanggung jawab akan ulahku, kamu pasti sangat kesakitan kan..." Sella menundukkan kepalanya dan melingkarkan tangannya di pundak Dimas.
Sesampainya di kamar mandi Dimas menurunkan Sella di dalam bathtub.
"Mandilah, biar aku yang menghadapi Rika di luar! jangan cemas, aku akan melindungimu!"
__ADS_1
cup
Dimas yang masih polos segera keluar kamar dan memakai handuk yang ia bawa semalam untuk ia lilitkan kembali di pinggangnya sebelum menghadapi Rika dan kedua orangtuanya di luar.
Sella segera membersihkan tubuhnya, bukan waktunya ia menangis saat ini, karena dia tau Rika pasti sudah sangat marah.
Dimas melangkah menuju pintu kamar, dia membuang nafas kasar kemudian membuka pintu tersebut. Di luar tampak Rika dan kedua orangtuanya menatapnya dengan pandangan berbeda.
Mereka terdiam melihat Dimas yang berantakan dengan rambut yang masih acak-acakan, apa lagi Dimas hanya mengenakan handuknya.
"Dimas...."
"Mah..." Dimas melihat jelas raut kekecewaan di wajah sang mamah begitupun dengan papah.
"Maafkan Dimas mah, Dimas bisa menjelaskan ini semua, Dimas tau apa yang Dimas lakukan salah, maaf jika aku kembali mengecewakan mamah!" Dimas hampir meneteskan air mata saat melihat wajah sang mamah.
Rika sejak tadi masih terdiam, dia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat, otaknya berfikir dengan cepat. Ini hasilnya...hingga emosinya kembali meledak saat dia melihat jelas ada cakaran di dada Dimas dan beberapa bekas gigitan hasil pergulatannya semalam bersama dengan Sella.
"Kamu jahat mas! apa yang kamu lakukan dengan Sella semalam?" Rika seketika murka, dia memukul dada Dimas berulang kali sampai Dimas kewalahan menahannya.
"Kamu kan yang memasukkan obat laknat itu ke dalam minuman aku! kamu mau berusaha menggagalkan perceraian kita? licik kamu Rika."
deg
Rika terdiam mendengar tuduhan dari Dimas yang memang benar adanya.
"Mas..."
"Dan kamu menanyakan apa yang aku lakukan di kamar Sella semalam? tak perlu aku jawab pun kamu sudah tau! ini hasil dari obat yang kamu berikan!"
Rika tidak menyangka jika akan begini jadinya, dia salah sasaran tak seharusnya Dimas dengan Sella, sedangkan semua sudah ia rencanakan sebaik mungkin.
"Tapi kenapa harus Sella mas?"
__ADS_1
"Kenapa? nggak sesuai rencana kamu?" Dimas rasanya sudah muak, dia ingin secepatnya proses perceraian itu selesai. Dimas sudah lelah menghadapi Rika.
"Mas, kamu nggak seharusnya melakukan itu semua dengan Sella, dia itu adik ipar kamu mas, keterlaluan kamu mas. Kamu sengaja kan mencari yang masih perawan, apa kamu memang sudah lama menyukai dia? iya mas?"
"Cetek pemikiran kamu jika kamu pikir aku hanya mengincar yang masih perawan! kamu kenal aku dan kamu paham aku sejak dulu, aku nggak akan melakukan apapun jika tak sesuai hatiku!"
"Lalu apa alasannya? apa karena kamu menyukai Sella mas?" seru Rika, kepalanya serasa ingin pecah menghadapi semua yang ada.
"Kalo iya memang kenapa?"
deg
Lagi-lagi jantung Rika seakan dihantam ribuan batu, dia tak menyangka jika Dimas akan memiliki perasaan pada Sella. Tubuhnya seakan kaku, hatinya begitu kelu.
"Keterlaluan kamu mas!" lirih Rika seakan tak percaya seraya menggelengkan kepalanya.
"Apa salah jika aku mencintai Sella?"
"Jelas salah mas! dia adik ipar kamu, nggak seharusnya kamu memiliki perasaan dengannya mas!"
"Tetapi setelah kita bercerai statusnya bukan lagi adik ipar, tapi sekarang dia adalah wanitaku Rika!" tegas Dimas.
Mendengar ucapan Dimas mamah yang sejak tadi menyaksikan perdebatan keduanya seakan tak percaya jika Dimas mencintai Sella. Selama ini memang ia terkadang merasa janggal dengan sikap Dimas yang tak biasa pada Sella. Tapi jika memang bener dimas akhirnya memiliki hati pada adik iparnya sendiri, ini bukan karena semata-mata kesalahan Dimas,tapi lagi-lagi Rika yang memberi banyak kesempatan untuk mereka bersama.
"Aku nggak akan membiarkan kalian berdua mas, aku nggak terima atas ini semua, kamu keterlaluan! mana Sella?" Rika begitu murka dia tak terima akan apa yang telah terjadi. Rika berusaha menerobos masuk ke dalam kamar Sella tetapi di tahan oleh Dimas.
"Mau apa kamu?"
"Aku mau memberi perhitungan untuknya!"
"Berani kamu menyentuhnya lagi aku nggak akan tinggal diam Rika!" bentak Rika dengan kilatan amarah di dalam hatinya, kini kedua orang tua Dimas hanya dapat menyaksikan tanpa melerai mereka. Papah menahan mamah yang ingin menghentikan perdebatan itu.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka, untuk saat ini kita cukup diam, karena Dimas harus bertanggungjawab penuh dengan apa yang telah terjadi."
__ADS_1
"Apa sudah begitu besarnya rasa cinta kamu pada Sella mas, sampai kamu begitu membela dia?"
"Yang jelas rasa cintaku padamu sudah kandas sejak dengan jelas aku melihatmu mengkhianatiku!"