
Hari ini Rika benar-benar di buat gelisah, besok sidang perceraiannya yang pertama sedangkan dia tidak menginginkan itu, ingin rasanya dia berteriak jika dia menolak. Tetapi dia tak sebodoh itu, butuh cara agar semua batal.
Rika terus berfikir hingga satu kecupan di pipinya membuyarkan konsentrasinya.
"Mikirin apa? serius banget..."
"Mikirin nasib aku yang sebentar lagi akan berstatus janda!"
"Bagus donk, janda semakin di cinta!"
"Apa sih kamu tuh! aku masih berusaha untuk membatalkan semua, aku nggak mau Dimas lepas gitu aja, aku mau dia tetap jadi suami aku!"
"Kenapa? karena cinta?" Tio tersenyum miring, "cinta yang selalu kamu jadikan alasan, kalo kamu cinta kamu nggak begini Rika, bahkan kejadian kemarin aja kamu larinya ke siapa? apa ke cinta kamu itu?"
Rika bungkam setelah mendengar ucapan Roy, memang benar kata Roy bahkan dia selalu lari ke pelukan Roy saat suka maupun duka.
Roy menarik tubuh Rika masuk kedalam pelukannya, pria itu memang tulus dengan Rika, tetapi Rika tak pernah menganggapnya lebih, wanita itu hanya menganggapnya sebagai teman ranjang.
" Maafkan aku jika aku menyakiti hatimu Roy, tapi ijinkan aku berjuang sekali lagi untuk mempertahankan Dimas, jika gagal aku akan menyerah dan kembali untukmu seorang. Besok sidang pertamaku dengannya, aku akan berusaha sekali lagi nanti malam."
Roy yang tak pernah tega dengan keluhan Rika akhirnya mengiyakan dengan mempertaruhkan hatinya.
"Hanya satu kali dan jika tak berhasil aku mau kamu berhenti!"
"Iya," Rika mengeratkan pelukannya.
Sepulang dari restoran Sella memilih untuk di antar kembali ke sekolah dengan alasan mengambil motornya yang masih terparkir di sana.
"Kenapa nggak langsung pulang aja sich dek?"
" Aku mau ambil motorku kak, besok aku kan sudah jarang masuk sekolah, tinggal menunggu pengumuman hasil kelulusan juga," jawab Sella.
Sebenarnya selain mengambil motor gadis itu juga tidak ingin terlihat pulang bersama dengan Dimas, Sella tidak ingin memperkeruh suasana apa lagi jika Rika sampai mengetahuinya.
"Benar? bukan karena tak ingin pulang denganku kan?"
"Nggak kok kak," jawab Sella dengan tersenyum.
Dimas memarkirkan mobilnya di depan gerbang sekolah Sella, kemudian Sella segera keluar dan melangkah menuju gerbang. Suasana sekolah sudah sepi tinggal security saja yang masih tersisa berjaga di sana.
Dimas diam memperhatikan Sella, dia tidak akan meninggalkan Sella begitu saja, Dimas menunggu hingga Sella keluar lagi dengan mengendarai motornya.
Melihat Dimas yang masih disana Sella turun dari motor dan menghampiri Dimas lalu mengetuk kaca mobilnya hingga terbuka.
"Kakak ngapain masih disini?"
__ADS_1
"Aku nunggu kamu, ayo pulang! aku ikuti kamu dari belakang," ucap Dimas dan di jawab anggukan oleh Sella.
Sepanjang perjalanan mata Dimas tak lepas dari wanita cantik pengendara motor di depannya, hingga motor itu memasuki kompleks perumahan, Dimas memberhentikan mobilnya memberi jarak. Dia mulai paham maksud Sella dan mengerti akan keinginannya.
Saat Dimas ingin melajukan lagi mobilnya mata Dimas menangkap sosok Rika yang keluar dari dalam apotik depan komplek bersama dengan seorang pria.
"Semoga berhasil, tapi ingat hanya kali ini," ucap Roy.
"Iya sayang makasih ya, kamu paling mengerti aku!"
Roy menarik pinggul Rika kemudian mencium keningnya, dia harus kuat demi cintanya. Memang cinta terkadang membuat bodoh...
Dan Roy tak tau ini cinta atau kebodohan semata.
Rika pamit dan mencium pipi Roy kemudian keduanya masuk ke dalam mobil masing-masing. Dan menjalankannya dengan berlawanan arah.
Semua itu tertangkap jelas di mata Dimas, Dimas menarik nafas dalam kemudian kembali melajukan mobilnya untuk pulang.
" Ternyata memang nggak cuma satu, aku terlalu bodoh selama ini! Dan aku semakin yakin jika tak ada lagi yang bisa di pertahankan. Semoga sidang pertama lancar.."
Rika masuk kerumah diikuti oleh Dimas yang juga baru turun dari mobil, Sella yang menyempatkan diri bergabung dengan orang tua Dimas di ruang keluarga di buat heran dengan kedatangan mereka berdua.
"Mas, kamu udah sampai? berarti tadi di belakang aku ya mas?" Rika gelisah saat melihat Dimas yang juga baru sampai.
"Bahkan aku lihat kamu mencium mesra lelakimu!"
Langkah Rika terhenti, dia tak menyangka di saat ingin berjuang sekali lagi justru Dimas melihatnya bersama Roy.
"Itu sahabatku mas, sudah biasa seperti itu dan kami tidak ada hubungan apa-apa."
"Seandainya ada hubungan pun sudah tak berpengaruh apa-apa denganku!"
Dimas segera masuk kedalam rumah dan mencium kedua telapak tangan orang tuanya lalu ikut bergabung di sana. Begitupun dengan Sella dia meraih tangan Dimas lalu menciumnya seperti biasa, tetapi kali ini cukup berbeda di mata kedua paruh baya tersebut, mereka melihat tangan kiri Dimas yang terulur mengusap lembut kepala Sella saat gadis itu mencium tangannya.
"Kamu pulang bareng Rika?"tanya mamah.
"Tidak mah, kita bertemu di depan tadi, kebetulan Rika tadi mampir dulu di apotik depan kompleks."
Rika masuk kerumah dengan wajah datar, dia sama sekali tida ada minat menyapa kedua mertuanya apa lagi ada Sella di sana.
Mamah menggelengkan kepala saat melihat Rika yang pergi begitu saja hingga mata nya sendu melihat ke arah Dimas.
" Besok sidang pertamaku mah, doakan lancar!" ucap Dimas dan itu membuat sang mamah terkejut.
"Kamu mau bercerai nak?"
__ADS_1
"Iya mah, aku sudah mentalaknya beberapa hari lalu."
"Kenapa nak?"
"Karena sudah tak ada lagi kecocokan mah, aku ingin mencari wanita yang mau menerima ku apa adanya. Dan memiliki prinsip serta komitmen yang sama untuk masa depan."
"Apapun keputusan kalian mamah dukung nak, yang terpenting itu yang terbaik untuk kamu dan Rika. Berarti nanti malam jangan tidur satu kamar dengannya ya, karena kamu sudah menjatuhkan talak untuknya. Dan kapan kita keluar dari sini?"
"Iya mah, setelah aku resmi berpisah kita akan segera pergi dari rumah ini, karena ini permintaan Rika, jadi aku coba hargai keinginannya," jawab Dimas dengan senyum mengembang dan mata yang melirik Sella yang sejak tadi hanya diam menunduk.
Malamnya ketika makan malam semua di buat heran dengan adanya Rika yang sudah lebih dulu datang, Rika membuatkan kopi serta melayani makan Dimas menggantikan peran Sella selama ini.
Dimas sedikit heran tetapi dia berfikir mungkin ini niat Rika untuk meninggalkan kesan baik sebelum mereka berpisah.
"Di makan mas!" Rika menyodorkan sepiring nasi beserta lauknya di hadapan Dimas.
"Iya, makasih Rika..."
Setelah makan seperti biasa Dimas meminum kopi, walaupun kali ini tidak sama rasanya karena bukan buatan Sella tetapi Dimas tetap menghargai dan meminumnya hingga habis.
Kedua orang tua Dimas sudah kembali ke kamar, begitupun Dimas yang ingin masuk ke kamar tamu.
"Mas mau tidur di kamar tamu?"
"Iya Rika, kita sudah tak ada hubungan lagi, jadi aku tidur disana. Ya sudah aku istirahat dulu.." Dimas segera melangkah masuk menuju kamar tamu meninggalkan Rika yang mendengus kesal.
"Silahkan saja kamu masuk ke kamar itu mas, tapi aku yakin tak ada waktu satu jam kamu akan mengetuk pintu kamarku!" Rika segera berlari menuju kamarnya.
Sella hanya menjadi penonton perbincangan keduanya di dapur, setelah selesai dengan perabotan dapur yang telah ia bersihkan, gadis itu segera masuk ke dalam kamar.
Dimas sudah sejak tadi mengguyur tubuhnya di bawah shower, hawa panas dan gairah yang memuncak kini tengah menguasai tubuhnya.
Dia paham betul akan reaksi ini, "Kamu sengaja kasih obat ke aku Rika!"
Dimas saat ini tampak gelisah dengan bulir keringat yang sudah membasahi dahinya. Hanya dengan handuk yang melilit di tubuhnya Dimas mondar-mandir hingga rasanya tak kuat menahan dan akhirnya dia menyerah. Dimas keluar kamar dan segera berlari menaiki tangga.
"Aku nggak kuat, maafkan aku....."
Tanpa pikir panjang Dimas segera membuka pintu dan menguncinya, hasrat yang sudah tak tertahan membuatnya segera menyambar bibir wanita yang saat ini telah berdiri di hadapannya.
"Aku menginginkannya......"
"Akkkkkkhhhhhhhh......."
...****************...
__ADS_1
Dimas ....Dimas .... aakkhh lagi aja kan. Jangan buat othor merasa bersalah karena kelakuan nakalmu ya Dimas!😮💨😮💨