
Setelah Dimas dan Rika pergi ke pengadilan, kini Sella bersama kedua orang tua Dimas yang sejak tadi menguatkan hatinya. Kedua paruh baya itu ikut merasakan sakit yang di derita Sella, mereka paham betul hancurnya hati Sella saat ini. Kenyataan yang tak terduga seperti menamparnya hingga tak mampu lagi berucap.
Sejak tadi Sella hanya diam dengan air mata yang tiada henti, dia tak percaya jika akhirnya akan seperti ini, terlebih kenyataan yang selama ini berhasil terkemas rapi kini terbuka hingga menancap di hati.
Kenangan bersama kedua orangtuanya kembali nyata di ingatan, tanpa ada rasa curiga karena sampai dirinya dewasa dan orang tuanya ya tiada semua tampak baik-baik saja. Hanya hubungannya dengan Rika yang memang sejak dulu tak pernah akur dan itu sudah biasa, apa lagi sang mamah selalu meyakinkan jika memang Rika memiliki sifat seperti itu dan harap bersabar.
Selama ini Sella tak pernah sakit hati akan sikap Rika, dia menganggap sang kakak adalah kakak yang baik. Tetapi sejak saat ini ia sadar jika dia yang salah, dia yang jahat, dia pantas mendapatkan semua ini, bahkan jika Rika menuntutnya dan menghukumnya pun dia rela.
Sella menatap kedua orang tua Dimas yang begitu menyayanginya, malu, kecewa, dan rasa bersalah melingkupi hatinya.
"Sabar ya nak, dan maafkan kelakuan Dimas selama ini!" ucap sang mamah dengan mata berkaca-kaca.
"Dimas akan bertanggung jawab atas diri mu Sell, kamu jangan khawatir dan jangan terlalu memikirkan ucapan Rika. Semua yang ia bicarakan tak benar, ibu mu bukan pelakor seperti yang ia katakan. Ayah dan Ibumu orang baik, mereka sudah saling mencintai jauh sebelum akhirnya ayahmu menerima perjodohan dari orangtuanya."
Sella hanya diam, dia tak tau harus mengatakan apa dan siapa yang dapat di percaya, yang jelas dia bukan anak kandung dari orangtuanya selama ini, dan bukan adik kandung Rika.
Kedua orang tua Dimas cukup paham apa yang Sella rasakan, mereka tak tersinggung dengan diamnya Sella. Justru saat ini mereka semakin sedih melihat Sella yang hanya bisa menangis.
Sampai siang hari pun Sella hanya diam terduduk di atas ranjang, bujukan dari mamah Dimas yang sejak tadi memintanya untuk makan tak sekalipun ada jawaban. Sesekali sang mamah mengusap lembut punggung Sella memberi kekuatan. Hingga Sella terlelap di pangkuan mamah Dimas dengan damai.
"Mah, ayo kita keluar, biarkan Sella tidur dan beristirahat. Kasian dia mah, butuh waktu baginya menerima semuanya!"
"Iya Pah, sebentar mamah benarkan dulu posisi tidurnya."
Setelah dirasa Sella sudah nyaman, kedua orang tua Dimas keluar dari kamarnya, mereka pun sama merasa bersalah. Apa lagi jika teringat pada orang tua kandungnya yang jelas meminta mereka untuk menjaga Sella. Tetapi kini justru anaknya yang menghancurkan masa depan Sella.
"Andai dulu kita lebih keras lagi pada Dimas untuk melarangnya menikahi Rika Pah, pasti tidak akan ada seperti ini, mungkin Dimas saat ini baru menyelesaikan fitting baju pengantin dengan Sella."
"Iya mah, papah juga menyesalkan itu, padahal kita sudah menyepakati jika mereka yang mengasuh tetapi kelak sudah besar akan kita jodohkan keduanya. Tapi ya sudah mah, semua sudah terjadi, mungkin salah kita juga terlalu memanjakan Dimas. Dan saat itu juga Dimas tidak tau jika yang kita ingin jodohkan itu adalah Sella, tapi kembali lagi jodoh nggak akan kemana."
__ADS_1
"Iya Pah, semoga setelah ini mereka bahagia," jawab mamah.
Satu jam setelah benar-benar tertidur Sella mulai terjaga dan perlahan bangun dari tidurnya. Bayangan akan serangan yang Rika lakukan tadi kembali teringat jelas.
"Maafin aku kak..."
"Aku memang tak pantas ada kerumah ini, aku sudah jahat padamu yang begitu baik pada ku kak!"
Sella kembali menangis, semua kenangan bersama Kakaknya kembali berputar di kepalanya, hingga air mata itu kembali menetes.
Begitupun saat dia mengingat tentang Dimas, dia akui dia sangat mencintai Dimas, tetapi untuk menerima Dimas dan segala pertanggungjawabannya ia rasa hanya akan memperkeruh keadaan. Rika akan semakin marah dan membencinya.
Sella menuruni ranjang dan melangkah ke arah lemari, ia buka kedua pintu lemari, diambilnya sebuah kotak dengan satu buah kunci kecil yang ia letakkan di dalam laci.
Sella terduduk di ranjang kemudian membuka kotak tersebut. Didalam kotak itu ada uang serta beberapa emas peninggalan kedua orangtuanya yang dulu di berikan sebagai kenang-kenangan.
Sella menghitung uang lembaran berwarna merah dan biru, ini semua hasil ia menyisihkan uang bulanan yang di berikan oleh Rika selama ini.
Sella merapikan uang tersebut dan ia masukan kedalam tas yang akan ia bawa. Dia menghapus kasar air mata yang hendak kembali jatuh membasahi pipinya saat kejadian semalam kembali terlintas.
Dengan cepat Sella segera memasukkan pakaiannya ke dalam sebuah koper serta surat-surat keperluannya sekolah. Walaupun ia tidak tau ke depannya akan bagaimana, akan terus sekolah atau tidak, yang jelas saat ini ia ingin cepat keluar dari rumah dan pergi sejauh mungkin meninggalkan kenangan yang telah lama tercipta di rumah ini.
Sella menuruni tangga dengan koper dan tas punggung yang ada di tubuhnya, langkahnya pelan, dengan mata yang terus memperhatikan suasana rumah yang tampak sepi. Mungkin saat ini kedua orang tua Dimas sudah berada di dalam kamar.
"Maafin Sella, Mah Pah, Sella harus pergi dari rumah ini, nggak ada hak Sella disini," batin Sella saat matanya terpaku pada bingkai kayu yang terdapat foto kedua orangtuanya, tepatnya kedua orang tua Rika.
Sella meletakkan kopernya di bagian depan motornya, dengan perlahan Sella mendorong motornya hingga keluar gerbang dan pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan Sella terus menitikkan air mata, hatinya sakit, hancur dan kecewa. Berusaha kuat adalah solusi yang utama, hingga sampai di perempatan jalan Sella bingung harus kemana.
__ADS_1
"Harus kemana..."
"Gue bahkan nggak punya siapa-siapa," gumam Sella sambil memijat pelipisnya, tanpa ia sadar mobil Dimas melintas di depannya, begitupun dengan Dimas dia tidak tau jika ada Sella di sana.
Ting tong
Ting tong
Bell berbunyi membuat langkah kaki secepat mungkin menuruni tangga untuk membuka pintu. Bibi yang biasanya berada di dapur saat ini sedang ijin pulang kampung untuk merawat orang tuanya yang sakit.
"Ck, andai tuh pintu ada remotnya, kan nggak usah capek-capek lari dari kamar."
Tangannya terulur membuka pintu tersebut, begitu terkejutnya si pemilik rumah, matanya menyapu orang yang datang dengan koper serta tas di punggungnya seperti sedang minggat dari rumah.
"Sella......."
...****************...
Sella.....bisa nangis Bombay AA' Dimas di tinggal minggat....
siapa ya yang ia datangi...
pagi semua....
jangan lupa
♥️
🌹
__ADS_1
☕
like N Coment