Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Rindu Ayah


__ADS_3

Sejak kepulangan Dimas, kini Sella lebih merasa gelisah. Jauh sebelum mereka bertemu kembali. Kedua anaknya pun sering menanyakan kapan sang ayah akan mengunjungi. Mereka sudah rindu dan ingin bisa bermain lagi.


Bahkan sudah seminggu Dimas tak menunjukkan kembali batang hidungnya. Walaupun setiap hari pasti menyempatkan untuk Vidio call anak-anak, tetap saja tak membuat Sella tenang.


"Ayah kapan pulang?"


"Iya ayah, aku mau di anter sekolah sama ayah.." sahut Kaira.


"Secepatnya ayah pulang dan menemani kalian lagi, untuk saat ini ayah masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Jadi sabar dulu ya sayang. Ayah janji, nanti kalo ayah kesana ayah bawakan boneka buat kalian berdua."


"Asyik..." seru Naira dan Kaira dengan hati yang senang.


"Bunda mana sayang?"


"Ada," jawab Naira.


"Boleh nggak ponselnya kasih ke bunda?"


"Boleh donk ayah, ayah kangen juga ya sama bunda?"


"Iya sayang, ayah kangen sama bunda."


Mendengar itu wajah Sella seketika memerah, sebetulnya hatinya tak yakin jika yang Dimas katakan itu benar, tapi ntah dirinya begitu sulit membentengi diri setelah kembali berjumpa.


"Ini bunda...."


"Kenapa kak?"


Dimas tersenyum melihat wajah Sella yang malu-malu, Sella tetap menjaga pandangan walaupun via telpon. Ntah jantungnya kembali berdebar saat melihat mata Dimas yang seperti begitu dekat.


"Anak-anak merindukan ayahnya, apa bunda nggak merindukan ayah juga?"


Sella menundukkan kepala, lidahnya kelu untuk sekedar menjawab.


"Gimana bunda, kangen nggak sama ayah?"


"Memangnya kakak kapan datang lagi?"


"Kenapa, udah nggak sabar ya...."


"Aku... bingung setiap ditanya anak-anak."


"Secepatnya aku kesana, aku selesaikan dulu urusanku disini. Agar bisa agak lama bermain dengan kalian."


"Oh iya kak....."


"Ya sudah kalau gitu aku matikan dulu ya, aku harus lanjut bekerja. Jangan telat makan dan jaga anak-anak kita. Semoga kalian selalu dalam lindunganNya..Aamiin."


"Aamiin..."

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Wa'allaikumsalam kak.."


Sella menutup wajahnya, ntah apa yang ia rasakan, hanya sebentar tapi rasanya sudah ngos-ngosan.


Hari-hari mereka lalui seperti biasanya, tak ada yang berbeda hanya saja si kembar sekarang sudah tidak menanyakan sang ayah dengan raut wajah sedih. Mereka lebih happy karena bisa mengabari sang ayah setiap hari.


Sella pun kembali berusaha membentengi hati, tak ingin berharap lebih. Dia juga masih bertanya-tanya siapa itu Zahra sebenarnya.


Tak ingin kembali kecewa Sella lebih fokus dengan kegiatannya dan anak-anak. Apa lagi sebentar lagi mereka libur sekolah, tentunya Sella lebih prepare untuk jadwal apa yang akan ia kerjakan bersama dengan kedua buah hatinya.


"Bunda, aku hari ini mendapat nilai A," ucap Naira sambil menunjukkan hasil nilainya.


"Waaahhhh anak bunda pintar, kalo Kaira dapat nilai berapa?"


"Kaira juga dapat nilai sama dengan kakak hanya saja kaira ada kayak gininya Bunda, ada tambah tuh bunda." Apanya yang di tambah bunda?"


Sella tersenyum mendengar ucapan Kaira, "kalo Kaira menemukan tanda seperti ini berarti nilai Kaira itu di atas nilai A," tutur Sella menjelaskan.


"Berarti di atas nilai Naira bunda?" tanya Naira lagi.


"Iya sayang, nggak apa-apa berarti harus semakin giat lagi belajarnya dan tetap harus bersyukur ya!"


"Iya bunda," jawab Naira dan Kaira berbarengan.


"Bunda......" seru Naira.


"Iya sayang, sebentar!" Sella yang berada di kamar segera pakai kerudung dan keluar.


"Bunda coba tebak siapa yang datang!" seru Kaira.


Sella membuka pintu kamar, matanya berbinar melihat siapa gerangan yang datang di Minggu yang cukup sibuk ini.


"Daddy pulang bunda," seru Naira yang sudah berada di gendongan Tio.


"Kapan sampe? kok tumben nggak ngabarin gue?"


Sella mengajak Tio untuk duduk di sofa dan kedua putrinya ikut duduk di sana.


"Sengaja, mau kasih surprise buat kalian. Gimana kabar kalian sayang? Daddy rindu..." Naira dan Kaira memeluk erat Tio yang duduk di tengah-tengah mereka berdua.


"Kita juga rindu sama Daddy, daddy lama nggak dateng-dateng, nggak telpon juga. Daddy sehat?" tanya Naira dengan muka imut yang membuat gumush.


"Daddy sibuk selesaikan semuanya, tapi kalian tenang aja, mulai sekarang Daddy akan sering-sering menemui kalian. Karena urusan Daddy di sana sudah selesai."


"Horeeee.......kita jalan-jalan ya Daddy!" Kaira begitu senang hingga jingkrak-jingkrak di atas sofa.


"Tentu sayang, nanti kita jalan-jalan ya!"

__ADS_1


"Ok Daddy, ya udah aku bantu Tante ayu lagi ya bunda," Naira mengajak Kaira untuk segera ke halaman depan. Sedangkan Sella membuatkan minum terlebih dahulu.


"Udah mulai kerja di tempat bokap?" tanya Sella yang sudah kembali dengan segelas es sirup.


"Iya, lusa gue kerja. Jadi tiap weekend bisa langsung main kesini sama anak-anak. Gimana?"


"Gimana apanya?" tanya Sella balik yang kini sudah duduk di sofa dengan jarak aman.


"Makin bahagia?"


"Selama selalu bersyukur, gue bahagia selalu. Ada anak-anak yang sangat menghibur."


"Nggak pengen ikut gue balik ke Jakarta, pindah lagi di sana dan loe bisa ngelamar di sekolah sana. Bibi juga bisa ikut biar loe nggak repot ngurus si kembar."


"Belum ada kepikiran mau balik ke Jakarta. Tapi nggak tau ke depannya. Gue udah cukup betah sich di sini.."


"Anak-anak masih nanyain tentang ayah mereka?" tanya Tio yang membuat Sella langsung menoleh ke arahnya kemudian kembali membuang muka.


"Masih," Sella belum siap bercerita pada Tio jika dia malah sudah bertemu dengan Dimas.


"Masih sering nangis?"


"Terakhir iya, katanya Kaira di bully sama temannya. Tapi sekarang udah nggak lagi."


"Apa hati loe masih sama?"


"Maksudnya?"


"Belum ada celah buat gue masuk?" tanya Tio dengan wajah serius.


Sella menundukkan kepala, berulang kali Tio memintanya untuk mengakhiri masa lajang dan menikah dengannya dan berulangkali juga Sella menolak. Sampai rasanya dia tak tega, tapi hati belum bisa menerima. Bahkan masih ada satu nama yang memenuhi jiwa. Walaupun kini mungkin sudah ada jurang pemisah, tapi Sella belum siap jika membangun rasa yang berbeda.


"Kenapa nggak jawab? loe nggak percaya kalo gue bisa nerima loe apa adanya, bahkan menerima anak-anak juga."


"Bu...bukan gitu Tio, tapi gue belum siap berkomitmen untuk saat ini. Loe udah terlalu baik sama gue Tio, terlalu serakah jika gue juga menginginkan loe juga. Sedangkan gue yang udah seperti sekarang."


"Tapi gue buta kalo sama loe Sell, gue cinta tanpa mau tau kondisi loe sekarang. Rasa gue bahkan belum goyah, awalnya emang gue udah ikhlas tapi makin kesini gue udah dekat juga sama kembar, itu buat gue pengen egois. Anak-anak juga butuh figur ayah kan?"


"Sell, gue udah di Jakarta sekarang. Kalo kita nikah loe dan anak-anak nggak akan kekurangan kasih sayang gue. Gue bakal jadi suami dan ayah yang bertanggung jawab buat kalian." ucap Tio dengan tulus.


Hati Sella semakin resah, pikirannya gelisah, nggak mungkin bisa bilang tidak sedangkan kata yang Tio ucapkan bermakna melamar.


"Gimana?"


Sella menarik nafas dalam, sepintas bayangan Dimas melintas jelas, tapi nama wanita yang ada di layar ponsel itupun kembali terbayang. Mungkin ini jawaban....


"Gue....gue mau jadi......"


"Dek..."

__ADS_1


__ADS_2