Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Hancur


__ADS_3

Saat ini Sella tengah duduk di sofa ruang tamu, ia menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam. Kebingungan akan pergi kemana membuat langkah Sella membawanya datang ke rumah Tio. Beruntung Tio hanya sendiri dirumah, seandainya kedua orangtuanya di rumah sudah pasti akan heboh karena kedua orang tua Tio yang sangat mendukung jika Tio berpacaran dengan Sella.


Mungkin bisa di kira mau ngajak Tio kawin lari dengan melihat Sella yang datang membawa kopernya.


"Diminum....." Sella membuka mata saat Tio meletakkan secangkir teh di atas meja, kemudian menegakkan tubuhnya dan meminum teh yang telah Tio buatkan.


"Kenapa?"


"Bantu cariin gue tempat tinggal," jawab Sella.


"Kosan?"


"Apapun itu tapi kalo bisa jangan di Jakarta."


"Ada apa?" tanya Tio dengan terus menatap Sella, dia tau jika Sella tidak baik-baik saja saat ini, melihat mata yang sembab dan kedua pipi yang memerah.


"Gue belum bisa jelasin sama loe Tio!"


"Loe di usir dari rumah karena ketahuan ada main sama kak Dimas?"


Sella mengangkat kepalanya memandang Tio dengan wajah kesal, dasar Pemaksa selalu ingin tau dan selalu bisa tau, udah kayak cenayang!


"Nggak gitu Tio!"


"Atau kak Rika liat kalian bermesraan?"


"Tio!"


"Apa kak Rika marah karena liat loe tidur sama kak Dimas? sama seperti ketika kita mergokin kak Rika sama Reno?"


"Gue salah dateng kesini!" Sella segera meraih tas dan kopernya kemudian melangkah keluar rumah, tetapi belum sampai langkahnya melewati pintu. Tubuhnya sudah lebih dulu di tarik oleh Tio hingga masuk kedalam pelukannya.


Tangis Sella pecah dengan tangan memukul dada Tio. "Loe jahat Tio!"


"Loe jahat ngomong gitu ke gue!"


"Gue kesini butuh bantuan loe bukan pertanyaan loe yang buat gue tambah sakit hati!"


"Gue begini karena gue sayang sama loe Sell, gue cinta sama loe!"


deg

__ADS_1


Sella menghentikan tangannya dan meremas kaos yang Tio kenakan.


"Tapi gue kecewa sama loe, gue udah ikhlasin loe sama Reno ataupun yang lain, tapi please jangan sama kak Dimas."


"Dan sekarang loe tau kan gimana rasanya, gimana akibatnya? gue nggak mau loe sakit hati Sell!"


Tio melepaskan pelukannya, tangannya terulur menghapus air mata Sella.


"Gue sayang sama loe, gue nggak mau loe begini, tapi gue sadar loe nggak pernah anggap gue lebih dari sahabat. Dan gue nggak maksa, asal loe bahagia dengan lelaki yang tepat!"


Tio menatap dalam Sella, tangannya mengusap lembut pipi Sella yang memerah.


"Masih sakit?"


"Sedikit."


"Duduk dulu biar gue obatin!"


"Tapi gue harus cepat pergi dari sini, gue nggak mau ketauan sama kak Dimas Tio!"


"Gue ada apartemen, sementara loe tinggal di sana sampai kita mendapatkan tempat yang benar-benar pas buat loe tinggal."


"Nyari tempat, apa lagi loe minta di luar Jakarta nggak gampang Sella, kita pikirkan dulu terus cari jalan keluarnya sama-sama."


"Nggak perlu keluar kota pun loe bakal aman sama gue!"


Sella menatap wajah Tio, ada rasa bersalah di hatinya, tetapi dia sama sekali tidak ada rasa dengan Tio, semua murni rasa sayang pada sahabat.


"Makasih Tio, tapi gue nggak mau ngerepotin loe lebih dari ini."


"Loe anggep gue sahabat loe kan? kalo loe emang nganggep kita sahabat nggak ada lagi rasa nggak enak bakal ngerepotin, gue tulus buat ngelindungi loe Sell bahkan kalo loe mau pun gue bisa nikahin loe sekarang juga!"


"Tio, please....gue tau loe paham hati gue!"


Tio menarik nafas dalam, dia tak bisa memaksakan hati yang sudah singgah di tempat lain, sakit memang rasanya bahkan seakan hati itu terasa kebas. Tapi dari awal hubungan mereka memang tak lebih dari sahabat. Dan dia harus bisa menerimanya.


Dimas kalang kabut mencari Sella, dia memerintahkan Doni untuk membantu kepindahan orang tuanya serta semua barang pribadi miliknya, sedangkan dirinya pergi mencari Sella.


Dimas menyusuri sepanjang jalan yang mungkin Sella lewati, singgah ke tempat sahabatnya bahkan dia mencari tau rumah mantannya, Reno. Tetapi tak kunjung juga menemukan Sella disana.


Setau Dimas Sella hanya dekat dengan Tiwi dan Tio, hingga kini pencarian selanjutnya ia harus mengunjungi rumah Tio. Sesampainya disana tampak sepi seperti tak berpenghuni. Berulang kali Dimas menekan bell tak kunjung ada yang membukanya.

__ADS_1


Dimas menyugar rambutnya dan mengusap kasar wajahnya, ia tak tau harus kemana lagi mencari Sella. Dia yakin Sella masih ada di sekitarnya. Dimas segera kembali masuk ke dalam mobil, air matanya mulai membasahi pipi. Memergoki istrinya selingkuh tak membuatnya menangis, bahkan sidang perceraianpun rasanya datar saja, tetapi kini air mata itu lolos saat dia harus merasakan kehilangan Sella.


"Kamu dimana dek, kenapa harus ninggalin kakak!"


Dimas terisak, ini kehilangan yang mendalam baginya. Belum ada 24 jam saja hatinya sudah sehancur ini, jiwanya seakan ada yang hilang, bahkan dadanya terasa sangat sesak.


Berungkali Dimas menghubungi Sella tapi tak kunjung ada jawaban, bahkan saat ini nomornya sudah tak dapat di hubungi. Hingga malam hari Dimas terus mencari, tanpa memikirkan dirinya yang belum makan dan penampilannya yang berantakan.


Dering ponsel membuatnya meminggirkan mobilnya, dia tetap menjaga keselamatan walaupun hatinya kacau.


"Halo mah."


"Bagaimana nak, apa kamu sudah menemukan Sella?"


"Belum mah."


"Ya Allah kemana kamu Sella.....Dimas ini sudah larut malam bahkan sudah hampir jam 1, pulang dulu ya nak, besok kamu bisa mencarinya lagi."


"Tapi mah...."


"Kalo kamu masih ingin mencarinya lanjut besok nak, mamah tau kamu juga pasti belum makan kan? ayo pulang dulu nak, kamu harus tetap menjaga kesehatan kamu agar besok bisa kembali mencari Sella."


"Iya mah...." Akhirnya Dimas memutuskan untuk pulang, walaupun di hatinya tak tenang memikirkan Sella.


"Dimana kamu sayang?''


"Malam ini kamu tidur dimana......" Gumam Dimas dengan air mata yang kembali menetes.


Mamah menyambut kepulangan Dimas, beliau begitu khawatir dengan anak semata wayangnya, dia pun khawatir dengan Sella yang belum juga di temukan.


"Sayang....kamu nampak kacau nak, makan dan beristirahatlah, biar mamah yang siapkan ya.."


"Aku nggak laper mah."


"Jangan seperti itu sayang, jika kamu mencintai Sella, makan lah dan jaga kesehatanmu. Mungkin saat ini Sella sedang ingin menenangkan dirinya, jika sudah tenang pasti Sella akan kembali."


"Tapi aku bahkan belum mempertanggungjawabkan perbuatanku mah, bagaimana jika Sella nanti......" Dimas tak sanggup melanjutkan ucapannya, dia begitu takut membayangkan yang akan datang.


"Mah ...."


Dimas memeluk sang mamah dan menangis di pelukan beliau. Tak ada hati seorang ibu yang tak sakit melihat anaknya hancur seperti ini.

__ADS_1


"Sabar ya nak, semua akan indah pada waktunya, jalani dengan ikhlas, nikmati setiap prosesnya, mamah yakin kamu kuat menghadapi ini semua. Doakan Sella baik-baik saja dan selalu dalam perlindungan."


"Makasih mah, doakan Dimas secepatnya membawa Sella pulang kerumah, Dimas sangat mencintai Sella mah."


__ADS_2