
"Ada apa ini?"
Semua tampak terkejut dengan kehadiran pemilik yayasan yang secara tiba-tiba datang. Pak Indra segera berdiri dan menatap Dimas dengan wajah cemas. Sedangkan pak kepala sekolah saat ini sudah berdiri di belakang Dimas.
Para guru yang lain pun sama takutnya, harusnya menyambut kedatangan malah mengadakan acara sendiri. Tapi berbeda dengan Sella, dia yang belum pernah kedatangan pemilik yayasan tentu tidak memiliki rasa yang sama dengan para guru yang lainnya. Dan tak tau kenapa semua begitu takut dan segera tertunduk hormat.
"Selamat siang pak, maaf jika kedatangan bapak tidak di sambut dengan semestinya. Dan saya malah buat acara sendiri," tutur pak Indra dengan hormat.
Sella semakin tak mengerti, dia yang khawatir dengan masalah pribadinya malah jadi di buat heran dengan sikap guru yang lain.
"Memang anda membuat ramai ruang guru ini untuk apa?"
"Maaf pak, sebelumnya saya sudah meminta ijin pada bapak kepsek untuk melamar salah satu guru di sini. Kamu tidak ada yang tau jika bapak datang kunjungan hari ini."
"Saya tidak mempermasalahkan acara yang anda buat selagi di jam istirahat dan di luar jam mengajar."
Pak Indra tersenyum lega, seperti mendapat angin segar, dia sejenak menatap Sella dengan wajah sumringah dan berniat akan melanjutkan kembali acara lamarannya.
"Tapi yang membuat saya keberatan adalah orang yang anda lamar adalah wanita yang sudah bersuami!"
Ucapannya jelas membuat semua orang tercengang, Sella sudah menunduk dia tak tau harus berkata apa. Pasrah, biarkan orang yang berhak atas dirinya yang menjelaskan, walaupun di balik itu semua ada rasa penasaran yang menghinggapi dirinya.
"Maksud bapak?"
"Guru yang kamu lamar bu Sella kan?"
"Iya pak," jawab pak Indra ragu.
"Kamu tau siapa suaminya?"
"Maaf pak, setau kami Bu Sella belum menikah," sahut pak kepala sekolah yang berada di belakangnya.
"Bu Sella sudah menikah, tanyakan sendiri pada yang bersangkutan." Semua orang di sana menatap Sella dengan penuh tanda tanya membuat Sella menjadi tak enak hati karena belum bisa jujur dan membagikan kabar bahagia kepada yang lain.
Apa lagi sorot mata pak Indra yang sudah berkaca-kaca, Sella benar-benar tak tega. Harusnya memang sejak awal ia berkata jujur maka tidak akan terjadi hal seperti ini.
"Maaf untuk teman guru sekalian dan bapak kepala sekolah, benar apa yang di katakan olehnya jika saya sudah menikah."
Pak Indra merasa terpukul akan pengakuan Sella, bahkan seperti tak percaya karena Sella yang tidak pernah menunjukkan kebersamaan dengan pria lain.
__ADS_1
"Bu Sella kapan menikah? kenapa nggak undang-undang kita?"
"Iya bu Sella, tapi saya kok nggak pernah lihat suami bu Sella?"
"Kasian pak Indra bu, berasa di PHP."
"Orang mana Bu suaminya?"
Pertanyaan dari para guru membuat Sella risih sendiri, sedangkan orang yang sengaja membuat keadaan semakin ramai malah hanya diam di tempat dengan sorot mata tajam.
"Bu, maaf jika saya lancang melamar ibu yang sudah bersuami. Tapi memang karena ibu yang pulang pergi sendiri membuat asumsi lain. Kenapa harus di sembunyikan Bu? Kemana suami ibu selama ini? tidakkah kasian membiarkan istrinya berjuang sendiri?"
"Maaf pak Indra, saya juga tidak tau bapak akan melangkah sejauh ini. Sedangkan kita tak sedekat itu. Bukan niat untuk menyembunyikan tapi....."
"Katakan sejujurnya sayang!"
Semua orang berbalik menatap pemilik yayasan, tanda tanya besar ada di kepala mereka.
"Bu Sella istri saya..."
Pengakuan Dimas jelas membuat semua terdiam tak percaya, Sella pun menghampiri suaminya saat Dimas memberi kode untuk mendekat.
"Saya sudah sangat merindukan istri saya dan kedua anak kami."
"Kak .."
"Apa sayang?"
"Kakak...."
"Iya, kamu istri dari pemilik yayasan." Dimas tersenyum melihat muka polos istrinya, jika tidak ada orang mungkin wajah Sella sudah habis di ciumi oleh Dimas. Tangan Dimas memeluk pinggang Sella, kemudian melihat semua orang yang ada di sana.
"Terimakasih karena selama ini sudah baik dengan istri saya dan untuk pak Indra, maaf jika mengecewakan. Mudah-mudahan cepat mendapat jodoh yang pas."
"Makasih pak," sahut pak Indra dengan wajah sendu.
Setelah berpamitan dengan para guru dan memindahkan semua barang-barang Sella yang ada di sana ke dalam mobil. Kini keduanya sudah dalam perjalanan pulang, Sella masih diam karena hatinya yang masih terkejut dengan kejadian yang ada. Secepat ini dia keluar dari sekolah. Semua itu membuat Sella mengingat ucapan dimas tempo hari. Dia menggelengkan kepala, ternyata belum mengenal Dimas seutuhnya.
"Kenapa sayang?"
__ADS_1
"Berarti sejak kemarin aku mengajar di sekolahan suami aku sendiri?"
"Hhmmm....dan aku baru tau kemarin saat mengantarkan kamu mengajar."
"Kenapa nggak jujur?"
Dimas tersenyum, sekilas melihat Sella kemudian kembali memperhatikan jalan.
"Kamu nggak nanya apa-apa sama aku!"
"Harusnya kakak jujur...."
"Kenapa? kesel karena nggak jadi nerima guru fikih itu?"
"Apa sich kak, keselnya tuh bukan itu. Tapi aku yang seperti orang bodoh yang nggak tau siapa kakak di sana." Sella memasang wajah cemberut, Dimas yang melihatnya jelas gemas. Dia memutar arah dan melaju menjauh dari arah rumah bibi.
"Kakak kok jalannya kesini? kita mau kemana?"
"Kita ke hotel." Dimas tersenyum menatap Sella yang panik. Dia sudah tak sabar, apa lagi melihat Sella tadi yang sempat di lamar pria lain. Jelas Dimas butuh menumpahkan segala emosi dan meluapkan kecemburuan.
"Inget janji kamu kemarin sayang? dobel....."
Wajah Sella sudah memerah, dia segera membuang muka dan mengigit bibirnya membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
"Tapi kembar gimana kak?"
"Ada ayu dan bibi, mereka pasti paham jika aku merindukanmu."
Dimas sudah tak sabar, wajah istrinya yang sudah memerah dengan sesekali menggigit bibir bawah membuatnya tambah ingin.
"Jangan di gigit terus bibirnya, nanti aja gigit bibir aku sayang!"
"Kakak sungguh meresahkan, nggak bisa apa nanti aja di Jakarta?"
"Kalo sekarang bisa kenapa nunggu nanti? tenang aja sayang, nanti di Jakarta lagi kok."
Sesampainya di tempat tujuan Dimas segera memesan kamar dan menggiring istrinya untuk segera masuk. Setelah menutup pintu kamar, Dimas membuka dasi yang membuat gerah sejak tadi.
Melihat itu Sella segera melangkah menuju sofa, tetapi dengan cepat tangan Dimas menarik pinggul Sella dan memepetkan tubuhnya di dinding.
__ADS_1
"Ini hukuman untuk istri aku yang sudah buat aku gelisah setiap hari!"