
"Indahnya ciptaanMu ya Allah...."
Mendapat pujian seperti itu semakin membuat Sella malu, apa lagi tatapan Dimas yang begitu dalam menghujam jantung yang sedang berpacu.
Sentuhan di pipi membuat darah mengalir lebih deras dari biasanya. Senyuman Dimas mengisyaratkan lain hingga Sella tak mampu menerjemahkan. Pria itu merapatkan tubuhnya dengan melingkarkan kedua tangan di pinggul sang istri.
"Kak....."
"Aku rindu sayang, ternyata benar kata dilan rindu itu berat, sampai hati ku hampir mati menahannya. Dek, makasih sudah menerima pinanganku. Akan aku jadikan kamu ratu di hidupku."
"Makasih kak...." ucap Sella terharu.
Dimas memeluk Sella, debaran jantung keduanya seperti sedang bertarung di Medan pertarungan. Sella yang awalnya hanya diam akhirnya membalas pelukan yang sudah lama tidak ia rasakan. Hati keduanya saling menyapa, hingga tak ada jarak sedikitpun diantara mereka.
Kepala Dimas turun ke ceruk leher Sella, mencari kenyamanan yang telah lama ia impikan. Sedikit merusuh hingga Sella merasa gelisah.
"Kak ....."
"Aroma tubuhmu masih sama sayang malah tambah menggoda, sejak dulu aku menyukainya."
Dimas benar-benar meresahkan, apa lagi tangannya mulai mengusap lembut punggung Sella yang membuat tubuhnya meremang. Serta sapuan nafas Dimas yang menghangatkan.
Sedikit mendongak memberi akses untuk Dimas menikmati lebih jauh leher sang hawa yang membangkitkan gairah.
"Ini malam pertama kita setelah menikah, aku memujamu dengan segala keindahan yang ada di dirimu, bersiaplah sayang kita beribadah bersama."
Sella memejamkan matanya, rasanya belum siap dan kembali asing dengan pria yang berstatus suaminya. Apa lagi dua kali menyatu tidak sesuai keinginan, terlalu sakit dalam ingatan. Tapi status saat ini sudah menuntunnya untuk memberi hak apapun kepada suaminya, bahkan seluruh tubuhnya halal di jamah oleh Dimas.
"Aku bersih-bersih dulu, setelah itu kita beribadah bersama."
"I..iya kak...."
"Kenapa masih gugup begitu sayang, hhmm? mau aku dulu atau kamu dulu yang mandi?"
"Terserah kakak aja...."
"Kalo terserah aku, aku maunya berdua, gimana?" Dimas tersenyum penuh arti, berat untuknya menahan sesuatu yang telah lama bersemayam, tapi tubuh harus segera di bersihkan sebelum pertualangan itu di mulai.
__ADS_1
"Kak, jangan terus menggodaku...." rengek Sella membuat Dimas gemas sendiri.
"Ya sudah, kamu pakai duluan aja nanti aku setelahnya."
"Aku mandi dulu ya kak, tapi sebelumnya aku mau minta tolong, karena ini sulit untukku kak..." ucap Sella ragu.
"Tolong apa sayang?"
"Tolong.......mmmmm_"
"Sayang, jangan ragu ayo katakan apa yang kamu pinta?" Dimas menatap Sella dalam, ini permintaan pertama setelah resmi menjadi suami. Apa pun yang istrinya pinta akan ia lakukan.
Sella berbalik badan membuat Dimas mengkerutkan dahinya, kemudian menolah sedikit melihat Dimas yang masih diam tak mengerti.
"Tolong bukakan resleting gaunku kak, tanganku nggak sampai!" lirih Sella, Dimas tersenyum sendiri mendengarnya. Ingin rasanya ia segera menerkam wanita yang telah sah menjadi istrinya ini.
"Iya sayang...." resleting itu turun perlahan seiring sentuhan hangat Dimas yang mengenai punggungnya, Sella memejamkan mata. Sungguh hatinya tak aman, ini sama saja dia membiarkan Dimas untuk melihat sebagian tubuhnya.
Tepat di atas pinggul resleting itu berhenti, jelas terpampang nyata punggung mulus Sella yang membuat Dimas semakin tergoda.
"Oh sudah ya kak, makasih ya. Aku mandi dulu..."
"Jangan lama-lama, kamu sudah membuat gelisah ragaku," bisik Dimas tepat di telinga Sella.
"I..iya kak....." Sella segera melesat masuk ke dalam kamar mandi. Dia bersandar di pintu yang sudah tertutup rapat dengan dada yang naik turun.
"Jantung gue..... Ngeri-ngeri sedap ngadepin kak Dimas, mau nolak takut dosa, tapi diem aja gue rasanya nggak kuat nahan."
Sella segera melepas gaunnya kemudian masuk ke dalam bathtub, berendam mungkin bisa menormalkan kembali tubuhnya yang masih syok akan sentuhan.
Hampir 20 menit Sella belum juga keluar dari dalam kamar mandi, sedangkan Dimas sudah selesai bersih-bersih di kamar yang sebelumnya ia tempati. Dimas melangkah menuju pintu kamar mandi. Mengetuk beberapa kali hingga pintu itu terbuka dan menampilkan tubuh Sella terbungkus oleh bathrobe.
Sella terpaksa menggunakan bathrobe karena lupa membawa baju ganti, sedangkan dia heran dengan Dimas yang sudah rapi dengan Koko dan peci di kepalanya.
"Kak...."
"Kamu lama sekali sayang, ayo kita sholat dulu!"
__ADS_1
Sella merasa malu dengan dirinya sendiri, pikirannya sudah melalang buana saat Dimas mengajaknya beribadah bersama. Dimas tersenyum melihat wajah Sella yang masih diam dan bingung membaca situasi.
"Kamu mikirin apa sayang? aku ingin tapi kita sholat dulu sebelum melakukan ibadah yang lain."
Wajah Sella sudah memerah, ia hanya bisa menundukkan kepala kemudian mengambil baju ganti dan bersiap untuk menyusul Dimas yang sudah menggelar sajadah di ruangan lain. Kamar yang begitu besar dan mewah memang pas untuk pengantin baru seperti mereka, apa lagi ada raungan lain yang bisa di gunakan untuk mereka sholat bersama.
Setelah salam, Dimas membalikkan badannya dan mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh Sella. Malam pertama menjadi imam untuk istrinya, membuat hati seorang Dimas bergetar hingga air mata itu lolos begitu saja.
"Istriku, aku bahagia sayang," Dimas mengecup dalam kening Sella, hingga air mata bahagia itu jatuh membasahi pelupuk mata sang istri.
Dimas menatap dalam Sella yang sejak tadi hanya diam dengan senyuman tipis yang membuat gelisah. Dimas serasa tak tahan ingin memulai, tapi dia ingin mengetahui kesiapan dari istrinya terlebih dahulu.
"Sudah siap menjalankan ibadah selanjutnya sayang?"
"InsyaAllah kak..." lirih Sella yang di sambut dengan senyuman oleh Dimas.
"Mau dimana sayang?"
"Haah?" pertanyaan macam apa yang Dimas lontarkan ini, sedangkan Sella saja sedang perang batin dengan rasa malunya.
Dimas tertawa melihat wajah polos Sella, dia memang harus bersabar membimbing Sella untuk mencapai tujuan.
Mata keduanya saling terkunci, tangan Dimas mulai singgah di pipi Sella hingga masuk ke tengkuknya. Perlahan tapi pasti Dimas mengikis jarak untuk singgah ke bibir ranum yang sudah lama tak tersentuh. Di atas sejadah Dimas mendaratkan bibirnya di persinggahan. Mengecup lembut hingga Sella yang awalnya merasa gugup mulai terbuai. Suara kecupan terdengar indah di telinga, membangkitkan gairah yang lama terpendam. Dimas terus memainkan peran hingga Sella membuka akses untuknya mengabsen setiap inci tanpa tersisa. Tangan Sella mencengkeram baju Koko Dimas hingga lecek saat suaminya memperdalam ciumannya. Lidah keduanya saling membelit, Sella mulai membalas dengan sentuhan lembut membuat Dimas semakin bersemangat.
Tangan Dimas mulai membuka tali mukenah istrinya, memberi jarak sedikit untuk membuka mukenah hingga terlihat rambut Sella yang tergerai indah.
"Sayang, ijinkan aku mengunjungimu...."
Dengan malu-malu Sella mengijinkan, senyum keduanya terukir indah. Dimas segera mengangkat tubuh Sella menuju peraduan.
...****************...
Masih pagi....slow dulu ya,,,
Sabar, Dimas masih mode kucing jantan yang siap memangsa tapi masih hati-hati bertindak. Sedangkan Sella mode kucing betina yang mau tapi malu..... jadi gumush....
enaknya dimana dan gaya apa yang cocok untuk mereka?
__ADS_1