
Hingga matahari sudah meninggi tak membuat kedua pengantin baru yang nampak kelelahan itu terjaga dari tidurnya. Efek pergulatan semalam hingga terlelap setelah sholat subuh seakan membuat Sella lupa akan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu dari kedua putri kembarnya.
Beruntung sang mertua mengerti dan membawa kedua cucunya untuk pulang kerumah. Memberi waktu untuk sepasang pengantin baru yang saling merindu.
Dimas terjaga lebih dulu dan segera turun dari ranjang untuk melaksanakan solat Dhuha yang hampir habis.
Setalah selesai dan membuka kembali sarung serta koko nya, Dimas segera masuk kembali ke dalam selimut dan memeluk erat sang istri yang begitu pulas. Melanjutkan kembali mimpi yang sedikit terjeda.
"Eugh....." Sella mengerjapkan matanya, berusaha sekuat mungkin walaupun rasanya kantuk itu tak kunjung usai.
"Kak awas, aku mau pipis.." Sella tak bisa bergerak karena tubuhnya yang begitu menempel sebab Dimas yang begitu erat memeluknya.
"Mau kemana sayang?" tanya Dimas yang masih asyik memeluk enggan untuk melepas sedikitpun.
"Mau ke kamar mamdi aku mau pipis, awas dulu tangannya kak, aku nggak bisa gerak."
"Mau aku antar?"
"Nggak aku bisa sendiri!"
Sella jalan dengan sedikit tertatih karena bagian intinya yang masih serasa panas, perih, ngilu jadi satu. "Nano-nano rasanya," batin Sella.
Setelah mandi sekalian dan merapikan diri, kini Sella sudah duduk di depan meja rias. Sesekali matanya mengecek ponsel yang sedang tersambung ke nomor sang mamah mertua.
"Kok nggak di angkat ya, apa kembar rewel ya," gumam Sella.
Rasa khawatir dan sedikit menyesal karena sejak kemarin tidak mengurus kedua putrinya kini menghinggapi hati Sella. Ingin segera pulang untuk mengecek bagaimana si kembar saat ini tapi Dimas saja masih tertidur lelap.
Sella melangkah mendekati Dimas dan duduk di pinggir ranjang. Tangannya menyentuh rahang kokoh suaminya, berkali-kali mengucap syukur dan mengucapkan doa-doa untuk kebaikan keluarganya.
"Kak.... udah siang, nggak pengen bangun kak?"
"Hhmmm masih ngantuk banget sayang."
"Udah lewat Zuhur Kak, nanti keburu habis waktunya," ucap Sella lagi, dia pun sudah lapar ingin segera mengajak Dimas makan.
"Kamu udah sholat sayang?" tanya dimas yang sudah bangkit dan duduk bersandar di ranjang.
"Udah tadi setelah mandi, ayo keburu telat, setelah ini kita makan. Aku laper banget kak," rengek Sella.
__ADS_1
Melihat istrinya yang mulai manja Dimas merasa sangat senang, dia mencubit hidung Sella kemudian mengecup pipi Sella sebelum melesat masuk ke kamar mandi.
"Tunggu ya!"
Sementara Dimas sedang mandi Sella melipir keruang depan untuk sekedar membuka kado dari para sahabatnya serta tamu undangan Dimas. Hampir setengah jam Sella betah hingga lupa jika perutnya sejak tadi minta di isi. Bahkan sesekali dia tersenyum saat membaca pesan di balik kado-kado tersebut.
"Sayang...."
"Eh iya kak?"
"Serius banget, hmm?" Dimas ikut gabung dengan duduk di karpet.
"Ini kak lagi ngintip isi kadonya, tapi ini kado dari kak Doni kok isinya obat ya kak? kita kan nikah nggak sakit, salah alamat kali ya kak?"
"Mana?" tanya Dimas yang juga penasaran. Hingga dia meraih sebuah kotak kecil yang memang berisi obat, Dimas mengambil obat tersebut, tetapi sesaat kemudian dia memasukkannya kembali ke dalam kardusnya.
"Obat apa kak?" tanya Sella yang tak kalah penasaran.
"Udah nggak perlu di pikirin sayang, ini Doni iseng aja lebih baik aku buang aja obatnya." Dimas segera beranjak tapi di tahan oleh Sella, "Kak masak pemberian orang di buang, pasti ada manfaatnya kan kak?"
"Iya sayang ini ada manfaatnya, emang nya kamu mau aku minum ini? kalo kamu siap sich aku dengan senang hati."
Dimas berjongkok kemudian memajukan wajahnya hingga menjangkau sang istri.
"Beneran mau tau?" tanya Dimas dan dijawab anggukan oleh Sella.
"Oke aku kasih tau, tapi malam nanti jatah Doble ya." Dimas menaik turunkan alisnya.
"Kakak ikh perhitungannya sama istri."
"Masih mau tau nggak?"
"Iya udah cepetan!"
"Ini obat kuat," bisik Dimas.
"Masih mau di simpen apa mau aku minum sekalian, hmm?"
Wajah Sella langsung memerah, ini saja rasanya masih sangat kurang nyaman. Dan semalam Dimas benar-benar tak memberi ampun, apa lagi di tambah jika suaminya meminum obat itu, bisa sampai siang lagi nggak kelar-kelar.
__ADS_1
"Gimana sayang?"
Sella segera merebut obat yang ada di tangan Dimas dan berlari menuju tempat sampah. "Udah beres, udah aku buang kak!"
Dimas yang melihat tingkah istrinya langsung tertawa, dia tau Sella nggak akan mengijinkan jika sudah tau manfaat obat itu.
"Tapi nanti malam Doble loh sayang..."
"Kak Dimas mesum!"
Sella segera berlari menuju kamar dan segera di susul oleh Dimas yang sejak tadi gemas dengan tingkah sang istri.
Setelah hampir satu jam Dimas dan Sella menelpon kedua putrinya kini mereka lanjut makan malam di dalam kamar. Sella yang tak mood untuk keluar karena merasa kurang nyaman lebih memilih pesan makanan dari pada berburu makanan di malam hari sesuai keinginan Dimas.
"Oh iya kak, aku hampir lupa mau tanya sama kakak dari kemarin."
Melihat wajah serius dari sang istri membuat Dimas menjeda makannya, dia meletakkan sendok kemudian menggenggam tangan Sella.
"Ada apa sayang?"
"Kak Rika..."
"Kenapa dengan Rika?"
"Apa Kakak kemarin nggak ngundang kak Rika, kenapa kak rika sama sekali nggak datang. Sedangkan hubungan kami sudah baik-baik saja."
"Sudah baik-baik saja?" tanya dimas lagi.
"Iya, dulu saat aku masih hamil kembar, aku minta maaf dengan kak Rika. Dan kak Rika mau maafin aku, kita juga sempat tukar kabar tapi nggak lama dari itu nomor kak Rika nggak bisa di hubungi lagi kak. Makanya aku udah nggak tau kabar dia sekarang," ucap Sella dengan wajah sendu.
"Sayang, aku ngundang kok. Tapi mungkin Rika belum bersedia hadir atau memang ada halangan kan kita nggak tau sayang. Biar besok aku tanya Doni ya, karena yang nganter surat undangannya Doni." Dimas mencoba menenangkan Sella agar tidak terlalu memikirkan.
"Nanti kalo udah ada kabar dari kak Doni, kita langsung ke sana ya kak. Aku merindukannya..."
"Iya sayang, pasti nanti aku temani kamu. Ya udah sekarang di makan lagi keburu dingin nggak enak loh makanannya."
Akhirnya mereka meneruskan makan malam yang sempat tertunda, sebenarnya Dimas sedikit tau tentang kabar mantan istrinya. Dari kabar angin yang berhembus selama ini, tetapi Dimas yang tak ingin ikut campur lebih memilih diam dan tak menghiraukan.
Tapi jika sudah sang istri yang merengek, dia tak bisa lagi cuek. Mencari informasi yang valid dan mengajak sang istri untuk mengunjungi agar rasa rindunya terobati. Walaupun hanya bisa melihat tak bisa menyapa.
__ADS_1