
Semalaman Dimas tidur di kamar Sella, dia lebih memilih bersama dengan calon masa depan dari pada bersama dengan calon mantan.
Sella terjaga saat adzan mulai berkumandang, tubuhnya menggeliat mengucek mata yang masih berat. Mata Sella melirik kasur yang sudah kosong tetapi masih terasa hangat.
Mulai hari ini Sella berjanji di dalam hati untuk lebih ingin mendekat lagi dengan sang Khaliq. Setelah begitu banyak drama lika liku kehidupannya yang tak melulu berpihak kepadanya. Dia mencoba untuk lebih ikhlas dan berserah, sebisa mungkin ia pasrahkan semua kepada yang maha kuasa.
Sella menengadahkan tangannya memohon pengampunan, meminta keberkahan dan Rahmat. Air matanya menetes menyesali semua perbuatan yang selama ini ia lakukan. Mungkin ini teguran atau malah ganjaran atas sikap dan perilakunya yang telah mencintai orang yang sudah beristri. Hingga akhirnya berujung di benci dan harta yang ia jaga harus direnggut tanpa permisi.
Berdiri mematut penampilan di depan kaca, menelisik masih adakah tanda merah yang membuat curiga. Sella tersenyum saat melihat pantulan dirinya yang sudah terlihat kembali baik-baik saja.
Setelah menyiapkan segala kebutuhan serta sarapan untuk semua anggota keluarga, kini Sella siap berangkat ke sekolah dengan kembali mengulas senyum.
Setelah ujian nasional kegiatannya nanti di sekolah akan sedikit santai sampai menunggu pengumuman kelulusan. Sella menarik nafas dalam sebelum keluar kamar, bersikap baik-baik saja walaupun hatinya gundah.
"Bismillahirrahmanirrahim......"
Sella berpapasan dengan Dimas yang juga keluar kamar, langkahnya ia buat lambat agar Dimas jalan lebih dulu tetapi Dimas pun tak kalah lambat. Saat langkahnya ia percepat Dimas juga melakukan hal yang sama. Hingga Sella kesal kemudian memasang wajah cemberut dan berjalan dengan menyenggol lengan Dimas.
"Wow..... hati-hati calon istri, ini bukan FTV yang kalo jatuh ada adegan romantisnya," lirih Dimas yang masih mampu di dengar oleh Sella dan mendapat tatapan tajam.
"Nunggu nggak ada orang baru bisa romantisan!" ucap Dimas dengan alis naik turun.
"Ngeselin!" ketus Sella namun semakin membuat Dimas gemas.
"Udah mendingan nak?" tanya mamah yang selalu perhatian.
"Alhamdulillah Tante udah siap sekolah lagi, kasihan temen-temen Sella hubungin terus dari kemarin, mereka khawatir karena Sella seharian nggak ada kabar."
"Syukurlah Tante sangat cemas kemarin melihat kamu yang begitu lemas sampai terlihat ringkih, berjalanpun sulit," ucap mamah yang membuat Dimas langsung menatap Sella.
"Andai mamah tau jika semua itu adalah perbuatan anaknya sudah pasti mamah semakin cemas."
"Makasih sudah mencemaskan Sella Tante..."
"Iya sayang, kamu itu seperti putri mamah sendiri, bagaimana jika mulai saat ini kamu panggil Tante dengan sebutan mamah?"
__ADS_1
Sella bingung harus menjawab apa, dia merasa canggung jika harus seperti ini, bagaimana jika Rika berpikir yang tidak-tidak. Tapi untuk menolakpun Sella tak sanggup, dia tidak ingin melihat raut kekecewaan di wajah beliau sedangkan sekarang dengan jelas beliau begitu berharap dengan mata yang berbinar.
Sella menoleh ke arah om, beliau yang mengerti lantas menganggukkan kepala begitupun dengan Dimas, saat Sella menoleh ke Dimas tentu saja langsung mendapat persetujuan dari orangnya.
"I..iya mah," ucap Sella gugup.
"Oh senangnya, mamah bahagia Pah!" mamah melebarkan senyum dengan papah yang sama bahagianya.
Dibawah meja Dimas mencoba menggenggam tangan Sella namun segera di tepis oleh pemiliknya. Sella menatap Dimas tak suka.
"Pelitnya, makasih udah buat mamah bahagia," bisik Dimas.
"Sama-sama kakak ipar." Sella sengaja menekan kata kakak ipar agar Dimas kesal. Dan benar saja baru sella ingin menutup mulutnya Dimas sudah mendengus kesal dan meminum kopi dengan tatapan dingin.
Kak Rika yang sejak pagi tak terlihat ternyata masih bersantai di kamar, jadwalnya yang hari ini senggang memilih berangkat siang dan mengabaikan sarapan bersama.
Sesampainya di sekolah, tangan Sella langsung di tarik oleh seseorang dan dibawanya masuk kedalam mobil tanpa Sella sadar siapa pelakunya.
"Kalian!"
"Iya telpon gue dari malem sampe malem lagi, dari pagi sampe pagi lagi, dari siang sampe......eh ini belum siang dech," sahut Tio yang berujung membuat Sella mendengus.
"Gue itu nggak megang hape dari kemarin dan baru tadi pagi gue lihat ternyata habis daya. Kalo masalah kemarin nggak ada kabar itu karena gue emang lagi nggak enak badan aja."
Sella cukup terharu dengan sikap kedua sahabatnya, mereka begitu perhatian sampai kadang kelakuan mereka suka membuat Sella gemas. Seperti saat ini, untuk apa repot-repot seperti penculik. Toh bicara di kelas pun bisa, nggak perlu sampai menggeretnya masuk ke mobil segala.
"Terus bagaimana dengan hubungan kak Rika dan Kak Dimas?" tanya Tiwi yang mulai penasaran.
Gue nggak tau pastinya gimana, tapi setau gue mereka mau bercerai."
"Kasihan...."
Mendengar kata kasihan dari mulut Tiwi membuat Tio menggelengkan kepala, "kayak gitu loe kasihani!" ketus Tio.
Sella tersenyum melihat wajah Tiwi yang cemberut setelah mendengar ucapan Tio.
__ADS_1
"Terus dari sana kak Dimas bawa loe kemana?" tanya Tio dengan tatapan tajam penuh menyelidik.
Sella gelagapan mendengar pertanyaan dari Tio, dia tau benar jika Tio sudah seperti ini sudah di pastikan dia tau sesuatu yang membuat dirinya sulit berkelit.
"Iya Sell, soalnya kita ngikutin loe tapi nggak jalan kerumah. Karena gue dapet telpon dari mamah akhirnya Tio nganter gue pulang."
Sella menatap Tio lagi, Sella mencoba sekuat tenaga membalas tatapan Tio dengan hati was-was. Dia ingin menyampaikan pada Tio bahwa jangan sekarang karena ada Tiwi.
Sella mungkin bisa menyembunyikan apapun dari Tiwi, tapi tidak dengan Tio. Tio yang paham segera mengajak mereka keluar dari mobil.
"Ya udah ayo keluar, kayaknya yang lain udah pada masuk, kali aja nanti ada pengumuman penting ya kan?"
Ketiganya segera keluar dari mobil, Sella yang keluar setelah Tiwi sudah di hadang oleh Tio yang masih berdiri dengan menahan pintu.
"Loe hutang penjelasan sama gue!" bisik Tio.
BRAK
Sella terjingkat saat Tio membanting pintu mobil dengan kasar. Kemudian dia segera melangkah menyusul keduanya yang sudah jalan terlebih dulu.
"Selalu aja loe paling tau tentang gue Tio, kapan sich gue bisa bohongin loe!"
Sella mensejajarkan langkahnya dengan kedua sahabatnya, Tio merangkul Sella dengan mengapit lehernya kedada. Sella yang sudah biasa dengan perlakuan itu hanya diam santai saja.
"Jangan berusaha buat bohongin gue," bisik Tio di telinga Sella kemudian menggigit gemas daun telinga Sella.
"Aaauuuwww kebiasaan dah loe kalo nyubit pedes banget!" Tio meringis merasakan perutnya yang panas akibat ulah Sella.
"Makanya jangan macem-macem!"
"Galak banget loe, kalah emak gue! cubitan hampir sama tapi mukanya galakan loe."
Sella menggandeng Tiwi untuk jalan lebih dulu tapi tarikan tangan dari belakang membuat lengan Tiwi terlepas. Dia sungguh kesal dan rasanya ingin kembali mencubit perut sang pelaku.
"Sell....."
__ADS_1