
"Semua ini gara-gara kamu!"
Mendengar suara ribut di meja makan sang mamah segera menghampiri. Beliau melihat begitu tajam mata Rika dengan kilatan emosi yang membara. Begitupun dengan papah, beliau yang baru saja keluar dari kamar segera menyaksikan.
"Ada apa Rika? kenapa kamu begitu marah dengan Sella?" tanya mamah setelah meletakkan sayur di atas meja.
"Karna dia membuat hidupku hancur!" bentak Rika yang sudah berdiri dengan jari telunjuk yang mengarah pada Sella.
"Jangan kasar dengan Sella nak, jika ada masalah semua bisa di bicarakan dengan baik-baik."
"Mamah nggak usah ikut campur masalah aku dengan anak nggak tau di untung ini!" sentak Rika.
"Rika!" bentak Dimas yang tidak terima dengan sikap Rika yang kasar dengan mamahnya.
"Berani kamu berbicara kasar dengan mamahku?"
Mendengar Dimas yang berbicara tinggi membuat nyali Rika menciut, mengingat keinginannya yang tidak memperbolehkan Dimas untuk membocorkan masalahnya dengan mamah dan papah membuat Rika memutuskan untuk segera diam dan menghindar.
"Maaf mas.." Rika segera berlari menuju kamar, dia harus lebih bersabar lagi untuk menghadapi Dimas yang saat ini sedang di rundung kekecewaan terhadapnya.
"Maafkan sikap Rika mah..."
"Iya nggak apa-apa, Sella kamu nggak apa-apa nak?" tanya mamah dengan memperhatikan wajah Sella yang terlihat sendu.
"Nggak apa-apa Tante," lirih Sella berusaha untuk tetap tersenyum.
Papah yang sejak tadi hanya diam memperhatikan kemudian mendekat ke Sella dan menepuk pundaknya dengan memberikan senyum hangat.
"Kamu anak kuat, om yakin kamu mampu bersabar dalam mengahadapi ini semua, sejak awal memang kamu yang terbaik. Semoga secepatnya kamu akan menjadi menantu om."
"Ayo lebih baik kita segera makan keburu dingin nanti tidak enak!" ajak papah, kemudian dengan sigap mamah menyiapkan makan untuk beliau.
"Jangan dek! biar kakak ambil sendiri," cegah Dimas saat Sella ingin mengambilkan makan untuknya. Kebiasaannya membuat Sella lupa jika ia sedang marah dan itu membuat terciptanya senyum tipis di wajah Dimas.
Setelah makan Sella segera pamit masuk kamar, duduk di meja makan sebentar saja membuat tubuhnya terasa sangat pegal.
__ADS_1
"Harus kuat Sell, hidup loe emang dari awal udah ruwet jadi nggak usah kaget."
Sella merebahkan kembali tubuhnya diranjang mencari kenyamanan hingga matanya terlelap.
Dimas yang sedari tadi terdiam di ruang tamu untuk menghindari Rika kemudian memutuskan segera kembali ke kamar untuk memastikan Rika sudah tertidur. Karena malam ini ia harus segera menemui Sella untuk membujuknya kembali.
Rika yang tau Dimas pasti akan masuk ke kamar sudah mengganti baju dengan lingerie yang begitu menampakkan tubuh seksinya.
"Aku akan buat kamu tergoda mas," Rika segera merebahkan tubuhnya di ranjang dengan posisi yang menggoda. Dia lebih memilih mendapatkan serangan dari Dimas dari pada menyerang lebih dulu.
Dimas masuk kedalam kamar, langkahnya terhenti saat melihat pemandangan yang membuat matanya terbelalak. Dia menarik nafas dalam mencoba menjernihkan kembali otaknya.
"Tak perlu kamu menggodaku Rika, karena seujung kuku saja aku sudah tak ada hasrat untuk menggaulimu!" Dimas segera membuka pintu balkon dan memilih untuk menghisap rokok sambil menunggu Rika tertidur.
Rika menghentak-hentakkan kaki hingga membuat spreinya berantakan. Dia sangat geram saat Dimas yang jelas-jelas menolak keindahan yang ia suguhkan.
"Masih banyak cara untuk meluluhkan kamu mas!"
Kemudian Rika menarik selimutnya dan memilih untuk tidur agar besok bisa memikirkan kembali rencana apa yang akan ia jalankan untuk membuat Dimas dalam genggamannya.
Sella terjaga saat merasakan pelukan di tubuhnya, dadanya berdegup kencang saat mendapati Dimas yang sudah memeluknya dengan mata terpejam.
"Lepaskan kak!" Sella memberontak meminta di lepaskan tetapi tangan Dimas terus saja di posisi yang sama bahkan semakin mengeratkan pelukannya.
"Kak jangan mempersulit aku!" dia tau jika Dimas hanya pura-pura tertidur.
"Katakan dulu jika kamu mau bersabar menungguku menyelesaikan masalahku dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki hubungan ini!" ucap Dimas dengan mata terpejam.
"Kamu selalu begini Kak, dasar pemaksaan!"
"Aku hanya tak ingin lagi jauh dari kamu, bahkan aku tak ingin kehilanganmu apa lagi aku yang telah merenggut itu semua. Kamu milikku sekarang!" lirih Dimas tepat di telinga Sella membuat sesekali tubuh Sella bergidik.
"Biarkan aku sendiri kak, aku juga butuh waktu untuk berfikir, tidak lantas kamu terus mendesakku. Aku punya hak untuk menerimamu atau tidak."
Dimas membuka mata dan menatap wajah Sella, dia tidak suka dengan ucapan Sella tadi.
__ADS_1
"Mana ada seperti itu dek, jawaban kamu hanya boleh satu dan tak ada penolakan!"
"Mana ada seperti itu kak, kamu meminta atau memaksa? sekarang lepaskan aku dan silahkan keluar dari sini!" tegas Sella.
Ucapan Sella tak lantas membuat Dimas mundur, dia akan terus membujuk sampai hati Sella luluh, dia akan terus meminta sampai hati Sella menerima, dan dia akan terus merayu sampai hati Sella layu.
Tak ada pergerakan dari orang di sampingnya membuat Sella jengah dan memilih tidur membelakanginya. Dimas tersenyum melihat itu, Sella sudah menyerah dan membiarkannya tetap di sana.
"Apakah kamu tak ingin hidup denganku? merajut cinta yang telah tercipta? sedangkan rasa itu sejak awal sudah ada?" bisik Dimas di telinga Sella.
"Aku yakin kamu juga menginginkan, sedang kan kita memiliki impian yang sama, mempunyai keluarga yang bahagia dengan dikelilingi anak yang sehat."
Dimas masuk ke ceruk leher Sella dan menghirup aroma tubuhnya yang sudah begitu lama ia rindukan.
"Sella Prameswari mau kah kamu menjadi istriku, ibu dari anak-anakku, teman hidupku yang akan menemaniku hingga tua nanti...."
Mendengar ucapan Dimas yang begitu menyentuh kalbu membuat Sella sedikit tersentuh. Memang benar apa kata Dimas, Sella sangat memimpikan itu semua, tetapi tidak lantas mudah.
Bulir air membasahi pelupuk mata, sekuat mungkin ia harus menghadapi semua yang jelas nyata. Sella menarik nafas dalam dan membuangnya dengan perlahan karena semua butuh pertimbangan bukan emosi sesaat.
"Kakak melamarku?" lirih Sella.
"Katakanlah seperti itu, apa kamu menerimanya?
"Apakah ada melamar seseorang dengan status masih menggantung seperti itu? kalo begitu aku pun akan menggantungkan jawabannya!"
Dimas tersenyum mendengar ucapan Sella yang mengisyaratkan jika kesempatan kedepan itu jelas ada.
"Aku akan menyelesaikan semuanya, doakan berjalan lancar tanpa ada kendala, karena akupun tau tak semua jalan akan mulus sesuai rencana," jawab Dimas semakin mengeratkan pelukannya.
"Dan aku pinta selesaikan hubunganmu juga dengan Reno, pemuda brengs*k itu tak pantas menerima cintamu!" seketika Dimas emosi jika mengingat kejadian kemarin.
"Lantas siapa yang pantas?"
"Aku!"
__ADS_1