
"Udah kelar semua Dim, loe mau balik apa masih mau ngopi-ngopi dulu?" tanya Doni yang sedang membereskan semua berkas-berkas.
"Makasih ya loe bantu gue terus, selalu tepat waktu juga kita kelarnya, gue CEO berasa kayak karyawan selalu on time pulang kerja."
"Sama-sama, kalo cepat kelar gue juga untung bro cepet pulang kerumah main sama anak gue!" Doni duduk memperhatikan Dimas yang sejak tadi melihat layar ponselnya.
"Enak ya punya anak, bahagia banget pasti loe saat pulang kerja ada yang nyambut dirumah, apa lagi kalo lihat anak pasti ilang semua rasa capek loe!"
"Sabar bro! suatu saat loe pasti ngalamin kayak gue!" ucap Doni iba "gimana sama Sella?"
"Gue makin cinta aja sama dia Don sedangkan hubungan gue sama Rika kayak udah nggak ada rasa apa-apa," Dimas mengingat kembali pergulatan dengan Rika tempo hari yang masih menyimpan tanda tanya besar di hatinya.
"Tapi masih enak kan di ranjang?"
"Bangsat loe! seenggaknya masih bisa ngilangin pusing gue lah! tapi gue ngerasa bersalah sama Sella tiap abis berhubungan sama Rika!" Dimas bersandar di sofa sambil memijat pelipisnya.
"Loe pilih salah satu lah, nggak bisa loe gini terus! kalo sampe loe khilaf dan Sella bunting anak loe gimana coba?" Dimas segera menatap Doni, benar juga apa katanya, bagaimana kalo gue khilaf sedangkan gue udah sering tidur bareng sama Sella walaupun nggak ngelakuin lebih.
"Sebelum nambah masalah mending loe segera putusin Dim!"
"Gue lebih milih Sella, tapi kalo untuk ceraikan Rika secepatnya belum bisa, gue nggak ada masalah sama dia masak tau-tau gue talak," ucap Dimas frustasi.
"Berarti loe harus jaga jarak jangan sampe kebablasan sama Sella!"
"Iya kalo nggak khilaf!"
"Bang*e loe menang banyak masih perawan tuh! tapi awas keduluan sama pacarnya nggak jadi buka segel loe ntar!"
"Keburu gue pant*k duluan ntar!"
Sella dan Tio duduk di pojok cafe dengan memainkan ponselnya masing-masing, setelah pembicaraannya tadi Sella dan Tio akhirnya memutuskan untuk menurunkan egonya masing-masing. Sella berjanji akan menceritakan masalah apapun yang ia hadapi, walaupun untuk masalah dengan Dimas dia belum bisa untuk terbuka.
"Mesen makan dulu Sell, dari tadi minum doank kembung perut gue yang ada!"
"Ya udah tinggal pesen aja, repot dah loe Tio!"
"Peseninlah, kalo perlu loe yang layani gue!" ucap Tio yang mendapat timpukan kulit kacang dari Sella.
"Dah berasa jadi laki gue loe, minta di layani segala!" sewot Sella kemudian meminum jus strawberry kesukaannya.
"Kak Dimas aja sampe daleman loe siapain giliran gue yang cuma panggilin pelayan aja kudu berasa jadi laki loe dulu terus kak Dimas apa?"
uhuuuk uhuuuk
"Slow beb minumnya!" Tio mengusap lembut punggung Sella.
"Kenapa?" tanya Tio yang melihat Sella sudah tenang.
"Apanya?"
__ADS_1
"Tiap kali gue nyebut nama kak Dimas loe bereaksi yang sama, ada apa?"
"Kumat dech loe! nggak ada apa-apa, nggak usah banyak di gedein dech Tio!" Sella segera mengedarkan pandangannya mencari pelayan "mbak!"
"Iya kak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan yang sudah berdiri di samping meja mereka.
"Mau pesen lagi ya mbak, loe mau makan apa Tio?"
"Nasi goreng seafood aja mbak sama minumnya tambah lagi ya!" sahut Tio.
"Baik, ada lagi kak?"
"Udah dech mbak, tambah kentang goreng aja satu porsi ya!" jawab Sella kemudian tersenyum pada pelayan tersebut.
"Loe nggak makan?" tanya Tio memperhatikan Sella.
"Kentang aja, udah itu aja mbak makasih ya!"
"Ditunggu pesanannya ya kak! permisi!" ucap pelayan dan di balas senyuman oleh Sella.
"Diet?"
"Buat apa diet, begini aja gue udah bersyukur lagian ga gemuk juga gue! ideal malah," jawab Sella santai yang membuat Tio memperhatikan badan Sella dari atas sampai bawah.
"Loe ngapain sich Tio, sampe miring-miring begitu badan loe?"
"Katanya ideal, ya gue cek dulu lah sesuai nggak sama omongan loe!" ledek Tio dengan menaik turunkan alisnya.
Ketika sedang adu mulut dengan Sella tidak sengaja Tio yang ingin menoleh mencari pelayan karena perutnya sudah sangat lapar di kejutkan dengan adanya Rika di sana.
"Sell!"
"Hmm..."
"Sell!"
"Apa sich Tio?" tanya Sella gemas.
"Liat itu bukannya kak Rika ya?" tunjuk Tio ke arah meja yang berjarak empat meja dari tempat mereka.
Sella yang langsung mengikuti arahan Tio juga di buat terkejut, pasalnya Rika tidak sendiri tetapi bersama dengan seorang pria seumurannya.
"Itu siapa Sell?"
"Mana gue tau, kok dekat gitu ya Tio?" Sella memperhatikan tangan Rika yang sedang di genggam bahkan di cium oleh pria yang ia tidak kenal.
"Parah sich! perlu di paranin nggak?"
"Nggak perlu biarin aja!" Sella tidak ingin ribut di tempat ramai seperti ini, cukup dia tau kelakuan Rika di luaran tanpa perlu ikut campur terlalu dalam yang malah membuat masalah.
__ADS_1
"Loe nggak kasian sama kak Dimas?"
deg
"Kak Dimas....bagaimana kalo dia tau kelakuan istrinya? tapi menyalahkan pun gue nggak berhak, sedangkan kak Dimas aja bermain gila juga sama gue. Apa mungkin itu juga yang membuat hubungan kak Rika dan kak Dimas merenggang, karena kak Dimas kan bilangnya sudah sejak lama hubungannya nggak baik-baik saja!"
"Loe ngapa jadi ngelamun sich Sell!" tegur Tio yang sudah memakan pesananya.
"Oh nggak, udah makan aja loe!"
"Makanya jangan kebanyakan bengong! nih buka mulut loe gue suapin!"
"Loe maksa? oke gue makan!" Sella melahap suapan demi suapan yang Tio berikan.
"Katanya nggak mau, tapi abis juga!" sindir Tio.
"Khilaf gue!"
"Ta*"
"Jorok loe, abis makan juga!" Tio tertawa melihat wajah Sella yang sudah memerah.
Tio mengantar Sella sampai rumah bahkan sampai masuk kedalam. Dimas yang sudah pulang segera menghampiri keduanya.
"Eh kak Dimas udah pulang kak!" ucap Tio basa basi.
"Iya, dari mana kok telat pulangnya?
"Abis ngajak Sella nongkrong dulu di cafe kak, nyari WiFi gratis!" Tio melihat Dimas yang sejak tadi matanya terus memperhatikan Sella.
"Sell gua balik ya!"
"Oke Tio, thanks ya!"
"Nggak mau gue antar sampai kamar?" tanya Tio yang membuat Dimas menggelengkan kepalanya.
"Mending loe jadi laki gue Tio, dari tadi loe minta gue layanin sekarang mau nganter gue ke kamar terus sampe kamar minta apa lagi Tio?"
Ucapan Sella yang ambigu membuat Dimas menahan marah hingga wajahnya memerah.
"Maksudnya apa dek?"
"Eh....." Sella lupa jika ada Dimas, pasti akan berujung salah paham.
"Bukan apa-apa Kak, si Tio dari pas di cafe tuh mintanya di pesenin makannya minumnya, gitu loh kak, minta layanin terus," Sella berusaha untuk menjelaskan dari pada berujung hukuman.
"Tapi gue nggak nolak kalo jadi laki loe Sell, ya nggak kak Dimas, kak Dimas juga pasti nggak nolak kan kak kalo dapet modelan Sella?" Tio bertanya dengan menyipitkan matanya saat melihat raut wajah Dimas yang sejak tadi tidak seperti biasanya, lebih kearah menahan marah dan cemburu.
"Udah mending loe balik Tio, gue udah selamat sampai rumah kan!" Sella tidak ingin Tio curiga karena Dimas yang tidak bisa menjaga ekspresinya.
__ADS_1
"Ya udah gue balik Sell! kak Dimas aku balik dulu ya! hati-hati jangan tergoda sama godaan maut Sella. Nanti ipar jadi pacar lagi!" ucap Tio dengan senyum tipisnya tetapi membuat Sella justru khawatir.