Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Assalamualaikum Istriku


__ADS_3

Dimas merebahkan tubuh Sella di ranjang, tak ada sekat di antara keduanya, sedangkan Dimas sudah mulai merangkak naik dan menindih. Kembali menyatukan Indra perasa dengan decapan mesra dan sapuan lidah yang perlahan membuat Sella membuka kembali mulutnya dan mulai melawan.


Perlawanan yang membuat Dimas semakin terbakar hasrat, 5 tahun waktu yang tak sebentar kala gairah dan nafsu itu terasa koma. Tapi ketika raga bertamu lawan yang ia impikan, hal yang sekian lama terpejam seakan bangun memberontak.


Ciuman itu semakin menuntut dengan nafas mulai memburu, Sella seakan tak bisa bernafas mengimbangi Dimas yang sudah sangat panas. Seperti macan yang terlepas dari sarangnya, Dimas seperti tak ingin menyia-nyiakan.


Sapuan lidah mulai turun kembali ke leher putih yang sejak tadi menggoda, hisapan serta gigitan menimbulkan bekas merah sebagai tanda cinta Dimas yang memenuhi hampir tak bercelah.


Suara indah yang keluar dari bibir Sella membuat Dimas semakin aktif merusuh, di luar ekspektasi Sella. Dulu tak ada rasa nikmat yang Dimas berikan, tapi malam ini hembusan nafas Dimas saja mampu membuat Sella memejamkan mata merasakan dunianya melayang.


Tangan Dimas mulai sibuk turun kebawah, mencari kancing piyama yang masih tertutup rapat hingga kini terbuka bebas. Matanya berbinar melihat kembali keindahan yang nyata, dua bukit yang masih kencang menantang mampu melumpuhkan jiwa untuk segera di jamah.


Sella sedikit canggung tapi dia pasrah saat jemari lembut itu kembali memberi rasa yang berbeda. Apa lagi sapuan lidah yang menggelitik membuat tubuh Sella seakan tersengat. Dimas benar-benar menikmati tanpa mau perduli dengan tangan Sella yang sudah mengacak rambutnya.


"Kak....."


"Jangan ditahan sayang, aku suka eranganmu.."


Dengan gercep Dimas sudah membuat Sella polos tanpa sehelai benangpun. Menatap tubuh yang membuat tak mampu menahan desakan dari dalam yang meminta di segerakan.


"Jangan di liatin gitu kak, malu!" Sella meraih selimut untuk menutupi tubuhnya tetapi segera di tepis begitu saja oleh Dimas.


"Aku menginginkannya sayang, jika kunjunganku kembali membuatmu kesakitan. Maafkan aku ya, tapi jika untuk mundur, aku pun tak akan sanggup." Dimas menanggalkan apa yang ia pakai, membuang sembarang hingga semua berserakan di lantai.


Melihat itu membuat Sella segera memejamkan mata, apa lagi saat sesuatu yang begitu besar membuat memori yang dulu kembali berputar. Dimas yang mengerti segera menyatukan kembali kedua bibir untuk membuat efek rileks bagi Sella.


Dimas kembali memberi sentuhan yang membuat jiwa Sella kembali melayang, membuat yang kering kembali basah, dan yang kesat kembali licin hingga siap berseluncur di dalamnya.


"Assalamualaikum istriku...." ucap Dimas dengan suara yang berat.

__ADS_1


"Ugh ...sakit kak," dorongan itu mampu meluluh lantahkan kekuatan Sella, air matanya menetes.


"Maaf sayang." Dimas menghentikan sejenak memberi kesempatan untuk Sella agar terbiasa dengan kunjungan yang akan sering di lakukan. Mungkin karena sudah terlalu lama membuat sakit itu kembali terasa.


Mengecup kedua mata yang basah kemudian berakhir di bibir ranum yang sedikit terbuka. Peluh yang bercucuran menjadi saksi kedua insan yang sedang di selimuti gairah.


Pacuan semakin semangat demi mencapai rasa yang tak bisa tergambarkan. Dimas benar-benar memperlakukan dengan kasih sayang walaupun di selimuti hasrat yang membara.


Berulangkali Sella di buat bergetar hebat tetapi tak membuat Dimas berhenti bergerak. 5 tahun menduda membuatnya seperti mendapatkan mainan yang harus di sayang tetapi tetap ingin di puaskan.


Jeritan nakal dari Sella yang spontan keluar dari bibirnya semakin menjadikan suatu keliaran tersendiri bagi Dimas. Berbagai gaya dia terapkan. Sella serasa kewalahan menuruti sang suami yang sedang haus akan belaian.


"Sayang, aku belum ingin berhenti, apa kamu sudah lelah?"


"Lakukan sesukamu kak...."


Mengajarkan Sella beberapa gaya hingga membiarkan Sella bergerak mengikuti nuraninya sendiri. Dimas serasa melayang, Sella benar-benar liar saat di beri kesempatan. Sofa yang tadi masih aman kini sudah tak beraturan.


Hampir semua sudut menjadi saksi percintaan keduanya. Dimas berubah menjadi pria tangguh tak terkalahkan, berbeda saat bersama Rika dulu. Dengan Sella seluruh gairahnya keluar dengan sendirinya.


"Sekali lagi ya, berbalik sayang...dulu saat seperti ini kamu begitu kesakitan, tapi kali ini aku akan menghapus semua memori yang menyakitkan. Rasakan sayang, hhmm...."


Benar saja, keduanya sudah berada di kamar mandi. Meraka mengulang kembali saat dulu ketika dengan tak berperasaan Dimas menggempur daerah pertahanan tanpa ampun. Tapi kini Sella begitu menikmati dan tak ada jeritan seperti dulu lagi.


Menempel di dinding dengan satu kaki bertumpu di closet dan pantulan cermin yang menampakkan keintiman keduanya membuat mereka semakin semangat untuk bergerak.


Hingga kaki Sella serasa tak bertulang ketika kembali dia merasakan ledakan dari dalam tubuhnya.


Kata sekali lagi pun tak berlaku, Dimas seakan lupa dengan ucapannya. Meraih tubuh Sella dan mengajaknya masuk ke dalam bathtub. Sella yang mengira akan di ajak untuk menyudahi dan berujung bersih-bersih. Justru melihat si gagah masih berdiri tegak dan belum mau memuntahkan sedikitpun sarinya. Dimas benar-benar menahan dan ingin merasakan ledakan yang luar biasa di penghujung hujaman.

__ADS_1


Memposisikan Sella untuk naik kembali ke atas tubuhnya di dalam bathtub yang lumayan besar dan bisa menampung pergerakan keduanya. Air yang tenang kembali bergelombang dengan taburan bunga mawar yang sudah terjun ke lantai.


Dengan bantuan Dimas, Sella bisa menuruti keinginan Dimas yang tak berkesudahan. Benar-benar malam yang panjang sepanjang pertukaran peluh yang tak ingin terselesaikan.


Hingga Dimas mempercepat ritme gerakannya membuat Sellapun semakin tak karuan.


"Kakak......"


"Terus sayang, sedikit lagi......"


Dimas akhirnya tak kuat lagi menahan, gerakan di dalam air ternyata membuatnya tumbang. Seperti seluruh jiwanya terlepas bebas melayang merasakan surga dunia yang ia rindukan. Semburannya memenuhi rahim Sella, ntah berapa banyak tapi cukup membuatnya lemas saat gelombang itu keluar dari permukaan.


Dimas mendekap erat tubuh Sella, mengatur nafas setelah pertarungan yang menguras tenaga.


"Makasih sayang...."


Sella tak menjawab, matanya terpejam di pelukan sang Adam. Pengalaman yang sungguh luar biasa, bisa gempor jika tiap malam begini pikir Sella. Semoga ini hanya karena suaminya yang baru melepas masa duda.


"Kak lepas...."


"Iya sayang kita mandi ya," ucap Dimas.


"Iya udah lepas dulu," rengek Sella.


"Udah aku lepas sayang pelukannya...."


"Ini yang bawah yang lepas kak, apa begitu betah hingga tak ingin keluar?"


Dimas tertawa melihat wajah kesal istrinya, mengecup bibirnya singkat kemudian mengangkat tubuh lemas sang istri dari tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2