Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Tolong


__ADS_3

Saat ini Dimas sibuk pulang pergi Jakarta-Pekalongan, sudah sejak awal menginjakkan kakinya di pondok pesantren Dimas merasa hatinya lebih tenang dan damai. Dia lebih merasa bersyukur dan ikhlas atas semua yang ia lalui selama ini.


Hampir setiap weekend dia akan datang ke pondok untuk kembali belajar, bahkan banyak pengajar serta teman santri yang mengatakan jika dia cepat dalam menerima pelajaran dan ada kemungkinan kelak bisa menjadi pengajar juga.


Dimas pun tertarik akan itu, keluar dari dunia nyamannya yang selama ini ia geluti dalam berbisnis. Dan terjun ke dunia pendidikan. Adanya Doni sangat membantu dirinya untuk bisa berbagi waktu. Terkadang juga pak ustadz memerintahkan dirinya untuk menggantikan Zahra dalam mengajar anak-anak TPA/ TK yang menjadi naungan pondok pesantren.


"Kayaknya loe lebih nyaman dengan hidup loe sekarang..."


Saat ini Doni dan Dimas sedang makan siang di cafe setelah melakukan meeting dengan klien.


"Alhamdulillah, nikmatin aja..."


"Nikmatin belajar dan mulai mengajar apa nikmatin bisa dekat sama anak pak ustadz?" ledek Doni yang tau tentang seringnya interaksi antara Dimas dan Zahra.


"Gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia," jawab Dimas kemudian mengecek ponselnya.


"Ada apa-apa juga nggak apa-apa, toh bokap nyokap loe udah open aja. Mereka kelihatannya lebih terbuka sekarang, udah lebih menyerahkan semuanya juga ke loe. Meraka udah percaya sama pilihan loe saat ini."


"Gue masih belum kepikiran Don!"


"Masih belum move on?"


Dimas tak menjawab, sudah 7 bulan lebih dia hanya bungkam jika di tanya soal Sella. Dia tak akan menjawab jika ada yang menanyakan tentang masa lalunya.


Hal itu yang membuat kedua orangtuanya menyerahkan semuanya pada Dimas, jika memang ingin menikah dengan yang lain mereka akan merestui. Karena apapun yang menjadi pilihan Dimas saat ini semenjak dirinya belajar di pondok. Keduanya yakin pilihan Dimas yang terbaik.


"Besok gue ke pondok, ada safari dakwah dan gue di suruh ikut sama pak ustadz. Gue titip kantor sama loe, hari Senin gue udah masuk lagi!"


"Iya tenang aja," jawab Doni. Ada rasa bangga di hati Doni jika melihat Dimas saat ini. Dia tak menyangka jika sahabatnya bisa berhijrah dan lebih kalem dalam bersikap. Apa lagi sekarang sudah tak pernah meninggalkan 5 waktunya.


Hari terus berganti, bulan pun terus berangsur kini Dimas semakin pintar dan berbakat, dia mulai mengajar dan sesekali berdakwah. Zahra yang terkadang juga di tugaskan sebagai saritilawah, sering ikut dalam acara safari dakwah yang di laksanakan pondok pesantren.


Sella pun sudah dua bulan lebih cuti dan lebih fokus mengistirahatkan diri dirumah. Tio yang berjanji akan datang 6 bulan sekali pun belum terlihat batang hidungnya sampai saat ini. Nomor pun sudah tak aktif lagi, hingga sudah tak ada komunikasi di antara keduanya.


Saat ini Sella sedang duduk lesehan di teras belakang sambil menikmati masakan bibi yang sudah ia anggap ibunya sendiri. Sudah tak ada panggilan non lagi, karena Sella tak ingin ada jarak. Dia sudah menganggap saudara begitupun dengan ayu, sudah seperti adik sendiri.

__ADS_1


Mereka yang selama ini mendampingi dan menemani setiap kesulitan, serta keluh kesah Sella.


"Makan yang banyak mbak."


"Iya ayu, ini udah banyak banget, sampe begah rasanya. Alhamdulillah udah kenyang..."


"Bibi nggak ikut makan?"


"Bibi udah makan tadi pas kalian lagi jalan-jalan ke alun-alun, wong bibi udah laper tenan, yo uwis mangan lah...." ucap bibi dengan tersenyum.


"Ya udah Sella mau ke kamar mandi dulu, mau pipis sebentar,Yu mbak nitip piring kotor ya, udah kebelet banget!".


"Siap mbak....."


Sella berjalan menuju kamar mandi dengan langkah pelan, tetapi belum sampai di pintu kamar mandi perutnya begitu sakit hingga dia terduduk di lantai.


"Ya Allah perutku, astaghfirullah....sakitnya."


"Aawwhhhh ssssttt..."


"Mbak Sella," seru Ayu yang telah menaruh piring ke dapur. Ayu segera berlari saat melihat Sella begitu kesakitan.


"Sakit ayu..."


"Sebentar ya mbak....sabar, aduh ibu kemana sich! bentar aku panggil ibu dulu ya mbak.."


Ayu segera berlari menuju kamar ibunya, tapi tak juga di temukan, kemudian ke luar rumah. Tetapi tetap saja ibunya tak ada.


"Gusti ibu kemana to...."


Akhirnya ayu berlari menuju warung terdekat, mencoba mencari ibunya di sana.


Sedangkan Dimas yang saat ini sudah kembali bekerja merasa resah, hatinya begitu gelisah, hingga berulangkali kalimat istighfar terus terucap. Ia memutuskan masuk ke dalam kamar yang ada di ruangannya dan solat sunah di sana untuk mencari ketenangan jiwa.


Setelah berdoa dan meminta ampun di setiap sujudnya, ntah kenapa dada Dimas terus berdebar. Bayangan Sella seketika terlintas jelas diingatan.

__ADS_1


"Ya Allah, tolong lindungi dia dimana pun dia berada, jika dalam kesulitan maka mudahkanlah dan jika dalam bahaya tolong selamatkanlah..." Dimas memejamkan mata hingga air mata itu jatuh dari pelupuk mata.


Ayu akhirnya menemukan sang ibu yang sedang membeli gula di warung. Dia terus berlari mendekati ibunya kemudian menarik tangan ibu untuk segera pulang kerumah.


"Ini opo to nduk, tarik-tarik ibu ki, wis kayak sapi di tarik-tarik!"


"Mbak Sella Bu, ayo to Bu ge' pulang, mbak Sella kasian." sahut Ayu yang terus menarik tangan ibunya.


"Sella kenopo nduk?"


"Mbak Sella tadi duduk di lantai, bajue basah semua terus kesakitan Bu. Kasian udah nangis, ibu ki ke warung nggak bilang-bilang."


Kini keduanya segera berlari hingga masuk kerumah. Bibi tercengang melihat Sella yang sudah pucat dan terus mendesis menahan sakit.


" Bi tolong Sella...."


"Iya nduk, bentar bibi minta bantuan ya. Sabar sek yo nduk!" Bibi segera keluar rumah dan meminta bantuan tetangga untuk meminjamkan mobilnya dan membawa Sella kerumah sakit.


"Pak, tolong saya iku anakku Sella butuh kendaraan buat ke rumah sakit."


" Sella kenopo mbok?"


"Wis ge' tolongin dulu ya....Aku tak beres-beres, kasian bocahe udah nangis nahan sakit!"


Bibi segera masuk kerumah dan membantu Sella untuk duduk di sofa, beliau menggantikan baju Sella yang basah dan memerintahkan Ayu untuk membereskan baju Sella yang akan ia bawa.


"Nduk ambil tas yang ada di kamar Mbak Sella, terus kamu siapin juga baju-baju mbak Sella yang perlu saja untuk di bawa. Cepet ya nduk!"


"Nggih Bu..."


"Bi, sakit Bi, astaghfirullah...."


"Nggih istighfar ya nduk..sabar ayu lagi siap-siapin baju, pak Tejo juga lagi nyiapin mobile ya nduk." Bibi mengusap punggung Sella agar lebih meringankan sakitnya.


Mereka tidak tau jika ada seseorang yang baru saja turun dari mobil, kemudian dengan langkah panjang masuk ke rumah bibi. Tapi baru sampai ambang pintu dia begitu terkejut dengan keadaan Sella saat ini.

__ADS_1


Kakinya lemas dengan hati yang bergemuruh, ntah harus bagaimana menyikapinya, tapi sungguh ia tak menyangka ini akan benar terjadi.


"Sella...."


__ADS_2