Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku

Jangan Salahkan Suamimu Mencintaiku
Geregetan


__ADS_3

Pagi hari di meja makan tampak seru tak seperti biasanya, celotehan kedua anak kembar menyaingi dentingan sendok dan garpu yang beradu di atas piring.


Sepasang paruh baya yang sangat berbahagia dengan kedatangan cucunya, kini lebih memilih untuk menyuapi makan sang cucu dari pada mereka makan sendiri. Sella sejak tadi tak kalah sibuk, Dimas mendadak rewel setelah 5 tahun tak ada yang melayani.


"Segini cukup kak?" Sella sedang menyendokkan nasi untuk Dimas makan.


"Cukup dek, nasinya nggak usah banyak-banyak. Pakai semua lauknya tapi dikit-dikit aja, aku mau cobain semuanya. Aku rindu masakan kamu."


"Makanya cepat halalkan Dimas!" sahut papah yang sejak tadi diam-diam mendengarkan ocehan putranya yang tak biasa.


"Hari ini fitting baju dan besok acara pernikahannya Pah."


"Kalian memangnya mau menikah dimana, sedangkan mamah belum menyiapkan dekor serta undangan pernikahan," protes sang mamah, agak jengkel karena anaknya yang tampak santai tak memikirkan calon istrinya pasti punya impian sendiri saat pesta nanti.


"Aku sudah menyiapkan semuanya mah, setelah fitting baju pengantin, sorenya kita langsung segera kesana karena pagi sudah akad.


"Dimana itu Dimas?"


"Nanti kalian pasti tau, ini pernikahan terakhir untukku dan menjadi yang pertama dan juga terakhir tentunya untuk Sella, jadi aku ingin semua berkesan."


"Pasti tidak lepas adanya campur tangan Doni," celetuk papah.


Dimas tersenyum kalem, "papa paling tau...."


Hal itu membuat semua tertawa, memang tak mungkin jika Dimas sendiri sedangkan dia akhir-akhir ini begitu sibuk.


Hari ini jadwal begitu padat, selesai sarapan Dimas beserta keluarga segera datang ke butik untuk menyiapkan pakaian yang besok akan di gunakan. Apa lagi calon manten yang sejak tadi tampak sibuk mencoba beberapa gaun sampai pilihan mereka jatuh ke satu pilihan yang di setujui sang mamah.


Kedua putri kecil yang sejak tadi dengan riang memilih gaun yang akan di pakai, mereka memilih gaun pesta yang tertutup dengan jilbab senada. Begitu lucu dan imut tentunya.


Sejak tadi senyum Dimas mengembang, sesekali menatap gemas Sella yang saat ini mengenakan gamis navy dengan jilbab yang menutupi mahkotanya. Bidadari surga untuk Dimas, itulah yang sejak tadi ia pikirkan.


"Awas khilaf, jangan terus memandang mata kamu nanti kasian menanggung pertanggung jawaban." Papah segera menghampiri sang istri setelah menepuk pundak Dimas yang ketauan beberapa kali mencuri pandang pada Sella.


"Astaghfirullah, 5 tahun begitu banyak wanita dengan segala rupa penampilan aku bisa menahan pandangan, bahkan tak tergoda kenapa dengan Sella tak bisa menjaga. Sungguh meresahkan dan harus di segerakan. Tinggal besok ya Allah, harus kuat."


Setelah fitting dan membawa gaun serta pakaian yang besok di kenakan, Dimas memboyong mereka ke hotel termewah dengan pelayanan terbaik.


Mereka menyempatkan sejenak makan malam dan lanjut melihat tempat yang akan ia jadikan sebagai saksi terucapnya ikrar pernikahan.



"Kamu yang mempersiapkan ini semua Dimas?" tanya mamah menatap takjub. Begitupun dengan Sella, dia mengucapkan rasa syukurnya dan berdoa semoga besok di lancarkan semua yang telah di rencanakan.

__ADS_1


"Tentunya dengan asistenku yang sangat bisa di andalkan mah, lihat itu orangnya mah,"jawab Dimas.


Doni yang sedang berbicara dengan bagian event organizer, segera mendekat setelah melihat kedatangan Dimas dan keluarga.


"Assalamualaikum Om, Tante, Sella, hai putri kecil yang cantik-cantik."


"Wa'allaikumsalam...." jawab mereka berbarengan.


"Hay om."


"Boleh kenalan? namaku Doni."


"Aku Naira om dan adik aku Kaira..." jawab Naira lantang, keduanya kini menyalami Doni dengan sopan.


"MasyaAllah anak kamu Sell, udah cantik, pintar, sopan lagi. Beda jauh sama bapak moyangnya."


"Don... loe minta di potong berapa? yang loe hina bos loe Don!"


Doni tertawa dengan dua jari yang terangkat, "bercanda, ya cantik ya....."


"Sensi aja yang besok mau nikah, Sella udah yakin sama Dimas? nggak pengen tuker tambah?" ledek Doni.


"Sayangnya udah malem kak, jadi tokonya udah tutup, tau gitu kan tuker sama yang agak..."


"Maaf, cuma bercanda kak..."


Dimas menatap Sella sekilas kemudian mencengkeram lengan Doni. "Geregetan gue sama dia, kalo udah halal udah gue bawa kabur!"


"Wow.....dimas yang dulu come back again ceritanya, om anak om udah kembali om, udah nggak jadi sad boy menaun. Udah menemukan sebelah jiwanya yang membuat hampir menjadi duda forever."


Semua yang ada disana tertawa kecuali Dimas dan kedua buah hatinya yang belum mengerti.


Setelah memastikan kedua putrinya sudah tidur di kamar sang mertua, Sella kembali masuk ke dalam kamar dan menunggu kedatangan Tiwi. Yang akan menemani Sella malam ini.


Tok


tok


tok


Sella membuka pintu kamar dan melihat kedua sahabatnya yang sudah ada di sana.


"Sella...cantik banget sekarang, gue kangen banget sama loe Sell." Tiwi memeluk erat Sella sampai tak berasa keduanya meneteskan air mata.

__ADS_1


"Gue juga kangen banget sama loe, maaf gue nggak ngasih kabar loe, semua karena ada alasannya. Loe pasti udah ngepoin Tio kan?"


"Udah lah, mana ada gue nggak kepo, apa lagi menyangkut sahabat gue, loe berdua jahat, udah nutupin semua dari gue!" Tiwi cemberut setiap mengingat itu, sampai 5 tahun kedua sahabatnya anteng aja, benar-benar keterlaluan!


"Sorry, yang penting sekarang kita udah ketemu. Eh karena kita bertiga, gue bingung nich mau ngajak kalian duduk dimana. Sedangkan gue nggak boleh jauh-jauh dari kamar."


"Ya udah di kamar aja, loe ribet dech!" celetuk Tio.


"Leher loe mau di penggal sama kak Dimas?"


"Di gantung di pohon terong!" sahut Tiwi.


"Ck, ya udah lesehan aja!" ucap Tio santai lalu mengambil posisi untuk duduk di bawah.


Sella yang melihat itu segera mencegah, "eh masa CEO di suruh duduk di karpet jalanan begini, ntar gue yang ada di demo sama semua karyawan loe, karena udah ngerendahin atasannya."


"Mending loe balik Tio, besok ke mari lagi. Makasih udah nganter gue sampe ketemu Sella," ucap tiwi membuat Tio memutarkan bola matanya.


"Berasa jadi sopir gue, ya udah gue balik lah." Kemudian Tio melihat kearah Sella dengan tatapan serius. "Permintaan gue satu buat loe, tetap jaga persahabatan kita walaupun loe udah jadi istri orang. Dan harus bahagia, apapun alasannya. Semoga besok nggak ada halangan ya, lancar sampai selesai."


"InsyaAllah Tio, kita tetap sahabat sampai kapanpun. Loe yang terbaik pokoknya, semoga cepet dapet jodoh ya dan Daddy nggak boleh sedih." Air mata Sella sudah menggenang, dia tak tau bagaimana caranya membalas semua kebaikan yang Tio berikan selama ini.


Setelah Tio pulang, Sella segera mengajak Tiwi masuk. Sahabatnya yang satu ini memang paling rempong, datang dengan tas besar serta paper bag di kedua tangannya.


"Bawaan loe banyak banget sich Wi. Astaghfirullah loe tuh mau nginep semalam doank kenapa bawa tas gde begini?"


"Ini tas ajaib, semua ada di dalam. Udah nggak usah komplain, ini buat loe!" Tiwi memberikan paper bag yang merupakan kado untuk Sella.


Sella mendapatkan kado itu jelas bahagia, dia segera menerimanya dan melihat isi dari paperbag tersebut.


"Jangan lupa di pakek pokoknya, kalo perlu loe foto dan kirim ke gue! biar gue bisa berbagi ke Tio."


"Apa sich isinya, bikin penasaran masak iya harus banget gue foto kirim ke loe," ucap Sella yang sedang membuka solatip yang menutup paperbag tersebut.


Setelah berhasil di buka, mata Sella langsung menyipit melihatnya dan mengangkat barang tersebut.


"TIWIIIIII........."


"Hahahaha gue tunggu fotonya oke!"


...****************...


Apaan sich isinya? bikin kepo dech 🤔🤔

__ADS_1


Ikut teriak aja dech....TIWIIIIII


__ADS_2