
Liu Bei memerintahkan kepada Lie Feng untuk meminta pelayan untuk melayani mereka semua. Xiao Ling duduk dengan diam dan berusaha untuk seanggun mungkin seperti para istri saudagar kaya raya.
Walaupun, ia sudah ingin mengangkat salah dari kakinya ke bangku panjang di balik meja tersebut. Xiao Ling merasa tubuhnya begitu tersiksa dengan pakaian wanita yang dikenakan olehnya.
"Aduh, lama sekali makanan datang! Jika cepat, aku ingin berbaring di kamar saja," benak Xiao Ling, ia sudah membayangkan tempat tidur yang nyaman seperti tempat tidurnya di Boston maupun Nanjing.
"Sejak terdampar di sini, aku benar-benar kurang istirahat, makan, dan minum. Ck, sadis banget!" benak Xiao Ling, ia merasa di kehidupan mimpinya begitu mengenaskan. Xiao Ling masih bergerak-gerak menyesuaikan diri dengan pakaian yang dikenakannya.
Namun, ia mengingat jika baju sutra yang sangat mahal dikenakannya membuat dirinya harus bersikap sedikit lembut bak wanita bangsawan lainnya.
"Tuan, mau pesan apa?" tanya Pelayan penginapan.
"Bawa saja makanan yang paling enak dan istimewa dari penginapan ini juga arak yang paling nikmat!" pinta Liu Bei, ia menatap ke arah pelayan dengan tersenyum.
"Oh, baiklah, Tuan! Tunggu sejenak …," si Pelayan langsung kabur ke dapur langsung membawa semua hidangan yang cukup mahal dan enak juga minuman arak yang sangat luar biasa.
Semua mata memandang ke arah mereka dengan tatapan curiga, di meja depan dan sekitar Xiao Ling dan Liu Bei saling bisik seakan mencurigai sesuatu.
"Tuan, mari silakan minum!" ajak Liu Bei, ia mengangsurkan secawan arak pada pria di seberang mejanya yang masih melihat ke arah mereka dengan tatapan bermusuhan.
Brak!
Si pria di seberang meja menggebrak meja, ia seakan tidak senang dengan kedatangan Liu Bei dan rombongannya.
"Apakah kalian dari Han?" tanyanya marah, ia merasa tidak senang dengan kehadiran orang-orang Han.
"Kami memang berasal dari Kota Luoyang, apakah itu berarti kami orang-orang Han? Kami pedagang yang berdagang ke mana pun," ucap Liu Bei, ia berusaha untuk tersenyum dan mengalah.
"Kami tidak menerima orang-orang dari Han! Donglai tidak menerima pengkhianat!" ketusnya, ia berusaha untuk mencari alasan untuk menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap orang-orang Han terutama yang berhubungan dengan kekaisaran Liu Bang.
Brak!
__ADS_1
Xiao Ling terkesiap dengan ulahnya sendiri, ia tidak menyangka jika tubuhnya benar-benar di luar kendali jiwanya.
"Eh, Tuan! Apakah ada larangan untuk melakukan perdagangan di sini? Bukankah jalan ini adalah jalur sutra, dan siapa pun bebas untuk lewat dari sini?" ujar Xiao Ling, "jika kau keberatan, sebaiknya ….
"Kau hadapi raja Donglai, Yang Mulia Raja Donglai yang meminta kami untuk melakukan perdagangan di Donglai karena sutra dari Luoyang sangat baik dan terkenal," tegas Xiao Ling, ia menatap pria tersebut dengan kesal.
"Selain itu, Donglai masih wilayah kekaisaran Han! Apakah Anda lupa?!" hardik Xiao Ling, ia merasa tubuhnya yang bereaksi terlalu agresif.
"Sialan! Mengapa tubuh ini semakin menjadi-jadi sih?" benaknya, "seharusnya, aku diam saja. Ini bukan urusanku!" umpat batin Xiao Ling.
"Biarkan para pria ini yang melakukan tugas mereka, seharusnya aku cukup diam, tenang, dan berlaku tidak bisa melakukan apa pun!" benak Xiao Ling, ia ingin berbuat demikian tapi pada kenyataannya tubuhnya terlalu bereaksi berlebihan.
Semua orang terdiam tidak menyangka jika raja Donglai sendiri yang meminta perdagangan tersebut. Semua orang menatap ke arah Xiao Ling, mereka berbisik-bisik.
"Jika ada yang keberatan, jangan berbisik-bisik! Katakan saja!" tantang Xiao Ling, ia kesal.
"Aku sudah susah payah menjaga stabilitas Donglai saat kerusuhan terjadi dengan kerajaan Mongol, eh, para bangsat ini malah seenak jidat melarangku masuk!" umpat benak Xiao Ling, ia seakan mengingat banyak perang yang telah terlewati seakan dirinyalah yang melakukan peperangan tersebut.
"Apakah kau ingin Donglai melakukan perdagangan dengan Mongol?" tanya Xiao Ling, "apakah kalian ingin kembali menjadi budak dari kerajaan Mongol yang kejam?" ujar Xiao Ling, ia mengingat begitu menderitanya rakyat Donglai sehingga raja mereka Xie Cuan Li pun meminta bantuan dengan menandatangani penyerahan wilayah kepada kekaisaran Liu Bang.
Semua orang terdiam masing-masing mengingat kejadian tragis yang menimpa rakyat Donglai yang hampir saja memusnahkan mereka karena kejamnya kekaisaran Kubilai Khan pada masa itu.
"Maafkan kami, Nyonya! Hanya saja, kami … tidak menyukai kekejaman yang sudah mereka lakukan kepada kerajaan Qin. Bukanlah Qin sudah menyerah kalah? Selain itu, permaisuri Qin Shi Rong pun putri dari Qin!" ucap salah seorang di sudut ruangan.
"Waduh, siapa pula lagi permaisuri Qin Shi Rong? Matilah aku!" benak Xiao Ling, ia semakin kacau.
"Mulutmu adalah harimaumu! Aduh, aku tidak ingat falsafah ini," sesal benak Xiao Ling, "seharusnya aku bertanya kepada Lin Wei atau Zhaozhao terlebih dahulu," batinnya cemas.
"Maaf, Saudara-saudara Sekalian! Permaisuri Qin Shi Rong adalah putri dari raja Qin terdahulu yaitu : Qin Shi Huang yang telah mangkat? Namun, apakah kalian ingat, jika raja Qin sekarang adalah Qin Fa adalah penerus raja Qin yang tak lain menantu Donglai?
"Raja Qin Fa selalu ingin melakukan pemberontakan?" ujar Liu Bei, ia menjelaskan asal-usul ibundanya dan kakeknya Qin Shi Huang yang tidak ada hubungannya dengan Qin Fa seorang pengkhianat yang tak lain saudara seayah lain ibu dengan ibundanya Qin Shi Rong menumbangkan kekaisaran Qin dengan melakukan kudeta.
__ADS_1
Semua orang terdiam, beberapa gerombolan langsung memasuki penginapan dengan tampang sangar.
Bruk!
Seorang pria gempal bertampang seram dengan topi caping meletakkan bungkusan hitam di atas meja. Dari dalam kotak bungkusan menetes darah segar yang merembes membasahi kain penutup dan menetes ke lantai.
Deg!
"Huek?"
Xiao Ling merasa perutnya kembali mual dan kepalanya pusing, ketika ia melihat darah.
"Apakah itu kepala manusia? Ya, ampun! Jika ini di duniaku aku pasti sudah menyeret di pembunuh ini ke pengadilan karena pembunuhan direncanakan," lirih batin Xiao Ling.
Xiao Ling merasa pusing, ia berusaha untuk menguasai kelemahan yang baru disadarinya.
Ia begitu membenci darah, "Sial, aku membencinya eh, aku malah terus-menerus harus menghadapi dan melihat darah," batin Xiao Ling, ia mencengkram cawan arak dan meneguk habis isinya.
Liu Bei memperhatikan wajah dan kelakukan Xiao Ling yang menurutnya sedikit aneh, kala melihat isi kotak tersebut.
"Ada apa dengan Jendral Jia Li? Apakah dia merasa jika dia mengenali kepala siapa yang berada di dalam bungkusan itu?" benak Liu Bei, ia penasaran dengan isi bungkusan tersebut.
"Beri kami arak dan makanan!" teriak si pria gempal, ia meletakkan pedang di atas meja dengan angkuh begitu juga dengan kaki tangannya yang bersikap sama angkuh dengan atasan mereka.
"Ba-baik Tuan!" balas si Pelayan yang langsung lari tergopoh-gopoh ke dapur dan secepatnya kembali membawa arak dan makanan.
Pria tersebut langsung meraih dan menuang kendi arak ke mulut. Akan tetapi, sedetik kemudian ia malah menjadi marah.
Prang!
Si pria langsung membanting kendi ke lantai dengan kesal dan amarah,
__ADS_1
"Arak apa ini? Apakah kalian tidak menyajikan arak yang enak kepada kami, hah? Apakah kalian tahu siapa kami?" teriak si pria dengan marah, ia merasa pelayanan di penginapan tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkannya.