
Di sepanjang perjalanan Liu Fei begitu luar biasa merawat Jia Li memberinya ribuan rasa cinta dan kasih sayang, hingga ia melupakan keberadaan Selir Sarnai. Hingga Liu Fei memutuskan untuk menetap di Luoyang sementara waktu untuk memulihkan kesehatan Jia Li.
Liu Bei hanya mampu menatap semua itu dari kejauhan dengan hati hancur berkeping, setiap ia ingin mendekat Liu Fei tidak memberinya kesempatan sama sekali.
'Semoga kamu bahagia Jia Li!' benak Liu Bei, ia tak ingin mengganggu pasangan tersebut.
'Apalah aku?! Aku hanyalah setitik debu yang mungkin tidak bisa membuatmu bahagia dan berharga,' lirih batin Liu Bei, ia berusaha untuk merelakan Jia Li bersama dengan Liu Fei.
'Aku rasa, Liu Fei lebih bisa memberi dirimu kebahagiaan juga cinta yang luar biasa daripada diriku!' benaknya, ia berjalan menjauhi ruangan Liu Fei.
Jauh di relung hati Liu Bei, ia hanya ingin mengetahui bagaimana keadaan Jia Li. Akan tetapi, ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Jia Li.
Liu Bei melihat tabib Yu mendekat dengan sekotak obat yang dibawa oleh asistennya. Liu Bei tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia ingin bertanya mengenai keadaan dan kemajuan perkembangan kesehatan Jia Li.
Liu Bei begitu merindukan senyum dan tawa gadis cantik dan gagah tersebut, "Tabib Yu, bagaimana keadaan Jendral Tan Jia Li?" tanya Liu Bei kepada tabib Kekaisaran yang khusus didatangkan ke Luoyang oleh Liu Fei hanya sekedar untuk mengobati Jia Li.
Tabib Yu memberikan penghormatan kepada Liu Bei, "Yang Mulia Pangeran Kedua, Nona Tan Jia Li masih belum pulih! Kami kekurangan satu bahan lagi," ujar tabib Yu jujur.
"Apakah itu Tabib? Andaikan saya bisa, saya akan memenuhi satu bahan lagi," ujar Liu Bei, ia ingin melihat senyum Jia Li meskipun senyum itu kemungkinan tak lagi ditujukan kepadanya.
"Yang Mulia, jenis tumbuhan ini begitu sulit. Tumbuhan ini hanya berada di lembah Kematian. Saya tidak menyarankan agar Yang Mulia pergi ke sana. Lembah Kematian sangat berbahaya, belum ada yang selamat." Tabib Yu sendiri bingung bagaimana memenuhi kebutuhan tumbuhan obat tersebut.
"Tabib, saya tidak peduli! Saya hanya ingin jendral Tan sembuh, dia sudah terlalu banyak berkorban demi kekaisaran. Aku tidak ingin jika kita kehilangan orang hebat seperti Jia Li," lirih Liu Bei tulus dari lubuk hati terdalam.
Namun, satu hal yang pasti Liu Bei tak ingin jika dirinya akan kehilangan Jia Li selamanya. Liu Fei sudah memulihkan nama Jia Li yang selamat dari kematian.
Liu Fei memberikan sebuah alasan jika selama ini Jia Li koma karena serangan racun yang diderita. Liu Fei sengaja melakukan semua sandiwara tersebut untuk menutupi jika selama ini Jia Li telah menjadi wanita iblis.
"Tabib, katakanlah …!" pinta Liu Bei tidak sabar.
"Jika kita tidak menemukan jenis tumbuhan obat itu, bagaimana dengan Jia Li?" tanya Liu Bei, ia ingin tahu.
__ADS_1
"Kemungkinan, Jia Li akan koma, ia akan berada di antara hidup dan mati." Tabib Yu menatap wajah Liu Bei, tabib Yu tidak berani mengatakan semua itu kepada Liu Fei karena putra mahkota tidak akan mau mendapatkan jawaban demikian.
Tabib Yu serba kesulitan tetapi ia sudah memutuskan untuk mengatakan semua itu kepada Liu Fei saat ini dirinya berkunjung untuk memantau perkembangan kesehatan Jia Li.
"Tabib, aku mohon beri petunjuk mengenai jenis tumbuhan tersebut. Aku ingin mencarinya demi kesembuhan Jia Li," ujar Liu Bei.
Tabib Yu menatap kesungguhan yang terpancar dari mata Liu Bei, ia menghela napas sebelum bicara. Tabib Yu merasakan jika kedua kakak beradik itu mencintai satu orang wanita yaitu : Jendral Jia Li yang agung.
"Baiklah, Yang Mulia! Akan tetapi, Yang Mulia Putra Mahkota tidak ingin Anda mencari jenis obat itu karena …," tabib Yu tidak sanggup untuk mengatakan sebuah kebenaran jika Liu Fei tidak ingin Jia Li sadar malah mencari dan mencintai Liu Bei yang telah menjadi rival cintanya.
"Jangan khawatir, Tabib! Anda bisa mengatakan kepada Putra Mahkota jika Anda telah menemukan obat tersebut. Jangan bilang kepada siapa pun, jika aku yang menemukannya!" jawab Liu Bei, ia tidak ingin Tabib Yu akan dihukum.
"Baiklah, Yang Mulia! Jenis tumbuhan itu hanya terdiri dari batang dan bunga! Yang Mulia harus mencabut beserta akarnya, bunganya berwarna Lila seperti terompet!" papar Tabib Yu, ia memberikan keterangan kepada Liu Bei.
"Bunga itu hanya hidup di bebatuan di lembah Kematian, hanya saja! Untuk memasuki lembah terlalu banyak jenis binatang beracun dan lumpur hisap. Apakah Yang Mulia ingin mengorbankan nyawa Anda?" tanya Tabib Yu, ia tidak ingin jika Liu Bei akan menemukan ajal di sana.
"Saya bersedia Tabib! Tunggulah, saya pasti akan membawa bunga itu kepada Anda," janji Liu Bei, ia tidak peduli jika nyawanya sebagai taruhan.
Malam hari Liu Bei benar-benar pergi ke Lembah Kematian yang berada di perbatasan Mongol. Lembah yang tidak pernah ingin dimasuki oleh siapa pun.
***
Sementara di sebuah ruangan putra mahkota Liu Fei, ia sedang menemani Jia Li siang dan malam. Merawatnya dengan penuh kasih sayang yang tidak pernah diberikannya kepada salah satu selir miliknya.
"Liu Bei …," lirih Xiao Ling, ia hanya mengigau dan mengingat satu nama yaitu Liu Bei, ia tidak mengingat nama yang lain.
Deg!
Jantung Liu Fei, ia sama sekali tidak menduga jika Jia Li begitu menyayangi dan mengingat Liu Bei sang adik.
"Jia Li … kamu benar-benar hanya menginginkan Liu Bei? Apa kurangnya aku?" lirih Liu Fei, ia merasa tiada gunanya posisi dan kedudukan yang dimilikinya karena tidak bisa meruntuhkan hati Jia Li yang telah jatuh cinta kepada sang adik.
__ADS_1
"Yan'er! Panggil Liu Bei, aku ingin dia kemari!" ujar Liu Fei, ia merasa kasihan karena Jia Li karena sudah berhari-hari tidak sadarkan diri hanya memanggil Liu Bei seorang.
"Baik Yang Mulia!" balas Yan' er.
"Tunggu!" ujar Liu Fei.
"Iya, Yang Mulia!"
"Um, apakah Tan Yu Ji sudah sembuh? Aku juga ingin dirinya kemari. Aku ingin Tan Yu Ji melihat kakaknya," papar Liu Fei, ia tak ingin jika terjadi sesuatu kepada Jia Li dan tiada seorang pun yang tahu.
Yan'er pun meninggalkan Liu Fei yang masih duduk di pembaringan merawat Jia Li, "Apakah kau sangat mencintai Liu Bei, Jia Li? Hingga kamu tidak menyadari kehadiran diriku di sisimu?" bisik Liu Fei.
Namun, tubuh Jia Li hanya diam tak bergeming, hal itu membuat Liu Fei semakin miris.
***
Menuju lembah Kematian ….
Sementara Liu Bei memaju kudanya menuju tempat yang dimaksud, ia harus menempuh perjalanan selama 3 hari 3 malam agar segera tiba di lembah Kematian,
Liu Bei bersyukur karena ia tidak harus melewati gurun melainkan hutan kecil yang sepi dan diyakini jika dihuni perampok dan binatang berbisa juga beracun.
'Aku tidak peduli! Aku hanya ingin Jia Li sehat kembali! Xiao Ling, aku mencintaimu! Tunggulah aku!' benak Liu Bei, ia merasa lebih mudah menyebut dan mencintai Xiao Ling daripada Jia Li.
'Andaikan kalian kembar …,' batinnya berandai-andai kemungkinan yang mustahil.
Liu Bei terus memacu kuda, ia hanya berhenti untuk makan dan membiarkan kudanya istirahat untuk minum atau merumput.
Syut! Syut!
Pisau berhamburan menyerang ke arah Liu Bei, "Bajingan! Siapa Kalian?!" teriak Liu Bei, ia menundukkan kepala dan menarik tombaknya untuk menghalau pisau terbang yang menyerang dirinya.
__ADS_1