Jendral, I Love You!

Jendral, I Love You!
Hanya perjodohan


__ADS_3

"Baiklah, silakan pergi! Ingat rahasiakan semua ini, nanti aku akan bertanya lagi. Satu hal, tolong … jika ada sesuatu yang penting dan menurut kalian, biasanya aku tidak melakukannya.


"Kalian berdua harus mengingatkan juga memberitahukan kepadaku. Apakah kalian paham?" pesan Xiao Ling, ia menatap keduanya dengan tatapan tegas dan mengancam.


"Baiklah, Yang Mulia!" balas Lin Wei, "kami mohon undur diri, Yang Mulia!" ujar Lin Wei, ia dan Zhaozhao memberikan penghormatan dan kembali ke posisi mereka awal, untuk berjaga-jaga di benteng. 


Sementara Xiao Ling masih terdiam merenung, ia sama sekali tidak menyangka jika di dunia berbeda pun ia masih kerap dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak dikenali.


"Aku dijodohkan dengan Liu Fei? Hadeh, ada-ada saja! Apa yang harus aku lakukan?" batinnya, ia mencengkram kuat tembok pertahanan.


Xiao Ling melihat dari kejauhan Liu Bei sedang mengendarai kudanya, "Apakah Liu Bei di kehidupan nyata seperti itu wajahnya?" batin Xiao Ling penasaran, ia memperhatikan Liu Bei dari kejauhan dan bertanya-tanya.


"Sial, mengapa aku harus penasaran?! Gara-gara dia aku jadi di tempat gila ini dan … aku telah membunuh, hiks, hiks!" batin Xiao Ling menangis, ia menggigit bibir dengan melihat kedua belah tangannya yang telah berlumur darah orang banyak.


"Ya, Tuhan dan para Dewa … dosa apa yang telah aku lakukan hingga aku tenggelam di dalam karma ini?" batinnya gelisah, ia masih terus meratapi nasibnya yang malang.


"Yang Mulia Jendral!" sapa seorang perempuan di belakang punggungnya. 


"Ya, ada apa?" jawab Xiao Ling, ia membalikkan wajah melihat seorang dayang dari tenda Liu Bei.


"Yang Mulia Pangeran Kedua,  mengajak Yang Mulia Jendral untuk menghadiri jamuan sarapan pagi di tendanya," balas dayang tersebut, ia masih menunduk menatap bumi.


"Apa?!" umpatnya, "sial! ada-ada saja!" batin Xiao Ling, ia hanya menarik napas.


Xiao Ling tidak menyangka jika matahari sudah meninggi di ufuk timur, ia sama sekali tidak menyadarinya.


"Baiklah! Aku akan menyusul setelah membersihkan diri," balas Xiao Ling, ia sengaja mengulur waktu untuk menghadiri jamuan tersebut.


"Baik yang Mulia!" balas dayang mengundurkan diri.


"Apa yang harus aku lakukan?" lirih Xiao Ling, ia pun pergi untuk mandi.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Xiao Ling gusar kepada dayang yang ingin membantunya membuka baju untuk mandi.

__ADS_1


"Kami akan membantu Yang Mulia Jenderal untuk mandi," balas dayang.


Para dayang sudah mempersiapkan keperluan Xiao Ling untuk mandi dengan beraneka aroma wewangian juga taburan kelopak bunga mawar juga pakaian perempuan.


"Tidak usah! Aku bisa mandi sendiri," balas Xiao Ling, ia tidak suka dilayani karena terbiasa hidup mandiri di kehidupan nyata.


"Tapi yang mulia-"


"Tidak masalah, siapkan saja bajuku!" sela Xiao Ling, ia langsung pergi ke bak mandi secepat kilat.


Akan tetapi, saat membuka bajunya ia melihat banyak luka di tubuh Jia Li, "Ya ampun! Mengerikan sekali! Aku harus melakukan operasi plastik. Waduh, biayanya pasti sangat mahal.


"Para dokter bedah plastik pun akan bingung, jika melihat luka ini," keluh batinnya, ia melihat luka di bagian dada, perut, bahkan punggungnya.


Xiao Ling termenung, "Apa yang sebenarnya telah dialami Jia Li?" batinnya bertanya, "mengapa aku tidak mengingatnya? Tentu saja, ini bukan tubuhku!" lanjut batinnya.


Xiao Ling merasa miris melihat semua bekas luka yang sudah menjadi sebuah bayangan putih di sana menodai tubuh Jia Li yang mulus. Xiao Ling menemui dua orang dayang yang sudah bersiaga di sana.


"Baju apa ini?" tanya Xiao Ling, ia melihat baju para wanita zaman dahulu yang berlapis-lapis, salah satunya pakaian dalamnya seperti popok bayi yang terbuat dari benang sutra. 


"Apa?! Sialan!" umpatnya, ia ingin merobek pakaian itu.


Namun, ia mengingat sedang berada di mana sehingga ia pun hanya diam saja kala para dayang memakaikan baju tersebut juga menggerai rambut Jia Li serta memilinnya dengan indah.


"Bagaimana aku meletakkan pedangku? Aku lebih nyaman memakai pakaian prajurit saja!" teriak Xiao Ling, ia membuat kegaduhan.


"Tapi,Yang Mulia!" teriak para dayang bingung.


Suara Xiao Ling terdengar membuat keributan di pagi hari bersama para dayang hingga ke tenda Liu Bei, suaranya membuat kegaduhan yang mengerikan di sekitar mereka. 


"Ada masalah apa di tenda Jendral Jia Li?" tanya Liu Bei bingung kepada Lie Feng bawahannya.


"Ampun Yang Mulia, sepertinya Jendral Tan tidak ingin memakai pakaian wanita," balas Lie Feng, ia mengepalkan tangannya di depan kepala dengan berlutut.

__ADS_1


"Oh …." Liu Bei tidak tahu harus berkomentar apalagi.


"Baiklah, ada-ada saja! Seorang wanita tidak mau memakai pakaian perempuan? Ckckck, menyusahkan saja!" ketus Liu Bei tak mengerti, ia masih duduk menantikan Jia Li di depan meja makan kecil.


Beberapa menit kemudian ….


Xiao Ling berjalan kaku berusaha terlihat anggun telah memasuki tenda dengan balutan pakaian wanita yang indah dan sederhana, Jendral Jia Li terlihat sangat cantik membuat Liu Bei menelan ludahnya.


"Siapa sangka Jendral galak ini cantik juga," batin Liu Bei, ia terpesona dengan kecantikan jendral dingin bin galak tersebut.


"Salam Yang Mulia!" sapa Xiao Ling, ia memberikan penghormatan ala prajurit yang biasa dilakukannya.


"Silakan Jenderal Tan. Hanya saja, jika kamu berpakaian wanita begini, berlakulah dengan adat yang mengharuskan kamu memberi penghormatan yang biasa dilakukan oleh seorang wanita," balas Liu Bei, ia masih menatap Xiao Ling.


"Masih mending aku melakukan semua penghormatan ini, hadeh! Jika bukan karena dirimu seorang panglima perang dan seorang pangeran! Aku tidak sudi melakukannya," batin Xiao Ling, ia semakin kesal melihat tindak tanduk pangeran arogan tersebut.


"Baik, Yang mulia!" balas Xiao Ling, ia kembali melakukan penghormatan dengan membungkuk dan kaki sedikit ditekuk dengan anggunnya seperti yang dilakukan dayang.


"Silakan!" ujar Liu Bei, ia mempersilakan Xiao Ling duduk di depannya. 


Dua orang dayang langsung melayani mereka, Xiao Ling hanya diam saja memakan apa saja yang disuguhkan dayang dengan cepat, di depannya Liu Bei memperhatikan apa yang dilakukan oleh Xiao Ling.


"Apakah kau tidak pernah diajarkan cara tata krama menyantap hidangan di meja makan?" tanya Liu Bei, ia merasa wanita di depannya tidak memiliki adab sopan santun.


"Aku lupa!" balas Xiao Ling, ia menatap ke arah Liu Bei dengan mulut yang penuh makanan.


"Aku terlalu lama dididik untuk mempertahankan perbatasan demi nyawa ribuan orang yang duduk tenang di kekaisaran, dengan nyawa kami sebagai taruhannya!" sindir Xiao Ling, ia tak peduli dan merasa apa yang dikatakan adalah sebuah kebenaran.


"Bagaimana bisa kamu akan menjadi seorang permaisuri? Jika tingkahmu tidak mencerminkan semua itu," tanya Liu Bei bingung, ia tak mengerti calon permaisuri atau ratu masa depan seperti itu tingkahnya.


"Siapa yang mau jadi permaisuri? Aku tidak pernah bermimpi akan melakukan hal itu," balas Xiao Ling, "aku malah ingin menjadi pengacara sukses di Boston!" batinnya.


"Tapi Ayahanda telah menjodohkanmu dengan Putra Mahkota," balas Liu Bei, ia terus mengawasi Xiao Ling.

__ADS_1


"Itu masih perjodohan, bisa saja batal!" balas Xiao Ling sekenanya.


__ADS_2