
Xiao Ling merasakan ikatan batin di antara mereka berdua meskipun tak ada kata yang telah terucap, ia merasa damai berada di sisi Liu Bei.
Rasa perih diam-diam merayap di jiwa keduanya seakan ada jurang pemisah yang terlalu dalam untuk dilewati.
"Katakanlah, paling tidak … kamu merasa sedikit lega. Walaupun mungkin aku tidak bisa membantu kamu," ucap Liu Bei, ia berusaha untuk meyakinkan Jia Li tentang sebuah arti kepercayaan.
"Yang Mulia … sebenarnya sejak pertempuran di perbatasan Xuchang sebelum kami ke Shandong dan Suchang, aku terluka parah ….
"Sejak saat itu, aku merasa selalu mual jika melihat atau mencium bau darah. Aku merasa aku sama sekali tak berguna," ujar Xiao Ling, ia tak ingin berbohong lagi meskipun ia tahu ada kebohongan terselubung di antaranya.
Xiao Ling masih tidak bisa bicara jujur tentang sebuah kebenaran siapa dirinya, 'Mungkin hingga aku mati, aku akan membawa kisah siapa jiwaku yang sebenarnya!' batinnya getir.
"Benarkah?" tanya Liu Bei, ia merasa terenyuh dan kasihan.
Liu Bei merasa jendral Jia Li begitu menderita bertahun-tahun di perbatasan. Ia masih menatap wajah cantik tersebut, ia merasa jika Xiao Ling telah banyak berkorban untuk Kekaisaran Han.
Hal itu, membuat jiwa raga Liu Bei tersentuh, ia ingin mendekap dan meringankan beban di pundak Jia Li. Liu Bei merasa semua perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan oleh Jia Li untuk kekaisaran tak bisa diukur dengan apa pun.
'Andaikan aku bisa membuat kamu bahagia …,' batin Liu Bei, ia menahan tangannya untuk tidak membelai wajah cantik tersebut.
"Aku rasa … mungkin sudah saatnya kamu istirahat dari pertempuran. Sudah saatnya kamu meletakkan pedangmu, Jia Li!" ujar Liu Bei, "mungkin tawaran ayahanda untuk menikahkan kamu dengan Liu Fei adalah suatu hal yang sangat tepat," lanjutnya.
"Hehehe, mungkin … tapi, apakah pernah terpikir olehmu, jika cinta itu adalah masalah hati? Kita tidak bisa memaksa diri kita harus jatuh cinta pada siapa?!" ujar Xiao Ling, ia merasa orang yang paling merana di dunia anta berantah tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjalin hubungan apalagi menikah dengan orang yang tidak aku cintai," keluh Xiao Ling, ia berasal dari dunia yang tidak ada diskriminasi antara wanita dan pria.
"Apalah arti dari sebuah kekuatan jika hati tak tenang dan damai? Apalah arti sebuah pernikahan, jika segalanya hanyalah sebuah aliansi bukan rasa cinta?" keluh Xiao Ling, ia masih terus menatap mentari yang mulai terbenam.
Xiao Ling ingin berkata meluapkan semua rasa yang bertumpuk di benak Jia Li sisa dari bayangan ingatan jendral cantik tersebut yang sepaham dengan jiwanya.
Siluet tubuh keduanya berdiri di atas tebing dengan gagah dengan sejuta perasaan yang menyelimuti hati. Keduanya saling memandang dan mencari sebuah kedamaian di sepinya gurun.
"Jia Li, aku … aku hanya tahu, jika terlahir di lingkungan istana mana pun mungkin kita tidak memiliki kebebasan selain, mematuhi apa yang diperintahkan atasan kita yang memiliki kekuatan lebih dari kita," ujar Liu Bei, ia sendiri terkungkung di sebuah kata "penyerahan mutlak".
"Kamu tahu, aku dididik untuk mematuhi semua peraturan Kekaisaran dan istana tanpa sedikit pun mengatakan kata, 'Tidak'. Kamu tahu, betapa sulitnya bagiku sejak aku mengingat.
"Jika aku menentang maka, hukuman akan diberikan bahkan, hukuman itu lebih mengerikan dari hukuman yang didapatkan rakyat biasa," keluhnya.
"Sepertimu, aku pun telah ditunangkan dengan putri menteri Chu Tian Wu yaitu Chu Zhuzhu," ucap Liu Bei, ia menerawang menatap langit di atas kepala mereka di mana gerombolan burung nasar terbang ke arah di mana sisa pertempuran yang sudah terjadi.
"Jia Li," lirih Liu Bei, ia menyentuh kedua bahu Xiao Ling yang masih terpaku menghadap pada Liu Bei.
Liu Bei tak lagi bisa menahan gelora jiwa untuk menyentuh jendral cantik yang telah mengganggu hari-harinya. Liu Bei tak mengerti dengan semua rasa miliknya, ia hanya tahu ingin memberikan hak yang terbaik untuk Jia Li meski nyawa sebagai taruhannya.
"Tak ada bedanya antara aku dan kamu, kita sama-sama korban dari sebuah kekuasaan. Kita tidak memiliki hak, semua hak kita terbelenggu … kita tidak bisa menikah dengan pilihan hati kita.
"Kamu benar, mungkin … kita bisa menikah dengan siapa pun tapi, kita tidak pernah bisa menolak rasa cinta yang tumbuh di hati karena cinta adalah sebuah anugerah dari Sang Dewa," ujar Liu Bei.
__ADS_1
Liu berusaha untuk tersenyum menahan getir di jiwa, ia mengingat Ch Zhuzhu, ia pun tak mencintai putri menteri Chu yang cantik.
*Yang Mulia …," lirih Xiao Ling, ia merasa ingin menangis.
Namun, Xiao Ling berusaha untuk menepis semua duka tersebut, ia tak ingin terlihat lemah dan cengeng hanya karena cinta. Xiao Ling tak ingin jika Jia Li terlihat lemah dan hancur hanya karena cinta.
"Kita hanya bisa menikmati rasa cinta di balik bayang waktu dan berdoa, semoga orang yang kita cintai akan berbahagia bersama pasangannya. Aku rasa hanya itulah sepenggal rasa cintaku kelak pada si pemilik hatiku," ujar Liu Bei.
"Apakah Anda memiliki seseorang yang Anda cintai, Yang Mulia?" tanya Xiao Ling, ia merasa sembilu mengiris di hati dan jiwanya.
"Hehehe, kamu tahu selain ibundaku dan dirimu. Aku tidak pernah akrab dengan wanita mana pun. Bagaimana aku bisa jatuh cinta?" tanya Liu Bei, ia merasa begitu menyedihkan hidupnya.
"Benarkah? Bukankah seorang pangeran … maksudku, seorang pangeran bisa mendapatkan apa pun tanpa harus berjuang dan bersaing?" tanya Jia Li tak mengerti.
"Itu hanyalah ucapan dan bualan semata. Bagaimana mungkin? Jika di suatu kerajaan apalagi kekaisaran yang memiliki beberapa putra mahkota. Kami, pasti diminta untuk bersaing untuk mendapatkan suatu kekuatan dan pengaruh untuk membuat kaki kami tetap bertahan.
"Jika tidak, kita hanyalah sebagai pengikut dan sampah yang akan selalu dihina keluarga yang seharusnya melindungi," ujarnya, ia tersenyum.
"Jadi, tak ada yang bebas di dunia ini Jia Li. Kembalilah ke Chang An, terutama Kekaisaran Han. Bagaimanapun kamu masih harus berjuang lagi demi harga dirimu dan keluarga Tan.
"Aku tahu, setiap wanita dan pria pasti mendambakan pernikahan yang indah dengan seseorang yang mereka dicintainya … tapi, kenyataannya tak seindah angan. Semua itu hanyalah di dalam khayal semata.
"Bangunlah, jangan terus bermimpi! Terjagalah, hadapi kenyataan yang ada!" lirih Liu Bei, ia mengingatkan Jia Li yang masih terdiam.
__ADS_1
"Hei, hari sudah malam aku ajan mencari makanan. Aku harap kamu membuat api unggun, jika kamu belum ingin kembali ke Donglai, aku akan menemanimu hingga kamu siap," ujar Liu Bei tersenyum.