
Sarnai mendecikkan bibir, ia merasa jika cepat atau lambat dirinya akan tersingkir dari kehidupan Liu Fei jika putra mahkota tersebut berhasil menikahi Jia Li.
'Apalagi, Jia Li tahu aku ikut di dalam menghancurkan suku elang di lembah Orkhon. Itu tidak boleh dibiarkan, aku tidak ingin Jia Li kembali kekaisaran." Sarnai membatin, ia termenung masih berdiri di belakang Liu Fei.
"Sarnai, pergilah makan! Aku ingin menikmati kesunyianku." Liu Fei membalikkan badan menatap selir kesayangannya, ia merasa Sarnai begitu cantik tetapi ia tak bisa melupakan bayang Jia Li yang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh wanita mana pun.
Liu Fei tidak ingin Sarnai tahu jika di hatinya telah tumbuh bunga cinta yang lebih dahsyat kepada jendral wanita tersebut.
"Baiklah, Yang Mulia! Aku akan meninggalkan makan siang untuk Anda," balas Sarnai, ia menekuk kakinya sedikit dan mengangsurkan kedua tangan di depan dada sebagai tanda penghormatan darinya.
"Tunggu dulu, bagaimana kamu bisa menyimpulkan jika Liu Bei menyukai Jia Li atau sebaliknya? Bukankah kamu tidak pernah bertemu dengan Jia Li?" selidik Liu Fei, ia masih mengawasi Sarnai.
"Um, hamba memang belum pernah bertemu dengan jendral Jia Li, tapi … saya bisa menyimpulkan kalau jendral perempuan itu begitu hebat.
"Tak mungkin Anda akan tertarik jika Jia Li tidak sehebat itu. Um, saya hanya berpikir, bukankah selama ini pangeran kedua selalu bepergian ke mana pun bersama dengan jendral Jia Li?
*Bahkan, jendral Jia Li yang telah membantunya kala pertempuran di Suchang, hingga kemenangan di raih Han.
"Saya rasa … kebersamaan itu akan menimbulkan gairah cinta. Jika tidak, tidak mungkin pangeran kedua menggantikan Jia Li di perbatasan dan menghukum dirinya sendiri daripada harus terjebak di dalam istana ini?
"Itu, sudah membuktikan kalau pangeran kedua memiliki rasa cinta yang terpendam kepada jendral Jia Li.
"Maaf Yang Mulia, ini hanya pikiranku saja. Maafkan saya, jika saya salah. Selain itu, hamba sangat yakin jika Jia Li tidak tewas, ia hanya menolak menikah dengan Anda karena rasa cintanya kepada Liu Bei," ujar Sarnai, ia terus berusaha untuk memecah belah keduanya.
Deg!
Jantung Liu Fei, amarah dan kecemburuan menyusup di relung jiwa membuat degup jantungnya bergetar hebat menahan semua itu.
"Sarnai, apakah kamu tidak cemburu jika aku menikahi Jia Li?" selidik Liu Fei, ia tahu jika Sarnai bisa melakukan apa saja jika dirinya akan dimiliki wanita lain.
"Yang Mulia, saya yakin dengan rasa cinta Anda kepada saya. Selain itu, hamba takut jika Jendral Jia Li dan Liu Bei akan melakukan konspirasi untuk menyingkirkan Yang Mulia dari calon kaisar selanjutnya.
__ADS_1
"Bukankah mereka berdua sangat dipuja-puja oleh rakyat kekaisaran Han? Jika Yang Mulia berhasil menikahi Jia Li, saya sangat yakin semua kerajaan tetangga akan patuh dan takluk kepada Kekaisaran Han," papar Sarnai, ia semakin berani menyuarakan isi hatinya.
"Baiklah! Sebaiknya makanlah, aku akan menyusul nanti malam ke istana Magnolia," ujar Liu Fei, ia tersenyum.
"Baik Yang Mulia!" balas Sarnai, ia undur diri.
'Bajingan! Apakah benar yang diucapkan oleh serlir Sarnai? Jika benar, itu tidak boleh dibiarkan! Harga diriku akan terinjak-injak apalagi sebagian rakyat lebih memihak kepada Liu Bei, ini akan semakin kacau disaat semua rakyat tidak bersatu untuk mendukung diriku mencari kaisar berikutnya.
'Aku harus mencari jalan untuk menemukan Jia Li dan langsung menyeret dirinya ke pernikahan! Jika ia bersikeras aku akan menawan seluruh keluarganya, aku tak peduli!' benak Liu Fei egois.
***
Sementara Xiao Ling di tubuh Jia Li yang mengembara di setiap kota dan desa melewati lembah demi lembah, gunung, dan lautan juga hutan. Mengembara dari kerajaan hingga kerajaan lain.
Xiao Ling banyak belajar mengenai geografis, keadaan penduduk yang semakin hari semakin mengenaskan akibat pemberontakan yang tidak diketahui siapa dalang semuanya selain kerajaan Qin.
'Aku rasa, aku harus tiba secepatnya di desa berikutnya … ini sangat melelahkan!' benak Xiao Ling, ia sudah berkuda selama dua hari dua malam melewati berbagai rintangan dan menolong siapa pun yang membutuhkan pertolongan.
Xiao Ling tidak ingin ada yang mengenali dirinya, ia sedikit bersorak gembira melihat asap mengepul di depannya.
"Akhirnya … tiba juga di penginapan! Aku sudah menginginkan makanan yang lebih layak untuk dikonsumsi manusia," lirih Xiao Ling, ia sedikit muak makan hewan buruan yang hanya dipanggang dan buah-buahan di sepanjang jalan.
Xiao Ling menambatkan kuda dan memasuki sebuah penginapan yang sangat ramai di kota Luoyang, ia memesan arak dan makanan menikmati nyanyian dan tarian.
Xiao Ling mengawasi gerak-gerik orang-orang berbicara mengenai banyak hal, 'Siapa mereka? Apakah mereka utusan Qin atau Mongol?' benak Xiao Ling, ia sudah mulai memahami orang-orang dari setiap kerajaan.
'Aku bersyukur tak ada seorang pun yang mengenalku,' benaknya, ia mulai menyantap makanan dengan tenang.
"Aku bersyukur karena jenderal perempuan itu mampus! Jika tidak akan kesulitan bagi kita melewati perbatasan," ujar seseorang dengan pakaian Mongol sambil mengunyah bebek peking di tangan.
"Ya, kamu benar, jika jendral perempuan itu ada? Sangat mengerikan sekali! Kita sama sekali tidak bisa bergerak dengan leluasa untuk menghancurkan setiap penghalang," timpal seseorang.
__ADS_1
"Jendral itu terlalu barbar dan mengerikan, apalagi jika kita tidak memiliki surat menyurat yang jelas dia tak segan-segan meminta kita untuk kembali pulang!" ujar yang lain lagi.
Xiao Ling hanya diam tak bergeming, ia sudah tak lagi peduli jika ada orang yang menghina dirinya, ia merasa orang-orang rakus akan membenci Jia Li yang tegas dan bagi rakyat selalu mengelu-elukan seorang Jia Li yang sangat hebat dan luar at biasa.
"Tapi, kedudukan jenderal perempuan itu digantikan oleh pangeran kedua Liu Bei, itu sama saja. Lepas dari mulut harimau tetap masuk ke mulut buaya," jawab pria yang sedari tadi diam.
Semua orang langsung terdiam tak bersuara lagi, mereka merasa apa yang dikatakan oleh pria tersebut benar adanya, sehingga membungkam mulut mereka.
Bayangan wajah Liu Bei terlintas di benak Xiao Ling membuatnya terdiam, ia merasakan suatu kerinduan pada pangeran kedua tersebut.
Aliran keriuhan dan gosip mengenai dirinya seketika diam kala beberapa orang memasuki penginapan, semua orang menatap ke arah tiga orang pria dan dua orang wanita yang membawa senjata di punggung.
Xiao Ling tetap makan dengan tenang dan tidak peduli dengan banyak hal. Akan tetapi, ia sedikit penasaran dengan kelima orang yang masuk dan mengambil tempat duduk di sebelah Xiao Ling.
Bruk!
Suara pedang dan gada menghentak di meja makan, "Pelayan! Beri kami makananan dan minuman yang terbaik dari penginapan ini! Sekaligus 5 kamar mewah!" ujar pria yang membawa gada berat tersebut dengan kepala plontos.
"Xu Zhu Ping! Apakah selir cantik itu benar-benar memintamu untuk pergi ke istana malam ini?" tanyanya.
Deg!
Jantung Xiao Ling tercekat mendengar nama Xu Zhu Ping meskipun ia tidak tahu yang mana orang yang dimaksud sebagai pendekar racun yang sangat ditakuti di dunia.
"Salam pendekar Xu Zhu Ping! Salam pendekar Wu Yao, Salam pendekar Xu Liang, Salam pendekar Lu An, salam pendekar Gong Yu!" ujar seseorang yang baru saja masuk sebelum Xiao Ling tahu yang mana pendekar racun tersebut.
"Salam pendekar Kong Tian!" ujar semua orang.
Xiao Ling terdiam melihat Kong Tian berada di sana, Xiao Ling merasa semua pendekar dari golongan hitam berada di penginapan seakan sedang mengadakan pertemuan.
'Mengapa semua pendekar aliran sesat berada di sini? Ada apa sebenarnya?' benak Xiao Ling, ia menajamkan indera ke dengarannya untuk mengetahui maksud dan tujuan musuh.
__ADS_1