
Xiao Ling murka, ia tidak menduga jika musuh bisa mencium keberadaan mereka di gua dan meniupkan ramuan obat tidur membuat dirinya dan Tan Yu Ji langsung pingsan.
Para pembunuh bayaran membawa mereka akan tetapi Paopao langsung mematuk tangan Jia Li hingga ia pun terbangun dan membebaskan dirinya dan Yu Ji. Namun, karena musuh terlalu banyak dan Jia Li dilukai membuat dirinya sulit bergerak.
Jia Li tidak menduga jika Liu Bei bisa tiba tepat waktu bersama wenwen, ia bersyukur atas kedatangan pria yang telah membuatnya patah hati. Walaupun ia berusaha untuk tidak terlalu peduli dengan segenap rasa sakit yang mendera di jiwa raga.
"Aku tidak akan membiarkan kalian bebas begitu saja! Kalian harus membayar apa yang sudah kalian lakukan kepadaku dan Yu Ji!" teriak Xiao Ling.
Ia merasa kasih sayang muncul dengan sendirinya di benak kala ia merawat adik Jia Li. Ia merasa jika Tan Yu Ji begitu baik dan kehilangan akan dirinya. Selain itu, Jia Li merasa bersalah karena harus membuat Tan Yu Ji harus terseret di dalam masalah yang dilakukan olehnya.
"Sial! Ayo, tangkap wanita ini dan bunuh Liu Bei! Jangan biarkan seorang pun lolos!" teriak Kepala penyamun dan pembunuh bayaran.
"Tuan, kita tidak mungkin membunuh pangeran kedua Kekaisaran Han! Bagaimana jika Kaisar Liu Bang mengetahui apa yang telah kita lakukan?" tanya anak buah pria sangat tersebut.
"Anak buahmu benar adanya, Wu Song. Sebaiknya kalian entahlah sebelum aku membunuh kalian!" ancam Liu Bei dingin.
"Hahaha, kau kira aku masih seperti 10 tahun yang lalu saat masih di Vihara Shaolin begitu? Phih! Jangan bermimpi Liu Bei! Mungkin engkau seorang pangeran tapi, bagiku kau hanyalah anak yang sama sekali tidak diharapkan.
"Kau akan selamanya menjadi bayang-bayang di dalam kegelapan! Kau hanyalah pion untuk menjaga dan melindungi Liu Fei! Phih! Kau bodoh sekali!" hina Wu Song.
"Minggir, Liu Bei! Aku ingin membunuh bajingan ini! Aku tidak akan mati dengan tenang sebelum membunuhnya!" hardik Xiao Ling, ia sudah menggenggam kedua pedang di masing-masing tangan.
"Xiao Li … ng …," lirih Liu Bei, ia terlambat.
__ADS_1
Xiao Ling tak peduli dengan apa pun lagi, ia langsung melesat dengan cepat menebaskan pedang berwarna kebiruan, ia tak lagi menutupi siapa dirinya karena Zhaozhao tidak bersama mereka.
Duar! Duar! Kras!
Ledakan demi ledakan dan tebasan pedang memenggal batang bambu kala musuh melesat menghindari tebasan dan ledakan akibat serangan Xiao Ling yang marah sehingga ia mengerahkan seluruh kekuatannya.
Liu Bei masih bertempur berusaha untuk melindungi Xiao Ling yang membabi buta, "Serang aku Bangsat!" teriak Xiao Ling marah, ia benci dengan perlakuan curang musuh.
Liu Bei menebaskan tombak membunuh beberapa anak buah Wu Song. Liu Bei melesat secepatnya membantu Xiao Ling, ia tak ingin jika Xiao Ling terluka, ia rindu senyuman manis yang selalu menghiasi bibir indah itu. Liu Bei juga rindu tatapan sarkasme juga cibiran dingin wanita hebat yang kini telah menarik diri dan menutup pintu hatinya untuk urusan cinta.
"Xiao Ling! Berhati-hatilah!" pesan Liu Bei, ia tak ingin jika gadisnya terluka.
"Phih! Apa urusanmu!" ketus Xiao Ling, "aku berterima kasih kau datang tepat waktu menyelamatkan Yu Ji.
Xiao Ling tak ingin terpedaya dan jatuh semakin dalam ke dalam kubangan cinta yang menyesakkan dada membuatnya menjauh dari kehidupan. Ia benci akan sikap Liu Bei, yang tak mau mengakui segenap rasa yang sedang mereka rasakan.
Xiao Ling merasa jika Liu Bei terlalu patuh dan mengikuti semua aturan, ia benci melihat Liu Bei yang hanya memendam semua kerinduan dan rasa yang muncul di jiwa.
"Ya, ampun! Apakah engkau masih marah kepadaku Xiao Ling?" tanya Liu Bei, di antara dentingan suara pedang dan senjata yang terus beradu di antara mereka.
"Cih! Siapa yang merindukan dirimu? Ngaca woy!" balas Xiao Ling, ia berusaha untuk mendustai dirinya sendiri.
Ia begitu merindukan Liu Bei, hingga ia terus meniup seruling dan berbicara lewat angin malam jika dirinya begitu merindukan pria tampan itu. Terkadang Xiao Ling diam-diam mengawasi Liu Bei jika mereka tanpa sengaja bertemu atau berpapasan.
__ADS_1
Walaupun Xiao Ling pada akhirnya menghindar dan menjauh dengan berlawanan arah meninggalkan Liu Bei. Xiao Ling tak ingin rasa sakit itu semakin menyesakkan dadanya, sehingga ia menjauh dan berharap tak bertemu dengan Liu Bei lagi.
Namun, lagi-lagi takdir kerap mempertemukan mereka berdua. Liu Bei merasa terhina ia langsung menusukkan tombak ke arah musuh dan menyerang Wu Song dengan cepat.
Liu Bei ingin melepaskan amarah dan emosi terhadap Xiao Ling dengan cara memukul musuh mundur agar mereka berdua bisa bicara dengan leluasa. Liu Bei berharap dirinya masih memiliki kesempatan untuk terus bicara dan mengatakan kejujuran.m tentang sebuah rasa hangat ekaman ini telah menyiksanya.
"Baiklah! Jika kau tidak merindukanku, aku hanya ingin kamu selamat Sayang!" ujar Liu Bei, ia masih selembut dulu.
Namun, Xiao Ling merasakan jika Liu Bei lebih hangat dan tak sedingin masa lalu yang mirip musim salju di bulan Desember kelabu di sepanjang jalanan Boston.
"Hahaha, baru 3 bulan kita tak bertemu. Kamu sudah lebih pintar bicara dan bersikap manis Liu Bei! Apakah perbatasan telah mengubah dirimu dari pria sedingin kutub menjadi pria sehangat mentari begitu?" sindir Xiao Ling.
"Hahaha, lalu … kamu mau aku seperti apa, Xiao Ling? Demi kamu aku rela melakukan apa saja dan berubah menjadi apa pun yang kamu mau," janji Liu Bei, ia mengarang semua itu bukan hanya sekedar bualan semata.
"Apa?!" ujar Xiao Ling, ia merasa ucapan Liu Bei hanyalah kebohongan semata.
"Aku tidak menyangka selain sekarang kamu pintar bicara kamu juga sudah berubah menjadi seorang perayu ulung!" tukas Xiao Ling, ia sama sekali tidak menduga akan hal itu.
"Aku serius, Xiao Ling! Aku sangat kehilangan dirimu! Percaya atau tidak. Kini, aku rasakan jika aku pun begitu merindukan dirimu," jujur Liu Bei, ia tak peduli apakah Xiao ling percaya atau menganggapnya sudah mulai gila sebagai seorang buaya darat yang mencari mangsa.
"Phih!" desis Xiao Ling, ia tak peduli.
Rasa sakit yang dirasakan oleh jiwa dan raga Xiao Ling, akibat penolakan dan tanpa suara Liu Bei yang tak mau mengatakan rasa cintanya pada Xiao Ling. Hal itu membuat Xiao Ling semakin dingin dan tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh pria seperti Liu Bei.
__ADS_1