Jendral, I Love You!

Jendral, I Love You!
Permintaan seorang Xiao Ling


__ADS_3

Xiao Ling berharap namanya dipulihkan dan dirinya dibiarkan bebas di dunia yang diinginkannya tanpa harus terjebak di sana sini, ia ingin hidup sebagai Xiao Ling si Wanita Iblis.


Liu Fei menatap kepada wanita bergaun merah yang masih berdiri dengan gagah sambil menghunuskan pedang kepada Xu Zhu Ping.


"Apa hakmu meminta hal itu kepadaku?" ujar Liu Fei, ia merasa ingin melihat wajah wanita di depannya.


Deg!


Jantung Xiao Ling tercekat, ia merasa segala perjuangannya begitu sia-sia sekarang. Ia sama sekali tidak menduga jika Liu Fei akan melakukan hal itu kepadanya.


'Sialan! Jika ini bukan di dinasti Han, aku pasti akan menampar wajahnya! Huh! Dasar angkuh!' benak Xiao Ling, ia merasa Liu Fei benar-benar kejam.


"Yang Mulia, jika Anda mengizinkan keinginan saya, maka saya akan memberikan hidupku untuk kekaisaran. Walaupun Anda tidak mengizinkan, saya akan tetap memberikan kehidupan saya untuk masa depan kekaisaran," ujar Xiao Ling, ia tak peduli ada atau tidaknya izin dari seorang Liu Fei.


Xiao Ling hanya ingin menegaskan hal itu, ia merasa memiliki hak sebagai layaknya seorang manusia ia tidak ingin kehidupannya akan dikendalikan oleh orang lain.


"Apa yang Anda minta sebagai balasannya?" tanya Liu Fei, ia berusaha untuk menembus wajah di balik cadar tersebut.


Namun, Liu Fei tidak bisa karena wanita iblis tersebut benar-benar membentengi wajahnya dengan erat. Akan tetapi, bayangan Jia Li yang bercadar dulu mengingatkan Liu Fei hingga ia merasa mereka berdua sangat mirip.


"Saya tidak meminta apa pun. Saya hanya menginginkan kebebasan diriku dari fitnah yang tidak pernah aku lakukan," ucap Xiao Ling.


Liu Fei terdiam begitu juga dengan semua orang, "Baiklah! Tapi, aku ingin engkau ikut ke kekaisaran untuk memberikan kesaksian menjatuhi hukuman kepada Xu Zhu Ping," ujarnya, ia berniat tidak ingin melepaskan Liu Fei begitu saja.


Deg!


Jantung Xiao Ling kembali tercekat, ia tak menduga jika masalah yang ditimbulkannya semakin membuat dirinya terseret semakin dalam.

__ADS_1


"Satu hal lagi, bolehkah kami melihat wajahmu, sehingga membuat masalah ini ke depannya tidak begitu rumit jika ada yang ingin memfitnah dirimu lagi," pinta Liu Fei, ia merasa jika wanita di depannya itu begitu muda dan sangat mirip dengan seseorang.


'Mampus, apa yang harus aku lakukan sekarang ini? Tidak mungkin aku membuka cadarku? Bisa-bisanya Liu Fei akan marah dan memintaku kembali menikahi dirinya,' benak Xiao Ling semakin kacau balau.


"Maaf, Yang Mulia, saya tidak bisa! Kalian akan ketakutan jika melihat wajahku," balas Xiao Ling, ia berusaha untuk memberikan alasan yang tepat yang akan membuat Liu Fei tidak berkeinginan untuk melihat wajahnya.


"Itu hanya perkiraan kami saja! Paling tidak aku ingin melihat wajah orang yang telah menyelamatkan diriku," ujar Liu Fei, ia tak peduli dan merasa sebagai seorang calon kaisar ia memiliki hak untuk itu.


"Maaf Yang Mulia, saya merasa tidak pantas untuk melakukannya, Anda pasti tidak akan merasa enak makan setelah melihat wajah saya," balas Xiao Ling, ia berusaha untuk meyakinkan Liu Fei.


"Kau?!" tegas Liu Fei, ia merasa dipermainkan oleh wanita tersebut.


"Yang Mulia, saya rasa kita harus membawa Xu Zhu Ping ke Chang An untuk diadili," saran Biksu Ching Fei, ia merasa Jendral Tan Jia Li kesulitan untuk meyakinkan Liu Fei agar tidak membongkar kedoknya.


"Hm, baiklah!" balas Liu Fei pada akhirnya, ia masih berharap akan membuka cadar wanita iblis tersebut.


"Baik Yang Mulia!" balas jenderal Lu Yan, ia langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengikat dan memasukkan semua orang termasuk Xu Zhu Ping ke sebuah kurungan penjara terbuat dari besi yang ditaruh di atas pedati.


"Liu Bei, siapkan semua pasukan untuk kita berangkat hari ini. Aku ingin mereka menarik selebaran foto yang diedarkan, mengenai wanita iblis.


"Katakan, 'Jika wanita iblis gadungan sudah tertangkap,' kita akan memberi klarifikasi mengenai masalah ini" ujar Liu Fei kepada adiknya.


"Baik, Yang Mulia!" balas Liu Bei, ia langsung melaksanakan titah abangnya dengan segera.


Xiao Ling sudah menyarungkan pedangnya kembali dan mengikuti Liu Bei yang ingin melaksanakan titah putra mahkota. Selain itu, Xiao Ling tidak ingin jika Liu Fei akan memintanya menemani putra mahkota yang arogan tersebut.


Liu Fei mengamati jika Liu Bei dan wanita iblis itu begitu akrab dan mereka pergi bersama-sama mengatur segalanya.

__ADS_1


'Siapa sebenarnya wanita iblis ini? Mengapa Liu Bei begitu akrab dengannya? Apakah ada rahasia yang sedang mereka sembunyikan?' benak Liu Fei, ia penasaran.


Liu Fei masih terus mengawasi segala apa yang dilakukan oleh bawahannya sambil terus mengamati wanita iblis tersebut.


Tempat tengah hari iring-iringan Liu Fei berangkat ke Chang An, sinar matahari begitu menyengat. Liu Fei membuka tirai jendela kereta kuda dan melihat jika wanita iblis dan Liu Fei masih berjalan beriringan dengan diam tanpa bicara.


'Wanita ini sangat mirip dengan Jia Li, dia juga mengendarai kuda yang berwarna sama dengan milik Jia Li. Apakah mungkin …?' benaknya curiga, 'aku akan meminta Ayahanda Kaisar untuk mengadakan pesta.


'Aku ingin wanita iblis ini membuka identitasnya. Aku sangat yakin jika wanita iblis ini menyimpan banyak rahasia yang tak ingin diketahui oleh orang banyak.


'Lagian, aku merasa jika dia dan Liu Bei memiliki kedekatan secara emosional,' lanjut benak Liu Fei, ia sudah merencanakan banyak hal. Untuk membongkar identitas wanita iblis.


Sementara Xiao Ling dan Liu Bei yang menunggang kuda di bagian paling depan hanya diam, "Xiao Ling, apa rencanamu ke depannya?" tanya Liu Bei, ia merasa jika Liu Fei sangat berminat kepada Jia Li.


'Andaikan Liu Fei tahu jika wanita iblis ini adalah Jia Li? Bagaimana ini? Bisa-bisanya ia menuduhku bersekongkol dengan Jia Li.


'Walaupun itu adalah sebuah kebenaran! Aku harus membuat Jia Li menjauh dari istana dan tidak terperangkap di sana. Tapi, bagaimana caranya?' batin Liu Bei, ia merasa semakin kacau.


Sebagian hati Liu Bei tidak rela jika harus menyerahkan Jia Li kepada Liu Fei sebagai istri. Akan tetapi, ia pun tak bisa melihat Jia Li terluka. Liu Bei merasa dirinya berdiri di antara dua sisi yang membuatnya tidak bisa membuat keputusan secara tepat dan sepihak.


"Hyat! Berhati-hatilah! Ada musuh di depan!" teriak Jendral Lu Yan, ia menarik kejang kudanya untuk berhenti dan mengangkat sebelah tangan.


"Ada apa Lu Yan?" tanya Liu Bei, ia langsung memacu kuda mendekati Lu Yan.


"Yang Mulia! Dari mata-mata yang kukirimkan di depan musuh sedang membuat jebakan! Mata-mata tidak tahu, musuh berasal dari mana. Kita hanya berusaha untuk bersiaga dan melindungi Putra Mahkota Liu Fei!" ujar Lu Yan.


"Baiklah! Bentuk formasi! Lindungi Putra Mahkota! Kita akan melanjutkan perjalanan dengan berhati-hati!" perintah Liu Bei, "waspada dan jangan sampai lengah!" lanjutnya memberi peringatan kepada seluruh prajurit Han.

__ADS_1


__ADS_2