
"Eh, i-iya Yang Mulia! Tapi, wajahnya rusak …," balas Sarnai, ia melihat ke arah Jia Li dengan penuh amarah.
"Bajingan, Kau! Awas kau Jia Li! Aku akan menghancurkan dirimu!" batin Sarnai, ia dipenuhi dengan dendam yang membara.
Sarnai mengingat mereka juga pernah bertempur di lembah Orkhon saat ia membantai pasukan elang.
Xiao Ling hanya diam menatap ke arah Sarnai yang masih marah atas apa yang terjadi. Liu Fei merasakan gencatan senjata di antara keduanya.
Liu Fei tidak ingin jika calon istri dan selirnya akan saling bermusuhan. Liu Fei ingin keduanya hidup damai dengan berdampingan.
"Selir Sarnai dan Jia Li, kalian berdua akan menjadi kakak dan adik. Aku harap kalian berdua saling bahu membahu demi kepentingan Dinasti Han," ujar Liu Fei, ia berharap selir kesayangan dan calon permaisurinya akan bisa duduk berdampingan.
"Yang Mulia, saya tidak bisa menjamin hal itu, karena setiap apa pun yang terbagi tidak akan pernah mendapatkan pembagian yang sama rata. Apalagi, hati!" balas Jia Li, ia langsung membungkuk.
Deg!
Jantung Liu Fei, ia tidak menduga jika Jia Li akan mengatakan hal itu. Sarnai, Liu Bei, dan yang lain sama sekali tidak pernah menduga akan keberanian seorang Jia Li mengungkapkan perasaannya.
"Jia Li, apa maksudmu? Apakah kau menentang titah kaisar tentang pernikahan kalian?!" tanya Sarnai, "aku harus membuat Jia Li dihukum karena menolak pernikahan itu.
"Aku harus membuat Liu Fei merasa jika aku sama sekali tidak menentang pernikahan mereka berdua, malah sebaliknya aku bahagia jika Liu Fei akan menikahi Jia Li.
"Andaikan Jia Li tidak ingin menikah dengan Liu Fei, bukankah ini sangat bagus?" benak Sarnai, ia merasa memiliki kesempatan untuk menyingkirkan Jia Li.
Sarnai menatap Jia Li dengan tersenyum, ia masih mananti apa yang akan dilakukan oleh Jia Li selanjutnya.
"Aku bukan menentangnya. Hanya saja menyuarakan hati kaum perempuan yang lemah yang selalu tertindas. Di saat sang wanita masih cantik semua kumbang ingin mendekat.
"Namun, jika dia sudah tua dan sudah membosankan dan si kumbang akan mencari bunga baru. Apalah artinya? Aku hanya menginginkan cinta suci hingga maut memisahkan. Bukan hanya sekedar pajangan untuk sebuah tujuan segelintir orang.
"Wanita bukan alat yang bisa digunakan! Aku ingin menghabiskan hidupku di perbatasan atau mengembara di dunia persilatan," balas Xiao Ling.
__ADS_1
"Kasim!" teriak Liu Fei, ia marah atas pendapat yang diberikan oleh Jia Li yang terang-terangan menolak pernikahannya.
"Iya, Yang Mulia!" ujar seorang Kasim tergopoh-gopoh mendekat.
"Bubarkan acara makan malam ini, semua sudah selesai. Jendral Liu Bei, malam ini juga pergilah ke perbatasan Mongol!" titah Liu Fei, ia masih menatap sekilas ke arah Xiao Ling yang hanya diam saja tak bergeming.
Kemarahan Liu Fei semakin memuncak karena Jia Li hanya diam bak patung tanpa perlawanan maupun kata lagi.
"Baik Yang Mulia!" balas Liu Bei, ia hanya bisa mengatakan hal itu.
Liu Fei dan Sarnai meninggalkan aula, satu demi satu semua orang ke luar dari ruangan tersebut.
"Jia Li …," panggil Liu Bei, ia merasa Jia Li terlalu berani menentang Liu Fei.
"Ya, kenapa?!" tanya Xiao Ling.
"Apa yang kamu lakukan?! Mengapa kau melakukan semua ini? Ayahanda sudah memberikan titah maka itu wajib kamu lakukan.
"Aku tahu, tapi selama ini aku juga sendirian di setiap perbatasan tanpa keluargaku. Lalu, mengapa aku harus berkorban demi mereka?" ujar Xiao Ling, ia tidak peduli lagi.
"Aku akan ke Chang An, menghadap Yang Mulia Kaisar Liu Bang. Jika hanya ingin menjadikanku sebagai pion agar aku tidak memberontak sehingga mengikatku menjadi seorang permaisuri.
"Aku rasa itu tidak ada artinya! Aku lebih baik dihukum mati daripada aku harus menikah dengan orang yang tidak aku cintai apalagi, yang terang-terangan selalu berbohong!" ujar Xiao Ling, "maaf Yang Mulia Pangeran, saya undur diri!" lanjut Xiao Ling.
Xiao Ling tanpa banyak bicara lagi langsung undur diri bersama dayang meninggalkan Liu Bei yang terdiam, ia tidak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Jia Li.
"Bagaimana ini? Jia Li begitu bodoh! Ayahanda akan dipengaruhi Ibunda Ratu dan Liu Fei maka, keluarga Tan akan dieksekusi!" Benak Liu Bei, ia ngeri membayangkan hal itu.
Suara derap langkah kaki kuda bergema memasuki benteng perbatasan Luoyang. Semua orang berlari ke arah pintu masuk ingin melihat apa yang sedang terjadi.
"Ampun Yang Mulia! Saya membawa surat dari Jendral Yama di perbatasan Mongol," ujar seorang prajurit langsung berlutut mengeluarkan gulungan kertas dan memperlihatkan plakat dari kekaisaran Han.
__ADS_1
"Baiklah!" balas Liu Fei, ia langsung membuka gulungan dan membaca gulungan tersebut.
["Yang Mulia, Liu Fei. Saya mohon bantuan pasukan untuk melawan pemberontakan di perbatasan Mongol! Pasukan Qin dan Mongol bekerja sama. Keadaan sedang terjepit dan mengerikan!"] isi gulungan surat tersebut.
"Apa?! Bajingan sekarang Qin sudah memperlihatkan taringnya! Mereka benar-benar bekerja sama dengan Mongol? Bajingan!" umpat Liu Fei marah, ia terdiam sejenak.
"Sebaiknya aku mengirim Liu Bei ke sana! Lebih baik dia mati di perbatasan, agar Jia Li tidak mengingatnya apalagi semakin mencintainya!" benak Liu Fei, ia berniat untuk memisahkan dan membunuh Liu Bei di pertempuran.
"Liu Bei, pergilah ke sana! Bawa pasukan!" titah Liu Fei.
"Baik Yang Mulia!" balas Liu Bei, ia langsung undur diri untuk mempersiapkan pasukan yang akan dibawanya.
Liu Fei melihat Jia Li hanya diam tidak peduli dengan apa yang terjadi, ia berjalan meninggalkan semua orang tanpa ingin mau tahu lagi.
"Ada apa dengan Jia Li? Sepertinya dia tidak peduli dengan keadaan kekaisaran? Apa yang sedang direncanakannya!" batin Liu Fei, ia masih menatap kepergian Jia Li yang tak melihat kepergian Liu Bei.
"Baguslah! Jika dirinya sudah sadar untuk meninggalkan Liu Bei," ujar Liu Fei.
Namun berselang beberapa saat kemudian, Jia Li muncul dengan baju zirah lengkap dengan pedangnya.
Semua orang terperanjat melihat semua itu.
"Jia Li! Apa yang kau lakukan?" tanya Liu Fei, ia tidak mengerti.
"Yang Mulia! Aku adalah Jendral Jia Li seorang komandan dari pasukan Phoenix yang melindungi Kekaisaran Han dari pemberontakan!" ujar Jia Li, ia langsung menunjukkan plakat yang diberikan oleh Yang Mulia Kaisar Liu Bang yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
"Mulai detik ini, aku akan memenuhi kewajibanku sebagai komandan bayangan Phoenix merah! Pasukan!" teriak Jia Li, ia masih berputar di atas pelana wenwen.
"Hidup Yang Mulia Jendral Tan Jia Li!" teriakan bergema dari 20 orang pasukan Jia Li yang selalu bersiap.
Pasukan Tan Jia Li langsung melesat naik ke punggung kuda masing-masing membuat Liu Fei terdiam tidak menduga jika calon permaisurinya lebih memilih kematian daripada hidup bersama dirinya.
__ADS_1