Jendral, I Love You!

Jendral, I Love You!
Tak ingin menyeret orang yang dikasihi


__ADS_3

"Maha guru Ching Fei tersenyum dengan arif, Amithopo! Jendral Jia Li adalah seorang wanita ayang luar biasa hebat dan baik. Selain itu, jendral Jia Li juga selalu menolong siapa pun, yang membutuhkan bantuan," balas Biksu Ching Fei.


Biksu Ching Fei mengingat jika Jendral Tan Jia Li yang selalu memiliki perasaan welas asih dan kasih sayang kepada semua orang tanpa memandang asal dan kedudukan orang-orang.


Namun, Biksu Ching Fei tidka menduga jika jendral yang telah dikabarkan mangkat malah masih hidup dan berubah menjadi wanit aibkis yang akhir-akhir ini namanya kerap mengguncangkan dunia persilatan.


Di mana Wanita Iblis tersebut kerap menolong para rakyat yang menderita dengan mengusir dan menghalau perampok dengan seornag diri.


"Maha Guru, saya mohon, sembuhkanlah Jendral Jia Li. Saya tahu, jika semua orang di kekaisaran dan mungkin dunia persilatan mengetahui jika beliau sudah wafat.


"Siapa yang menyangka jika dirinya telah menjadi wanita iblis," ujar Liu Bei, ia tidak ingin siapa pun tahu akan hal itu.


"Maha Guru saya harap tak seorang pun yang tahu jika Jenderal Jia Li masih hidup. Saya tidak ingin, Ayahanda dan Liu Fei beranggapan jika Jia Li membangkang karena tidak mematuhi titah Yang Mulia Ayahanda.


"Semua itu karena Jia Li tidak ingin menikah dengan putra mahkota," papar Liu Bei, ia tak bisa berbohong kepada Ching Fei.


"Aku pun tidak tahu mengapa Jia Li tidak ingin menikahi putra mahkota," papar Liu Bei, ia menatap wajah Jia Li yang pingsan di pembaringan dengan wajah pucat.


"Jangan khawatir, Pangeran. Mungkin beliau memiliki alasan tersendiri, sehingga menolak perjodohan dan titah dari Kaisar Liu Bang," balas Biksu Ching Fei dengan bijaksana.


Ching Fei hanya menghela napas, ia mengangkat tangan kanan dan meletakkan di dada seakan sedang menyembah kepada Dewa.


"Baiklah, aku akan memeriksanya Pangeran," ujar Ching Fei, ia langsung mengangkat tangan dan hanya mengambang tanpa menyentuh tubuh Jia Li, sebuah kilatan cahaya tak kasat mata langsung menuju tubuh Jia Li hingga asap kehitaman muncul bertepatan dengan tubuh Jia Li muntah darah.


"Huek!"


"Xiao Ling," lirih Liu Bei, ia langsung mendekat ke arah Xiao Ling dan memegangi tubuh Xiao Ling yang disandarkan di dadanya untuk menerima pembersihan segala racun dan totokan darah di setiap aliran nadi di tubuh Xiao Ling yang tersendat.

__ADS_1


Berulang kali Xiao Ling muntah darah berwarna kehitaman hingga terkulai lemah, Yan'er muncul dengan secangkir ramuan kental berwarna hijau.


"Pangeran berikan ramuan itu kepada Nona Tan Jia Li," perintahkan Ching Fei, ia menatap wajah Jia Li yang lemah.


Xiao Ling menatap nanar kepada Biksu Ching Fei dan Liu Bei berulang kali, ia sangat bersyukur berada di tangan yang tepat.


'Paling tidak aku merasa aman berada di tangan mereka daripada di tangan musuh,' benaknya.


"Terima Kasih, Biksu …," lirih Xiao Ling, ia mengingat wajah biksu yang lembut itu.


"Istirahatlah, Nona Tan. Luka lamamu terlalu serius dan engkau membiarkan luka itu begitu saja, mungkin jika orang lain, engkau sudah lama tewas.


"Beruntung sekali, engkau meminum ramuan penangkal seribu racun milik suku elang," ujar Biksu Ching Fei, ia tak menduga jika klan elang di lembah Orkhon masih tersisa.


Xiao Ling mengingat ramuan yang diberikan oleh Sarai di lembah Orkhon, Xiao Ling merasakan sebuah kerinduan kepada Sarai. Namun, ia telah melanglang buana selama tiga bulan akan tetapi, ia sama sekali tidak pernah bertemu dengan Sarai.


"Pangeran, saya akan undur diri dulu. Um, satu hal, besok putra mahkota Liu Fei akan mengunjungi biara, aku berharap Anda menghadiri pertemuan itu." Biksu Ching Fei menoleh kepada Jia Li yang terdiam menatap kepada Liu Bei.


"Jangan khawatir, Biksu. Terima kasih atas pertolongannya," balas Xiao Ling, ia ingin mengangkat tubuhnya untuk melakukan penghormatan.


Namun, Biksu Ching Fei mengangkat tangannya untuk membiarkan Xiao Ling tetap berbaring, ia berpikir sejenak dan menangkap kilatan rasa panik yang diperlihatkan oleh Jenderal Jia Li mendengar kedatangan putra mahkota Liu Fei.


Selain itu, Biksu Ching Fei melihat kilatan rasa kasih sayang yang jelas terlihat di antara jenderal Jia Li dan Pangeran Liu Bei.


"Amithopo! Semoga Dewa-dewa melindungi!" salam Biksu Ching Fei sebelum beranjak pergi meninggalkan keduanya.


'Malapetaka akan terjadi di bawah langit kekaisaran Han. Semoga Dewa memberikan jalan yang terbaik untuk menyelamatkan semua umat manusia dari kekejaman dan tirani yang mungkin akan terjadi sebentar lagi,' benak Biksu Ching Fei mendesah.

__ADS_1


Biksu Ching Fei melihat dengan mata telanjang dan batin secara jelas jika antara Liu Bei dan Tan Jia Li memiliki keterikatan batin dan rasa cinta yang tulus. Biksu Ching Fei hanya mendesah dan berdoa agar segalanya menjadi lebih baik.


***


Sementara Xiao Ling masih bersandar di dada Liu Bei yang mencoba meminumkan ramuan secara perlahan.


"Liu Bei … di mana ini? Aku harus pergi …," lirih Xiao Ling, ia tak ingin jika Liu Bei akan terseret akan masalah yang sedang dihadapinya.


Apalagi ia mendengar jika putra mahkota Liu Fei akan mengunjungi biara tersebut, "Tenanglah! Ini di biara Shaolin.


"Liu Fei tidak akan mungkin berbuat nekad, jika ia mengetahui dirimu di sini. Kamu sedang terluka, aku akan mencari cara untuk mengobati dan menyembunyikan dirimu sementara waktu ini.


"Jika kamu pergi sekarang aku takut kamu terluka dan … kamu kemungkinan tidak bisa melawan musuh. Mengapa kamu tidak kembali saja menjadi Tan Jia Li saja lagi?" usul Liu Bei, ia tak sanggup jika harus melihat Xiao Ling harus menjadi buruan kekaisaran dan Pendekar persilatan.


"Aku lebih senang melihatmu menjadi permaisuri Han daripada harus tewas, Jia Li," lirih Liu Bei dengan perasaan tulus meskipun harinya tak rela.


"Apa?! Hahaha, jika aku masih menginginkan posisi jenderal atau permaisuri, aku tidak akan berusaha payah harus menjadi seperti sekarang ini, Liu Bei." Xiao Ling terdiam menatap mata bening milik Liu Bei yang teduh dan memberikan sebuah kenyamanan di jiwanya.


"Bukankah sudah aku katakan kepadamu, jika aku tidak ingin menikahi Liu Fei. Mengapa kamu tidak mengerti juga?" ketus Xiao Ling, ia masih tak mengerti.


'Hatimu benar-benar terbuat dari batu. Mungkinkah hatimu sudah dimiliki oleh Chu Zhuzhu?' benak Xiao Ling, ia mengingat nama tunangan Liu Bei


Xiao Ling merasa penasaran dengan wajah tunangan Liu Bei yang bernama Chu Zhuzhu, 'Mungkin … wajahnya sangat cantik, lembut, dan … sangat jauh berbeda dengan diriku,' batin Xiao Ling perih.


Liu Bei menatap wajah Jia Li yang termenung menatap lantai dengan penuh kekosongan, ia merasa jika wanita di depannya begitu memikirkan banyak hal.


"Xiao Ling," lirih Liu Bei, ia membelai lembut kepala Jia Li dengan penuh perasaan kasih.

__ADS_1


"Apa yang engkau pikirkan? Berbagilah denganku? Aku tidak suka, melihatmu memendam sesuatu," bisik Liu Bei.


Xiao Ling terkesiap, "Liu Bei, aku tidak ingin menyeretmu di dalam masalahku. Kau tahu, aku memiliki banyak musuh," jawab Xiao Ling, "biarkan aku pergi …," lanjutnya.


__ADS_2