
"Apa yang terjadi?" tanya Tan Yu Ji, ia langsung berjongkok dan memeriksa mayat si pelayan.
"Siapa yang telah melakukan semua ini?" tanyanya seakan pada dirinya sendiri.
Semua pelayan yang membawa nampan hidangan langsung bersujud ketakutan, "Ampun Yang Mulia! Kami tidak tahu!" ucap mereka serempak.
"Periksa semua pelayan di dapur! Tangkap dan interogasi mereka!" teriak Tan Yu Ji, ia ingin menangkap pelaku yang telah melakukan hal tersebut.
"Aku ingin kalian mendapatkan jawaban akan insiden ini! Aku ingin tahu, apakah kerajaan Donglai yang telah merencanakan semua ini?!" tegasnya, ia mulai murka.
"Jika mereka berani macam-macam dan berlaku curang! Aku tidak akan segan-segan melakukan kudeta untuk memulai perang dengan mereka!" tegas Tan Yu Ji, ia tak ingin terjadi sesuatu kepada putra mahkota.
"Bajingan! Apakah mereka berniat ingin membunuh putra mahkota Liu Fei?" ujar Tan Yu Ji, ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan putra mahkota yang sudah ditugaskan oleh kaisar Liu Bang.
Tan Yu Ji tak ingin kecolongan apalagi, nasib keluarganya dipertaruhkan di dalam segalanya. Tan Yu Ji mengetahui jika ayahnya Tan Xi Kin sudah mati-matian mempertahankan kekuasaan yang dimiliki di kekaisaran untuk terus bertahan dan mengabdi dengan sebuah kejujuran.
'Aku tak ingin ayahanda semakin tersiksa jika aku gagal, sementara Kakak Jia Li, sama sekali tak ingin tahu dan tak mau pulang. Sepak terjangnya telah membuat kekaisaran Han begitu takut pada kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya.
'Sehingga ayahanda terpaksa menyetujui titah pernikahan Jia Li dengan Putra Mahkota Liu Fei,' batin Tan Yu Ji,ia semakin kacau.
'Sementara Ayahnya mendukung jika pangeran kedua Liu Bei yang lebih cocok menjadi penerus Kaisar Han selanjutnya. Tapi,' benak Tan Yu Ji.
"Tidak perlu! Si pembunuh bukan berasal dari pelayan di dapur tapi, dari seseorang yang sengaja memaksanya. Lihatlah ini!" ucap Xiao Ling, ia menunjukkan jarum yang menancap di tubuh si pelayan yang telah tewas.
"Um, aneh … ini seperti dari pendekar racun. Tapi, mengapa pendekar Xu Zhu Ping bisa ikut campur di dalam semua ini?" tanya Liu Bei, ia mengenali senjata rahasia Xu Zhu Ping yang terkenal.
"Xu Zhu Ping?!" lirih Tan Yu Ji, ia mengerutkan dahinya dan tidak mempercayai hal itu.
"Tapi, bagaimana mungkin? Bukankah pendekar Xu Zhu Ping telah meninggal dunia?" tanya Tan Yu Ji, ia pernah mendengar akan hal itu.
"Ya, tapi … apakah ada yang benar-benar pernah melihat mayatnya? Tidak ada bukan? Itu hanya rumor yang dilakukan oleh sekte miliknya yang telah melakukan provokasi tersebut.
__ADS_1
"Agar Shaolin dan Sekte Racun Xu tidak lagi bertentangan!" balas Liu Bei, ia mengingat semua cerita itu saat masih berada di biara shaolin.
Tan Yu Ji terdiam, ia merasa apa yang dikatakan oleh pangeran Liu Bei adalah suatu kebenaran karena Liu Bei sendiri adalah murid dari biara Shaolin.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan Yang Mulia?" bisik Tan Yu Ji, ia sudah berjanji kepada Liu Bei untuk tidak membongkar kedoknya di Donglai juga kepada Liu Fei.
"Perkuat keamanan kepada Yang Mulia Putra Mahkota, awasi selir Sarnai. Jangan biarkan selir Sarnai keluar dari istana Donglai," pinta Liu Bei, ia merasa curiga dengan Sarnai mengingat sepak terjangnya di lembah Orkhon.
"Jika benar apa yang dikatakan oleh biksu Wu, maka … sekte racun Xu selama ini sengaja melakukan rumor itu untuk membangun kekuatan yang lebih hebat bersama dengan pendekar persilatan dari dunia hitam!" balas Liu Bei, ia masih mengingat kisah tersebut.
"Baiklah, Yang Mulia!" balas Tan Yu Ji, ia melihat ke arah Xiao Ling yang masih menatap ke arah mayat si pelayan.
"Hei, Kau! Aku minta padamu untuk mengawasi dan melindungi Yang Mulia putra mahkota di ruangannya!" perintah Tan Yu Ji pada Xiao Ling yang tercekat.
"A-apa?" lirih Xiao Ling, ia sama sekali tidak menduga akan hal itu.
Xiao Ling merasa menyesal telah menggunakan kepintarannya untuk mendeteksi apa yang sudah terjadi kepada si pelayan.
Xiao Ling hanya tidak ingin jika para pelayan yang tak bersalah harus menanggung ketidakadilan hanya karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab.
'Sialan! Dasar adik tidak memiliki akhlak! Enak saja, kau memerintahku sembarangan! Padahal kedudukanku lebih tinggi darimu!' umpat benak Xiao Ling, ia melihat ke arah Liu Bei yang menatapnya.
"Pergilah, Xiao'er!" perintah Liu Bei, ia tak rela tapi sudah terjadi sehingga ia pun hanya pasrah menjalani semua yang telah terjadi.
'Dasar Liu Bei, sialan! Bisa-bisanya dia malah membiarkan diriku harus melindungi putra mahkota yang mesum itu sih? Ck, mana harus ketemu dengan siluman rubah lagi!' benaknya membayangkan Sarnai yang setiap waktu berada di sisi Liu Fei.
Xiao Ling mencebikkan bibir menatap kepada Liu Bei dengan perasaan kesal dan ingin kabur tetapi, ia tahu ia tidak memiliki pilihan selain menuruti semua perintah tersebut tanpa menolak karena pakaian yang dikenakan adalah pakaian prajurit rendahan.
"Jangan salahkan aku jika aku makin lengket dengannya? Jangan cemburu padaku!" bisik Xiao Ling, ia sengaja mengancam dan berbisik pada Liu Bei yang terdiam tidak menduga akan apa yang diucapkan oleh Jia Li.
"Jangan macam-macam denganku! Ingat! Lakukan tugasmu, bukan menggoda calon suamimu! Jika kau tidak ingin Yu Ji tahu, siapa dirimu yang sebenarnya?" balas Liu Fei mengancam.
__ADS_1
Xiao Ling hanya melotot menatap kepada Liu Bei, ia tak menduga jika mereka sama-sama memiliki skil di dalam hal mengancam dan saling menjatuhkan juga bertahan dengan opini dan argumentasi masing-masing.
'Sialan! Seharusnya aku bertanya pangeran dingin ini lahir di bulan apa dan zodiaknya apa sih? Jangan-jangan dia suhu dan aku pawangnya atau sebaliknya! Sulit banget ngalahin dirinya?!' batin Xiao Ling, ia mempercayai astronomi tersebut.
'Jangankan menang, seri pun sulit!' benak Xiao Ling kesal.
"Pergilah Xiao'er … nanti aku akan menjengukmu!" ucap Liu Bei, ia tersenyum penuh makna.
'Ck, tahu begini … aku tidak ingin menyamar menjadi prajurit rendahan! Ah, sudahlah! Terserahlah, mau bagaimana lagi?' batin Xiao Ling, ia pun mengikuti Tan Yu Ji ke ruangan Liu Fei.
Di sepanjang jalan keduanya hanya diam, Xiao Ling melirik kepada adiknya yang sangat tinggi, ia menyadari mereka memiliki proporsi tulang yang besar dan wajah yang tampan juga cantik dengan bentuk hidung serta mata juga sifat introvert yang sama.
"Um, kalau boleh tahu, kamu dari pasukan mana?" tanya Tan Yu Ji, ia merasa jika prajurit rendahan di sisinya bukanlah prajurit biasa.
Namun, ia merasa jika prajurit di sisinya bukanlah anak buah dari Liu Bei karena ia mengenali semua anak buah Liu Bei.
"Um, saya … dari bawah komando Jendral Tan Jia Li," balas Xiao Ling, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Tan Yu Ji jika mendengar nama kakaknya.
"Apa?!" ujar Tan Yu Ji, ia langsung menghentikan langkah kaki dan menoleh kepada Xiao Ling.
Tan Yu Ji memandang ke arah Xiao Ling, ia mencari kebenaran di sana dengan memperhatikan pria kecil di depannya. Meskipun untuk sebagian pria dia sangat mungil dan bagi sebagian wanita ia sangat tinggi.
"Ya, Yang Mulia," balas Xiao Ling, ia menatap pada Tan Yu Ji yang masih memperhatikan dirinya dengan diam.
"Bagaimana kabar Jendral Tan Jia Li? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Tan Yu Ji, ia ingin tahu dan rindu ingin bertemu dengan kakaknya.
"Terakhir saat kami masih bersama Jendral Tan baik-baik saja! Tapi, Beliau mengutusku untuk menemani yang Mulia Pangeran Liu Bei ke Donglai tapi, badai pasir telah melemparkan kami ke Mongol sehingga kami berpisah di gurun pasir.
"Sekarang, hamba tidak tahu kabar Yang Mulia Jendral Tan," lirih Xiao Ling, ia sedikit membungkukkan tubuhnya.
Xiao Ling melihat Tan Yu Ji terdiam, ia menghela napas panjang dan melanjutkan perjalanan tanpa bicara apa pun lagi. Akan tetapi, Xiao Ling dapat merasakan kekhawatiran dan rasa sedih di benak Tan Yu Ji.
__ADS_1