
"Maafkan kami, karena kami … sukumu …," ujar Xiao Ling, ia merasa bersalah.
"Bukan … aku rasa semua ini bukan karena ulah kalian. Aku malah bersyukur, kalian telah menolong kami berulang kali, semua ini karena Sarnai.
"Um, sebaiknya tinggalkan tempat ini secepatnya," ujar Saray, ia tidak ingin jika prajurit Mongol akan menyerang mereka.
"Lalu bagaimana dengan Anda, Nona? Apakah tidak sebaiknya kamu ikut dengan kami?" saran Liu Bei, ia tidak tega meninggalkan Saray sendirian di sana.
"Jangan khawatir! Aku akan pergi untuk mengembara dan menyembuhkan lukaku. Kelak, kita pasti bertemu, aku akan membalas budi baik kalian!" ujar Saray, ia meletakkan tangan kanan di dada.
Saray kembali menatap makam dan mengambil pedang milik Shunyuan, "Kakak, aku akan mengambil pedang ini … aku ingin engkau selalu bersamaku," lirih Saray, "aku akan membalaskan dendam suku kita," janjinya.
Saray berdiri menatap bintang di langit gelap, "Yang Mulia Liu Bei dan Jendral Jia Li, maaf … kalian harus terseret di dalam semua ini.
"Um, kakakku sudah berjanji akan mengantar kalian ke perbatasan Mongol dan Donglai, aku akan menggantikannya," ujar Saray, ia tidak ingin janji Shunyuan tidak terpenuhi.
"Saray, tidak usah! Kamu juga membutuhkan tenaga untuk perjalananmu. Katakan saja, arah mana yang akan kami lalui?" saran Liu Bei, ia tersenyum memandang ke arah Saray yang terdiam dan berusaha untuk tegar.
Hanya di dalam semalam Saray kehilangan segalanya, Liu Bei dan Xiao Ling bisa merasakan kemelut kehancuran dan kesedihan di jiwa Saray.
"Terima kasih, Yang Mulia! Kalian bisa mengikuti jalan itu! Teruslah berjalan, jangan menyentuh apa pun selain bunga-bunga! Aku akan berusaha untuk menuntun kalian dengan helaian bunga-bunga lembah Orkhon.
"Ikutilah, maka kalian tidak akan tersesat. Berhati-hatilah!" ujar Saray, "aku sudah lama tidak ke arah sana, sehingga aku tidak tahu jebakan apa lagi yang dilakukan perampok di sana," lirih Saray, ia sangat yakin jika Sarnai telah melakukan banyak hal demi tujuannya.
"Apalagi, Sarnai masih hidup … dia Sanga licik!" tukasnya, ia tidak menyangka saudara kembarnya bisa begitu mengerikan hanya karena sebuah harta dan kedudukan.
"Terima kasih, Saray! Semoga kita 'kan terus menjadi sahabat," ujar Xiao Ling, ia merasa baru pertama kali bertemu dengan wanita yang baik dan bisa menjadi best friend-nya.
"Tentu saja Xiao Ling, aku suka nama itu daripada jendral Jia Li, bukan maksudku apa-apa! Aku merasa tidak bisa bersahabat dengan Jia Li karena dia adalah wanita hebat," ucap Saray, ia tersenyum.
__ADS_1
Keduanya saling berpelukan sebelum berpisah, Saray melantunkan sebuah kidung aneh di dalam bahasa suku elang hingga helaian bunga-bunga berterbangan membentuk kumpulan kupu-kupu indah yang terbang menuntun Xiao Ling dan Liu Bei.
"Silakan, semoga kelak kita bertemu lagi! Antarkan Yang Mulia Pangeran Liu Bei dan Jendral Jia Li ke perbatasan lembah Orkhon dan Donglai," bisik Saray dengan irama yang lembut kepada kupu-kupu yang mengelilinginya dan melesat ke arah jalanan menarik tubuh Liu Bei dan Xiao Ling untuk mengikuti mereka.
Xiao Ling melihat ke belakang ke arah Saray yang menatap mereka dengan lambaian tangan sebelum menghilang menjadi kelopak bunga-bunga indah terbang ke arah berlawanan.
Xiao Ling menarik napas tidak percaya dengan mimpinya, "Mengapa begitu rumit sih, hidup di zaman ini?" keluh Xiao Ling, ia tidak menyadari perkataan yang terucap dari bibirnya.
"Apa maksudmu? Seakan-akan kamu bukan dari dunia ini?" tanya Liu Bei, ia menatap ke arah Xiao Ling heran.
"Eh, maksudku … tinggal di lembah Orkhon yang indah ini dipenuhi dengan sihir dan ya, begitulah!" ucap Xiao Ling, 'dasar bego! Aduh, Xiao Ling … mengapa sih, kamu tidak bisa mengontrol mulutmu?!' benaknya.
Xiao Ling tidak menduga jika pangeran kedua kekaisaran Han memiliki kuping setajam kalelawar. Xiao Ling mencebikkan bibirnya, ia melihat barisan kupu-kupu yang masih terus berada di depan mereka.
"Sangat indah, bukan? Andaikan tidak terjadi perang … semua ini sangat luar biasa …," ucap Xiao Ling, ia ingin mengabadikan semua itu.
'Ck, sayang sekali di era ini tidak ada ponsel android atau kamera digital! Aduh, aku harus lompat beberapa ratus abad ke depan," benaknya getir, ia merindukan semua itu.
Liu Bei mengingat perjalanan pertamanya ke lembah Orkhon bertahun lalu kala ia masih berada ia biara Shaolin, ia rindu kehidupan damai yang hanya menjalankan perintah sang Budha.
Keduanya terus berjalan secepatnya mengikuti kupu-kupu hingga tiba di perbatasan Lembah Orkhon dan Donglai kala fajar telah menyingsing di ufuk timur.
Kupu-kupu hanya mengitari dan mengecup wajah mereka sebelum lenyap menjadi debu. Xiao Ling hanya termangu menatap semua itu, ia ingin membawa pulang kupu-kupu ajaib itu ke dunia nyata.
Namun, ia tahu semua itu adalah hal yang tak mungkin bisa dilakukan. Semua itu hanyalah sebuah sihir semata, "Apakah di depan Donglai?" tanya Xiao Ling penasaran.
"Ya, di depan adalah Donglai. Ayo, aku harap Lie Feng dan Lin Wei juga yang lain berhasil tiba di Donglai meskipun mungkin barang dagangan sudah tidak ada lagi," balas Liu Bei, ia berjalan terlebih dulu di depan.
Xiao Ling mengekor di belakang dengan diam menikmati panorama indah Donglai, ia menoleh ke belakang di mana bayangan Saray, masih menatap mereka.
__ADS_1
"Semoga kelak kita akan bertemu lagi, Saray …!" ujar Xiao Ling pelan.
"Ya, jika masih ada keberuntungan pasti bertemu kembali …," timpal Liu Bei, ia tersenyum dengan manis.
Keduanya terus berjalan hingga tiba di sebuag sungai berair jernih, "Wah, indah sekali!" teriak Xiao Ling, ia langsung berlari menceburkan diri ke dalam sungai ia ingin mandi.
Xiao Ling tidak peduli jika Liu Bei menatapnya dengan tatapan merendahkan, Xiao Ling berenang ke sana kemari dengan mengenakan pakaian lengkap dan senjata di tubuhnya.
'Segar sekali! Andaikan Liu Bei tidak ada, aku pasti sudah membuka semua pakaianku,' lirih batin Xiao Ling.
Liu Bei masih menoleh ke sana kemari memeriksa keadaan, ia tidak ingin diserang musuh disaat mereka sesnag lengah.
"Wei! Apakah kamu tidak mandi? Di sini segar sekali!" ujar Xiao Ling, ia sudah berenang gaya kupu-kupu ke sana kemari.
"Tidak!" balas Liu Bei, ia melihat ikan berenang dan langsung melesat menangkapnya dengan kekuatan tenaga dalam yang sangat luar biasa.
"Wah! Kamu hebat sekali! Ajarin aku dong?" pinta Xiao Ling, ia berenang mendekat kepada Liu Bei.
"Apa?! Kau sangat hebat mengapa hanya menangkap ikan saja mesti diajarin? Aneh sekali!" ujar Liu Bei, ia tidak mengerti.
"Apa?! Aku …," lirih Xiao Ling, 'bagaimana aku tahu? Aku sama sekali tidak pernah menangkap ikan dari sungai langsung? Aneh banget!' pikir Xiao Ling.
"Ajarin dong?!" rengek Xiao Ling.
"Yee, enak aja! Kamu nggak usah pura-pura nggak bisa! Aku sangat yakin, kalau kamu pasti bisa!" ucap Liu Bei, ia tidak peduli dan langsung membersihkan ikan dan memanggangnya.
"Dasar pelit!" umpat Xiao Ling, ia langsung mengerahkan tenaga dalam seperti yang dilakukan oleh Liu Bei.
Namun, kekacauan terjadi air sungai malah bergulung-gulung semakin tinggi ke udara dan menghempaskan semua ikan-ikan ke daratan.
__ADS_1
"Woi! Apa yang kamu lakukan? Apakah kau ingin memberi makan satu pasukan?" jerit Liu Bei tidak percaya akan kehebatan Xiao Ling.