
Xiao Ling terus berlarian ke sana kemari di sepanjang gurun membentuk pola zig-zag, ia bagaikan seorang anak kecil, Xiao Ling seakan dikejar-kejar sesuatu. Xiao Ling sendiri tidak menyadari jika panah dan pedang sama sekali tidak menyentuh tubuhnya karena Nona Yang'er telah menahan semua itu dengan kekuatan sakti kecapi dan tenaga dalam miliknya.
Trang! Tring!
Selain itu, Liu Bei telah tiba dengan kudanya dan langsung melesat menangkis semua senjata agar tidak mengenai Xiao Ling yang terus berlari tak tentu arah.
'Ada apa dengan Jia Li?' batin Liu Bei bingung, ia ingin bertanya tetapi masih berusaha untuk menghancurkan serangan senjata musuh yang terus menghujani mereka.
Xiao Ling malah sudah berlari ke arah musuh hingga membunuh para prajurit yang masih terperanjat akibat tingkah jendral aneh tersebut.
"Apa yang dilakukannya? Dasar jendral gila! Dia bukan hanya terkenal sebagai wanita iblis tapi juga gila!" umpat Kong Tian, ia berusaha untuk menepis serpihan jaring yang berhamburan ke arahnya.
"Masuk ke bawah tanah!" teriak Kong Tian, ia tidak ingin prajuritnya mati sia-sia.
Beberapa prajurit iblis langsung melesat masuk kembali ke dalam gurun, semua mencoba untuk menyelamatkan diri masing-masing.
Jreng! Jrang! Jreng!
Akan tetapi, Yang'er si penguasa gurun tidak membiarkan hal itu. Pasir gurun malah melontarkan tubuh prajurit ke angkasa akibat petikan kecapi yang tak lagi beraturan seakan si pemilik sedang marah.
"Hancurkan mereka Yang Mulia Pangeran! Jangan biarkan mereka kabur!" teriak Yang'er, ia tidak ingin jika musuh menggunakan lorong bawah tanah dengan kekuatan Jian Pho bak tikus yang bisa pergi ke mana pun melalui media pasir.
Liu Bei melesat menarik tombak panjangnya ke udara menebas semua musuh dengan kecepatan yang luar biasa.
"Bajingan!" umpat Jian Pho, ia langsung melesat ingin membunuh Yang'er hingga wanita cantik itu pun melesat ke arah Jian Pho, keduanya saling adu pukul di udara dengan kekuatan yang sangat luar biasa.
"Rasakan ini!" teriak Jian Pho, ia langsung menggunakan cakar dan kekuatan dewa mabuk miliknya yang disalahgunakan oleh Jian Pho hingga membuatnya terbuang dari perguruan kecapi gurun.
Kekuatan demi kekuatan melesat di angkasa bak pelangi saling menghantam dan membunuh musuh akan tetapi, serangan Jian Pho sama sekali tak ada artinya bagi Yang'er.
__ADS_1
"Kau tidak akan bisa membunuhku, Kakak Seperguruan!" tukas Yang'er tersenyum manis.
"Yang'er, kau bodoh sekali! Apa yang kau dapatkan menjadi orang baik? Kau tetap miskin dan hanya sebagai penjaga gurun tandus ini!" umpat Jian Pho.
"Hahaha, tapi aku bahagia!" balas Yang'er tak peduli, ia terus melesat berusaha untuk mengalahkan Jian Pho.
Sementara Xiao Ling masih terus berlari dengan kekuatan yang semakin luar biasa kencang, ia merasa seakan anak panah masih saja mengejarnya.
"Woy! Apa yang kau lakukan Jia Li? Kau gila!" teriak Liu Bei, ia masih melesat ke sana kemari di angkasa berusaha menghancurkan kekuatan musuh agar tidak kembali ke dalam gurun.
"Apa?! Woy! Enak saja kau bilang aku gila! Aku masih waras! Jika aku gila aku pasti di rumah sakit jiwa!" umpat Xiao Ling, ia berhenti dan berkacak pinggang menatap ke arah asal suara.
"Apa?! Rumah sakit jiwa? Apa itu?!" balas Liu Bei, ia pun kembali berteriak.
"Liu Bei?! Wey! Aku merindukanmu!" teriak Xiao Ling, ia senang bukan kepalang melihat Liu Bei melebihi memenangkan sebuah kasus receh yang ditugaskan Arnold untuk membela pencuri miskin di jalanan Avenue - Boston melawan mafia.
Bruk!
"Hah?! Kenapa kau jatuh?" tanya Xiao Ling bingung, ia sudah melesat menghampiri dan berdiri di hadapan Liu Bei sambil membungkuk menatap tubuh pangeran tampan yang terkapar di gurun pasir.
"Dasar gila!" umpat Liu Bei, ia merasakan rasa malu untuk pertama kali di hidupnya.
Liu Bei tidak menyangka hanya dengan sebuah ucapan kata rindu dirinya malah terkapar jatuh dan tak bisa menguasai diri, hanya sepenggal kata yang sama sekali tak pernah diimpikan akan diucapkan seorang gadis hebat kepadanya.
"Woy! Sudah aku bilang aku ini waras! Enak saja! Ayo!" ketus Xiao Ling, ia pun langsung mengulurkan tangan mencoba untuk menarik tubuh Liu Bei yang sedikit enggan menyentuh calon kakak iparnya.
"Ya, sudah kalau tidak mau!" balas Xiao Ling, ia menarik tangannya.
Akan tetapi, Liu Bei langsung menangkap tangan mungil yang kuat dan penuh kasih sayang tersebut, Xiao Ling menarik tubuh Liu Bei untuk berdiri.
__ADS_1
"Jia Li … aku mohon, cukup sekali ini saja kau katakan kalimat itu!" ujarnya, ia merasa tidak enak hati jika sampai Liu Fei yang posesif akan mendengar ucapan gila calon istrinya.
"Kalimatku yang mana?" tanya Xiao Ling bingung, ia pun tidak menduga jika telah mengatakan kata "Rindu".
"Apa?!" ketus Liu Bei, ia ingin mencekik gadis cantik tidak tahu sopan santun yang berpura-pura bodoh di depannya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Lupakan saja!" balas Liu Bei, ia lelah secara emosional.
Keduanya malah serius bicara seakan tidak berada di medan pertempuran sambil sekali-kali menebaskan pedang dan tombak ke arah musuh yang ingin menyerang atau anak panah juga pedang yang melesat ke arah mereka berdua.
Xiao Ling dan Liu Bei tidak menyangka jika dunia mampu mengalihkan mereka berdua dari apa pun kala keduanya bersama. Mereka hanya merasakan kenyamanan dan rasa lega melihat orang yang mereka cemaskan masih berdiri dengan angkuh di depan mata.
Suara pertempuran adu kekuatan di angkasa di antara tornado dan pasir gurun masih saja terus berlangsung hingga keduanya lenyap ntah ke mana ditelan pusaran badai pasir.
"Hei! Ke manakah perginya si nona seksi tadi?" tanya Xiao Ling, ia tidak melihat Yang'er.
"Apa?! Nona Seksi? Kau gila!" ujar Liu Bei, ia sama sekali tidak pernah mendengar kata-kata tidak sopan tersebut.
Apalagi, diucapkan kepada salah satu dari pendekar dunia persilatan yang sangat dihormari.
"Um, Nona Yang'er si pemilik penginapan! Ternyata dia hebat sekali!" balas Xiao Ling dengan penuh rasa kekaguman kepada Yang'er.
"Apakah kau tidak pernah mengikuti perkembangan di dunia persilatan? Kau aneh sekali!" tanya Liu Bei, ia merasa jika Jia Li bukan seperti orang yang mengikuti perkembangan zaman dan apa yang tengah terjadi di dunia persilatan.
"Hah! Ke mana perginya si biksu cabul sialan itu?" tanya Xiao Ling, ia bukan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Liu Bei.
Xiao Ling malah mencari dan menyadari yang tertinggal hanyalah mereka berdua juga ceceran darah yang telah mewarnai gurun menjadi semerah kelopak mawar dan sisa tubuh yang terpenggal. Xiao Ling tak lagi melihat Kong Tian dan prajurit iblis tengkorak merah di sekitar mereka.
"Mereka pasti sudah kabur …," ujar Liu Bei, "sebaiknya kita kembali ke Donglai!" saran Liu Bei.
__ADS_1
Liu Bei tak ingin membuat Liu Fei cemas dan mengerahkan pasukan kekaisan Han hanya untuk mencari Jia Li. Liu Bei juga takut jika Liu Fei akan menggunakan kekuasaan dan kekuatannya untuk menyiksa keluarga Tan Jia Li dan bawahannya.
'Liu Fei terkadang sangat manipulatif dan kekanak-kanakan, bisa saja dia melaporkan kepada ayahanda yang tidak-tidak! Bisa kacau!' benak Liu Bei, ia mulai was-was.