Jendral, I Love You!

Jendral, I Love You!
Lembah Kematian dan fenomenanya


__ADS_3

Trang! Tring!


Bayangan berkelebat menyerang Liu Bei tanpa tahu siapa pemilik pisau yang terus meluncur bersama dengan bayangan yang mengayunkan pedang ingin menebas kepala Liu Bei.


"Bajingan! Mereka benar-benar barbar!" umpat Liu Bei, ia terus berkelit dan berdiri di atas kuda mengayunkan tombaknya.


Namun, bayangan-bayangan hitam yang berkelebat terus menyerang tanpa jeda membuat Liu Bei sedikit kewalahan. Liu Bei melesat ke udara kala bayangan dari atas kepalanya mulai menyerang.


Trang! Jleb!


Liu Bei berhasil melukai salah satu penyerang membuat bayangan langsung lenyap, akan tetapi bayangan yang lain terus bermunculan sehingga Liu Bei, sedikit kesal.


"Jika terus begini, aku tidak akan tahu hingga kapan segalanya akan berakhir?" benak Liu Bei, ia mencoba untuk mengubah taktiknya.


Liu Bei mengerahkan kekuatan pada tombak panjangnya yang lebar hingga ia melesat dengan cepat berusaha mengimbangi setiap serangan demi serangan dari bayangan yang terus mengarah kepadanya.


Jeddar! 


Bayangan tersebut menyatu menyerang Liu Bei, hingga Liu Bei menangkis serangan dengan melebarkan tombak untuk menahan pedang yang terus mengarah kepadanya. 


Liu Bei terdorong mundur ke belakang dengan cepat, "Bajingan! Bukankah di belakangku adalah jurang?!" benaknya berpikir cepat, ia tidak ingin mati sia-sia sebelum menemukan tumbuhan berbunga lila berbentuk terompet.


"Bertahanlah Xiao Ling! Aku pasti berhasil membawa tumbuhan itu!" benak Liu Bei, ia merasa bayangan senyuman Jia Li berkelebat di pikiran dan alam bawah sadarnya.


Jia Li seakan tersnyum berlari di antara rerumputan lembah Orkhon yang indah mengajak Liu Bei untuk berlari mengejar bayangan wajah indah itu.


"Bangsat! Aku tidak boleh lemah! Aku harus kuat!" batin Liu Bei.


Liu Bei langsung menjatuhkan diri ke tanah dan meluncur cepat dengan memutar tombak menyerang semua bayangan dari bawah. Taktik yang tiba-tiba berubah membuat musuh tidak menduga akan hal itu sehingga Liu Bei berhasil melumpuhkan dan melukai bayangan.


Bayangan hitam berubah menjadi serpihan debu dan masuk ke dalam tanah. Liu Bei terkesiap, ia tidak menduga jika bayangan itu hanyalah sebuah ruh dari sesuatu.


"Apakah aku melawan hantu?!" benak Liu Bei, ia merasa semua itu adalah hal yang paling mengerikan dan menakjubkan.


Liu Bei terperanjat melihat fenomena yang tak pernah terbayangkan olehnya selama ini, belum lagi rasa takjub Liu Bei lenyap ia merasa jika angin kencang tiba-tiba muncul.


"Ada apa lagi ini?" lirihnya, ia mencoba untuk waspada.


Cahaya rembulan bersinar terang di angkasa membuat segalanya semakin terang, "Apakah ada serangan musuh lain lagi?" benaknya, ia bersiaga dengan mencengkram erat tombak di tangan.


Namun, fenomena alam itu lenyap seketika berganti dengan cahaya rembulan dan di antara bebatuan cadas bertumbuhan tunas-tunas batang-batang indah berwarna hijau dan langsung muncul kuntum bunga yang berkembang menjadi sekuntum bunga mekar berwarna Lila berbentuk terompet.


"Ya Dewa, terima kasih!" ujar Liu Bei, ia mengucap syukur. 


Liu Bei langsung memetik segerombolan bunga dan memasukkannya ke balik baju, ia tidak ingin jika bunga-bunga itu akan layu dan kering sebelum diberikan kepada tabib Yu.


Setiap batang hanya memiliki satu bunga, setelah merasa cukup Liu Bei menyadari jika asap berwarna merah mulai menyelubungi seluruh lembah.

__ADS_1


"Apa ini? Apakah ini racun?" lirih Liu Bei, ia kembali mencabut bunga dan dari balik akar bunga menyebarkan asap berwarna merah.


"Ini benar-benar racun!" benak Liu Bei, ia secepatnya menaiki punggung wenwen.


"Wenwen! Ayo, kita pulang!" ajak Liu Bei kepada kuda putih milik Jia Li.


Ngiiik! Ngiiik!


Teriak Wenwen melesat dengan cepat melintasi tumbuhan bunga yang masih utuh di antara bebatuan cadas.


Liu Bei melihat ke belakang punggung jika asap beracun itu semakin mengikuti mereka seakan tak rela jika bunga-bunga itu diambil.


Dengan perjuangan yang luar biasa pada akhirnya Liu Bei dan wenwen berhasil ke luar dari lembah Kematian. Liu Bei memutar kekang kuda menatap lembah yang dipenuhi dengan asap beracun membunuh apa saja yang ada di sana.


Semua binatang dan tumbuhan kayu seketika dan berubah menjadi kering kehitaman sebelum hancur. Liu Bei mengeryitkan dahi, "Sesuai dengan nama lembah ini, lembah Kematian! Tak ada yang mampu bertahan hidup hanya setiap purnama bunga ini muncul.


"Akan tetapi kemunculannya membawa malapetaka bagi makhluk hidup yang lain," lirih Liu Bei, ia seakan bicara kepada wenwen.


Ngiiik!


Wenwen menguik seakan ia memahami apa yang dimaksud oleh Liu Bei.


"Terima kasih, Wenwen! Kamu hebat sekali, Jia Li akan bangga padamu! Ayo, kita pulang!" ajak Liu Bei, ia masih menggenggam tombak lebarnya sambil menarik kekang kuda melesat menuju ke Luoyang.


"Berhenti!" teriak Liu Bei, ia melihat tiga orang menghadang di saat mereka ingin memasuki perbatasan Luoyang.


Wenwen berhenti tiba-tiba dengan kaki depan yang hampir saja menjatuhkan Liu Bei dari punggung.


"Tenanglah wenwen! Tenang," ujar Liu Bei berusaha untuk menenangkan wenwen yang gusar dan marah, ia merasa sudah berlari berhari-hari tanpa lelah dan berhenti demi jendral Jia Li tersayang.


Kini di perbatasan Luoyang di mana hanya sedikit lagi berhasil, mereka malah dihadang oleh tiga orang yang memakai pakaian berwarna hitam dengan penutup kepala yang sama. Naluri binatang wenwen merasa jika si penghadang memiliki niat jahat kepada mereka.


"Serahkan bunga sambung nyawa itu kepada kami!" ujar seseorang di balik cadar.


"Minggirlah! Aku tidak ada waktu untuk meladeni kalian!" ketus Liu Bei, ia semakin erat mencengkram tombaknya.


"Hahaha! Jika kau tak ingin menyerahkan bunga itu maka, jangan salahkan kami membunuhmu!" teriak seseorang langsung melesat menyerang Liu Bei yang masih berada di atas punggung wenwen.


Liu Bei tak ingin diam dan menanti kematian begitu saja, ia langsung bergerak dengan kekuatan penuh dan kemarahan juga rasa cinta yang teramat besar kepada sang jendral cantik yang sudah menemani dirinya di dalam bayang semu.


Trang! Trang!


Liu Bei pun melesat meladeni serangan di udara, gema suara senjata tombak dan pedang beradu. Keduanya mengerahkan semua kekuatan di balik ayunan senjata sambil bergerak di udara saling hunus dan tangkis.


Kras! Kras! Bruk!


Liu Bei berhasil menebaskan tombak lebarnya kepada musuh hingga terluka dan bergedebam di tanah.

__ADS_1


"Bajingan Kau!" teriakan seorang wanita yang tertutup cadar langsung menyerang Liu Bei.


Liu Bei kembali melesat dengan cepat menyerang dan menebaskan mata tombak yang besar memukul punggung si penyerang, hingga tubuh si wanita jatuh terhuyung.


"Huek!" si wanita langsung muntah darah.


"Ayo! Serang aku!" teriak Liu Bei penuh dengan amarah dan kebencian, ia menatap fajar yang mulai menyingsing.


"Sial! Jika aku terlambat dan fajar menyingsing, itu berarti waktu Jia Li akan usai … itu tidak boleh terjadi!" umpat Liu Bei, ia tak ingin kehilangan pujaan hati.


Ia langsung mengambil inisiatif untuk menyerang musuh, pertempuran terus terjadi akan tetapi kali ini Liu Bei merasa jika dirinya semakin lemah.


Liu Bei tidak tahu jika bunga di dadanya tepat di balik baju telah menyerap semua kekuatan miliknya. Fungsi bunga tersebut adalah menyerap semua kekuatan hingga melahirkan kekuatan baru.


Bruk!


Liu Bei merasa kelelahan, ia tak sanggup untuk bertempur lagi. Tubuhnya melemah hingga untuk mengangkat tombak miliknya pun Liu Bei sudah tak sanggup lagi.


"Hahaha! Perkiraanki sangat tepat, bunga itu akan menyerap semua kekuatannya! Ayo, kita bunuh pangeran kedua kekaisaran Han!" ucap pria tersebut bangga.


"Setelahnya, kita akan mengambil bunga itu, jika kita membunuhnya sekarang maka, kekuatan bunga itu tidak akan terlahir kembali! Korea akan menggunakan kekuatan itu untuk menyerang Kekaisaran!" teriaknya membahana.


"Hyaat!" teriakan musuh bergema dengan menghunuskan pedang tepat ke kepala Liu Bei yang jatuh berlutut.


"Bajingan!" geram Liu Bei, ia masih memilik sisa kekuatan untuk bertahan.


Mata pedang musuh semakin berkilau di oqndnahan Liu Bei yang sebentar lagi akan menebas putus lehernya. Liu Bei berusah untuk mengangkat tombak besar dan berat miliknya akan tetapi, ia tak sanggup.


"Hahaha! Mampus kau!" teriak si penyerang tertawa bahagia.


Namun, Liu Bei bukan hanya sekedar putra kedua Kekaisaran Han ia juga seorang Shaolin dan panglima tertinggi Kekaisaran.


Liu Bei berkelit ke samping dan melontarkan pisau yang diambilnya dari salah saru penyerang bayangan di lembah Kematian.


Jleb!


"Aaa!" teriak si penyerang terkapar tak menduga akan hal itu.


Kras! Jleb!


Seseorang menusukkan pedang ke dada Liu Bei, satu hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Liu Bei.


Bruk!


Liu Bei terkapar jatuh bersimbah darah yang mengucur membasahi bunga di dadanya, menatap fajar yang mulai meninggi.


"Xiao Ling … aku mencintaimu jendral …!" ujarnya, ia mengulurkan tangan meraih wajah cantik yang tersenyum kepadanya sebelum Liu Bei menutup mata.

__ADS_1


 


__ADS_2