Jendral, I Love You!

Jendral, I Love You!
Ditolak


__ADS_3

"Yang Mulia, apakah Anda baik-baik saja?!" tanya Xiao Ling, ia melesat ingin menolong Liu Bei yang langsung mengulurkan tangan seakan tak ingin ditolong olehnya.


Xiao Ling tidak menduga jika pria tersebut malah jatuh tersungkur hanya karena ucapan yang dilontarkan olehnya. Xiao Ling tidak menduga akan penolakan yang dilakukan Liu Bei.


'Apakah Jia Li begitu mengerikan? Apakah para pria begitu takut dengannya?' keluh Xiao Ling, ia merasa merindukan Liu Bei, ia juga merasa bahagia kala Liu Bei di sisinya.


Sehingga Xiao Ling mengambil kesimpulan jika dirinya telah jatuh cinta pada pangeran kedua Han yang dingin tersebut. Akan tetapi, siapa yang menduga jika ucapannya malah mengacaukan segalanya.


"Menjauhlah! Aku mohon!" ujar Liu Bei, ia masih ingin menikmati kewarasannya. 


Liu Bei tak ingin dimanipulasi apalagi dimanfaatkan oleh Jia Li hanya sebagai tameng agar dirinya terbebas dari masalah perjodohan yang sedang dihadapinya.


Meskipun Liu Bei sendiri tak rela jika Jia Li menikah dengan Liu Fei, ia merasa bahagia dan damai kala setiap waktu bersama Jia Li di setiap saat menikmati kehidupan di mana pun tak mesti berada di kekaisaran. 


Di mana pun mereka berdua berada kebahagiaan itu begitu nyata, Liu Bei menginginkan kehidupan damai itu dan hanya bersama Jia Li. 


Namun, ia tahu jika semua itu hanyalah mimpi yang tak akan mungkin terwujud, ia tak ingin akan bertempur hingga darah tertumpah hanya karena keegoisan semata.


"Tolong, aku bukan ingin bersikap kasar kepadamu, Jendral. Aku hanya tidak ingin menjadi orang bodoh yang akan kamu gunakan hanya untuk tujuanmu dan kekasihmu.


"Aku tidak perduli dengan kehidupan percintaanmu. Aku hanya ingin menyelesaikan kewajibanku, yaitu : melindungi kekaisaran Han dan keluarga juga rakyatku. 


"Jika engkau memang tak ingin menikah dengan Liu Fei sebaiknya kau katakan saja langsung. Aku tidak ingin terseret hanya karena penolakan dirimu padanya.

__ADS_1


"Kau tahu, aku tidak pernah ingin menyakiti dirimu! Aku … aku tidak mencintaimu!" tegas Liu Fei, ia menatap murka kepada Jia Li, ia sama sekali tidak menduga jika jendral wanita hebat itu menggunakan cara licik hanya untuk memanipulasi keadaan.


Liu Bei merasakan hatinya remuk redam kala mengucapkan penolakan kepada Jia Li. Liu Bei merasakan ia adalah pria yang sangat tolol yang  telah membohongi dan menyakiti dirinya sendiri hanya demi kebahagian Liu Fei, keluarga, dan kekaisaran serta rakyat Han di mana pun berada.


"Apa?! Heh!" Xiao Ling terhenyak, ia mencibir dan tidak menduga jika Liu Bei malah menganggapnya hanya main-main.


'Apakah aku salah mengartikan semua tatapan dan perlakuan Liu Bei kepadaku? Apakah aku memang tidak memiliki kemampuan untuk merasakan rasa cinta seorang pria?' benak Xiao Ling miris, ia merasa terluka.


Walaupun Xiao Ling berusaha untuk menekan semua getir di jiwa ia berusaha untuk bersikap gentlemen menghadapi semua itu.


"Aku tidak pernah bermain-main dengan kehidupanku. Apalagi, urusan hati. Jika aku katakan aku mencintaimu, itu adalah sebuah kebenaran.


"Daripada aku menikah dengan Liu Fei lebih baik aku menikah dengan Anda. Terserah, apakah Anda mencintaiku atau tidak. 


"Bagiku, aku tidak ingin menyimpan perasaanku karena aku tahu, itu sangat menyakitkan!" jujur Xiao Ling, ia beruntung berasal dari dunia berbeda di mana di zaman modern ucapan kata cinta berhak diucapkan oleh pria mau pun wanita.


"Hei, kau mau ke mana?" tanya Liu Bei, ia bingung harus bersikap bagaimana kepada calon iparnya.


Liu Bei tahu ia telah menyakiti perasaan dan hati Jia Li, terlihat jelas dari tatapan mata bening yang terluka tersebut. Akan tetapi, Liu Bei masih ingin bersikap waras dan tak ingin terhanyut akan cinta gila yang sedang ditawarkan oleh jendral cantik dan dingin tersebut.


"Aku mau ke mana?! Apa pedulimu? Aku memiliki kebebasan ingin pergi ke mana pun! Aku tidak masalah, jika Anda menolakku tapi, aku tidak ingin Anda merasa aku memanfaatkan dirimu hanya untuk menolak putra mahkota," jawab Xiao Ling, ia merasa terhina karena dianggap memiliki modus.


Liu Bei terdiam dan membiarkan Jia Li duduk di bukit batu cadas yang lebih tinggi bak seekor burung hitam penunggu gurun dengan gagah.

__ADS_1


Xiao Ling kembali meniup serulingnya, ia merasa berduka dan hampa. Xiao Ling menangis sambil meniup seruling, ia merasa begitu terhina dan sendiri di dunia anta berantah yang disadarinya entah sampai kapan dirinya berada di sana.


Kini, ia pun merasa terluka karena telah berani mempertaruhkan sepotong hati demi cinta yang bertepuk sebelah tangan. Xiao Ling berusaha meniup seruling ia tak ingin jika Liu Bei akan tertawa terbahak-bahak karena melihat kebodohannya.


Xiao Ling juga tak ingin terlihat mengemis cinta, ia merasa jika dirinya masih mampu move on dan mengemas semua rasa cinta yang tersisa walau ia tak tahu cinta itu kapan akan berakhir dan pupus.


'Papa …,' lirih batin Xiao Ling, ia merasa hanya cinta pertamanya Tan Fuk Ming yaitu sang papa di dunia modernlah yang benar-benar mencintainya dengan setulus hati.


'Sialan! Mengapa aku begitu berani mengucapkan kata cinta kepadanya? Phih! Memang dikiranya dirinya itu siapa? Dia hanya seorang pangeran. Bukankah Liu Bei juga sudah dijodohkan?


'Apakah dia … mencintai gadis itu? Beruntungnya gadis itu,' batin Xiao Ling miris, ia berusaha untuk menekan gejola amarah dan cemburu di jiwa.


'Ck, bodoh sekali kamu Xiao Ling! Di zaman ini tidak akan ada seseorang wanita pun yang akan menembak seorang pria meskipun ia mencintainya dengan sepenuh hati!' benak Xiao Ling, ia menyesal telah mengucapkan tiga kata cinta kepada Liu Bei yang dingin sedingin kulkas 20 pintu.


'Liu Bei pasti menganggapku sudah gila! Sudahlah, disesali pun tak ada gunanya … semua telah terjadi tak ada gunanya meratapi basib,' benaknya, ia berusaha untuk berdamai dengan hatinya.


Xiao Ling terus berusaha seteguh batu karang di lautan dan secadas batu di mana dirinya berada, ia tak ingin dirinya merasa terhina. Ia ingin memiliki kepribadian sendiri dan tak ingin meminta maaf telah mengutarakan isi hatinya.


'Aku begitu bodoh! Andaikan aku jadi Liu Bei, aku juga akan merasa heran jika ada seorang wanita yang mengucapkan kata cinta kepadaku.


'Apalagi, kami baru saja saling mengenal. Aduh, aku benar-benar bego!' umpat batin Xiao Ling, ia mengutuk dirinya sendiri.


Sementara Liu Bei terduduk diam menatap siluet bayangan cantik gadis yang telah membuatnya kacau di hari-hari terakhir bersama.

__ADS_1


'Maafkan aku Jia Li … aku pun mencintaimu … tapi …,' benak Liu Bei bingung, ia merasa bahagia tapi ia sendiri pun tak tahu harus bersikap bagaimana.


Liu Bei merasa cinta mereka hanyalah impian semu yang tak akan mungkin terwujud sehingga ia tak ingin lebih menyakiti hati jendral cantik yang telah masuk ke dalam mimpi dan telah menghancurkan benteng dingin pertahanannya.


__ADS_2