
Liu Bei terdiam mengamati sekeliling yang kembali tenang, hanya deru angin di gurun yang bertiup menerbangkan debu membuat Liu Bei harus menutup hidung dan mulut dengan selembar kain.
"Jia Li! Sebaiknya kita kembali ke Donglai!" ujar Liu Bei, ia tidak ingin membuang waktu.
"Tidak! Kamu saja!" teriak Xiao Ling, ia melesat meninggalkan Liu Bei.
"Woy!" teriak Liu Bei, 'apa sih, maunya perempuan ini? Sifatnya selalu seenaknya saja! Bagaimana dia bisa menjadi seorang permaisuri suatu saat nanti?' benak Liu Bei.
Liu Bei pun langsung melesat mengejar Jia Li yang memang tak ingin kembali ke Donglai. Liu Bei memacu kudanya mengejar Jia Li yang melesat menggunakan ilmu peringan tubuh di antara pasir gurun.
"Hei, Yang Mulia! Mengapa kau mengikutiku? Sebaiknya Anda kembali saja ke Donglai!" tukas Jia Li, ia ingin menghindari Liu Fei dan pernikahan.
Xiao Ling hanya ingin menenangkan diri sebelum ia memiliki keteguhan jiwa untuk memenuhi titah kekaisaran. Xiao Ling merasa tak sanggup jika harus menikah dengan Liu Fei tetapi ia tidak memiliki alasan dan kekuatan untuk menolak semua itu.
"Jia Li! Apakah kau ingin keluargamu akan dihancurkan oleh Liu Fei? Apakah kamu ingin jika keluarga Tan Xi Kin akan dicap sebagai seorang pengkhianat? Kamu tahu hukuman bagi seorang pengkhianatan bukan?" cecar Liu Bei.
Liu Bei ingin Xiao Ling mengetahui dan memahami apa konsekuensi dari setiap pelanggaran dan pembangkangan yang dilakukannya.
"Apakah kamu ingin menghancurkan keluargamu begitu?" tanya Liu Bei, ia tak mengerti.
'Padahal banyak gadis antri yang ingin menikah dengan seorang putra mahkota,' benaknya tak mengerti, ia masih mengamati wajah cantik itu yang terus melesat berusaha untuk meninggalkan dirinya.
"Woy, tunggu aku!" teriak Liu Bei.
"Aku tidak peduli! Aku sudah melakukan banyak hal untuk kekaisaran. Apakah Kaisar Liu Bang tidak mempertimbangkan hal itu begitu?" teriak Jia Li, ia menginginkan sebuah keadilan.
Liu Bei terdiam, ia tak lagi mampu untuk berkata apa pun lagi. Ia masih terus mengikuti Xiao Ling dengan mengendarai kudanya melintasi gurun hingga mereka tiba di bukit batu cadas di tengah gurun yang terbentang luas.
Xiao Ling sudah berdiri di atas mulut tebing terjal yang cukup tinggi, ia mengawasi gurun pasir yang maha luas. Ringkikan kuda Liu Bei membahana membuat Liu Bei melesat turun dan mendekati jendral cantik yang masih terdiam menatap semua itu.
__ADS_1
"Jia Li … apa sebenarnya keinginanmu?" tanya Liu Bei, ia hanya ingin tahu jalan pikiran jendral cantik tersebut.
Xiao Ling melihat kepadanya sekilas dan tersenyum, "Aku hanya … ingin menikah dengan pilihan hatiku! Aku sudah lelah jika harus mengikuti semua keinginan orang lain.
"Tidak bisakah aku memiliki sedikit saja harga diriku? Aku … hanya ingin memiliki kebebasan untuk memilih dengan siapa aku menikah kali ini," ujarnya, ia kembali memandang hamparan gurun yang tenang.
Xiao Ling melihat elang terbang di angkasa berputar-putar, ia mengingat jika elang itu terus saja mengikuti dirinya ke mana pun, Xiao Ling menyipitkan mata dengan mengangkat telapak tangan menutup sebagian pandangannya dari sengatan mentari.
Si elang seakan mengerti, ia langsung terbang menukik ke arah Xiao Ling yang menatap burung tersebut dan merasakan jika mereka memiliki ketertarikan. Xiao Ling mengulurkan tangannya yang memakai pelindung dari besi.
Kini disadarinya jika pelindung di tangannya adalah tempat untuk si burung elang bertengger agar cakar elang tidak melukai kulitnya.
"Ah, Paopao! Apa kabar?" tanya Xiao Ling, ia merasa memiliki keterikatan dengan elang tersebut yang sudah mendarat di lengannya.
'Aku rasa namanya memang Paopao,' batin Xiao Ling, ia sedikit senang karena masih memiliki ingatan yang ditinggalkan oleh Jia Li.
Elang menguik kecil dan mematuk pelan plat besi tersebut, naluri Xiao Ling menuntunnya untuk mengambil sesuatu di balik baju zirah.
Paopao menatap mata Xiao Ling dan melihat gambaran pertempuran yang mengerikan di suatu tempat di mana di mata elang terebut seakan memiliki kekutan sihir yang menyimpan sesuatu hal.
Pandangan mata Paopao memberitahu Xiao Ling pertempuran terakhir di Xuchang di mana Zhu Tong dan seorang wanita memakai cadar berwarna hitam berusaha untuk membunuhnya hingga ia terkapar jatuh kala beberapa jarum menyerang tubuhnya.
"Jadi … seperti itu ceritanya …," lirih Xiao Ling, ia merasa jika Paopao bertanya keadaannya saat terakhir kali terluka dan Jia Li terkapar.
'Berarti Jia Li … dia sudah tewas? Dan saat itu … aku masuk ke dalam tubuhnya ini begitu?' batin Xiao Ling menebak.
"Baiklah, Paopao. Aku baik-baik saja, jangan khawatir! Um, pergilah ke Donglai, kabari aku secepatnya jika ada sesuatu yang mencurigakan.
"Kamu harus tahu, jika putra mahkota Liu Fei berada di sana. Awasi semua pasukan Donglai dan kerajaan tetangga yang ikut konferensi itu! Jika ada yang mengancam keselamatan putra mahkota dan Tan Yu Ji, beritahu aku!" perintah Xiao Ling.
__ADS_1
Paopao membalas dengan suara nyaring sebelum terbang tinggi berputar-putar di angkasa dan terbang menuju Donglai.
"Ada apa, Jia Li?" tanya Liu Bei, ia sedikit cemburu karena Jia Li masih memperhatikan Liu Fei dan khawatir padanya.
Secuil rasa sakit menusuk di hati tetapi, ia berusaha untuk meredam semua itu dan tak ingin terlibat lebih dalam.
"Um, Paopao hanya menyapaku dan ingin tahu keadaanku saat terakhir kali bertempur di Xuchang," balasnya, 'siapa wanita berpakaian dan bercadar hitam itu?' batin Xiao Ling penasaran.
Xiao Ling ingin bertanya tetapi ia merasa malu dan tak ingin jika ia semakin terlihat begitu bodoh.
"Jia Li …," lirih Liu Bei.
"Hm …," balas Xiao Ling lembut, ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya bisa bersikap begitu lembut.
"Aku ingin bertanya, mengapa di setiap pertempuran kau selalu saja muntah? Apakah kau …?" tanya Liu Bei, ia ingin tahu tapi tidak tahu mulai bertanya dari mana.
Deg!
Jantung Xiao Ling tercekat, ia terdiam kembali menatap gurun dan awan yang berarak biru dengan cahaya matahari yang mulai ke peraduan.
"Yang Mulia … sejak …," lirihnya, 'apa yang harus aku katakan?' benak Xiao Ling bingung, ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuh Jia Li.
'Apakah aku yang bermasalah atau tubuh Jia Li? Tidak mungkin pendekar hebat sepertinya akan muntah di setiap pertempuran?
'Tidak! Bukan tubuh Jia Li yang bermasalah tapi, diriku!' lanjut batinnya.
Xiao Ling melihat ke arah Liu Bei yang masih menantikan jawaban darinya, ia merasakan bias sinar cakrawala di senja hari itu begitu indah membias wajah Liu Bei yang tampan di antara gurun dan cadasnya bukit batu.
"Katakanlah, ada apa sebenarnya? Kamu bisa mempercayaiku! Aku tidak akan mengatakan kepada siapa pun rentang rahasia kamu! Aku bersumpah atas nama Dewa apa pun, aku akan menjaga semua rahasia milikmu hingga aku mati!" ucap Liu Bei.
__ADS_1
Liu Bei, masih terus mengawasi wajah cantik yang masih menatapnya dengan pandangan sendu yang menggoda di balik bulu mata lentik milik si pemilik.