Jendral, I Love You!

Jendral, I Love You!
Desa di lembah Ru Yi


__ADS_3

"Eh, terima kasih, atas kemurahan hati para Bapak dan Ibu Sekalian. Saya, bisakah saya minta tolong?" tanya Xiao Ling, ia merasa menginginkan satu hal lagi.


Xiao Ling, ingin penyamaran dan kepergiannya berhasil, ia tak ingin orang-orang selalu mengenalnya sebagai jendral Jia Li yang terkenal.


"Katakan Yang Mulia, kami akan menolong Anda," ujar seorang ibu.


"Bisakah saya mendapatkan satu pasang baju? Saya … ingin mengganti bajuku," ujarnya, ia ingin menyamar dan membuang atribut jendral yang sedang disandang olehnya.


"Tentu saja, Yang Mulia! Ayo, kemarilah!" balas ibu tersebut, ia langsung menuntun Xiao Ling masuk ke dalam rumah.


"Silakan, Yang Mulia! Anda bisa mengganti pakaian Anda, saya akan menunggu di luar. Apakah Anda ingin saya membantu Anda, Yang Mulia?!" tanya Ibu tersebut memperhatikan Xiao Ling yang menatap baju di genggamannya.


"Maaf, Yang Mulia, hanya baju itu yang paling bagus di antara semua baju saya," balas si ibu dengan perasaan sedikit malu.


"Maaf, Bibi. Saya malah bersyukur sekali dengan baju ini, saya … tidak ada seorang pun yang pernah memberikan sebuah baju padaku," balas Xiao Ling, ia merasa jika itu terlontar dari tubuh Jia Li.


Xiao Ling tercekat ia tidak menduga jika Jia Li begitu menderita, ia wanita hebat dan dari keluarga bangsawan tetapi, tak seorang pun pernah memberinya baju perempuan.


'Aneh sekali! Masa putri seorang menteri malah tidak pernah mendapatkan sebuah baju? Maksudnya bagaimana? Apakah karena Jia Li tidak memiliki seorang ibu.


'Sehingga tidak ada seorang ibu yang memberinya baju, begitu?' benak Xiao Ling, ia mencoba untuk memahami apa yang sedang dipikirkan oleh Jia Li.


"Oh, maafkan saya, Yang Mulia. Andaikan Anda bisa lebih lama lagi di sini, saya akan menenun baju untuk Anda," ujar si ibu, ia merasa terenyuh dan begitu bahagia jika Jia Li mau sedikit lebih lama di desa mereka maka ia akan menenun sepasang baju indah dari sutra yang baru saja mereka panen.


"Benarkah? Um, aku … mungkin seminggu di sini, aku ingin menikmati masa liburku, um … panggil saja saya Jia Li," jawab Xiao Ling, ia mengedarkan pandangan ke ruangan.


"Apakah Bibi tinggal seorang diri di di sini?" tanya Xiao King penasaran, ia tidak melihat siapa pun di rumah itu.


"Saya memang tinggal sendirian Yang Mulia," balas si Ibu, "suamiku, meninggal saat menjadi prajurit di kekaisaran Han.

__ADS_1


"Begitu juga dengan putraku," lanjut si ibu tersenyum.


"Oh, benarkah?" tanya Xiao Ling, ia sama sekali tidak menduga akan kabar menyedihkan tersebut.


"Maafkan saya, Bibi. Saya …," lirih Xiao Ling, ia tak ingin membuka luka lama.


"Sudahlah, Nak. Itu sudah menjadi kisah lama," balasnya.


"Apakah kekaisaran Han tidak memberikan kompensasi kepada Bibi?" tanya Xiao Ling, ia penasaran.


Xiao Ling melihat rumah yang ditinggali si ibu sedikit kumuh dan tua, ia melihat banyaknya perbaikan yang seharusnya dilakukan pada tempat tinggal wanita tersebut.


"Hamba, ikhlas menerima semua ini. Putra dan suamiku berjuang demi tanah air, itu adalah hal yang paling mulia yang pernah keluargaku lakukan demi membela kekaisaran," ujarnya tersenyum tanpa pamrih.


"Oh, keluarga Anda sangat mulia! Um, bolehkah saya memasang hio untuk putra dan suami Anda, Bibi?" pinta Xiao Ling, ia merasa berkewajiban untuk memberikan penghormatan kepada mantan infantri dari pasukan prajurit Han.


Xiao Ling melakukan ritual tersebut dengan penuh khidmat dan penuh penghormatan setelah selesai, ia menghampiri ibu tersebut.


"Bibi, ayo … aku ingin menemui para penduduk," ajak Xiao Ling, ia tersenyum menggandeng sang ibu yang bernama Bibi Gu.


"Ayo, kita makan merayakan kedatangan Nona Jendral. Kami sangat tersanjung dengan kehadiran Yang Mulia," ujar kepala Desa, "apakah Yang Mulia akan tinggal di sini untuk beberapa hari?" tanyanya penasaran.


"Um, kemungkinan seminggu setelah itu saya ingin kembali ke Chang An," ucap Xiao Ling, ia tak ingin jika ada ya g bertanya dan warga desa tidak tahu harus menjawab apa.


"Baiklah, kalau begitu. Apakah Yang Mulia akan tinggal di penginapan?" tanya Kepala Desa.


"Tidak Pak, tolong panggil saya, Jia Li saja. Saya … akan tinggal bersama Bibi Gu. Jika Bibi Gu tiroa keberatan," balas Xiao Ling, ia merasakan kasih sayang Bibi Gu begitu damai dan hangat.


Xiao Ling merasa jika dirinya dan Jia Li sama-sama orang yang kurang beruntung di dalam mendapatkan kasih sayang seorang ibu, sehingga ia merasa ingin mendapatkannya dari Bibi Gu.

__ADS_1


"Ya Dewa, itu adalah sebuah kehormatan bagiku," jawab Bibi Gu, ia langsung memeluk Xiao Ling.


"Ayo, mari kita berpesta dengan memakan hasil panen dan arak!" ajak kepala desa.


"Ayo!" balas semua warga begitu bahagia.


Mereka semua berpesta dengan penuh kegembiraan sambil bernyanyi bahagia. Akan tetapi, mereka tidak menyadari jika sepasang mata mengintip apa yanhs Edang dilakukan oleh Jia Li bersmaa para warga desa.


"Heh! Percuma aku mencemaskan dirinya. Jia Li baik-baik saja!" benak Liu Bei, ia pun langsung kabur ke tempat lain.


"Lebih baik aku mencari makanan untuk mengisi perutku, sambil menyelidiki apakah kemakmuran telah tercapai di desa ini?" benak Liu Bei, ia mendapatkan mandat dari Sang ayahanda untuk menyelidiki segala apa yang terjadi di luar istana kekaisaran.


Liu Bei memasuki sebuah warung dan memesan makanan, ia menggunakan penyamaran, ia merasa desa itu begitu tenang dan damai. Liu Bei sedikit merasa ingin bersantai menikmati keindahan juga kesejukan desa.


Akan tetapi, Liu Bei dan orang-orang yang berada di warung melihat, jika segerombolan kuda yang ditunggangi orang-orang yang menyeramkan memasuki pintu gerbang masuk desa dan terus memacu kuda menuju ke arah balai desa di mana Xiao Ling dan warga desa sedang merayakan kedatangan jendral Jia Li.


"Siapakah mereka? Apakah mereka urusan dari kekaisaran untuk mengambil upeti di rumah kepala desa?" celetuk seorang warga desa sedikit ketakutan, ia ingin kabur.


"Hei, kau mau ke mana?" tanya Liu Bei, ia bingung melihat semua warga kabur.


"Tuan, sebaiknya Anda bersembunyi, jika ingin selamat. Utusan kekaisaran akan membunuh siapa saja yang membangkang!" ujarnya langsung kabur.


"Apa?! Utusan kekaisaran Han? Yang benar saja! Sejak kapan urusan kekaisaran menjadi begitu kejam? Siapa yang memerintahkannya?" lirih Liu Bei, ia penasaran dan melesat mengikuti derap langkah kuda yang sudah semakin jauh memasuki desa.


Para warga berhamburan ingin menyelamatkan diri mereka.


"Heit!" teriak si pengendara kuda paling depan menghentikan laju kudanya tepat di depan para warga yang sedang berpesta bersama Xiao Ling.


"Hei, siapa kau? Mengapa kalian mengganggu kami?!" teriak Xiao Ling, ia sudah mabuk karena terlalu banyak minum arak.

__ADS_1


__ADS_2