Jendral, I Love You!

Jendral, I Love You!
Rasa cinta dan keegoisan


__ADS_3

"Sial! Kita harus menangkap mereka! Aku rasa mereka memiliki hubungan dengan semua pemberontakan yang sedang terjadi.


"Tapi, selalu saja kita gagal untuk menangkap mereka. Aku tidak mengerti, mereka selalu saja memiliki jaringan dan … sepertinya ada pengkhianat di kekaisaran," ujar Liu Bei, ia diam menerawang sambil duduk di pembaringan.


"Saya akan menyelidikinya Yang Mulia," ujar Lie Feng.


"Ya, itu harus. Aku tidak ingin si pengkhianat akan terus melancarkan aksinya dengan mudah. Lie Feng, bagaimana dengan perbatasan? Apakah ada tanda-tanda musuh memulai pergerakan?" tanya Liu Bei, ia khawatir jika ada gerakan pemberontak yang mulai menyerang.


Apalagi, berita kembalinya Jendral Jia Li kembali menuai kontroversi di kalangan punggawa istana kekaisaran membuat segalanya menjadi runyam.


"Lie Feng, aku ingin tidur! Kembalilah bertugas. Tolong, perhatikan prajurit di bawah naungan Jia Li. Aku tidak ingin mereka mendapatkan diskriminasi karena kembalinya jendela mereka!" ujar Liu Bei.


"Baik Yang Mulia!" balas Lie Feng, ia pun mulai undur diri.


Liu Bei hanya diam termenung ia tak menyangka kehidupan begitu mudah berubah terkadang tawa dan tangis selalu saja beriringan.


"Bagaimana keadaan Jia Li? Apakah dia sudah sadar?" benak Liu Bei bertanya.


Liu Bei ingin menemuinya tetapi, ia tahu jika Liu Fei tidak akan pernah mengizinkan dirinya untuk bertemu dengan Jia Li. Seketika rasa sakit menganga di jiwa Liu Bei, ia ingin pergi meninggalkan semuanya.


Namun, ia tahu jika ia pergi sekarang itu artinya ayahanda Liu Bang akan kecewa kepadanya. Selain itu, Liu Bei tak ingin dicap sebagai pemberontak.


"Aku akan memikirkannya nanti, apa yang sebenarnya terjadi dan jalan mana yang harus aku tempuh! Jika memang mengharuskan diriku merelakan Jia Li, aku rasa itu adalah keputusan yang sangat tepat!" benak Liu Bei.


Ia mencoba untuk memejamkan mata akan tetapi, bayang Jia Li masih saja terus menari di pelupuk matanya. Liu Bei meraba luka tusuk yang diberikan musuh, ia mengernyitkan dahi.


"Aneh, mengapa luka itu tidak berbekas sama sekali? Begitu hebatnya Tabib Yu di dalam mengobati," ujarnya, ia mengingat tabib Yu.


***


Sementara Xiao Ling di dalam tubuh Jia Li masih terbaring, ia sudah diobati dan berangsur-angsur tubuhnya yang pucat bak mayat menjadi merona merah seakan ia hanya tertidur.


Liu Fei tidak beranjak sedikit pun dari tempat tidur, ia duduk di sisi Jia Li, menyeka setiap keringat di dahi.


"Liu Bei …," lirih Jia Li kesekian kali.


Liu Fei berusaha untuk mentolerir segala rasa cemburu dan sakit hati di jiwanya, ia tak ingin hanya karena rasa cemburu ia pun menghancurkan rasa cinta dan ingin memiliki jendral cantik tersebut.


Liu Fei ingin membuat Jia Li jatuh cinta kepadanya dengan kepasrahan bukan sebagai paksaan. Liu Fei benar-benar jatuh cinta kepada Jia Li.


"Jia Li … kamu sudah aman, Liu Bei pun saat ini sedang baik-baik saja! Bangunlah! Banyak yang membutuhkan dirimu," balas Liu Fei.


Tabib Yu hanya diam, ia tak mau bicara apa pun. Akan tetapi, ia tahu dengan pasti jika kakak beradik Liu sedang jatuh cinta kepada gadis muda yang cantik tersebut.


"Ah! Liu Bei!" teriak Xiao Ling, ia langsung terbangun dan membuka mata.


Di dalam mimpinya ia merasa jika dirinya melihat Liu Bei terbakar oleh api yang membara sehingga Xiao Ling hanya mampu berteriak ingin menolong Liu Bei yang sekarat. Akan tetapi, tangan-tangan memaksanya untuk pergi.


"Oh, syukurlah … aku hanya bermimpi?" Xiao Ling menatap wajah di depannya.

__ADS_1


Deg!


Gemuruh di dadanya seakan berpacu dengan cepat, ia tidak menduga jika pria itu adalah Liu Fei bukan Liu Bei.


"Kau?!" tukas Xiao Ling, ia tidak menduga jika di hadapannya malah putra mahkota Liu Fei yang sedang menemani dirinya.


Xiao Ling menyadari jika ucapannya tidak sesuai dengan tata krama pada masa itu. Ia tak peduli, ia tidak menyukai wajah itu.


"Apa yang Anda lakukan di sini Yang Mulia? Bagaimana dengan Liu Bei? Maksudku, Yang Mulia Pangeran Kedua?" tanya Xiao Ling, ia tidak menyukai selalu saja bersikap lembut dan hormat pada pria di depannya.


"Sial! Jadi, aku masih saja berada di tubuh Jia Li? Ya, Tuhan … padahal aku berharap agar aku kembali ke duniaku!" keluh benak Xiao Ling, ia hanya diam terpaku menatap ruangan mewah tersebut.


"Apakah aku berada di kekaisaran Han? Apakah ini Chang An?" benak Xiao Ling, ia ingin tahu.


Namun, ia menyadari di mana kedudukannya sehingga ia tak ingin Liu Fei atau semua orang curiga.


"Jika aku bertanya, itu adalah hal yang konyol. Bagaimana mungkin aku tidak tahu istana kekaisaran atau tempat lainnya? Aduh, Mengapa aku harus terperangkap di tubuh Jia Li yang hebat ini sih?" benak Xiao Ling lelah.


"Apakah kamu ingin makan?" tanya Liu Fei, "kamu sudah hampir seminggu tidak makan! Aku tidak ingin kamu akan kembali jatuh sakit," ujar Liu Fei, ia memanggil dayang untuk membawakan makanan lezat kepada Xiao Ling yang hanya diam.


"Yang Mulia, bolehkah saya memiliki waktu untuk diriku sendiri?" tanya Xiao Ling, ia merasa tak leluasa bila harus bersama Liu Fei di dalam ruangan tersebut.


Apalagi tabib muda itu telah permisi meninggalkan mereka berdua di kamar mewah yang maha luas. Liu Fei menatap ke wajah Jia Li, ia tidak menduga jika wanita tersebut malah memintanya untuk pergi.


"Jia Li, apakah kau lupa jika aku adalah tunanganmu?" tanyanya, ia merasa kesabarannya mulai habis.


Xiao Ling hanya menghela napas, ia pun tak menampik jika dirinya adalah tunangan yang dipaksakan.


Dayang datang dengan membawa nampan, "Yang Mulia Putra Mahkota dan Yang Mulia Nona Jendral, hidangannya sudah siap untuk disantap!" ujar Datang sambil menunduk.


"Baiklah, Jia Li akan makan! Ayo!" ajak Liu Fei, ia tak ingin lagi mentolerir apa pun yang ingin dilakukan dan apa yang didinginkan oleh seorang Jia Li.


"Yang Mulia, saya belum lapar!" balasnya.


Liu Fei hanya menatap wajah Jia Li dan bergerak ke meja makan mengambilkan makanan dan berniat menyuapi Jia Li.


"Biarkan saya sendiri, yang akan melakukannya Yang Mulia! Saya rasa tanganku masih utuh!" ujar Jia Li, ia tidak ingin makan dari tangan Liu Fei.


Namun, Liu Fei tak peduli ia langsung mengulurkan sendok ke mulut Jia Li. Xiao Ling langsung membuang wajah akan tetapi, Liu Fei langsung menatap wajah Jia Li dengan mencengkram dagu Jia Li.


"Jika kau tidak ingin makan, aku akan menciummu!" ancam Liu Fei, ia ingin mendaratkan ciuman.


Xiao Ling ingin memukul dan menghajar putra mahkota yang tidak tahu diri dan malu tersebut akan tetapi, ia tahu apa yang akan dihadapinya.


"Bajingan!" desis batin Jia Li, "lebih baik saya mati kelaparan saja! Anda bisa mendapatkan wanita mana pun, tolong lepaskan saya! Jendral Jia Li sudah tewas.


"Aku adakah Xiao Ling! Aku ingin menolak pertunangan ini!" tukas Jia Li tak peduli.


"Hahaha, ck, hanya karena rasa cintamu kepada Liu Bei, kau sampai melakukan semua ini?" tanya Liu Fei, ia merasa ingin mencekik Liu Bei dan Jia Li karena telah mengkhianatinya.

__ADS_1


"Apa?! Liu Bei mencintaiku? Hahaha, dia tidak mencintaiku! Dia lebih memilih dirimu!" balas Xiao Ling, ia benar-benar berani dan tidak peduli dengan nyawanya.


"Rasanya aku ingin mati saja daripada menikah dengan pria bajingan ini!" umpat benak Xiao Ling, ia semakin kesal.


"Mengapa kalian menyelamatkan diriku? Seharusnya, kalian biarkan saja aku tewas!" ujar Xiao Ling, ia semakin muak menghadapi pertarungan dan kini malah dihadapkan dengan masalah yang begitu rumit mengenai cinta dan perasaan.


"Kau dan semua apa yang ada di kekaisaran adalah milikku! Jadi, tak seorang pun yang berhak untuk menolak titahku!" ujar Liu Fei angkuh.


Xiao Ling hanya diam, Liu Bei ingin menyuapkan makanan ke mulut Xiao Ling.


Prang!


Xiao Ling menepis sendok dan mangkok bubur hingga jatuh ke lantai.


"Kau?!" umpat Liu Fei marah, ia langsung menangkap kedua tangan Jia Li menekan ke bantal di sisi kepalanya, Liu Fei menatapnya dengan murka.


"Kau harus tahu! Aku akan menjadikanmu istriku! Kau harus merasakan kepahitan dan penderitaan tinggal di haram milikku!


"Aku menawarkan cinta kepadamu, tapi inikah balasan yang kau berikan?" teriak Liu Fei murka.


Xiao Ling hanya menatap wajah di depannya yang hanya sejengkal di wajah, ia merasa muak dan membenci wajah itu.


"Apakah sudah cukup? Heh!" dengus Xiao Ling jijik.


"Aku tidak pernah berniat berbagi kasih dengan wanita mana pun! Lebih baik aku menjadi gadis di sepanjang hidupku ini daripada harus berbagi cinta!" tegas Xiao Ling murka.


"Heh!" desis Liu Fei, ia merasa tidak seorang pun yang akan mampu kabur dari titah seorang kaisar.


"Kita lihat saja, apakah kau bisa menolak perjodohan ini?" tantang Liu Fei.


"Mungkin, kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan. Tapi, ingat. Sampai mati pun aku tidak akan pernah mencintaimu.


"Mungkin, kau akan mendapatkan tubuhku tapi tidak cintaku!" tukas Xiao Ling, ia mulai memutar otaknya untuk kabur.


"Hahaha! Kau pikir aku peduli dengan cinta?! Tidak!" balas Liu Fei, ia meninggalkan Jia Li dengan setumpuk sakit hati dan kecewa.


Liu Fei tidak menduga rasa cinta yang pertama kali dirasakan olehnya harus kandas hanya karena Jia Li memiliki rasa kepada Liu Bei.


"Aku harus mengirim Liu Bei ke Qin, aku rasa peperangan akan terjadi. Lebih baik Liu Bei tewas di sana!" benak Liu Fei, ia mulai merencanakan tipu muslihat untuk menjauhkan Jia Li dengan Liu Bei.


Untuk pertama kalinya, Liu Fei berniat ingin menyingkirkan adik kesayangannya hanya karena cinta. Keegoisan Liu Fei tak ingin dikalahkan oleh siapa pun termasuk adiknya sendiri.


"Bersiaplah! Jika kau tidak ingin makan! Lebih baik kau tidak usah makan selamanya!


"Satu hal, aku rasa Liu Bei akan tewas! Jika kau tidak makan maka, aku tidak akan mengizinkan dirimu untuk bertemu dengannya!" ancam Liu Fei.


"Apa?!" lirih Xiao Ling, ia sama sekali tidak menduga akan hal itu.


Liu Fei merasa sakit di relung jiwa melihat binar rasa cinta Jia Li begitu ketara terhadap Liu Bei.

__ADS_1


"Tunggu! Apakah kau tidak berbohong? Mengapa Liu Bei bisa terluka?" tanya Xiao Ling penasaran.


__ADS_2