Jendral, I Love You!

Jendral, I Love You!
Bertemu dengan adik sendiri


__ADS_3

"Hei, apa yang kami pikirkan?" tanya Liu Bei, ia benci jika Jia Li diam seribu bahasa.


"Eh, aku … ntahlah! Aku malah tidak mengenal seperti apa rupa adikku! Aku, tidak tahu sudah berapa lama aku tidak pulang ke Chang An," balas Xiao Ling, ia seakan-akan menyampaikan apa yang dipikirkan Jia Li.


'Sial! Padahal di dunia nyata aku begitu merindukan sosok seorang adik. Tapi, mengapa Jia Li tidak pernah kembali ke Chang An? Apakah hubungannya dengan keluarganya begitu sadis?' benaknya bingung.


"Ayo, mari kita pergi! Aku rasa … jalan satu-satunya kita harus menyamar menjadi prajurit biasa!" ujar Liu Bei, ia tak ingin terang-terangan menampakan dirinya.


"Um, baiklah!" balas Xiao Ling, 'aku harus mencari make up untuk merias wajahku sejelek mungkin. Aku tidak ingin Liu Fei atau Sarnai akan mengenaliku,' batinnya.


Xiao Ling masih tidak ingin jika Liu Fei bertemu dengannya, ia tak ingin jika Liu Fei akan memberikan titah memintanya untuk pulang ke


"Ayo!" ajak Liu Bei, ia mengulurkan tangannya kepada Xiao Ling agar naik ke punggung kudanya.


"Hah?!" Xiao Ling sedikit enggan jika harus berdekatan dan berada di satu kuda bersama Liu Bei.


"Kenapa? Apakah kamu ingin berjalan di sepanjang jalan? Kalau kamu mau terserah!" lanjut Liu Bei, ia ingin meninggalkan Xiao Ling.


"Ck … woy! Tunggu!" keluh Xiao Ling, ia tidak memiliki pilihan lain.


Liu Bei, tersenyum dengan kepatuhan yang diberikan oleh Jia Li yang tak lagi membangkang, ia pun duduk di depan di dalam dekapan Liu Bei.


"Sialan! Apakah tidak ada kuda yang lain?" omel Xiao Ling, ia merasa jantungnya selalu saja tak karuan jika berdekatan dengan Liu Bei.


"Bukankah aku sudah memberimu kuda? Lalu, ke mana kudamu?" tanya Liu Bei, ia tersenyum.


"Tau! Tuh, kuda akan aku potong saja bila bertemu!" gerutu Xiao Ling, ia semakin kesal.


Apalagi, ia merasa jika deru napas Liu Bei membelai tengkuknya dengan lembut membangkitkan bulu kuduknya yang langsung meremang seakan sebuah gairah meletup-letup di sana.


"Um, apakah kamu tidak senang bertemu dengan adikmu, Jia Li?" tanya Liu Bei, ia berada di atas punggung kuda bersama.


"Aku?! Um, aku tidak tahu, kami sudah berpisah sejak lama … bahkan, aku sendiri tidak mengingat wajahnya sekarang," balas Xiao Ling jujur, 'bagaimana aku bisa mengingatnya?

__ADS_1


'Aku pun tidak mengenalnya. Andaikan kamu tahu, kalau aku bukan berasal dari dunia ini,' benak Xiao Ling bingung.


Kuda melesat dengan cepat membelah kebun persik yang luas dan indah sehingga mereka kembali ke kota dan memesan dua buah kamar di penginapan. Xiao Ling sudah mendandani wajahnya sejelek mungkin agar tak seorang pun mengenalnya.


"Aku rasa,tak seorang pun yang akan mengenalku!" ujar Xiao Ling.


Ketukan bergema di pintu kamarnya, "Ada apa?!" balas Xiao Ling kala membuka pintu, ia melihat Liu Bei berdiri di depan dan menatap ke arahnya dengan bingung.


"Kau?!"


"Ya, aku Jia Li! Apakah kamu tidak mengenaliku? Bagus bukan penyamaranku." ucap Jia Li, ia sudah berubah menjadi seorang pria.


Liu Bei tidak menyukai dandanan Jia Li tetapi, ia pun bersyukur karena tak seorang pun yang mengenalinya sebagai jendral Tan Jia Li yang hebat terutama Liu Fei.


"Ya, hebat sekali! Apakah Kamu sudah siap?" tanya Liu Bei, ia masih mengawasi Xiao Ling.


"Sudah!" balasnya gamblang, ia telah menyelipkan pedang di punggung.


Liu Bei merasa ada sesuatu yang sedang dirahasiakan oleh Jia Li yang tidak ingin diketahui olehnya maupun semua orang termasuk Tan Yu Ji.


"Oh, terima kasih!" balas Xiao Ling, 'syukurlah, jika tidak aku sendiri tidak tahu harus bagaimana kalau harus bertemu dengan Tan Yu Ji,' batin Xiao Ling.


Keduanya berjalan ke luar dari penginapan dan bergabung bersama para pengawal utusan dari kekaisaran Han di bawah komando Jendral Tan Yu Ji.


"Salam Yang Mulia Pangeran Liu Bei," ujar Tan Yu Ji, pria tampan yang lumayan tinggi menyapa Liu Bei dan hanya menganggukan kepala kepada Xiao Ling yang bergaya bak seorang pria.


Xiao Ling pun mengangkat kedua belah tangan melakukan penghormatan kepada jendral yang lebih tinggi kedudukannya daripada dirinya yang sedang menyamar.


"Sebenarnya ada agenda apa sehingga Yang Mulia putra mahkota harus ke Donglai? Bukankah saat sekarang sedang marak-maraknya bahaya?" selidik Liu Bei.


"Ampun Yang Mulia, saya sendiri pun tidak tahu sebenarnya ada apa? Tapi, semua utusan menginginkan agar masalah pemberontakan yang sering dilakukan oleh Qin selalu mengatasnamakan Kekaisaran Han dan Donglai juga kerajaan Mongol.


"Saya rasa kaisar Liu Bang mengadakan kerjasama untuk menghancurkan pemberontakan tersebut," balas Yan Yu Ji, ia memberikan informasi dengan akurat.

__ADS_1


"Oh, begitu! Lalu, mengapa selir Sarnai yang ikut? Mengapa bukan selir Liang Yi Wen?" tanya Liu Bei, ia mengingat selir pertama dari kerajaan Liang yang lebih bijaksana ketimbang Sarnai yang licik.


"Saya tidak tahu, mengenai hal itu Yang Mulia," balas Tan Yu Ji, ia kembali diam.


"Yang Mulia, saya mendengar jika Anda bertemu dengan Jendral Tan Jia Li saat pertempuran di Yuzhang, apakah Jendral Jia Li ikut bersama Anda?" tanya Tan Yu Ji penasaran.


"Um, ya … jendral Jia Li yang telah membantu kami saat pertempuran di Yuzhang sehingga kami berhasil merebut dan mengalahkan tentara Qin. Memang ada apa, Jendral Tan?" selidik Liu Bei, ia tahu jika Yan Yu Ji sangat ingin bertemu dengan Jia Li.


Sementara Jia Li hanya diam mendengarkan pembicaraan hangat yang dilakukan oleh Tan Yu Ji dan Lie Bei, ia hanya mengawasi sekeliling dan tak peduli.


Xiao Ling merasa jika tubuh Jia Li hanya melihat sekilas ke tubuh Tan Yu Ji tanpa berniat dan merasakan sebuah kerinduan maupun penasaran. Hal itu membuat Xiao Ling merasa bingung.


Namun, ia tak peduli dengan semua itu, ia masih terus berjalan mengekor di belakang Liu Bei dan Tan Yu Ji, yang sekali-kali melirik ke arahnya dengan pandangan sedikit penasaran dan heran.


"Um, apakah prajurit itu bawahan Anda Yang Mulia?" tanya Tan Yu Ji, ia merasa sangat dekat dengannya meskipun ia tak tahu siapa prajurit tersebut.


"Ya, begitulah!" balas Liu Bei, ia merasakan jika Tan Yu Ji begitu penasaran dengan Tan Jia Li.


'Darah tidka pernah berbohong! Tapi, mengapa Tan Jia Li seakan tak peduli? Apakah sedingin itu hatinya? Memang apa yang telah dilakukan oleh Tan Yu Ji hingga ia begitu tak peduli.


'Sepertinya Tan Jia Li tidak membenci dan menyukai Tan Yu Ji, Jia Li hanya menarik diri. Aneh,' benak Liu Bei, ia pun memperhatikan Jia Li yang mengawasi semua orang dan memeriksa semua hidangan yang akan dihidangkan kepada para tamu jamuan di istana Donglai.


"Hentikan!" teriak Tan Jia Li, kala seornag pelayan ingin menyuguhkan makanan.


Bruk!


Si pelayan langsung gemetar ketakutan dan langsung jatuh tersungkur bersujud di lantai ruangan.


"Ampun, Yang Mulia! Saya tidak tahu apa pun!" ujarnya kemudian ia menggelepar dengan busa keluar dari mulutnya dan meninggal seketika.


"Bajingan! Seseorang telah membunuhnya!" umpat Tan Jia Li, ia memeriksa denyut nadi di leher si pelayan yang sudah berhenti berdetak.


Tan Jia Li melihat sebuah jarun yang sengaja dilontarkan musuh untuk membunuh si pelayan agar tidak bicara jujur mengenai racun yang berada di dalam anggur tersebut.

__ADS_1


__ADS_2