Jendral, I Love You!

Jendral, I Love You!
Mimpi sederhana seorang jenderal hebat


__ADS_3

"Apa maksud Yang Mulia?" tanya Xiao Ling, ia mengerutkan dahi menatap ke arah Liu Bei yang masih terus menatapnya.


"Jendral Tan, mungkin para prajurit yang selamat tadi akan membeberkan semua kisah ini kepada raja Mongol dan dunia bahwa pendekar nomor 1 di dunia persilatan telah dikalahkan oleh jendral Jia Li dari Han.


"Itu artinya posisimu sebagai salah satu pendekar dan jenderal akan diperhitungkan di kancah dunia persilatan.


"Mungkin, kamu malah sudah dijuluki wanita iblis atau jendral iblis bahkan mungkin, besok-besok akan semakin banyak dari dunia persilatan yang ingin menjajal kemampuanmu!" papar Liu Bei, ia sendiri pun tidak menduga akan hal itu.


"Apa?! Oh, tidak! Itu tidak boleh terjadi! Aku hanya ingin hidup dengan kedamaian, aku malah berpikir ingin pensiun dari jendral dan menjadi seorang petani di daerah Shandong ataupun di kaki gunung Sun," ucap Xiao Ling.


Xiao Ling tidak mengerti mengapa dia malah bicara hal itu, ia sama sekali tidak pernah ke sana tetapi, ia bisa hapal dan mengingat jika Jia Li memiliki mimpi sederhana dengan seorang suami dan anak-anak yang banyak kelak di sisa akhir hidupnya.


Xiao Ling malah tidak melihat mimpi berlebihan dari seorang Jendral Jia Li yang hebat, ia hanya punya mimpi sederhana dan indah. Kehidupan tanpa keglamoran dan juga penghormatan selayaknya seorang jendral dan putri punggawa kekaisaran.


Xiao Ling melihat gambaran itu di dalam benaknya, 'Ternyata mimpi jendral hebat ini begitu sederhana,' benak Xiao Ling, 'sesederhana mimpi seorang wanita pada umumnya,' lanjut benak Xiao Ling.


Ia merasa sedih karena mimpi itu tak akan pernah terwujud karena ia harus menikah dengan Liu Fei. Xiao Ling mulai bertanya-tanya bagaimana caranya dia bisa memasuki tubuh Jia Li.


'Ke manakah jiwa Jia Li? Apakah dia tewas? Di pertempuran terakhir di Shandong?' benak Xiao Ling, ia penasaran apa yang sedang terjadi sebenarnya.


"Mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati karena, musuh akan selalu mengintai kamu di mana pun. Mungkin kebanyakan orang akan semakin takut bahkan ingin menyingkirkan dirimu dan sebagian ingin menjadi sekutumu," ujar Liu Bei, ia menatap rembulan.


"Mengapa begitu?" tanya Xiao Ling bingung, ia sama sekali tidak menduga akan hal itu.


"Ya, itu sudah merupakan hukum alam, sebagian akan menjadi pengikutnya yang setia atau hanya sekedar menjilat demi sebuah perlindungan dan kenyaman mereka secara individu.


"Tapi, sebagian lagi merasa terancam dengan kehadiranmu, hingga berniat ingin menyingkirkan bahkan mungkin membunuhmu!" ucap Liu bei.

__ADS_1


Glek!


Keterusterangan Liu Bei membuat Xiao Ling semakin kacau, ia sama sekali tidak menduga akan akibat yang ditimbulkan olehnya.


"Bukankah aku hanya ingin mempertahankan dan membela diriku? Apakah itu salah?" tanya Xiao Ling, ia tak mengerti.


"Aku … aku hanya ingin menjadi diriku sendiri dan aku ingin bertani di sebuah desa kecil. Tidak bisakah Yang Mulia Kaisar membebaskanku untuk itu?


"Aku hanya ingin sebidang tanah dan pondok untuk diriku bermain kecapi atau suling sambil bertani?" tanya Xiao Ling, ia lelah bila harus terus berperang dan hidup di kerajaan maupun kekaisaran.


Liu Bei menatap ke arah jendral cantik yang masih berdiri di hadapannya mengawasi dirinya dengan penuh minat serta tatapan nanar yang luar biasa cantik juga teduh.


"Kamu hanya ingin menjadi seorang petani?" tanya Liu Bei tidak percaya.


"Iya! Apakah impianku salah? Mungkin bagimu itu terlalu sederhana tapi, bagiku itu adalah hal yang sangat luar biasa," bala Xiao Ling, ia tersenyum.


Keduanya tanpa sadar terus berjalan menelusuri kegelapan meninggalkan sisa pertempuran yang baru saja mereka lewati.


"Um, apakah kamu lelah?" tanya Liu Bei, ia merasa jendral di sebelahnya masih terus saja berjalan tanpa terlihat lelah.


"Um, aku sudah terbiasa berjalan bermil-mil kala menjadi prajurit! Aku bukanlah seorang prajurit yang langsung menduduki pemimpin karena ayahku. Tapi, murni dari hasil kerja kerasku," ucap Xiao Ling, ia bangga mengatakan hal itu karena bayangan di benaknya apa yang sudah dilalui oleh Jia Li begitu luar biasa.


"Yeah, aku pernah mendengar hal itu! Kamu adalah satu-satunya wanita di Han yang berhasil sebagai jendral, hingga sekarang banyak prajurit wanita baru di pelatihan militer!" balas Liu Bei, ia bangga karena wanita di sebelahnya adalah seorang pioneer masa depan contoh yang nyata.


"Tapi, sehebat-hebatnya kami seorang wanita, kami masihlah seorang perempuan yang membutuhkan perlindungan dan kasih sayang dari seorang pria yang benar-benar mencintai kami," balas Xiao Ling.


Ia sendiri tidak tahu mengapa ia terlalu lugas dan bicara jujur pada seorang pangeran Han. Xiao Ling hanya merasa jika dia dan tubuh Jia Li merasa nyaman dengan Liu Bei yang diam termenung memikirkan semua ucapan jendral Jia Li sambil berjalan menyusuri hutan tersebut dan mereka muncul di sebuah Padang rumput luas.

__ADS_1


"Aku harap, Padang rumput ini adalah desa Donglai. Aku tidak ingin kita muncul di Mongol," lirihnya, ia malah tidak yakin dengan ucapannya.


"Tolong! Tolong!"


"Aaa!"


"Lepaskan! Lepaskan!" teriakan demi teriakan bergema membelah kesunyian pagi.


Namun, belum lagi Liu Bei selesai bicara, teriakan bergema di depan mereka. Orang-orang berlarian memakai pakaian ciri khas Mongol berusaha untuk menyelamatkan diri mereka.


Dari kejauhan mereka melihat para perampok mengayunkan tombak dan pedang berusaha untuk membunuh para lelaki dan mengambil anak-anak dan wanita yang ingin dibawa pergi. Sebagian perampok mengambil harta yang mereka jarah, tangisan dan darah memenuhi pagi tersebut.


"Huek!" Xiao Ling lagi-lagi muntah melihat ceceran darah tersebut, ia merasa semakin pusing.


"Apakah kamu baik-baik saja, Jendral Tan?" tanya Liu Bei.


"Aku mohon, panggil aku Xiao Ling saja! Aku tidak ingin orang tahu jika aku adalah jendral Jia Li," pinta Xiao Ling,


"Baiklah! Ayo, kita tolong mereka!" ajak Liu Bei, ia telah melesat menerjang ke arah musuh yang menaiki kuda yang membawa seorang gadis di pelana kudanya.


"Bajingan! Lepaskan gadis itu, jika tidak aku akan membunuhmu!" teriak Liu Bei, ia menerjang musuh hingga terjerembab jatuh ke tanah.


"Sialan! Siapa kau?! Berani sekali kau mengganggu kami untuk mengambil buruan ini. Penduduk lembah Orkhon adalah milik kekaisaran Mongol!" ujar pria tersebut yang memiliki anting-anting besar di telinga sebelah kiri.


Pria yang tinggi besar itu langsung melesat menerjang liuge dengan tombak besar tetapi lebih langsung melesat dan menebaskan pedangnya ke arah si pria yang langsung mundur akibat tenaga dalam Liu Bei yang sangat besar


"Sialan, kau tidak boleh turut campur di dalam masalah ini jika kau ingin selamat!" ancam pria tersebut dengan mengatasnamakan kekaisaran Mongol.

__ADS_1


"Aku tidak peduli! Aku tidak yakin jika Khan agung yang melakukan semua ini! Kau pasti berbohong!" teriak Liu Bei, ia pernah mendengar jika kan agung selalu melindungi rakyatnya dari penindasan.


__ADS_2