
Bruk!
Tubuh Liu Bei terjatuh berdebam di tanah berdebu, tiada yang menduga jika dirinya akan tewas.
"Kong Tian, apakah kita berhasil membunuhnya?" tanya wanita yang masih berusaha menyembuhkan luka dalam akibat pukulan Liu Bei.
"Hahaha, aku rasa dia pun akan tewas karena kehilangan kekuatan akibat bunga itu! Pada akhirnya pangeran kedua kekaisaran Han mampus!
"Sekarang tinggal putra mahkota Liu Fei yang harus kita bunuh!" ujar pria tersebut, ia mengulurkan tangan ingin meraih bunga sambung nyawa yang berada di balik baju Liu Bei.
Trang!
"Aw! Bajingan!" umpat pria tersebut tidak menduga jika sebuah panah menembus pergelangan tangannya.
"Sial!" umpatnya geram, ia melihat dari kejauhan tiga orang berpakaian jendral dan prajurit sedang menuju ke arah mereka berdua.
"Bajingan! Ayo, kita kabur!" ajaknya menarik tubuh temannya langsung melesat kabur.
"Mengapa kita harus kabur? Apakah kau berhasil mengambil bunga itu?" tanya Xu Lian, ia menginginkan bunga itu untuk mengobati lukanya.
"Apakah kau gila?! Kau sedang terluka begitu juga aku! Aku tidak mau mati konyol!" umpat Kong Tian, "jika kau tak ingin ikut kabur denganku, silakan! Aku tidak ingin mampus di tangan prajurit Han!" umpatnya dengan penuh kebencian.
"Sial!" ujar Xu Liang kala anak panah berhamburan menghujani mereka berdua.
Keduanya tidak menyia-nyiakan kesempatan langsung kabur meninggalkan Liu Bei dan bunga sambung nyawa.
"Bunuh mereka! Jangan biarkan mereka lolos!" teriakan bergema kala Tan Yu Ji dan Lie Feng juga Lin Wei mulai melepaskan anak panah menyerang si penghadang yang langsung melesat kabur dengan membawa teman wanitanya.
"Jendral! Jendral!" teriak Tan Yu Ji langsung melompat mendekati Liu Bei yang terkapar di tanah.
"Pangeran! Pangeran!" panggil Lie Feng dan Lin Wei.
"Ayo, kita bawa Pangeran Liu Bei ke Luoyang, aku harap Tabib Yu bisa menyelamatkannya!" ujar Tan Yu Ji.
Tan Yu Ji dan yang lainnya langsung membawa Liu Bei ke perbatasan Luoyang ke markas pertahanan dan keamanan kekaisaran Han di Luoyang.
__ADS_1
Derap langkah kaki kuda memasuki gerbang perbatasan di mana wenwen membawa Liu Bei di punggung.
"Buka pintu gerbang!" teriakan penjaga gerbang membahana.
Wenwen masuk dengan langkahnya yang goyah karena ia pun kelelahan selama 3 hari tiga malam ia pun harus terus berlari.
Bruk!
Wenwen roboh ke tanah bersamaan dengan tubuh Liu Bei yang langsung ditangkap oleh Liu Fei.
"Ada apa dengan Pangeran Liu Bei dan wenwen?" tanyanya membahana murka.
"Kami menemukan Yang Mulia Pangeran kedua diserang di perbatasan Luoyang saat kembali dari lembah Kematian, Yang Mulia!" balas Tan Yu Ji.
"Apa?!" Liu Fei tidak menduga jika Liu Bei begitu ksatria mempertaruhkan nyawa demi keselamatan Jia Li.
"Panggil tabib Yu cepat!" teriak Liu Fei, ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada adik yang telah banyak berkorban kepada kekaisaran Han.
Lie Feng melesat memanggil tabib Yu seorang pria tampan yang selalu membawa tongkat kayu ke mana pun, "Yang Mulia Putra Mahkota! Yang Mulia Pangeran kedua?!" sapa Tabib Yu.
Tabib Yu langsung memeriksa tubuh Liu Bei, ia menemukan segerombolan bunga sambung nyawa berbentuk bunga terompet lila.
"Putra Mahkota, jangan khawatir aku akan mengobatinya! Kita harus menolong Jendral Jia Li sebelum fajar kalau terlambat kita tidak bisa menyelamatkan keduanya!" tukas Tabib Yu.
Tabib Yu memasukkan sebutir pil ke dalam mulut Liu Bei, ia meminta kepada Tan Yu Ji untuk membaringkan Liu Bei ke kamar.
"Nanti aku akan mengobati Pangeran Kedua, sekarang kita harus menolong jendela Jia Li sebelum terlambat!" ujarnya.
Tabib Yu meletakkan beberapa bunga di dada Liu Bei dan membawa sisa bunga lain untuk ditumbuk bersama dengan bahan ramuan yang lainnya.
Mereka berjalan secepatnya menuju ke kamar di mana jendral Jia Li berada, tabib Yu langsung membalurkan ramuan di sekujur luka dengan meminta bantuan dayang perempuan.
***
Sementara di dalam mimpi Jia Li dan Liu Bei, keduanya berada di sebuah lembah indah dengan aneka tumbuhan bunga yang sedang mekar.
__ADS_1
"Jia Li! Jia Li!" teriak Liu Bei memanggil Jia Li yang masih terus berlari meninggalkannya seorang diri.
Liu Bei terus berlari hingga berhasil menangkap tangan Jia Li, "Liu Bei, aku adalah Xiao Ling bukan Jia Li … apakah kau mencintai diriku atau Jia Li?" ujar Xiao Ling, ia menatap lembut mata Liu Bei yang memancarkan kasih sayang dan setajam mata elang.
"Xiao Ling … apa maksudmu? Aku mencintai dirimu dan Xiao Ling. Bukankah kalian adalah orang yang sama? Xiao Ling hanyalah sebuah nama samaran.
"Aku tidak peduli apakah dirimu Xiao Ling mau pun Jia Li, bagiku kalian berdua adalah satu paket komplit yang aku butuhkan di dalam kehidupan ini mau pun nanti!" tegas Liu Bei, ia tak mengerti akan arti dan maksud dari pertanyaan yang diucapkan oleh Jia Li
"Pilihlah satu di antara kami berdua Liu Bei! Jangan serakah," ujar Xia Ling, ia menatap Liu Bei dengan isak tangis sebelum lenyap.
"Jia Li!" teriak Liu Bei, ia jatuh terduduk di antara bunga indah di lembah hijau.
"Jia Li!" lirih Liu Bei, ia terbangun dan memandang ke sekelilingnya.
"Di mana ini? Bukankah ini ruanganku di Luoyang!" benaknya, ia melihat luka di dada akibat tusukan musuh yang menghadang dirinya.
"Di mana luka itu?" benaknya, ia tidak melihat tanda-tanda luka.
"Apakah aku sudah mati? Lalu … apa arti mimpiku itu?" benaknya khawatir, "bagaimana dengan Jia Li? Xiao Ling? Siapa Xiao Ling? Bukankah mereka adalah orang yang sama?" ribuan pertanyaan muncul di hati Liu Bei, ia menginginkan jawaban.
Liu Bei ingin bergerak dan merasakan jika tangkai demi tangkai bunga sambung nyawa berjatuhan di sekitar dari tubuhnya.
"Mengapa bunga sambung nyawa ini ada padaku? Bukankah aku ingin memberikan bunga ini kepada Tabib Yu untuk meracik bunga tersebut sebagai obat kesembuhan yang diperlukan oleh Jia Li?
"Apakah tidak berhasil? Apa musuh telah mengambil bunga-bunga itu dariku? Apakah aku terlambat?" benak Liu Bei semakin gusar dan takut akan kemungkinan-kemungkinan yang telah terjadi.
Liu Bei turun dari pembaringan ingin pergi ke kamar Jia Li akan tetapi, Lie Feng langsung masuk dan mencegahnya.
"Yang Mulia, Jendral Jia Li masih diobati, sabarlah. Yang Mulia harus memulihkan luka Anda, Yang Mulia. Tabib Yu sedang mengobati Jendral Jia Li.
"Tabib Yu berpesan, 'Setelah Yang Mulia Siuman, Anda harus tetap berada di tempat tidur!' agar segala pengobatan yang sedang dilakukan Tabib Yu tidak menemui kegagalan," papar Lie Feng.
"Oh, syukurlah! Lalu Apakah musuh yang menyergap diriku di perbatasan Luoyang sudah tertangkap?" tanya Liu Bei penasaran.
"Maaf Yang Mulia, mereka berhasil kabur dengan terluka! Jendral Tan Yu Ji telah memerintahkan Zhaozhao untuk mencarinya," jawab Lie Feng.
__ADS_1