
"Terima kasih," balas Xiao Ling, ia tersenyum manis.
Liu Bei meninggalkan Xiao Ling, ia ingin mencari sesuatu untuk makan malam mereka. Xiao Ling langsung membuat api unggun, ia menantikan Liu Bei duduk di batu cadas menatap bintang di langit.
"Bintang di sini begitu indah," lirih Xiao Ling, "aku merindukan Papa, sedang apakah papa di sana?" desah Xiao Ling, ia menatap bintang terang di langit.
Xiao Ling merasakan kerinduan kepada sang papa di dunia modern, dua bulir air bening meluncur di pipi. Ia merasa menyesal telah membangkang kepada sang papa yang telah mendedikasikan separuh hidupnya hanya untuk membesarkan dirinya seorang diri karena sang ibu telah meninggal dunia.
"Maafkan aku, Papa. Semoga Papa mendengar kerinduan dan kata maafku," bisik Xiao Ling lewat angin malam yang menderu.
Xiao Ling meraba seruling dari balik baju zirahnya, ia menimang seruling tersebut dan penasaran. Ia menatap seruling dan merasa ingin meluapkan semua kerinduan di dalam jiwa kepada sang papa di dunia lain.
'Apakah Jia Li begitu pintar bermain seruling? Apakah tubuh ini masih bisa melakukannya?' batin Xiao Ling, ia mulai meniup seruling tersebut melantunkan sebuah lagu yang dirinya sendiri pun tidak tahu itu syair lagu siapa.
Namun, Xiao Ling merasakan jika syair lagu itu begitu menyedihkan bercerita akan sebuah kerinduan dan pengharapan akan sesuatu hal yang tidak diketahui oleh Xiao Ling.
Plok! Plok!
Tepuk tangan bergema, "Lagumu begitu indah!" puji Liu Bei, ia sudah membawa seekor kelinci.
Liu Bei mendengar suara seruling yang mendayu-dayu dari atas bukit batu cadas yang dilantunkan dengan penuh perasaan seakan menghanyutkan siapa saja yang mendengarkan syair indah yang dipenuhi kesedihan tersebut.
"Oh, terima kasih!" balas Xiao Ling, ia merasa malu.
Xiao Ling merasa untuk pertama kalinya ia meniup seruling untuk dirinya dan tidak menyangka jika Liu Bei pun turut menikmatinya.
"Um, apakah kamu mendapatkan buruan, Yang Mulia? Aku baru tahu, engkau begitu luar biasa jika mwndjais eroang kaisar di masa depan," lirih Xiao Ling tanpa berniat apa pun.
__ADS_1
Xiao Ling merasakan jiwa luhur dan kebaikan dari seorang Liu Bei yang dipenuhi welas asih, 'Kemingkjnan karena ia hampir mengahbiskan masa kanak-kanak hingga dewasa di vihara Shaolin,' batin Xiao Ling, 'hingga aku merasa jika pengaruh agama Budha lebih terasa.
'Andaikan Liu Bei yang menjadi kaisar … aku rasa kekaisaran Han akan aman dari pemberontakan dan kerusuhan lahinnya, rakyat aka tenang dan tentram.
'Aku merasa jika para petani seidkit jurnah mendapatkan perhatian,' barin Xiao Ling, ia mwnabuangjan kkekuarnagan sandang pangan di beberapa titik wilayahan kekaisaan Han khususnya para petani akibat kurangnya perhatian Kekaisaran trlerhadao mereka.
"Apa?!" ujar Liu Bei, ia tidak menduga jika Jia Li akan mengatakan hal tabu itu.
Liu Bei mengedarkan pandangan ke sekelilingnya berharap tak ada seorang mata-mata yang akan datang mendengar apa yang sedang diucapkan oleh Jia Li.
"Jendral, apakah kamu tahu arti ucapan kamu itu? Sebagai seorang calon permaisuri, kamu tidak pantas embagtkan hak itu. Jika ada yang mendengarnya, aku takut neraka salah kaprah.
"Hingga melaporkan kepada Liu Fei, kamu tahu. Kita akan dianggap sebagai pengkhianat dan akan emalkukan kudeta. Apalagi, kamu adalah calon permaisuri masa depan," papar Liu Bei.
Liu Bei merasakan kejujuran seorang jendral Jia Li begitu mengerikan bahkan terdengar terlalu sarkasme dan berani.
"Apa?! Kudeta? Bagaimana mungkin? Apakah di zaman ini …," lirih Xiao King, ia menyadari kesalahannya.
"Maafkan, aku Yang Mulia! Saya jamin tidak akan lagi mengatakan hal itu," ujar Xiao King, ia berjanji untuk fitka melakukan kesalahan itu lagi.
"Sudahlah! Sebaiknya aku akan memanggang kelinci ini, aku juga mendapatkan air … aku harap malam ini tidak hujan." Liu Bei menatap langit yang cerah, ia merasa langit di gurun begitu indah karena adanya Jia Li di sisinya.
Keduanya langsung memanggang dan makan kelinci panggang dengan diam, Xiao Ling merasakan kerinduan untuk menyantap masakan rumah. Akan tetapi, ia berusaha untuk mengurungkan semua itu.
"Jia Li … um, apakah kamu sudah berpikir untuk kembali?" tanya Liu Bei, ia menatap gadis cantik di sisinya makan dengan Dian tanpa suara.
"Hm, aku belum tahu. Bisakah engkau mengatakan kepada kaisar Liu Bang dan Putra mahkota jika aku sudah tewas?" usul Xiao Ling, ia ingin menghilang dan tak ingin berhubungan dengan Kekaisaran.
__ADS_1
"Apa?! Jia Li! Kamu ingin aku berbohong? Tidak! IU tidak bisa aku lakukan, kau tahu hukuman jika aku mengikuti keinginan kamu? Mereka pasti akan membunuhku.
"Selain itu, tidak ada tempat teraman untukmu kabur dari kekaisaran. Apakah kamu ingin keluargamu mati dengan cara mengenaskan begitu?" cecar Liu Bei, ia sama sekali tidak mengerti dengan tujuan dan keinginan Jia Li.
"Apakah kamu memang tidak ingin menikah dengan Liu Fei?" tanya Liu Bei bingung.
"Ya,aku tidak ingin menikah dengannya. Aku mencintai orang lain!" balas Xiao Ling, ia asal menjawab.
"Apa?! Kau gila! Siapa pria yang kau cintai itu? Apakah kau ingin Liu Fei akan membunuhnya begitu?" tanya Liu Bei, ia tak mengerti.
"Apa?! Mengapa Liu Fei begitu gila!" ketus Xiao Ling, ia sama sekali tidak menduga akan hal itu.
"Jia Li … Ya, Dewa … kamu benar-benar …," lirih Liu Bei, ia tak tahu lagi harus berkata apa.
Liu Bei bangkit dan berdiri menatap hamparan gurun sepi yang diterangi cahaya bulan purnama yang mulai muncul di langit berbintang.
"Jia Li … jawab jujur … siapakah pria itu?" tanya Liu Bei, ia menatap wajah cantik yang masih duduk di depan api unggun menatapnya dengan bening ibdah mata yang memabukkan pria mana pun yang melihatnya.
"Apakah putra mahkota begitu kejam? Apakah beliau tidak bisa menerima kenyataan jija tidak semua wanita mengharapkan dirinya menjadi suami?" ujar Xiao Ling, ia cemberut.
"Jia Li … kamu pintar tapi kamu terlalu naif. Kamu harus menghilangkan rasa cintamu pada pria itu. Bagaimanapun masa depanmu lebih berharga!" jelas Liu Bei, ia tak ingin jika dirinya harus ditugaskan untuk memburu Jia Li dan kekasih hatinya.
"Apakah putra mahkota akan membunuh dirimu juga? Bukankah kamu adalah adiknya?" tanya Xiao Ling, ia ingin tahu.
"Apa?! Apa hubungannya denganku?" tanya Liu Bei tak mengerti, ia merasa tidak memiliki hubungan dengan permasalahan yang dihadapi oleh Jia Li.
"Aku mencintaimu! Apakah putra mahkota akan membunuhmu juga?" tanya Xiao Ling, ia tak mengerti mengapa kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
__ADS_1
Bruk!
Liu Bei tersungkur jatuh, ia tak menduga akan ditembak seorang wanita, ia tak mengerti ada seorang gadis yang begitu berani menyuarakan isi hatinya.