
Seorang wanita cantik berdiri di depan mereka dengan pakaian ciri khas wanita Han dengan sebuah kipas di tangan. Xiao Ling hanya diam mengerutkan kening dan berharap tubuh Jia Li memiliki respon positif atau negatif dengan kehadiran wanita cantik tersebut.
Namun, ia sama sekali tidak mendapatkan respon apa pun. Sebaliknya ia merasakan respon interogatif, Jia Li hanya menarik napas bingung.
'Mungkin Jia Li tidak mengenali wanita ini. Bagaimana dengan Liu Bei?' pikir Xiao Ling, ia mencoba untuk melihat Liu Bei yang menatap ke arah wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan, Xiao Ling hanya diam menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
'Mungkin ini dendam antar suku! Bukankah di zaman dulu sering seperti itu? Seperti suku Aztec dan suku Maya?' benaknya, ia mulai menghubung-hubungkan sejarah dunia barat terutama benua Amerika.
Saray terperanjat menatapnya, ia tidak menduga jika wanita yang sudah diusir dari suku elang kini berdiri di depan mereka bahkan, wanita cantik tersebut memiliki wajah yang sama dan kelahiran yang hanya berbeda waktu 5 menit saja dengan dirinya.
Akan tetapi, Saray hanya diam wajah yang dirindukan itu bukan lagi miliknya, wajah aslinya telah hancur hanya karena kejahatan sang adik yang serakah. Kini, wajahnya telah berbeda kecantikannya telah lenyap menyisakan luka berkeropeng yang mengerikan yang perlahan mulai sembuh tetapi tak lagi utuh.
'Selir Sarnai?' batin Liu Bei, ia melihat kakak iparnya berada di sana yaitu istri kedua dari putra mahkota Liu Fei.
Liu Bei sendiri tidak menyangka jika Selir Sarnai berada di sana, Liu Bei bersyukur brewok dan jambangnya sudah memenuhi wajah sehingga Sarnai tidak mengenalinya karena Sarnai tidak begitu peduli kepadanya berbeda jika mereka bertemu di istana kekaisaran.
Selama ini, Liu Bei tidak pernah memelihara brewok dan jambang juga kumisnya hanya karena terdampar di lembah Orkhon ia tak lagi sempat membersihkan semua itu. Sehingga Sarnai tidak mengenali dirinya.
Liu Bei mengingat jika Sarnai selalu berusaha untuk menggoda dirinya tetapi, Sarnai tidak pernah berhasil melakukan semua niatnya. Semua orang tahu, jika selir Sarnai adalah selir kesayangan putra mahkota Liu Fei.
'Apakah Jia Li mengenali selir Sarnai, yang akan menjadi madunya?' batin Liu Bei, 'tapi, Jia Li tidak pernah pulang kekaisaran. Aku rasa keduanya tidak saling mengenali,' batin Liu Bei, ia sedikit lega dan ingin tahu ada apa sebenarnya.
Liu Bei merasa keduanya tidak saling kenal, sehingga Jia Li pun tidak banyak merespon pertemuan tersebut.
'Mengapa selir Sarnai berada di sini? Bukankah dia adalah adik dari raja Batukhan? Lalu, apa hubungannya dengan suku elang?" benak Liu Bei tidak mengerti.
"Apa kabar saudara kembarku?! Phih! Bukankah engkau sudah mengkhianati Suku Elang dan menjadi selir Kekaisaran Han? Apa maksudmu dari semua ini, Sarnai?" ujar Saray, ia menatap Sarnai dengan kebencian.
"Hahaha, kau tahu … aku tidak pernah mau menjadi selir Han! Seharusnya engkau yang menjadi selir Han, Saray! Tapi, orang tua kita malah memberikan diriku kepada mereka! Aku benci!" teriak Sarnai.
Sarnai menyalahkan semuanya kepada Saray karena selama di kekaisaran Han, Sarnai tidak juga bisa menguasai Liu Fei karena kaisar Liu Bang selalu saja mengawasi semua gerak-geriknya.
"Bukankah engkau yang mau dan meminta menjadi diriku, Sarnai? Kau malah membuatku lumpuh bukan? Dan wajahku pun kau hancurkan!" ujar Saray, ia tersenyum mencibir.
"Hingga aku terbuang dari Karakorum karena kutukan yang kau lakukan? Hingga aku berada di suku elang? Kau telah membunuh saudaramu dari garis keturunan ibumu sendiri, Sarnai!" teriak Saray murka.
Saray mengingat hanya keluarga dari pihak ibunya yang masih mengakuinya begitu juga dengan abangnya Shunyuan yang berbeda ibu dengan mereka. Saray harus terbuang bertahun-tahun lamanya dari Karakorum hidup sebagai tunawisma dan budak di suku Beruang hingga bertemu dengan Shunyuan dan membawanya ke suku elang karena ibu mereka adik kakak.
"Sekarang kau katakan aku yang telah memaksamu begitu? Menjijikkan! Jadi, kau yang telah menghancurkan suku elang? Sukumu sendiri?" ujar Saray, ia mulai menyadari semua itu.
"Mengapa kau begitu kejam, Sarnai? Dari kecil, apa pun yang kau minta selalu dikabulkan oleh ayahanda! Semuanya! Apakah kau tidak puas juga? Sekarang, kau malah membantai sukumu sendiri? Darahmu!" umpat Saray, ia membenci saudara kembarnya.
"Kau juga yang menghasut Batukhan untuk membuang Shunyuan bukan?" hardik Saray, ia mengetahui hal itu dari kakek mereka sebelum meninggal.
"Hahaha, ya … ternyata kau sangat pintar saudariku! Aku ingin suku elang binasa! Aku ingin raja Batukhan mengira orang-orang kekaisaran Han yang telah melakukan semua ini!" umpat Sarnai, ia ingin kehancuran melanda kekaisaran Han dan Mongol.
"Apa?! Kau ingin memulai perang antara Han dan Mongol begitu?" ujar Xiao Ling, ia mulia menyadari sesuatu.
"Dasar wanita kejam!" ujar Xiao Ling, ia menggelengkan kepala.
"Hahaha, ya! Kau pun akan mampus! Dasar wanita iblis! Siapa sangka jika pendekar nomor satu di dunia tak lain adalah jendral Jia Li. Kau tidak akan pernah tiba di Chang An!
"Kau dan seluruh pasukan bayangan Phoenix akan tewas!" ujar Sarnai, ia melihat kecantikan dan kehebatan seorang jendral Jia Li yang akan menjadi madunya kelak.
'Jendral Jia Li tidak boleh menjadi permaisuri kekaisaran Han! Dia harus mampus!' batin Sarnai, ia benci jika Liu Fei akan berpaling darinya.
"Heh! Ck, memang kau Dewa! Malaikat kematian begitu? Ckckck, mimpimu terlalu tinggi! Sukumu sendiri saja pun tega kau hancurkan, kaulah yang sebenarnya wanita iblis berwujud manusia itu!" ejek Xiao Ling, "bahkan, kakak kandungmu pun kau bunuh dengan tanganmu!
"Mengerikan! Hidupmu tidak akan pernah damai!" kutuk Xiao Ling.
__ADS_1
"Bajingan! Kau belum tahu siapa aku! Rasakan ini!" teriak Sarnai murka, ia tidak menduga jika mulut Jendral Jia Li begitu tajam.
Sarnai mengayunkan kipasnya hingga kekuatan yang tak kasat mata mulai menyerang Jia Li yang langsung melesat menghindari serangan tersebut membuat tanah terbelah menjadi dua di depan Xiao Ling.
"Xiao Ling!" teriak Liu Bei, ia melesat memeluk tubuh Xiao Ling yang hampir terjatuh ke dalam lubang menganga yang dibuat kekuatan dahsyat Sarnai melalui kipasnya.
'Waa!' teriak batin Xiao Ling, ia jumpalitan tidak menduga akan kekuatan wanita kipas tersebut.
'Sialan! Ternyata kipasnya sangat hebat! Hadeh, aku terlalu memandang enteng musuh,' keluh batin Xiao Ling, 'lain kali, aku harus menjaga ucapanku, agar orang-orang di dunia mimpi ini tidak marah!' batinnya menyesal.
"Apakah kamu baik-baik saja?!" tanya Liu Bei, ia begitu khawatir akan keselamatan jendral cantik tersebut.
Deg! Deg! Deg!
Liu Bei malah telah memegang pinggang Xiao Ling yang tertegun dengan pose romantis seakan sedang melakukan salah satu adegan dansa di dunia modern di mana kedua tangan Xiao Ling berada di leher dan dada Liu Bei.
"Lepaskan aku!" ketus Xiao Ling, ia melesat secepatnya sedikit menjauh dari Liu Bei.
'Sialan! Ada apa dengan jantung Jia Li? Yang benar saja!' batin Xiao Ling tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Kalian akan mampus! Liu Fei tidak akan pernah menikahimu! Phih! Ternyata kau malah sudah berselingkuh dengan pria lain! Dasar murahan!" hina Sarnai, ia tersenyum mencibir.
"Hadeh! Siapa juga yang mau menikahi Liu Fei! Andaikan bisa dibatalin, aku juga mau dibatalin!" ketus Xiao Ling, ia tidak peduli dengan semua itu.
"Wei! Jaga mulut busukmu itu! Siapa yang berselingkuh? Enak aja kau bilang aku murahan!" umpat Xiao Ling murka, ia merasa tidak berselingkuh dan tidak memiliki kekasih di dunia nyata dan mimpinya, yang cukup panjang dan rumit.
"Hahaha! Kau terlalu munafik!" umpat Sarnai, ia merasa pria di depannya begitu mencintai jendral Jia Li.
'Siapa pria itu?' batinnya penasaran, "peduli amat, mereka harus mampus! Hanya akulah satu-satunya ratu dan permaisuri Han di masa depan!' lanjut batinnya, ia tersenyum dengan semua rencananya.
"Rasakan ini! Aku akan mengantar kalian bertiga ke neraka! Terutama kau Saray!" teriak Sarnai penuh kebencian kepada adik kembarnya.
Sarnai langsung merapal mantra hingga ribuan ular datang menyerang ke arah Saray, Liu Bei, dan Xiao Ling.
"Hati-hati!" teriak Saray, ia pun mencoba untuk merapal mantra untuk mematahkan sihir Sarai.
Namun, kekuatan Saray, tidak sebanding dengan Sarnai, "Huek!" Saray muntah darah.
"Saray!" teriak Xiao Ling dan Liu Bei mendekatinya.
"Apakah baik-baik saja?!" tanya Xiao Ling, ia menyentuh tubuh Saray yang terduduk di rerumputan.
"Aku baik-baik saja, kalian berhati-hatilah! Sarnai menguasai ilmu hitam," ujar Saray, ia membeberkan akan hal itu agar keduanya memahami siapa lawan mereka.
"Hahaha! Kalian akan mampus! Tidak seorang pun dari suku elang boleh hidup di lembah Orkhon dan kalian berdua!" tunjuk Sarnai kepada Xiao Ling dan Liu Bei.
"Tidak seorang pun akan berhasil kembali ke Chang An! Di sini, adalah kuburan kalian! Darah Han harus membasahi lembah Orkhon!" teriak Sarnai, ia memasang kuda-kuda dengan menggunakan kipasnya.
"Bunuh mereka!" teriak Sarnai, ia memerintahkan kepada ular-ularnya yang langsung bergerak cepat ke arah Saray, Liu Bei, dan Xiao Ling.
"Hati-hatilah! Jia Li!" teriak Liu Bei, ia tak ingin lagi menutup-nutupi siapa jendral Jia Li.
Liu Bei melesat dan menggunakan tombak panjangnya menebas dan membunuh ular yang mulai menyerangnya. Akan tetapi, walaupun ular-ular tersebut sudah terpotong dan mati malah kembali utuh dan semakin banyak seakan mereka berkembang biak dengan cara membelah diri seperti amuba.
"Hahaha! Kalian akan mampus!" tawa Sarnai nyaring terdengar ia ingin menghancurkan ketiganya dengan kepintaran yang dimilikinya.
'Bukankah ular takut dengan api?' batin Xiao Ling, ia mulai berpikir dan mencari kekuatan Jia Li yang terpendam.
'Aduh, mengapa tubuh ini hanya diam? Apakah Jia Li takut dengan ular?' batin Xiao Ling, ia merasa dan menerka-nerka jika tubuh Jia Li membeku dan bergidik ngeri melihat ular yang terus merayap ke arah mereka.
__ADS_1
'Hadeh, masa dengan ular harus takut sih? Padahal pendekar nomor 1 di dunia bisa dikalahkan? Sungguh tidak etis. Fobia itu jangan sama ular kek?' benaknya galau.
Shut!
"Jia Li? Apa yang kau pikirkan? Apakah kau ingin mati sia-sia, hah?!" teriak Liu Bei, ia memenggal ular piton yang sangat besar yang hampir menerkam tubuh Jia Li yang membeku diam tak bergerak seakan di hipnotis oleh sebuah kekuatan.
"Oh, maafkan aku! Aku … ini menjijikkan!" umpat Xiao Ling, ia seakan menyuarakan apa yang dirasakan tubuhnya yang tidak menyukai ular-ular itu.
'Jia Li?! Jadi, dia benar-benar jendral Jia Li dari Han?' batin Saray, ia terdiam.
Saray tidak menduga akan bertemu dengan jendral cantik dan satu-satunya seorang jendral di kekaisaran Han dan di belahan bumi pada saat itu. Jendral wanita yang selalu menjaga perbatasan dengan kekuatan hebatnya hingga dinasti Han berhasil menyatukan Tiongkok.
'Andaikan aku masih memiliki kekuatan …,' batin Saray, ia merasa kelumpuhan yang dideritanya dulu masih selalu menyiksa dan menghancurkan kekuatan miliknya.
'Aku bisa menolong mereka,' batin Saray, "Nyonya Xiao Ling, gunakan sesuatu. Jangan memotong ular-ular itu! Mereka akan semakin banyak!" teriak Saray, ia memberitahu Xiao Ling.
"Oh, begitu! Um, baiklah!" balas Xiao Ling, ia teringat dengan pedangnya yang memiliki cahaya biru yang mematikan.
"Yang Mulia dan kamu Saray, menyingkirkan sejauh-jauhnya!" teriak Xiao Ling, 'masa bodoh! Berhasil atau tidak dicoba saja!' hatinya mulai merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan ular-ular tersebut.
Xiao Ling kembali mencabut pedangnya dan melesat ke udara dengan cara menukik menggunakan kekuatan yang dirinya sendiri tidak tahu dari mana ia memiliki kekuatan demikian maha dahsyat.
Wus! Syut! Duar!
Kekuatan pedang berpendar menghantam keseluruhan tanah di mana ular-ular berada hingga membentuk lubang yang menganga hingga semua ular berkumpul di sana.
"MATILAH KALIAN!" teriak Xiao Ling, ia menyerang dengan pedang birunya hingga sebuah kekuatan dari pedang membentuk seekor burung Phoenix kemerahan dengan api yang langsung membakar ular di dalam lubang menganga tersebut.
"Aaa!" teriak Sarnai kesakitan dan kabur, ia lenyap tak berbekas.
Kesepian melanda lembah Orkhon hanya api yang membara membakar ular di bawah langit gelap tanpa bukan hanya bintang.
Saray tertegun, ia menatap sekelilingnya dan terjatuh pingsan. Ia tidak bisa membayangkan jika suku elang yang menerimanya telah habis dibantai oleh musuh yang dikepalai oleh saudara kembarnya sendiri.
"Saray! Saray!" panggil Xiao Ling dan Liu Bei.
"Dia pingsan, mungkin ia tidak sanggup melihat semua ini." Liu Bei melihat mayat-mayat bergelimpangan begitu juga dengan Shunyuan pun telah tewas.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Xiao Ling bingung, ia tak mengerti harus bagaimana untuk pertama kalinya ia melihat begitu banyak nyawa yang bukan berasal dari para prajurit yang sedang berperang di medan pertempuran.
Mayat anak-anak, wanita, lansia, dan para pria terbunuh di lembah Orkhon yang indah tersebut.
"Sebaiknya kita membawa Saray untuk dirawat. Kamu mengobatinya, aku akan menguburkan yang tewas," usul Liu Bei, ia tidak ingin akan mengundang raja Batukhan dari Karakorum membawa pasukan untuk memburu mereka karena hasutan Sarnai.
"Baiklah!" balas Xiao Ling, ia membawa Saray ke tenda yang masih utuh dan mengobati Saray.
Dua jam telah berlalu ….
Xiao Ling membantu Liu Bei memakamkan yang tewas secara adat suku elang, "Terima kasih, telah menguburkan saudaraku," ujar Saray, ia berdiri di depan tenda melihat banyaknya makam di sana.
Gemerincing suara perak dari hiasan yang dikenakan oleh Saray dan baju berbulu miliknya bergemerisik kala dirinya melangkah dan mendekat ke arah makan Shunyuan, ia menyentuh tonggak batu sebagai penanda makan Shunyuan.
"Maaf, aku tidak bisa menggunakan aksara suku elang, aku hanya bisa menggunakan aksara bangsa Mongol," ucap Liu Bei, ia sedikit menyesal.
"Tidak masalah, ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih! Kalau boleh aku tahu, siapa kalian yang sebenarnya?" lirih saray, "maksudku nama asli kalian berdua," ujarnya.
Xiao Ling dan Liu Bei saling pandang, "Maafkan kami yang telah berbohong mengenai nama kami. Tapi, kamu benar-benar ingin ke Donglai bukan Mongol.
"Kisah yang kami cerita benar adanya bukan kebohongan selain nama kami. Aku adalah Liu Bei, pangeran kedua kekaisaran Han," ucapnya.
__ADS_1
"Aku … aku adalah Jia Li, um … jendral Jia Li tapi, aku lebih suka jika kamu memanggilku Xiao Ling," timpal Xiao Ling.
"Oh," hanya itu yang terucap dari bibir Saray, ia tak tahu lagi harus berkata apa pada penolongnya.