Jendral, I Love You!

Jendral, I Love You!
Mengembara seorang diri


__ADS_3

Liu Bei masih terdiam menikmati perih sendu suara seruling Jia Li, ia tahu jika dirinya telah menyakiti hati gadis yang luar biasa baik dan hebat tersebut. Liu Bei ingin mendekati Jia Li akan tetapi, ia tak ingin memberikan mimpi semu yang tak akan mungkin bisa diwujudkan olehnya.


"Maafkan, aku Jia Li …," lirih pelan Liu Bei, ia tak ingin semakin membuat segalanya semakin kacau.


'Andaikan kamu tahu rasaku … mungkin semua itu akan sangat indah dan bahagia. Tapi, bagaimana mungkin? Ayahanda dan Liu Fei akan semakin murka? Aku tak mampu untuk menghadapi semua ini,' benaknya kacau, ia masih menatap Jia Li yang terus menembangkan syair indah dengan penuh perasaan.


Malam semakin larut sementara gemeretak api unggun masih saja mengiringi perasaan sepi dan kesedihan di malam indah,


Liu Bei tak lagi mendengar suara seruling, ia melihat tubuh Jia Li sudah berbaring di atas batu cadas.


'Aku harap Jia Li tertidur, selamat tidur … semoga bermimpi indah …,' lirih batinnya, ia masih berjaga dan waspada akan serangan musuh yang mencoba untuk menyerang mereka di kala mereka lengah.


Jia Li berpura-pura tertidur, ia tak ingin membuat Liu Bei merasa serba salah hanya karena dirinya, sehingga ia pun mencoba untuk mengalihkan perhatian dengan berbaring menatap langit.


Menit telah berganti menjadi waktu yang sangat lama, hingga Jia Li merasakan jika Liu Bei pun tertidur dengan bersandar pada sebongkah batu sambil memeluk pedang.


'Aku harus pergi! Aku tidak ingin bepergian bersama Liu Bei, ini sangat menyakitkan,' benaknya, ia langsung beringsut perlahan dan melesat menembus pekatnya malam mengikuti naluri.


Xiao Ling ingin meninggalkan gurun dan mengembara, ia tak ingin terlibat di antara pertikaian yang begitu menyakitkan. Ia juga ingin mencari kebahagian, meskipun ia merasa perbuatannya sangat tidak bertanggung jawab.


'Bagaimana jika kekaisaran akan mencariku? Lihat nanti saja, aku ingin menenangkan pikiranku! Andaikan tidak ada pernikahan, mungkin tidak akan menyakitkan seperti ini.


'Maafkan aku! Sebaiknya aku lebih baik pergi saja! Biarlah waktu yang akan menjawab segalanya,' benak Xiao Ling, ia terus melesat hingga fajar pun telah menyingsing.


Xiao Ling tidak peduli jika sejarah akan bergeser karena kesalahannya, ia hanya tidak ingin menghabiskan banyak waktu dengan pria yang sama sekali tidak diinginkannya.


Ia tiba di sebuah lembah indah dengan bunga-bunga bermekaran begitu juga petak-petak sayuran siap untuk dipanen, Xiao Ling melihat bunga wortel yang kuning mewarnai semua lembah dengan hijaunya kubis dan banyak lagi sayuran.

__ADS_1


Xiao Ling terkesiap dan tidak tahu ia berada di mana. Derap langkah kaki kuda mengikutinya, ia melihat jika Wenwen menyusulnya.


"Ah, wenwen! Kau sangat hebat bisa mencariku. Hanya engkaulah yang masih terus setia di sisiku," bisik Xiao Ling, ia begitu bahagia melihat kudanya telah berhasil menyusul.


Wenwen hanya mendengus, Xiao Ling tersenyum tak peduli, ia masih memandang ke sekitarnya dan berharap menemukan seseorang untuk menunjukkan di mana penginapan atau memberinya baju gadis rakyat biasa.


"Yang Mulia Jendral?! Mari! Mari silakan masuk!" sapa seorang pak tua yang sedang memanggul cangkul di pundak seakan ingin pergi ke ladang.


"Eh, ma-maaf … Pak, sepertinya saya tersesat," balas  Xiao Ling, ia tidak menyangka jika orang masih saja mengenalinya.


'Apakah Jia Li begitu populer? Bukan hanya di istana kekaisaran tapi, rakyat jelata pun masih mengenalnya?' benak Xiao Ling, ia merasa semakin kacau dan tak menentu mengingat semua itu.


"Pak, ini … daerah apa? Maaf, saya lupa!" ujar Xiao Ling, ia semakin kacau.


"Eh, ini daerah Shandong. Apakah Yang Mulia tidak mengingatnya? Bukankah beberapa bulan yang lalu Andalah yang telah menyelamatkan kami dari pemberontakam Qin?


"Maaf, saya mendengar jika Anda terluka parah! Saya minta maaf," ujar Pak Tua, ia membungkuk seakan memberi hormat.


'Shandong? Ya, ampun! Aku malah telah jauh memasuki kekaisaran Han. Apakah Chang An malah tidak begitu jauh dari sini?' benaknya mulai mengingat peta masa lampau.


Akan tetapi, ia sama sekali tidak menemukan peta tersebut akibat ia tak pernah peduli dengan kisah sejarah dan masa lalu. Ia hanya peduli dengan teori dan praktek keadilan.


"Mari, Yang Mulia! Warga desa perbatasan Shandong akan sangat senang melihat Anda!" ujar Pak Tua sumringah, ia memberi Xiao Ling jalan.


Xiao Ling berjalan bersama dengan Pak tua menikmati udara pagi yang begitu indah di antara petak-petak tanaman sayuran yang terbentang luas di lembah indah tersebut.


"Pak, apa nama lembah ini?" tanya Xiao Ling, ia penasaran.

__ADS_1


Xiao Ling merasa segalanya begitu indah dan luar biasa, ia lupa akan kepenatan di jiwa dan hancurnya sebuah hati akibat cinta.


"Ini adalah lemah Ru Yi!" balas Pak Tua, "kami sangat berterima kasih kepada Anda Yang Mulia beserta ke-20 prajuri phonix yang sudah menolong kami," ulang pak tua berseri bahagia tak menyangka jika dirinya akan bertemu kembali dengan sang penyelamat.


"Itu adalah kewajiban saya sebagai penjaga perbatasan," balas Xiao Ling tersenyum, ia sangat yakin jika Jia Li pun akan mengatakan hal itu.


"Banyak penjaga perbatasan tapi tidak pernah melakukan seperti apa yang Anda lakukan Yang Mulia," balas Pak Tua.


"Apakah panen tahunan begitu luar biasa, Pak?" tanya Xiao Ling, ia ingin tahu dan mengalihkan pak tua yang terus memuji karena Xiao Ling tidak tahu apa saja yang sudah dilakukan jendral hebat tersebut.


"Ya, sangat luar biasa. Namun," jawab pak tua, ia terdiam tak mampu untuk bicara banyak hal.


"Ada apa? Apakah perampok juga masih kemari?" tanya Xiao Ling, ia mengingat perampok yang selalu mengatasnamakan prajurit Donglai, Mongol, mau pun Kekaisaran Han yang sangat begitu kejam.


"Bukan, Yang Mulia! Tapi, utusan dari kekaisaran meminta upeti yang sangat tinggi tahun ini.


"Putra Mahkota Liu Fei meminta upeti yang sangat luar biasa tinggi sehingga kami pun tak lagi bisa mengelak. Jika kami mengelak maka hukuman akan terjadi pada kami," balas pak tua bersedih.


"Apa?! Putra Mahkota?" ujar Xiao Ling, ia semakin tak mengerti jika Liu Fei akan tega memeras rakyatnya sendiri.


'Bukankah upeti dan pajak itu ditanggung oleh setiap daerah? Dan aku rasa jumlah pajak yang akan dibayarkan tidak terlalu tinggi? Lalu, bagaimana mungkin? Liu Fei berani melakukan hal itu?


'Apakah kekaisaran Liu Bang mengetahui sepak terjang putranya!' benak Xiao Ling, ia ingin bertanya kepada Liu Fei.


Namun, ia tahu semua itu tidak segampang membalikkan telapak tangan. Apalagi, ia sengaja kabur dari kesatuan dan pengawasan putra mahkota itu sendiri.


"Pak Kepala Desa! Bukankah itu Yang Mulia Jendral Jia Li?" teriak para penduduk ke luar dari dalam rumah sederhana.

__ADS_1


"Lihatlah, siapa yang datang! Jendral Jia Li kemari, ayo … keluarkan makanan ya g enak dan Anggita!" ujar Pak Tua kepada seluruh penduduknya.


Semua penduduk berbondong-bondong memberikan makanan dan anggur, Xiao Ling tercengang tidak menduga akan sambutan yang didapatkannya.


__ADS_2